Tembakau Burley

Varietas Hibrida NC 7 LC dan AOB 359 Untuk Mendukung Pengembangan Tembakau Burley

Sidang pelepasan varietas tembakau burley hibrida NC 7 LC dan AOB 359 dilaksanakan di Hotel Bumi Wiyata Kota Depok pada tanggal 2 November 2017. Tembakau burley sebagai tembakau introduksi banyak digunakan untuk campuran rokok putih, terutama rokok racikan Amerika (American Blend), dengan proporsi + 20 %. Rokok putih lain yang menggunakan tembakau burley adalah racikan Inggris, tetapi komposisi tembakau burleynya lebih sedikit dibanding racikan Amerika. Beberapa merk rokok kretek juga menggunakan tembakau burley, walaupun komposisinya lebih sedikit dari rokok putih. Tembakau burley mulai ditanam di Indonesia sejak tahun 1957, banyak berkembang di daerah Lumajang, Klaten, Banyuwangi dan Jember. Tahun 2003 telah dilepas tiga varietas tembakau Burley, yaitu TN 90, HB 14P dan NC 3. Sampai saat ini varietas yang banyak digunakan adalah varietas galur murni TN 90 karena lebih disukai oleh konsumen (Perusahaan rokok).

Bisa terjadi varietas unggul dari manca negara setelah ditanam di Indonesia tidak menunjukkan sifat-sifat unggul seperti di daerah asalnya. Hal ini dapat terjadi apabila ekologi negara asal sangat berbeda dengan ekologi di Indonesia. Oleh karena itu varietas yang diintroduksi tersebut perlu di uji terlebih dahulu sebelum di kembangkan di Indonesia. Tahun 2015 Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) bekerjasama dengan PT. Aliance One Indonesia melakukan penelitian uji adaptasi di dua lokasi dan tahun 2016 di lima lokasi, terhadap empat varietas hibrida introduksi, yaitu AOB 359, AOB 656, DBH 455 milik PT. Aliance One Brazil dan varietas NC7LC milik PT. GoldLeaf Amerika. Sebagai pembanding adalah varietas TN 90. Penelitian disusun dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang diulang 5 kali. Parameter yang diamati meliputi : hasil krosok, indeks mutu, indeks tanaman, dan kadar nikotin. Juga dilakukan evaluasi ketahanan varietas terhadap penyakit utama (cendawan Phytophthora nicotianae dan bakteri Ralstonia solanacearum) di Laboratorium. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui keunggulan dan kesesuaian varietas dalam rangka pelepasan untuk memenuhi Peraturan Pemerintah nomor 44/95 yang menyatakan bahwa benih varietas unggul hanya dapat diedarkan setelah dilepas oleh Menteri.

Dari uji adaptasi dan evaluasi ketahanan terhadap penyakit utama, dari ke empat varietas hibrida tersebut diusulkan 2 varietas untuk dilepas, yaitu: (1) Varietas NC7LC dengan keunggulan menghasilkan krosok dan indek tanaman tertinggi kedua. Potensi produktivitas dapat mencapai 1.318,41 kg krosok per hektar dan rata-rata indek tanaman 72,86. Masing-masing meningkat 18,18 % dan 26,52% dibanding Varietas TN 90. Varietas ini dapat beradaptasi luas (Stabil) dan tahan terhadap penyakit cendawan Phytopthora nicotianae. (2) Varietas AOB 359 dengan keunggulan menghasilkan krosok dan indek tanaman tertinggi pertama. Potensi produktivitas dapat mencapai 1.369,57 kg krosok per hektar dan rata-rata indek tanaman 74,74. Masing-masing meningkat 22,76 % dan 29,78 % dibanding Varietas TN 90. Varietas ini dapat beradaptasi luas (Stabil) dan moderat tahan terhadap penyakit cendawan Phytopthora nicotianae. Hasil sidang pelepasan varietas menetapkan usulan pelepasan Varietas NC7LC dan AOB 359 disetujui untuk dilepas dengan melengkapi kekurangan administrasi yang harus dipenuhi (Fatkhur Rochman dkk.)

 

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Sosial media

Pencarian

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini1132
Pengunjung Bulan Ini12854
Total Kunjungan662625
Statistik created: 2018-12-11T21:41:48+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.