Pelepasan Varietas KANESIA 21 - 23 Toleran Kekeringan

PELEPASAN VARIETAS UNGGUL BARU KAPAS TOLERAN TERHADAP KEKERINGAN UNTUK MENDUKUNG PROGRAM PENGEMBANGAN KAPAS DI LAHAN KERING

Sidang pelepasan varietas unggul baru kapas yang toleran terhadap kekeringan untuk mendukung pengembangan kapas di lahan kering telah dilaksanakan di Hotel Bumi Wiyata Kota Depok pada tanggal 2 November 2017 bersama-sama dengan pelepasan beberapa komoditas perkebunan lainnya.

Tanaman kapas (Gossypium hirsutum L) adalah tanaman penghasil serat alam yang merupakan bahan baku utama Industri Tekstil dan Produk Tekstil (ITPT). Dalam industri tekstil, serat kapas memiliki karakteristik yang belum tertandingi oleh serat sintetis. Kementerian Perindustrian mencatat, pada tahun 2016 nilai investasi industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) mencapai Rp7,54 triliun dengan perolehan devisa yang signifikan dari nilai ekspor sebesar US$ 11,87 miliar dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 17% dari total tenaga kerja industri manufaktur. Dukungan ketersediaan serat kapas dari dalam negeri sangat rendah. Volume impor kapas setiap tahun bervariasi 450-760 ribu ton setara dengan 99.5% dari kebutuhan serat nasional yang bernilai lebih kurang US$ 650 juta.

Faktor pembatas utama di areal pengembangan kapas adalah ketersediaan air dan adanya serangan hama Amrasca biguttulla pada awal musim. Serangkaian kegiatan pemuliaan untuk mendapatkan varietas unggul baru kapas yang produktivitasnya tinggi, toleran terhadap kekeringan dan toleran terhadap A biguttula, telah dilakukan sejak tahun 2003 – 2016. Dari kegiatan tersebut diperoleh 3 galur unggul yang diusulkan pelepasannya sebagai varietas unggul baru yaitu: galur 03008/25, 03009/3 dan 03017/15. Keunggulan masing-masing galur adalah sebagai berikut:

Galur 03008/25 (KI. 645 x MYSORE VIJAYA) merupakan hasil persilangan antara KI. 645 (tetua betina) hasil introduksi dari Amerika Serikat pada tahun 2001 dengan MYSORE VIJAYA (tetua jantan) hasil introduksi dari India pada tahun 1984. Galur 03008/25 moderat toleran terhadap kekeringan, agak tahan terhadap hama A. biguttula dengan kerapatan bulu daun 421 bulu/cm2 (banyak), tahan terhadap penyakit S. rolfsi. Potensi produksi bervariasi antara 1951,8 kg – 3533,7 kg kapas berbiji/ha tanpa perlakuan benih dan 1621,7 kg – 3521,0 kg kapas berbiji/ha dengan perlakuan benih, dengan peningkatan produktivitas 25% - 35% dibandingkan Kanesia 10. Galur 03008/25 mampu beradaptasi secara luas pada kondisi dengan perlakuan benih sebelum tanam, berproduktivitas tertinggi di daerah dengan tipe tanah vertisol/grumosol, curah hujan setahun 2900mm dengan tipe iklim sedang. Kandungan serat 38,9 %, mutu serat (kehalusan serat 4,9 mikroner, kekuatan serat 28,4 g/tex, panjang serat 28,5 mm, keseragaman serat 86,6 % dan mulur serat 7,3 %). Mutu serat galur 03008/25 memenuhi syarat yang diinginkan industri tekstil. Galur 03008/25 diusulkan untuk dilepas dengan nama KANESIA 21.

Galur 03009/3 (CAMBODIA x MYSORE VIJAYA) merupakan hasil persilangan antara CAMBODIA (tetua betina) dengan MYSORE VIJAYA (tetua jantan) hasil introduksi dari India pada tahun 1984. Galur 03009/3 toleran terhadap kekeringan, agak tahan terhadap hama A. biguttula dengan kerapatan bulu daun 277 bulu/cm2 (sedang). Tahan terhadap penyakit S. rolfsii, agak tahan terhadap penyakit R. solani. Potensi produksi bervariasi antara 1921 kg – 2744 kg kapas berbiji/ha tanpa perlakuan benih dan 1635 kg – 3037 kg kapas berbiji/ha dengan perlakuan benih sebelum tanam, dengan peningkatan produktivitas 18% dibandingkan Kanesia 10. Galur 03009/3 beradaptasi secara luas dengan perlakuan benih maupun tanpa perlakuan benih. Kandungan serat 37,8 %, mutu serat (kekuatan serat 30,1 g/tex, kehalusan serat 4,7 mikroner, panjang serat 28,3 mm, keseragaman serat 87.3 % dan mulur serat 8.0 %). Mutu serat galur 03009/3 memenuhi syarat yang diinginkan oleh industri tekstil. Galur 03009/3 diusulkan untuk dilepas dengan nama KANESIA 22.

Galur 03017/15 (KI. 645 x LAXMI) merupakan hasil persilangan antara KI. 645 (tetua betina) hasil introduksi dari Amerika Serikat pada tahun 2001 dengan LAXMI (tetua jantan) hasil introduksi dari India pada tahun 1982. Galur 03017/15 moderat toleran terhadap kekeringan, agak tahan terhadap A. biguttula, tahan terhadap penyakit S. rolfsii, agak tahan terhadap penyakit R. solani. Potensi produksi bervariasi antara 2073 kg – 2926 kg kapas berbiji/ha tanpa perlakuan benih dan 1011 kg - 3627 kg kapas berbiji/ha dengan perlakuan benih, dengan peningkatan produktivitas 18% - 26% dibandingkan Kanesia 10. Galur 03017/15 mampu beradaptasi secara luas pada kondisi dengan perlakuan benih, berproduktivitas tertinggi di daerah dengan tipe tanah vertisol/grumosol, curah hujan setahun 2900mm dengan tipe iklim sedang. Kandungan serat 40,2 %, mutu serat (kekuatan serat 31,3 g/tex, kehalusan serat 4,8 mikroner, panjang serat 28,0 mm, keseragaman serat 88,4 % dan mulur serat 7,3 %). Mutu serat galur 03017/15 memenuhi syarat yang diinginkan oleh industri tekstil. Galur 03017/15 diusulkan untuk dilepas dengan nama KANESIA 23 (Siwi Sumartini dkk)

 

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Sosial media

Pencarian

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini1451
Pengunjung Bulan Ini37639
Total Kunjungan580708
Statistik created: 2018-10-21T18:19:06+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.