Eksplorasi Mikoriza Di Lahan Bekas Tambang Batu Apung Di Pulau Lombok
Oleh : Arini Hidayati Jamil, S.P.

Di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Barat, tambang batu apung merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat sejak tahun 1980. Berdasarkan data Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi NTB Tahun 2013, potensi volume batu apung di Kabupaten Lombok Timur mencapai 1.990.650 m3 dan Kabupaten Lombok Barat sebesar 34.600 m3. Penambangan batu apung tersebut telah menyebabkan degradasi lahan (Gambar 1) yang ditandai dengan semakin tipisnya solum tanah dan kesuburan lahan.

Untuk mengembalikan kesuburan lahan bekas tambang batu apung, telah dilakukan usaha-usaha reklamasi lahan dengan penanaman tanaman seperti mimba, asem, rumput gajah, kelapa, bambu, dan sengon. Saat ini lahan bekas tambang tersebut dimanfaatkan untuk bercocok tanam jagung, singkong, dan pisang meskipun pertumbuhan tanaman tidak sebaik pada tanah pada umumnya. Di Desa Taman Ayu, Lombok Barat, reklamasi lahan dilakukan dengtelah ditanami tanaman penanaman kelapa yang ditumpangsarikan dengan kacang tanah (Gambar 2). Pada lahan yang ditambang masih terdapat pohon mangga, mimba, dan jarak kepyar yang tumbuh cukup baik. Tanaman-tanaman yang tumbuh pada lahan terdegradasi diantaranya bersimbiosis dengan mikoriza yang membantu menyerap unsur hara dan air untuk tanaman inangnya.

penambangan batu apung

Gambar 1.

Lokasi penambangan batu apung di Kelurahan Ijobalit, Lombok Timur dan beberapa tanaman jarak kepyar yang tumbuh di sekitarnya.

lahan bekas tambang batu apung

Gambar 2.

Tanaman bambu, kelapa, dan kacang tanah di lahan bekas tambang batu apung yang telah direklamasi di Desa Taman Ayu, Lombok Barat.

Tanaman yang tumbuh di tebing batu apung

Gambar 3.

Tanaman lamtoro yang tumbuh di tebing batu apung di Desa Taman Ayu, Lombok Barat.

lahan bekas tambang batu apung yang telah direklamasi

Gambar 4.

Tanaman jagung, kacang tanah, dan singkong hasil budidaya masyarakat Kelurahan Ijobalit, Lombok Timur pada lahan bekas tambang batu apung yang telah direklamasi.

Untuk mengetahui keberadaan mikoriza di lahan bekas tambang batu apung tersebut, telah dilakukan eksplorasi dengan mengumpulkan sampel akar dan tanah di daerah perakaran (rhizosfer) tanaman dari beberapa tanaman yang tumbuh di lahan bekas tambang tersebut. Hasilnya adalah seluruh tanaman sampel telah terinfeksi mikoriza dengan persentase yang beragam seperti disajikan pada Tabel 1. Mikoriza yang ditemukan berupa endomikoriza atau yang biasa disebut mikoriza vesikular arbuskular (MVA). Infeksi MVA pada akar diamati dengan keberadaan hifa eksternal, vesikula (Gambar 5a), dan arbuskula (Gambar 5b).

mikoriza

Gambar 5.

(a) Hifa eksternal (H) dan vesikula (V) pada akar tanaman jarak kepyar dan (b) arbuskula (A) pada akar tanaman asem.

spora jamur mikoriza

Gambar 6.

Beberapa spora jamur mikoriza yang diperoleh dari rhizosfer tanaman jati.

Tabel 1. Persentase infeksi mikoriza pada sampel tanaman di lahan bekas tambang batu apung

Responsive image

Pengamatan MVA dilakukan dengan pewarnaan Trypan blue pada masing-masing 30 potongan sampel akar. Tabel 1 memperlihatkan bahwa persentase infeksi tertinggi ditemukan pada akar tanaman mimba, jati, dan pisang yang mencapai 100%. Saat ini sedang dilakukan proses identifikasi melalui pengamatan spora (Gambar 6) untuk selanjutnya diperbanyak dan dievaluasi efektifitasnya pada tanaman kemiri minyak yang akan dikembangkan di lahan bekas tambang tersebut.

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini419
Pengunjung Bulan Ini10202
Total Kunjungan370896
Statistik created: 2018-02-24T22:41:48+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.