Pengelolaan Organik Pada Tebu

Oleh: Mastur dan Budi Hariyono

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Bahan organik adalah bahan yang tersusun dari senyawa organik yang berasal dari organisme hidup. Struktur dasar bahan organik terdiri dari selulose, tanin, kutin, lignin, hemiselulose, protein, lemak dan karbohidrat. Humus merupakan bahan organik tanah yang tahan lapuk, memiliki kemampuan menjerap hara anion (KTA), kation (KTK), maupun air.Bahan organik tanah merupakan indikator kualitas tanah dan menjadi indikator kunci untuk keberlanjutan pengelolaan lahan pertanian. Kandungan bahan organik tanah yang tinggi mampu meningkatkan efisiensi dan penyediaan hara, air, serta menekan pengaruh buruk pH tanah ekstrim baik terlalu masam maupun alkalin.

Bahan organik merupakan bahan penting untuk perbaikan sifat fisika, kimia dan biologi tanah.Bahan organik dapat berperan sebagai pupuk karena mampu memasok hara sesuai dengan jenisnya.Bahan organik dari pupuk hijau atau legum sangat kaya N dan mudah tersedia karena nisbah C/N yang rendah.Bahan organik juga berperan sebagai pembenah tanah karena mampu memperbaiki sifat fisika tanah seperti struktur, kemampuan mengikat air, permeabilitas dan infiltrasi, konsistensi, maupun kekerasan dan sifat mekanis tanah lainnya.Bahan organik juga merupakan amelioran yang baik karena mampu mengendalikan kemasaman dan keracunanAldan Fe tanah. Efektifitas bahan organik dalam memperbaiki berbagai karakteristik tanah dipengaruhi jenis/asal bahan, tingkat pelapukan, dosis, cara dan waktu pemberian, karakteristik fisiko-kimia dan biologi tanah, serta kombinasinya dengan bahan lain.

Sumber Bahan Organik

Bahan organik untuk perbaikan kualitas tanah dapat berasal dari tanaman, hewan, maupun manusia. Tanaman jenis kacang-kacangan (Leguminosae) menghasilkan biomassa yang memiliki nisbah C/N yang rendah, sehingga mudah terurai dalam tanah, lebih berfungsi memperbaiki sifat kimia tanah dan dapat menjadi penyuplai hara. Sedangkan biomassa dari tanaman non legum memiliki nisbah C/N yang tinggi seperi brangkasan Gramineae, lebih lama terdegradasi karena mengandung lignin dan hemiselulose yang tinggi, lebih berfungsi untuk memperbaiki sifat fisika tanah. Kotoran hewan baik padat maupun cair yang dikomposkan merupakan sumber bahan organik yang baik untuk perbaikan tanah. Di beberapa negara, bahkan kotoran manusia diproses untuk dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk perbaikan kualitas tanah. Sampah kota juga merupakan sumber bahan organik yang potensial bagi perbaikan kualitas tanah.

Aplikasi Bahan Organik

Aplikasi bahan organik ke dalam tanah dapat berupa pupuk, mulsa atau biochar. Sebagai pupuk, bahan organik diberikan ke dalam tanah dalam bentuk pupuk hijau (biomassa tanaman Legum), kompos, pupuk kandang, atau pupuk hayati (mikrobia penambat N dan pelarut P). Bahan organik berupa serasah tanaman non Legum yang dihamparkan di permukaan tanah berfungsi sebagai mulsa, untuk konservasi tanah dan air serta stabilisasi kelembaban tanah. Cara lain untuk mengelola bahan organik adalah dengan biochar, dimana biomassa diproses menjadi arang, yang dipercaya bahwa karbon yang ditambahkan ke dalam tanah akan lebih bertahan lama dibandingkan dari biomassa segar atau yang sudah dikomposkan.

Pengelolaan Bahan Organik untuk Tebu

Pupuk Hijau

Dalam budidaya tebu, pemupukan hijau dengan tanaman Legum dapat dipraktekkan untuk memelihara keseimbangan sistem karena berfungsi: melindungi tanah dari erosi selama musim hujan, sebagai sumber hara terutama N dari fiksasi maupun dekomposisi biomassa, meningkatkan ketersediaan hara Ca, Mg, S dan P, memperbaiki agregat dan struktur tanah, mengendalikan nematoda terutama jika menggunakan Crotalaria spectabilis atau Crotalaria ochroleuca, dan dapat meningkatkan pendapatan jika pupuk hijau yang ditanam adalah kacang tanah, kacang hijau dan kedelai. Tanaman pupuk hijau sebaiknya ditanam bersamaan tanam tebu dengan cara di tugal atau disebar di antara barisan tebu. Pada puncak fase vegetatif (mulai muncul kuncup bunga), tanaman pupuk hijau dipanen seluruh biomassanya dan dimasukkan ke dalam tanah atau dijadikan mulsa pada barisan tebu. Tanaman Legum juga dapat ditanam sebagai penutup tanah, disamping menyumbang hara, dapat mengurangi penguapan. Tanaman ini dapat ditanam setelah panen tebu untuk menutup lahan yang terbuka.

Pupuk Organik

Dalam industri gula tebu adalah penting untuk melakukan pemupukan organik. Dari pabrik gula dihasilkan limbah berupa blotong, bagasse dan abu ketel. Umumnya blotong dapat memiliki rasio C/N 22, pH 5,93, berat jenis 600 kg/m3 dan kadar air 65%, N 1,49%, P2O5 1,72%, Ca 4,59%, Zn 143 mg/kg dan Cu 120 mg/kg. Abu ketel mengandung N 0,28%, P2O5 0,04%, K2O 0,27%, Ca 3,24% dan S 0,08%. Sebelum diaplikasi ke dalam tanah, blotong dibiarkan beberapa waktu agar terjadi dekomposisi secara aerob, dimana dapat diperkaya dengan abu ketel, pupuk kandang atau bahan lainnya. Aplikasi blotong dapat dicampurkan ke seluruh lahan atau hanya pada barisan tebu. Pemberian blotong dapat menyuplai hara sekitar30-40 kg N, 120-150 kg P2O5 dan 100-120 kg K2O per hektar, dengan demikian dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik.

Pupuk kandang dan kompos juga merupakan pupuk organik yang dapat digunakan untuk pengelolaan lahan tebu. Pupuk hayati berupa mikrobia penambat N dan pelarut P juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya tebu. Kombinasi pupuk hayati dan biomassa organik dapat bersinergi untuk memperbaiki hara tanah untuk mendukung pertumbuhan dan hasil tebu.

Pemberian pupuk organik pada tebu sangat penting terutama untuk peningkatan produktivitas tebu melalui perbaikan sifat kimia, fisika dan biologi tanah. Pemberian pupuk organik diharapkan sedikitnya 5 ton/ha terutama berupa kompos, pupuk kandang, atau pupuk hijau.Pada saat ini, dimana rendemen tanaman tebu sulit ditingkatkan, baik karena faktor potensi varietas maupun faktor lain, strategi peningkatan produktivitas hablur pelu ditempuh melalui kombinasi pemupukan organik dan anorganik yang tepat, disertai perbaikan teknologi budidaya, serta upaya menekan kehilangan/penurunan hasil karena hama penyakit dan tebang-muat-angkut-giling (pasca panen).

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Sosial media

Pencarian

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini1451
Pengunjung Bulan Ini37639
Total Kunjungan580708
Statistik created: 2018-10-21T18:19:06+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.