Kebutuhan Air Tanaman Tebu

PENDAHULUAN

Tanaman tebu dapat tumbuh di daerah tropis dan subtropis dengan masalah utama ketersediaan air baik kekurangan (kekeringan) maupun kelebihan (drainase buruk). Curah hujan yang dibutuhkan untuk menghasilkan produktivitas tebu sangat tinggi. Lahan berdrainase lancar dengan suplai air cukup sangat sesuai untuk tebu untuk menghindari terjadinya genangan terutama pada fase kemasakan. Produktivitas tanaman tebu sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim, lahan, dan pengelolaan tanaman. Di lahan kering rata-rata produktivitas tebu lebih rendah dibanding lahan beririgasi. Untuk memperoleh produktivitas tebu yang tinggi diusahakan agar tanaman mendapat air menurut kebutuhan pada setiap fase pertumbuhan. Namun, kenyataan di lapang sulit untuk mendapatkan kondisi optimum pada setiap fase pertumbuhan.

Fase pertumbuhan tanaman tebu terdiri atas perkecambahan (5-30 hari), pertunasan (6-12 minggu), pemanjangan batang (4-10 bulan), dan kemasakan (>8 bulan). Kondisi lingkungan sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan setiap fase tanaman tebu. Ketersediaan air yang cukup pada fase perkecambahan dapat mempercepat tumbuhnya batang (shoot) dan akar (root), dan pertumbuhan jumlah anakan pada fase pertunasan. Tingkat ketersediaan air pada periode pemanjangan batang menentukan tinggi batang, sedangkan pada periode kemasakan akan menentukan tingkat rendemen.

Dengan periode hujan yang terbatas, penanaman tebu pada periode I (akhir musim hujan) seringkali dihadapkan pada kondisi stres air terutama pada fase pertunasan sehingga diperoleh jumlah tunas yang sedikit. Penanaman tebu pada periode II (awal musim hujan) biasanya dihadapkan dengan stres air terutama pada fase pemanjangan batang dan menyebabkan panjang batang kurang optimal. Stres yang terjadi pada fase pemanjangan batang akan menyebabkan ruas batang pendek dan pertumbuhan tinggi tanaman terhambat. Sedangkan pada fase kemasakan justru diperlukan kondisi kering. Respon tanaman terhadap tingkat stres air akan berbeda pada setiap fase pertumbuhan, untuk itu perlu mengetahui kebutuhan air tanaman.

Kebutuhan Air Tanaman Tebu

Pada tanaman tebu, kebutuhan air berbeda tergantung setiap fase pertumbuhan. Kebutuhan air ini berbeda dari lokasi ke lokasi dan kondisi iklim. Pada saat tanam kondisi tanah harus cukup lembab (50 % kandungan air tanah tersedia). Pada fase perkecambahan kebutuhan air tanaman rendah, kemudian mulai meningkat pada fase pertunasan dan mencapai puncaknya pada fase pemanjangan batang atau pertumbuhan cepat, dan mulai menurun pada fase kemasakan sampai panen. Secara sederhana kebutuhan air tanaman merupakan perkalian antara evapotranspirasi potensial dengan koefisien tanaman. Koefisien tanaman menurut FAO (2013) disajikankan pada Gambar 1 yang menggambarkan pola kebutuhan air tanaman tebu.

Evapotranspirasi potensial dapat dihitung menggunakan metode Penman berdasarkan data iklim. Evapotranspirasi potensial di wilayah Jawa Timur dan PG Camming, Bone disajikan pada Gambar 2a dan 2b. Selama musim hujan sampai awal musim kemarau evapotranspirasi potensial di wilayah Jawa Timur berkisar 3,92-4,70 mm/hari, kemudian meningkat mulai Agustus sampai Oktober dengan kisaran 5,06-5,59 mm/hari seiring dengan meningkatnya suhu maksimum, intensitas radiasi matahari dan kecepatan angin. Di wilayah PG Camming evapotranspirasi potensial Desember-Mei berkisar 3,01-3,78 mm/hari, Juni-Juli 2,72-2,99 mm/hari, dan Agustus-November 3,69-4,48 mm/hari.

Total evapotranspirasi potensial selama musim tanam di wilayah PG Camming 1.278 mm dan 1.692 mm di Jawa Timur pada penanaman bulan November (pola II). Dari data tersebut mengindikasikan bahwa pengembangan tebu di masing-masing wilayah diarahkan ke wilayah dengan curah hujan tahunan mendekati total evapotranspirasi potensial yang tersebar merata sesuai dengan pola kebutuhan air tebu.

Dengan curah hujan efektif 80% maka dibutuhkan curah hujan tahunan sebesar 2.100 mm untuk wilayah Jawa Timur dan 1.600 mm untuk PG Camming. Idealnya saat puncak kebutuhan air tanaman yaitu saat fase pemanjangan batang bersamaan dengan musim hujan (3-4 bulan) dan pada akhir musim hujan mulai memasuki fase kemasakan. Pembentukan sukrosa sangat ditentukan oleh periode kering sehingga dengan curah hujan yang merata sepanjang tahun terutama pada curah hujan tahunan 2.000-3.000 mm akan diikuti dengan periode kering yang pendek sehingga waktu yang dubutuhkan untuk kemasakan tebu berkurang dan menurunkan kandungan sukrosa dalam batang tebu sehingga menurunkan rendemen gula.

Varietas tebu masak awal akan masak terlebih dahulu begitu memasuki musim kemarau kemudian varietas tebu masak lambat membutuhkan waktu yang lebih lama lagi akan masak.

Pengairan dan Drainase

Pengairan diberikan apabila curah hujan tidak dapat memenuhi kebutuhan air tanaman. Drainase dibutuhkan apabila curah hujan melebihi kebutuhan air tanaman dan kapasitas tanah memegang air. Produksi tanaman tebu sangat ditentukan oleh jumlah dan bobot batang sehingga usaha untuk menjamin ketersediaan air tanaman sangat diperlukan.

Saat kanopi tanaman belum menutup tunas terus bertambah jumlahnya, dan saat kanopi tanaman telah menutup, tunas-tunas muda akan mati dan tunas yang ada akan tumbuh memanjang. Dengan jumlah tunas dan panjang batang yang optimal akan diperoleh produksi yang tinggi. Saat fase kemasakan tidak membutuhkan pengairan.

Idealnya penanaman tebu dilakukan sebelum memasuki musim hujan dengan menambah pengairan pada awal pertumbuhan yaitu pada fase perkecambahan sampai pertunasan dan memasuki fase pemanjangan batang bersamaan dengan musim hujan dan menjelang kemasakan bersamaan dengan musim kemarau. Tanaman tebu membutuhkan 9 bulan dengan tingkat kecukupan air sebelum memasuki periode kemasakan sehingga waktu tanam sangat berpengaruh pada tanaman baru (PC).

Pemilihan lahan yang sesuai sebaiknya mempunyai drainase lancar karena tanaman untuk menghindari genangan, maka usaha untuk perbaikan saluran drainase sangat diperlukan. Pada kondisi anomali iklim yang mengarah pada curah hujan tinggi menyebabkan potensi genangan pada lahan berdrainase buruk dan bila terjadi pada musim kemarau akan menurunkan tingkat rendemen.

Jumlah air yang dibutuhkan untuk mengairi pada fase awal tumbuh lebih sedikit dibanding mengairi pada fase pemanjangan batang. Efisiensi penggunaan air pada kondisi air tanah 80% di berbagai wilayah di dunia dilaporkan oleh FAO sebesar 5-8 kg tebu/m3 air dan 0,6-1 kg sukrosa/m3 air.(Prima Diarini Riajaya)

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Database :

Sosial media

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini1257
Pengunjung Bulan Ini30962
Total Kunjungan535109
Statistik created: 2018-09-25T19:20:05+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.