Ancaman Luka Api pada Perkebunan Tebu

Penyakit luka api dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar pada produksi tebu, tidak hanya secara kuantitas tetapi juga kualitas tebu yang dihasilkan termasuk rendemen tebunya. Serangan penyakit luka api pada varietas tebu yang rentan dapat menyebabkan kehilangan hasil lebih dari 60 persen.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa potensi kehilangan hasil perkebunan tebu akibat luka api pada tanaman raton lebih tinggi dibandingkan dengan plant-cane. Sebagai contoh di Cina, kehilangan hasil pada tanaman PC (Plant-Cane) mencapai 8 persen, sedangkan pada tanaman raton luka api menyebabkan kerugian sebesar 16-20 persen.

Di Indonesia, pengamatan luka api pada pertanaman tebu di daerah pengembangan di Sulawesi menunjukkan bahwa kejadian penyakit tersebut dapat mencapai 16 persen. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kejadian penyakit luka api sebesar 1 persen dapat meningkatkan resiko kehilangan hasil sebanyak 0,6 persen.

Penyakit luka api atau yang biasa dikenal sebagai smut disease yang disebabkan oleh jamur Sporisorium scitamineum merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tebu.

Penyakit ini kali pertama ditemukan di daerah Natal, Afrika Selatan pada 1877. Selanjutnya, penyakit ini ditemukan hampir pada sebagian besar daerah pengembangan tebu di berbagai negara, termasuk Brasil, Argentina, Amerika Serikat, Cina, India, Australia, serta Indonesia. Sampai saat ini, negara yang diberitakan masih aman dari penyakit luka api adalah Papua Nugini dan Fiji.

Penyakit luka api memiliki gejala yang sangat khas sehingga mudah dikenali di lapangan. Tanaman tebu yang terserang penyakit tersebut akan membentuk cambuk berwarna hitam pada bagian ujung tanamannya. Cambuk yang terbentuk dari gabungan antara jamur dan bagian tanaman tebu tersebut dapat mencapai ukuran lebih dari 1,5 meter.

Bagian berwarna hitam tersebut sebetulnya merupakan massa spora jamur yang berfungsi sebagai sumber inoculums, yang dengan bantuan angin, dapat menyebar ke tanaman lain untuk menyebabkan infeksi sekunder. Pada umumnya, tanaman tebu yang terinfeksi luka api akan menghasilkan gejala berupa cambuk hitam tersebut pada umur 4-8 pekan setelah infeksi.

Penyakit luka api ini tidak serta merta menyebabkan tanaman tebu mati, tetapi pada serangan yang parah tanaman tebu hanya dapat menghasilkan batang yang kecil-kecil seperti rumput dan kerdil.

Pengendalian penyakit luka api yang utama adalah dengan menggunakan varietas yang tahan. Sementara itu, untuk mencegah penyebaran penyakit dapat dilakukan cara memastikan bahan tanaman yang digunakan berasal dari tanaman yang sehat, tidak terinfeksi penyakit. Selanjutnya, apabila memungkinkan, lakukan pengolahan tanah pada lahan-lahan yang terinfeksi parah untuk mengurangi sumber inokulum sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit.

Perlakuan hot water treatment pada suhu 52 derajat Celcius selama 30 menit sebelum benih ditanam untuk mencegah penyebaran penyakit sistemik, seperti luka api. Setelah perlakuan hot water treatment, apabila dikehendaki, benih dapat direndam dalam fungisida yang berbahan aktif flutriafol, propiconazole, dan triadimefon. Fungisida tersebut telah digunakan di berbagai negara yang mengembangkan tebu.

Penyebaran penyakit luka api di lahan terutama melalui angin yang membantu penyebaran spora serta penggunaan bahan tanaman yang tidak sehat atau telah terinfeksi oleh jamur. Tidak menutup kemungkinan juga spora menyebar ke area lain melalui alat mesin pertanian, sepatu serta alat-alat lain yang digunakan oleh petani. Spora jamur luka api dapat bertahan di dalam tanah yang kering selama lebih dari 3 bulan. Spora juga dapat bertahan pada jaringan tanaman tebu selama tanaman tersebut masih hidup.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa penyakit luka api tidak menyebabkan tanaman tebu langsung mati karena jamur membutuhkan tanaman untuk dapat tetap hidup. Di lapangan, kejadian penyakit luka api akan meningkat dalam kondisi cuaca panas dan kering.

Nurul Hidayah

Artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

Database :

Sosial media

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Buletin

Prosiding

Leaflet

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini371
Pengunjung Bulan Ini14901
Total Kunjungan426530
Statistik created: 2018-05-23T11:58:26+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.