DUKUNGAN TEKNOLOGI PENGEMBANGAN TEBU

Malang – Seminar bulan Agustus 2018 dilaksanakan pada hari Senin (20/08/18) di Aula Jatropha, dihadiri oleh para peneliti dan teknisi lingkup Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat Malang. Pemateri seminar adalah Dr. Wawan Sulistiyono, peneliti dari BPTP Maluku Utara dengan materi “Climate Change Mitigation in Dry Land Grown Sugarcane by Transplanting” serta Dr. Budi Hariyono, MP. peneliti Balittas dengan materi “Tantangan, Peluang dan Strategi Pengembangan Tebu di Bombana Sulawesi Tenggara”. Seminar dibuka oleh Ir. Moch. Machfud M.P sebagai Plh. Kepala Balittas. Pemateri pertama (Dr. Wawan Sulistiyono) menyampaikan bahwa ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam upaya mitigasi perubahan iklim, salah satunya adalah dengan penggunaan mycorhiza serta sistem transplanting benih tebu. Dari hasil penelitiannya beliau menyampaikan faktor yang berpengaruh terhadap rendemen diantaranya dari sisi fisiologi (laju klorofil, brix, luas daun, berat batang) dan populasi. Jarak tanam berpengaruh terhadap jumlah populasi, yang dianggap efektif adalah 60x100 cm, dengan dosis mychoriza efektif yaitu 2 gr mycoryza per mata tunas, dapat menghasilkan tebu 100 ton/ha. Seminar kemudian dilanjutkan dengan materi kedua yang disampaikan oleh Dr. Budi Hariyono. Pengembangan tebu di Bombana menjadi tantangan besar bagi para peneliti Balittas mulai dari kondisi tanah, pengkayaan bahan organik, budidaya tebu, integrasi dengan ternak, dan lain-lain. Permasalahan yang segera dapat dilakukan pada pengembangan tebu di Bombana ini adalah membangun dan memperbaiki kondisi kesehatan tanah yang kotinyu sehingga penanaman tebu dapat berhasil. Perbaikan fisik dan kimia tanah dapat menggunakan biochar, pupuk kandang, vermikompos. Melihat kondisi iklim di Bombana terjadinya kekeringan pada musim kemarau dan curah hujan yang tinggi pada saat musim penghujan; telah dilakukan pembuatan embung di beberapa lokasi cekungan. Pengairan mengunakan pompa dari embung ke lahan tebu, baik dengan system irigasi tetes, alut dan sprinkler. Penggunaan varietas unggul dan benih bermutu menjadi masalah yang harus segera diatasi, karena sementara ini ketersediaan benih yang belum sesuai standar benih. Dari sisi budidaya, khususnya pengendalian hama/penyakit perlu mendapat perhatian khusus, karena kenyataan di lapangan banyaknya serangan hama (penggerek) dan penyakit. Karena kondisi lahan di Bombana yang ditanami tebu merupakan hamparan yang luas yang dikhawatirkan angin dapat merobohkan tanaman tebu, maka perlu dilakukan penanaman pohon-pohon sebagai pemecah angin. Selain pohon buah-buahan, bambu dapat direkomendasikan sebagai pemecah angin juga berfungsi perangkap dan penyimpanan air tanah pada saat curah hujan tinggi. Melihat kondisi lahan di bagian hulu lokasi pengembangan tebu memungkinkan dibuat waduk, namun sedang dianalisa kelayakannya. Sedangkan integrasi pengembangan dengan ternak, diharapkan pucuk tebu dan molase dapat diproses menjadi pakan ternak, selanjutnya kotoran ternak diproses menjadi biogas yang dapat mensubstitusi 30 % penggunaan batubara.(Admin)

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Sosial media

Pencarian

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini589
Pengunjung Bulan Ini38687
Total Kunjungan581756
Statistik created: 2018-10-22T07:22:11+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.