Budidaya Tembakau Temanggung

Oleh : Sulis Nur Hidayati dan Supriyadi

PENDAHULUAN

Kabupaten Temanggung merupakan salah satu daerah penghasil tembakau rajangan di Jawa Tengah yang memiliki rasa sebagai lauk. Areal penanaman-nya meliputi lereng gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Potensi areal tembakau Temanggung sekitar 9.326 ha dengan produksi 9.496 ton. Hampir semua industri rokok keretek membutuhkan tembakau temanggung, namun demikian produksinya masih tergolong rendah yaitu hanya 0,5 ton per hektar. Oleh karena itu penerapan teknologi budi daya yang tepat perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi dan mutu tembakau temanggung.

Tembakau Temanggung sesuai ditanam di daerah dengan ketinggian 400 m dpl. sampai dengan 1.500 m dpl., curah hujan antara 2.200–3.100 mm/ tahun dengan 8–9 bulan basah dan 3–4 bulan kering. Tanah yang sesuai untuk tembakau adalah tanah yang gembur, remah, drainase baik, dan mudah mengikat air serta pH sekitar 5,5–6,5.

Persemaian

Bibit yang sehat merupakan salah satu faktor penting keberhasilan budi daya tembakau. Untuk mendapatkan bibit yang sehat dan seragam perlu diperhatikan beberapa aspek dalam persemaian, di antaranya pemilihan lahan yang subur, gembur, dan berdrainase baik. Usahakan lahan dekat dengan sumber air untuk memudahkan dalam penyiraman. Bedengan diberi atap yang dibuat dari jerami, alang-alang, daun kelapa atau plastik yang dapat dibuka dan ditutup. Penyiraman dilakukan secara teratur pagi dan sore sejak benih ditabur. Setelah bibit berumur 2–3 minggu atap perlu dibuka pada pagi hari dan ditutup pada siang hari. Bila bibit sudah mempunyai daun dengan lebar 5 cm atap dapat di buka sepanjang hari.

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah. Pengolahan tanah juga bertujuan agar tanah lebih gembur sehingga mudah untuk ditembus akar tanaman. Lahan-lahan tembakau di Kabupaten Temanggung memiliki kemiringan datar sampai terjal. Pada lahan datar, pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul, 1–2 hari dilanjutkan dengan pembuatan guludan setinggi 25–30 cm (Gambar 1). Guludan berfungsi untuk meminimalkan jumlah tanaman yang mati akibat adanya genangan air. Jarak tanam 110 cm x 50 cm. Got keliling dibuat untuk memudahkan pembuangan air saat terjadi kelebihan air.

Sebagian besar lahan di Kabupaten Temanggung meru-pakan lahan miring. Lahan dengan kemiringan lahan > 15% memiliki potensi terjadinya erosi, sehingga pengolahan lahan minimal diperlukan untuk mengurangi kehilangan bahan organik tanah akibat tererosi. Pengolahan tanah minimal dapat dilakukan dengan memperbaiki alur-alur erosi yang umum dijumpai pada tanah-tanah Andisol.

 

Penanaman

Bibit siap dipindah ke lapang pada umur 40–45 hari. Sebelumnya dipilih bibit yang sehat, seragam, dan akarnya banyak. Bibit ditanam di lubang tanam dengan kedalaman penanaman sebatas batang atau leher akar, kemudian ditutup dengan tanah yang gembur. Sebaiknya tanam dilakukan sore hari saat intensitas cahaya matahari sudah berkurang. Sulaman sebaiknya tidak lebih dari 10 hari dari tanam pertama agar diperoleh pertumbuhan dan umur panen yang seragam. Penyiraman dilakukan menyesuaikan dengan kondisi kelembapan tanahnya.

Pendangiran, pembumbunan, dan penyiangan

Pendangiran dilakukan pada 3 minggu setelah tanam, sambil dibumbun tanah disiangi sehingga tanaman tidak terganggu oleh tanaman gulma. Hal tesebut dilakukan kembali setelah tanaman berumur 5 minggu dan terakhir setelah tanaman berumur 7 minggu

Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal (Gambar 2) dengan memperhatikan dosis dan waktu aplikasinya. Dosis pemupukan sangat tergantung kondisi tanah di mana tembakau ditanam. Hasil pengujian Balittas di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung pada tahun 2014 (Gambar 3) menunjukkan bahwa dosis pupuk sebanyak 75 kg N per ha + 67 kg P2O5 per ha + 153 kg K2O per ha (dosis introduksi) meningkatkan produksi daun basah 20%, produksi rajangan kering 32%, dan meningkatkan indeks mutu sebesar 54% dan indeks tanaman 2 kali lebih tinggi dibandingkan paket petani yang terdiri dari 165 kg N + 54 kg P2O5/ha.

Pupuk P diaplikasikan satu hari sebelum tanam sedangkan pupuk N dan K diaplikasikan dua kali yaitu pada 5 hari setelah tanam (HST) dan 21 HST. Hindari penggunaan pupuk yang mengandung klor (Cl) tinggi karena kadar klor yang tinggi dalam daun tembakau akan menurunkan kualitas tembakau.

 

Pemangkasan dan pembuangan sirung

Tujuan pemangkasan untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan daun, serta memperoleh kualitas sesuai permintaan pasar. Pemangkasan dilakukan setelah keluar bonggol bunga dengan cara memangkas di bawah 3 daun bendera. Tembakau yang telah dipangkas akan keluar sirungnya (tunas ketiak daun) agar pertumbuhannya tidak terkuras oleh pertumbuhan sirung, maka sirung perlu dibuang, dan pembuangan sirung dilakukan tiap 5–7 hari sekali.

 

Panen

Panen dilakukan tepat masak, dengan ciri-ciri warna sudah berubah menjadi hijau kekuningan dan gagangnya mudah dipatahkan pada saat dipetik. Dilakukan pagi hari setelah embun menguap, jangan siang hari karena kondisi daun agak layu. Dalam pemeraman dibutuhkan kadar air cukup agar proses kimia dapat berlangsung. Tidak dianjurkan panen daun muda karena klorofilnya masih stabil sehingga menghasilkan warna hijau mati. Dalam asap rokok klorofil menyebabkan bau langu. Hindari tercampurnya benda asing seperti potongan tali, rafia, tikar, bulu ayam, kertas, kerikil, dsb.

 

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Database :

Sosial media

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini1220
Pengunjung Bulan Ini29248
Total Kunjungan533395
Statistik created: 2018-09-24T17:50:39+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.