Penyakit Cucumber Mosaic Virus (CMV) Pada Tanaman Tembakau

Oleh : Cece Suhara

Virus Mosaik Ketimun (Cucumber Mosaic Virus)

Virus mosaik ketimun adalah virus tanaman yang berbentuk polihedral dengan diameter 28 nm, menginfeksi lebih dari 775 spesies tumbuhan dalam 67 famili dan dapat ditularkan oleh 75 spesies afid secara non-persistent (Murant dan Mayo, 1982). Virus mosaik ketimun mempunyai kisaran inang yang sangat luas, terdapat pada tanaman sayuran, tanaman hias dan tanaman buah-buahan. Selain menyerang tanaman ketimun, virus mosaik ketimun juga dapat menyerang melon, labu, cabai, bayam, tomat, seledri, bit, tanaman polong-polongan, pisang, tanaman famili Crucifereae, delphinium, gladiol, lili, petunia, zinia dan beberapa jenis gulma (Agrios, 1988). Dibeberapa negara, virus mosaik ketimun telah menyebabkan penyakit yang berat pada tanaman tertentu. Virus mosaik ketimun terdapat hampir di semua negara dan strain yang berbeda sifat biologinya telah dilaporkan dari berbagai tempat. Virus mosaik ketimun mempunyai banyak strain, oleh karena itu mempunyai jumlah inang yang banyak serta gejala yang ditimbulkan beragam.

 Arti ekonomi penyakit virus CMV

Penyakit virus pada tembakau khususnya gejala mosaik pada umumnya masih kurang disadari kerugian yang ditimbulkannya oleh petani, khususnya pada tembakau rajangan, karena tanaman yang sakit tidak langsung mati dan masih memberikan hasil walaupun kualitasnya menurun. Pada tembakau cerutu penyakit virus menyebabkan kerugian yang cukup besar, karena selain mengurangi produksi juga sangat berpengaruh terhadap mutu daun yang dihasilkan. Daun tembakau yang terserang virus pada umumnya menunjukkan gejala mosaik, berkerut atau menggulung, ukurannya menjadi lebih kecil, rapuh, elastisitas dan daya bakarnya menurun. Menurut Lucas (1975) daun yang terserang penyakit CMV menunjukkan gejala terjadi perubahan warna secara nyata seperti pola mosaik, kebanyakan tanaman kerdil, daun menyempit dan mengalami distorsi. Besarnya kerugian tergantung dari jenis virus yang menyerang, jenis tembakau dan waktu terjadinya infeksi

Pada pertanaman tembakau virginia di daerah Bojonegoro, areal yang terserang mencapai 25-30%, sehingga diperkirakan kerugian bisa mencapai 5 milyar rupiah. Di Lumajang pada pertanaman tembakau burley terserang penyakit CMV berkisar antara 30-73,5% pada tanaman seri III, sedangkan serangan virus pada tembakau Besuki NO cukup berat, sehingga menimbulkan penurunan produksi sekitar 10%. Berdasarkan dari gejala yang tampak di lapang diduga penyebabnya adalah CMV.

Bioekologi Virus CMV

Virus CMV termasuk kedalam Cucumo virus. Zarah virus berbentuk isometrik dengan diameter 30 nm. CMV mempunyai suhu inaktivasi antara 60-750C, dengan titik pengenceran akhir 10-4. Dalam tanaman sakit, virus akan menjadi inaktif setelah disimpan selama 96 jam pada suhu kamar. CMV dapat ditularkan secara mekanis, oleh lebih dari 60 jenis kutu daun secara non-persisten, termasuk Myzus persicae dan Aphis gossypii, serta melalui biji beberapa tanaman inang (Gonzalves dan Garnsey, 1989). CMV termasuk jenis virus yang mempunyai sebaran tanaman inang yang sangat luas dan dapat menyerang 775 jenis tanaman dari 85 famili, termasuk famili Cucurbitaceae, Papilionaceae, Solanaceae dan Cruciferae. Diantara tanaman tersebut yang sering ditemukan berada disekitar tanaman tembakau adalah: tomat, cabai, mentimun, terung, buncis, kacang tunggak, dan kacang panjang (Gonzalves dan Garnsey, 1989). Penularan CMV melalui biji dan infeksi pada beberapa tumbuhan liar terbukti memegang peranan penting dalam penyebaran dan perkembangan penyakit di lapang.

Gejala penyakit Virus CMV 

Gejala penyakit virus pada populasi tanaman inang merupakan hasil interaksi antara virus, tanaman inang, dan lingkungan. Faktor lain yang berpengaruh adalah campur tangan manusia yang berperan dalam mengubah sistem pertanaman (Akin, 2006). Manusia mempunyai peran yang sangat penting dalam penyebaran penyakit virus dan vektornya. Manusia dapat mempengaruhi patogenisitas virus, kerentanan tanaman terhadap virus maupun vektor dan terhadap lingkungan disekitar pertanaman. Manusia merupakan salah satu media yang sangat penting dalam penyebaran penyakit, karena mempunyai mobilitas yang tinggi sehingga dalam waktu singkat dapat membawa tanaman sekaligus vektor dan penyakitnya ke tempat-tempat yang jauh dalam waktu yang relatif singkat, meskipun harus melalui barier yang sangat keras (Wahyuni, 2005).

Faktor lingkungan fisik yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit virus dan vektornya adalah : 1) curah hujan; 2) Angin; 3) suhu udara; dan 4) jenis tanah dan kelengasannya. Curah hujan sangat berperan dalam perkembangan penyakit virus yang mempunyai vektor soilborne dan airborne Curah hujan di daerah tropika dan sub tropika berkaitan langsung dengan kelembaban udara yang tinggi. Infeksi virus pada tumbuhan lebih banyak terjadi pada musim semi atau hujan. Kelembaban udara yang tinggi menyebabkan jaringan palisade daun memanjang dan teksturnya menjadi lebih lemas. Angin berpengaruh terhadap penyebaran vektor, sehingga virus yang dibawanya bisa lebih cepat menyebar. Suhu dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan musim. Musim panas intensitas cahaya sangat tinggi, dan panjang hari lebih lama, keadaan ini menyebabkan daun menjadi lebih tebal dan teksturnya agak keras. Suhu berpengaruh pada pergerakan dan kecepatan memperbanyak diri vektor airborne (Wahyuni, 2005). 

Pengendalian penyakit CMV 

Sampai sekarang belum ditemukan agensia yang efektif untuk mengobati penyakit virus. Tanaman yang sudah terinfeksi virus sudah tidak mungkin sembuh dari penyakit tersebut, sehingga akan menjadi sumber infeksi bagi tanaman sehat disekitarnya. Seranggga vektor banyak berperan dalam penyebaran penyakit virus yang berasal dari sumber inokulum. Beberapa jenis kutu daun ditularkan secara persisten maupun non persisten. Virus non persisten yang ditularkan oleh kutu daun lebih banyak berperan dalam penularan penyakit virus dengan cara menghisap cairan tanaman yang sudah terserang virus kemudian menularkannya kembali pada tanaman sehat dengan cara menusukkan styletnya sebelum mati. Pengendalian serangga vektor dengan insektisida kimia tidak banyak berpengaruh terhadap pengendalian penyakit virus non persisten. Terkait dengan isu global mengenai residu pestisida pada tanaman, pengendalian penyakit secara kimiawi mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan dan mikroorganisme non target. Pengendalian virus yang efektif dan efisien saat ini belum banyak diketahui. Sejauh ini pengendalian virus masih bersifat preventif, yang dilakukan dilakukan secara tidak langsung dengan memadukan beberapa metode yaitu : 1) pencegahan infeksi di lapang misalnya dengan rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan inang virus maupun vektornya, menekan populasi vektor, 2) mencegah penyebaran di dalam tanaman misalnya dengan menghilangkan gulma inang, mencegah penularan mekanis, 3) menanam bibit bebas virus, 4) tanam serempak dan 5) proteksi silang. Alternatif pengendalian CMV dengan vaksin Carna-5 sebagai biokontrol.

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Database :

Sosial media

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini1223
Pengunjung Bulan Ini29251
Total Kunjungan533398
Statistik created: 2018-09-24T17:50:39+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.