info teknologi

  • Preventing Cancer Using Pandan Wangi

    Pandan wangi is one of the common plants found and used for various things. Plants with the Latin name Pandanus amaryllifolius is a shrub wild plant, easy to grow, both in the lowlands and highlands, has a ribbon-shaped leaves, pointed taper with flat edges and some even have jagged and thorns and form a corner on the leaves. In fertile plants, pandan wangi leaves can reach between 40-80 cm long with a width of between 3-5 cm.

    During this time, pandan wangi is more used as a colorant and aroma enhancer in various kinds of culinary preparations, such as traditional cakes and also various cuisines, especially in Asia. This also causes this plant is known as Vanilla of the East.

    The main cause of pandan leaves has a distinctive aroma is due to the chemical content of 2AP (2 Acetyl 1 pyrroline / ACPY) which is a derivative of the amino acid phenylalanine. In addition to these chemical compounds, there is still contained alkaloid compounds, flavonoids, saponins, tannins, polyphenols, and also dyes.

    The content of these chemical compounds causes pandan wangi to have a myriad of benefits, including as antioxidants, antibacterial, antimicrobial, antidiabetic, and even anticancer.

    Some studies say that the content of β-ionone (as one type of carotenoid) in pandan leaves has anticancer activity and has been shown to reduce the development of cancer cell activity. In addition, in pandan wanggi there is also the activity of antioxidant compounds, such as β-carotene, vitamin E, phenolic compounds, and also the presence of ascorbate acid content. The activity of this antioxidant compound that can reduce the damage of body cells and degenerative diseases, such as cancer.

    In addition to the content of antioxidants, pandan wangi also contains several types of alkaloid that plays an important role, namely pandanin, which serves as antibacterial and antimicrobials that can suppress the bacteria that cause thypus disease and also some viruses that attack humans, such as influenza virus (H1N1).

    Except as a deterrent for the development of cancer cells and antidote to bacteria, pandan wangi as an herbal plant can also be used for other things. Brewed pandan leaves are proven to have anti-inflammatory effects that have a cooling effect for the treatment of fever, cough, and headaches. In fact, in some studies, brewed pandan leaves could relieve infections that occur in the urinary tract.

    Meanwhile, the content of eugenol in essential oil of pandan wangi has benefits as bactericide, nematicida, fungicide, insecticide and larvicide. Research conducted to prove that pandan leaves can be used as a repellent by causing mortality of 20-100 percent in rice lice because of the saponins compound that damage the digestive tract by reducing the activity of digestive enzymes. In addition, the pandan wangi also has a larvicidal effect on Culex mosquito larvae.

    As an herbal plant, pandan wangi has a myriad of benefits. Pandan leaves can also be used as raw material for making weaving like a mat made from pandan laut leaves. However, the woven fabric of pandan wangi leaves still has some drawbacks, both in terms of tensile strength and tear strength when compared with pandan laut leaves. Thus, if used as interior decoration and handicrafts, the quality produced is still below the quality of pandan laut leaves.

    This plant also has other added value, which can be used as a producer of natural fibers. Natural fibers become the most important composite reinforcement materials because they are decomposable, abundant, renewable, easy to process, cheap, lightweight, have low density, low energy production processes and are environmentally friendly, and has good heat and acoustic insulation properties. Pandan wangi leaves fiber better known as Pandanus amryllifolius fiber (PAF) is one of the materials that can be utilized as a composite mixture.

    However, so far there has been no research that discusses the chemical and physical characteristics of PAF specifically for the more appropriate PAF utilization.

    Nunik Eka Diana

    The article has previously been published on republika.co.id

  • Pandan Wangi Ternyata Bisa Mencegah Kanker

    Pandan wangi merupakan salah satu tanaman yang umum dijumpai dan dimanfaatkan untuk berbagai hal. Tanaman dengan nama latin Pandanus amaryllifolius ini merupakan tanaman liar berbentuk perdu, mudah tumbuh, baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, memiliki daun yang berbentuk pita, berujung lancip dengan tepi rata bahkan ada pula yang memiliki bergerigi dan duri serta membentuk sudut pada daunnya. Pada tanaman yang subur, daun pandan wangi bisa mencapai panjang antara 40-80 cm dengan lebar antara 3-5 cm.

    Selama ini, pandan wangi lebih banyak dimanfaatkan sebagai pewarna dan penambah aroma dalam berbagai macam olahan kuliner, seperti kue tradisional dan juga berbagai macam masakan, terutama di daerah Asia. Hal ini pula yang menyebabkan tanaman ini dikenal dengan nama Vanilla of the East.

    Penyebab utama daun pandan memiliki aroma yang khas adalah karena adanya kandungan senyawa kimia 2AP (2 Acetyl 1 pyrroline/ACPY) yang merupakan turunan dari asam amino fenilalanin. Di samping senyawa kimia tersebut, masih terkandung pula senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin, polifenol, dan juga zat warna.

    Kandungan senyawa-senyawa kimia tersebut yang menyebabkan pandan wangi memiliki segudang manfaat, di antaranya sebagai antioksidan, antibakteri, antimikroba, antidiabetic, dan bahkan antikanker.

    Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kandungan β-ionone (sebagai salah satu jenis carotenoid) pada daun pandan memiliki aktivitas antikanker dan telah terbukti dapat mengurangi berkembangnya aktivitas sel kanker. Selain itu, dalam pandan wangi juga ada aktivitas senyawa antioksidan, seperti β-caroten, vitamin E, senyawa-senyawa fenolic, dan juga adanya kandungan asam ascorbate. Aktivitas senyawa antioksidan inilah yang dapat mengurangi kerusakan sel tubuh dan penyakit-penyakit degeneratif, seperti kanker.

    Selain kandungan antioksidan, pandan wangi juga mengandung beberapa jenis alkaloid yang memegang peranan penting, yaitu pandanin, yang berfungsi sebagai antibakteri dan antimikrobia yang dapat menekan bakteri penyebab penyakit thypus dan juga beberapa virus yang menyerang manusia, seperti virus influenza (H1N1).

    Kecuali sebagai pencegah berkembangnya sel kanker dan penangkal bakteri, pandan wangi sebagai tanaman herbal juga bisa dimanfaatkan untuk hal lainnya. Seduhan daun pandan terbukti memiliki efek anti-inflamasi yang mempunyai efek mendinginkan untuk pengobatan demam, batuk, dan sakit kepala. Bahkan, pada beberapa penelitian, seduhan daun pandan dapat meredakan infeksi yang terjadi pada saluran kemih.

    Sementara itu, kandungan eugenol pada minyak atsiri pandan mempunyai manfaat sebagai bakterisida, nematisida, fungisida, insektisida dan larvisida. Penelitian yang dilakukan membuktikan bahwa daun pandan dapat dimanfaatkan sebagai repellen dengan menyebabkan mortalitas sebesar 20-100 persen pada kutu beras karena adanya kandungan saponin yang bersifat merusak saluran pencernaan dengan menurunkan aktivitas enzim pencernaan. Di samping itu, pandan wangi juga memiliki efek larvisida terhadap larva nyamuk Culex.

    Sebagai tanaman herbal, pandan wangi ternyata memiliki segudang manfaat. Daun pandan dapat pula dijadikan sebagai bahan baku pembuatan tenun layaknya tikar yang biasa dibuat dari daun pandan laut. Namun, tenunan berbahan baku daun pandan wangi masih memiliki beberapa kekurangan, baik dari segi kekuatan tarik dan kekuatan sobek jika dibandingkan dengan daun pandan laut. Sehingga, jika dijadikan sebagai hiasan interior dan kerajinan, kualitas yang dihasilkan masih di bawah kualitas daun pandan laut.

    Tanaman ini pun memiliki nilai tambah lain, yaitu dapat dimanfaatkan sebagai penghasil serat alami. Serat alami menjadi bahan penguat komposit yang paling penting karena memiliki sifat mudah terurai, berlimpah, renewable (mudah diperbaharui), mudah diproses, harga yang murah, bobot yang ringan, memiliki massa jenis yang rendah, proses produksi memerlukan energi yang rendah dan lebih ramah lingkungan, serta mempunyai sifat insulasi panas dan akustik yang baik. Serat daun pandan wangi yang lebih dikenal dengan Pandanus amryllifolius fiber (PAF) merupakan salah satu bahan yang dapat dimanfaatkan sebagai campuran komposit.

    Namun, sejauh ini masih belum ditemukan penelitian yang membahas tentang karakteristik kimia dan fisika PAF secara spesifik agar penggunaan PAF tersebut lebih tepat.

    Nunik Eka Diana

    Artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

  • Mesin Bud Chips Benih Tebu Pada Tegakan Tanaman (Bud Chips Tegakan)

    Terobosan teknologi mesin Bud chips dalam rangka mendapatkan benih tebu dengan cara mengambil mata tunas langsung pada tegakan batang tebu dalam rumpun tanaman dilapang. Selama ini pengambilan benih tebu bud chips dari kebun induk setelah berumur 6-8 bulan dengan cara tebu ditebang selanjutnya diangkut dan diambil mata tunas bud chipsnya ditempat lain. Pengambilan benih tebu bud chips dengan cara tebu ditebang berdampak pada sisa batang tebu yang masih muda kadar gulanya terlalu rendah tidak ekonomis untuk diolah menjadi gula sehingga limbah terkumpul sangat banyak dan merusak lingkungan. Pengambilan benih bud chips pada tegakan tanaman dengan menggunakan alat ini, tebu masih dapat dipanen dan menjadi harapan baru bagi petani untuk mendapatkan penghasilan dan nilai tambah ganda yaitu dari nilai jual benih dan hasil panen tebu giling.

    Keunggulan :

    • Mengambil mata tunas benih tebu bud chips cukup pada tegakan pertanaman di lapang.
    • Benih yang dihasilkan dalam kondisi segar dan sehat
    • Mutu benih sangat baik dengan permukaan bekas irisan halus
    • Daya kecambah benih tinggi sesuai potensi benih.
    • Mutu benih terjaga dari kerusakan pengangkutan.
    • Pembuatan kebun induk tebu lebih efisien.
    • Cakupan areal pengembangan baru lebih luas.
    • Bebas dari limbah batang tebu setelah diambil mata bud chipsnya.
    • Tebu masih tetap hidup dan dapat dipertahankan 3-4 bulan setelah diambil benih bud chipsnya.
    • Penggunaan tenaga kerja lebih ekonomis dan efisien.
    • Tebu dapat dipanen sebagai hasil Kebun tebu giling masak awal.

    Spesifikasi Bor :

    • Mata bud chipper berbentuk bor lingkar bergerigi
    • Diameter mata bud chipper 29-31 mm
    • Lubang bor bud chipper untuk keluarnya mata bud chips
    • Tombol Arah putaran kekanan/kiri
    • Tombol ON/OF (kecepatan rendah/tinggi)
    • Daya 450 W. 220 V.
    • Suger Cane Grip untuk pegang tebu
    • Dudukan Suger Cane Grip terhubung bodi
    • Pengambilan bud chips ± 40% dari diameter batang.
    • Kapasitas 660-780 mata bud chips/jam (5300-6250 benih mata bud chips/hari)

    Spesifikasi Generator :

    Frekuensi
    : 50HZ
    Voltage
    : 220 V
    Phase
    : SINGLE PHASE

    Kapasitas

    Tipe (A) :
    Rated ac output :
    (1000 W)
    1 generator :
    1 MESIN BUD CHIPS
    Tipe (B) :
    Rated ac output :
    (2000 W)
    1 generator :
    2 MESIN BUD CHIPS

    Persiapan Penggunaan Mesin Budchips:

    • Batang tebu benih berdiameter > 20 mm
    • Tebu calon benih di klentek 1-2 hari sebelum pengambilan.
    • Rumpun tebu ditali guna menghindari batang patah.
    • Waring dipasang melingkar pada pangkal rumpun tebu sebagai penampung mata bud chips.
    • Kontrol olie dan bahan bakar Gasoline Gensed Cukup.
    • Cek roll kabel dan colokan.
    • Mata pisau bud chipper/bor begerigi terpasang sempurna.
    • Siapkan kaleng penampung benih bud chips berisi air dan fungisida mankosep 2 gr/liter air.
    • Suger Cane Grip tempelkan pada batang tebu dan pegang dengan tangan kiri.
    • Tentukan mata tunas tebu pada posisi ditengah lubang borbudchips.
    • Tekan tombol on/of dan dorong.
    • Putaran bor mengambil mata tunas bud chips dan jatuh grafitasi.
    • Ketebalan pengeboran ± 40% dari diameter batang.
    • Luka bekas pengeboran pada batang halus dan rapi.
    • Apabila As Suger Cane Grip dalam selongsong lengket terkena nira dan mengganggu kinerja alat tetesi air secukupnya.
    • Rumpun tebu yang telah diambil benih bud chipsnya diikat lagi batang dibagian tengah agar terhindar dari patah.

    (Edi Purlani dan Subiyakto)

  • Mesin Bud Chips Benih Tebu Pada Tegakan Tanaman (Bud Chips Tegakan)

    Terobosan teknologi mesin Bud chips dalam rangka mendapatkan benih tebu dengan cara mengambil mata tunas langsung pada tegakan batang tebu dalam rumpun tanaman dilapang. Selama ini pengambilan benih tebu bud chips dari kebun induk setelah berumur 6-8 bulan dengan cara tebu ditebang selanjutnya diangkut dan diambil mata tunas bud chipsnya ditempat lain. Pengambilan benih tebu bud chips dengan cara tebu ditebang berdampak pada sisa batang tebu yang masih muda kadar gulanya terlalu rendah tidak ekonomis untuk diolah menjadi gula sehingga limbah terkumpul sangat banyak dan merusak lingkungan. Pengambilan benih bud chips pada tegakan tanaman dengan menggunakan alat ini, tebu masih dapat dipanen dan menjadi harapan baru bagi petani untuk mendapatkan penghasilan dan nilai tambah ganda yaitu dari nilai jual benih dan hasil panen tebu giling.

    Keunggulan :

    • Mengambil mata tunas benih tebu bud chips cukup pada tegakan pertanaman di lapang.
    • Benih yang dihasilkan dalam kondisi segar dan sehat
    • Mutu benih sangat baik dengan permukaan bekas irisan halus
    • Daya kecambah benih tinggi sesuai potensi benih.
    • Mutu benih terjaga dari kerusakan pengangkutan.
    • Pembuatan kebun induk tebu lebih efisien.
    • Cakupan areal pengembangan baru lebih luas.
    • Bebas dari limbah batang tebu setelah diambil mata bud chipsnya.
    • Tebu masih tetap hidup dan dapat dipertahankan 3-4 bulan setelah diambil benih bud chipsnya.
    • Penggunaan tenaga kerja lebih ekonomis dan efisien.
    • Tebu dapat dipanen sebagai hasil Kebun tebu giling masak awal.

    Spesifikasi Bor :

    • Mata bud chipper berbentuk bor lingkar bergerigi
    • Diameter mata bud chipper 29-31 mm
    • Lubang bor bud chipper untuk keluarnya mata bud chips
    • Tombol Arah putaran kekanan/kiri
    • Tombol ON/OF (kecepatan rendah/tinggi)
    • Daya 450 W. 220 V.
    • Suger Cane Grip untuk pegang tebu
    • Dudukan Suger Cane Grip terhubung bodi
    • Pengambilan bud chips ± 40% dari diameter batang.
    • Kapasitas 660-780 mata bud chips/jam (5300-6250 benih mata bud chips/hari)

    Spesifikasi Generator :

    Frekuensi
    : 50HZ
    Voltage
    : 220 V
    Phase
    : SINGLE PHASE

    Kapasitas

    Tipe (A) :
    Rated ac output :
    (1000 W)
    1 generator :
    1 MESIN BUD CHIPS
    Tipe (B) :
    Rated ac output :
    (2000 W)
    1 generator :
    2 MESIN BUD CHIPS

    Persiapan Penggunaan Mesin Budchips:

    • Batang tebu benih berdiameter > 20 mm
    • Tebu calon benih di klentek 1-2 hari sebelum pengambilan.
    • Rumpun tebu ditali guna menghindari batang patah.
    • Waring dipasang melingkar pada pangkal rumpun tebu sebagai penampung mata bud chips.
    • Kontrol olie dan bahan bakar Gasoline Gensed Cukup.
    • Cek roll kabel dan colokan.
    • Mata pisau bud chipper/bor begerigi terpasang sempurna.
    • Siapkan kaleng penampung benih bud chips berisi air dan fungisida mankosep 2 gr/liter air.
    • Suger Cane Grip tempelkan pada batang tebu dan pegang dengan tangan kiri.
    • Tentukan mata tunas tebu pada posisi ditengah lubang borbudchips.
    • Tekan tombol on/of dan dorong.
    • Putaran bor mengambil mata tunas bud chips dan jatuh grafitasi.
    • Ketebalan pengeboran ± 40% dari diameter batang.
    • Luka bekas pengeboran pada batang halus dan rapi.
    • Apabila As Suger Cane Grip dalam selongsong lengket terkena nira dan mengganggu kinerja alat tetesi air secukupnya.
    • Rumpun tebu yang telah diambil benih bud chipsnya diikat lagi batang dibagian tengah agar terhindar dari patah.

    (Edi Purlani, Subiyakto dan Impron Sadikin)


  • Membuat Sabun dari Biji Kapas dan Kapuk

    Tanaman kapas (Gossypium hirsutum) dan kapuk (Ceiba pentandra) dikenal sebagai tanaman penghasil serat alam. Kapas dan kapuk termasuk dalam kelompok serat buah yang pemanfaatannya paling banyak untuk bahan baku tekstil.

    Saat ini, produksi kapas dan kapuk masih tergolong rendah dan jauh dari kebutuhannya. Kebutuhan serat kapas untuk memenuhi industri TPT di Indonesia sebesar 454 ribu sampai 762 ribu ton serat. Sedangkan luas areal perkebunan kapas di Indonesia pada 2017 mencapai 5.686 hektare dengan produksi 700 ton. Artinya, hanya kurang dari satu persen kebutuhan kapas dipenuhi dari dalam negeri, sisanya masih impor.

    Pada 2016, impor kapas mencapai 485.774 ton. Hal yang sama untuk serat kapuk. Luasan tanaman kapuk yang semakin berkurang berakibat pada penurunan produksi. Salah satu penyebab dari rendahnya produksi kapas dan kapuk adalah kurangnya minat petani untuk menanam komoditas ini karena rendahnya harga jual.

    Oleh karena itu, diperlukan beberapa langkah untuk menumbuhkan minat petani menanam kapas dan kapuk. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan hasil samping tanaman kapas dan kapuk menjadi produk dengan nilai jual yang tinggi, sehingga dapat menambah penghasilan petani.

    Hasil samping tanaman kapas adalah biji kapas. Proporsi biji adalah 3/5 bagian. Apabila produksi kapas mencapai 700 ton kapas berbiji, maka akan dihasilkan 420 ton biji kapas. Jika potensi biji kapas ini dimanfaatkan, maka akan memberi nilai tambah pada kegiatan agribisnis kapas.

    Biji kapas mengandung minyak, protein, dan lemak. Kandungan minyak dalam inti biji kapas mencapai 30,01 sampai 36,45 persen. Minyak biji kapas mengandung 11,7 persen asam lemak jenuh dan asam lemak tidak jenuh yang terdiri atas 14,7 persen asam oleat, 69,6 persen asam linoleat, dan 0,7 persen asam linolenat.

    Adapun biji kapuk mengandung minyak sekitar 24 sampai 40 peren. Persentase biji kapuk yang terkandung pada setiap gelondong buahnya sebesar 26 persen. Dengan demikian, setiap 100 kilogram gelondong kapuk akan menghasilkan 26 kilogram limbah biji kapuk.

    Selama ini, biji kapuk masih kurang dimanfaatkan dan dibuang begitu saja tanpa diolah dan dimanfaatkan. Padahal, kandungan minyak biji kapuk yang cukup tinggi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan sabun padat.

    Minyak bisa diperoleh dari proses ekstraksi biji kapas dan kapuk. Proses ekstraksi pun dapat dilakukan dengan beberapa cara. Cara fisik, misalnya, yakni dengan pengepresan. Cara lainnya adalah cara kimia dengan ekstraksi pelarut.

    Warna minyak biji kapas dan kapuk adalah kuning kecokelatan.

    Minyak yang dihasilkan dari proses ekstraksi masih dalam bentuk minyak yang belum jernih (crude oil), sehingga memerlukan proses penjernihan, yaitu dengan cara pemisahan gum (deguming), netralisasi, pemucatan (bleaching), dan penyaringan.

    Tahap pertama dalam proses penjernihan minyak adalah deguming. Deguming bertujuan untuk memisahkan getah atau lendir-lendir yang terdiri dari fosfotida, residu, karbohidrat, gossypol, air, dan resin tanpa mengurangi jumlah asam lemak bebas dalam minyak. Netralisasi minyak biji kapas hasil deguming dipanaskan hingga 50 sampai 60 derajat Celcius sambil diaduk.

    Pemucatan adalah proses pemurnian untuk menghilangkan zat-zat warna dan gossypol yang terkandung di dalam minyak. Setelah melalui proses pemucatan, dilakukan penyaringan untuk membersihkan kotoran-kotoran yang tersisa pada minyak biji kapas dengan menggunakan alat penyaring.

    Dari keseluruhan proses tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pemanfaatan minyak biji kapas dan kapuk sebagai bahan baku pembuatan sabun padat dapat menjadi alternatif diversifikasi produk. Apalagi, hal itu bisa dilakukan cukup dengan menggunakan hasil samping tanaman kapas dan kapuk.

    Hal ini membuktikan pula bahwa [embuatan sabun berbahan dasar minyak biji kapas dan kapuk adalah salah satu cara pemanfaatan hasil samping tanaman serat. Diversifikasi produk tanaman serat merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan nilai tambah tanaman serat selain sebagai bahan baku tekstil. Sabun padat dari minyak biji kapas dan kapuk ini diharapkan memiliki manfaat yang nyata bagi petani kapas dan kapuk pada khususnya dan masyarakat pada umumnya. Oleh karena itu, masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mencari manfaat lain dari tanaman serat serta potensi hasil sampingnya agar bisa dihasilkan diversifikasi produk yang lebih bermanfaat.

    Elda Nurnasari

    artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

  • info teknologi

  • Directly on Stem Bud Chips Machine

    Breakthrough technology of Bud chipper in order to get the bud chips by taking it directly from the stem of sugarcane in the clump of the plant in fields. So far, the harvesting of bud chips from the mother plant after 6-8 months old by felling sugarcane plant and then transported and taken its bud chips elsewhere. Intake of bud chips by felling the sugarcane plant impact on the remaining stems of young sugar cane having low sugar content and not economical to be processed into sugar so the lots of waste collected and damage the environment. Acquisition of bud chips on plant using this tool, sugarcane could still be harvested and becoming a new hope for farmer to get a double value and income from the sale value of seed and yield of sugar cane.

    Excellence :

    • Taking the sugar cane buds directly from the stem.
    • The seeds produced in fresh and healthy condition
    • The quality of the seeds is very good with the surface of fine slices
    • High seed sprouts according to seed potential.
    • The quality of the seeds is protected from transport damage.
    • Making sugarcane parent plant more efficient.
    • The scope of new development areas is wider.
    • Free from sugar cane waste after the bud chips are taken.
    • Sugar cane is still alive and can be maintained 3-4 months after the bud chips are taken.
    • The use of labor is more economical and efficient.
    • Sugarcane can be harvested as a result of early ripe sugar cane garden.

    Drill Specification :

    • The bud chipper eye is a serrated drill
    • Diameter of the bud chipper eye 29-31 mm
    • Hole drill bud chipper for the discharge of bud chipper eye
    • Right / left rotate direction Button
    • ON / OF button (low / high speed)
    • Power 450 W. 220 V.
    • Sugar Cane Grip to hold the cane
    • Sugar Cane Grip holder connected to body
    • The collection of bud chips ± 40% of the stem diameter.
    • Capacity 660-780 bud chips / hour (5300-6250 buds chips / day)

    Generator Specification :

    Frequency
    : 50HZ
    Voltage
    : 220 V
    Phase
    : SINGLE PHASE

    Capacity

    Type (A) :
    Rated ac output :
    (1000 W)
    1 generator :
    1 BUD CHIPPER
    Type (B) :
    Rated ac output :
    (2000 W)
    1 generator :
    2 BUD CHIPPER

    Bud Chipper Preparation:

    • Canes seed diameter > 20 mm
    • Peeling the sugar cane seed 1-2 days before taking.
    • The clump of sugar cane is tipped to avoid a broken stem.
    • Waring mounted circular at the base of sugarcane clump as a container of bud chips.
    • Enough Oil and fuel control of Genset.
    • Check the cable roll and plugs.
    • The blade of bud chipper / drill fit perfectly.
    • Prepare a container of bud chips containing water and mankosepsy fungicide 2 gr / liter of water.
    • Paste the Sugar Cane Grip on sugar cane and hold with left hand.
    • Position the bud chips in the middle of the bud chipper.
    • Press the on / of and push button.
    • The drill rotation takes the bud chips and drops it.
    • Drilling thickness ± 40% of stem diameter.
    • Drill cut marks on the stem are smooth and tidy.
    • If the Sugar Cane Grip ace in the sleeve is sticky because being exposed to sap and disrupts the performance, give it a sufficient water drops.
    • The clump of sugar cane that has been taken its bud chips are tied again in the middle of the stem to avoid being broken.

    (Edi Purlani and Subiyakto)

  • Directly on Stem Bud Chips Machine

    Breakthrough technology of Bud chipper in order to get the bud chips by taking it directly from the stem of sugarcane in the clump of the plant in fields. So far, the harvesting of bud chips from the mother plant after 6-8 months old by felling sugarcane plant and then transported and taken its bud chips elsewhere. Intake of bud chips by felling the sugarcane plant impact on the remaining stems of young sugar cane having low sugar content and not economical to be processed into sugar so the lots of waste collected and damage the environment. Acquisition of bud chips on plant using this tool, sugarcane could still be harvested and becoming a new hope for farmer to get a double value and income from the sale value of seed and yield of sugar cane.

    Excellence :

    • Taking the sugar cane buds directly from the stem.
    • The seeds produced in fresh and healthy condition
    • The quality of the seeds is very good with the surface of fine slices
    • High seed sprouts according to seed potential.
    • The quality of the seeds is protected from transport damage.
    • Making sugarcane parent plant more efficient.
    • The scope of new development areas is wider.
    • Free from sugar cane waste after the bud chips are taken.
    • Sugar cane is still alive and can be maintained 3-4 months after the bud chips are taken.
    • The use of labor is more economical and efficient.
    • Sugarcane can be harvested as a result of early ripe sugar cane garden.

    Drill Specification :

    • The bud chipper eye is a serrated drill
    • Diameter of the bud chipper eye 29-31 mm
    • Hole drill bud chipper for the discharge of bud chipper eye
    • Right / left rotate direction Button
    • ON / OF button (low / high speed)
    • Power 450 W. 220 V.
    • Sugar Cane Grip to hold the cane
    • Sugar Cane Grip holder connected to body
    • The collection of bud chips ± 40% of the stem diameter.
    • Capacity 660-780 bud chips / hour (5300-6250 buds chips / day)

    Generator Specification :

    Frequency
    : 50HZ
    Voltage
    : 220 V
    Phase
    : SINGLE PHASE

    Capacity

    type (A) :
    Rated ac output :
    (1000 W)
    1 generator :
    1 BUD CHIPPER
    Tipe (B) :
    Rated ac output :
    (2000 W)
    1 generator :
    2 BUD CHIPPER

    Bud Chipper Preparation:

    • Canes seed diameter > 20 mm
    • Peeling the sugar cane seed 1-2 days before taking.
    • The clump of sugar cane is tipped to avoid a broken stem.
    • Waring mounted circular at the base of sugarcane clump as a container of bud chips.
    • Enough Oil and fuel control of Genset.
    • Check the cable roll and plugs.
    • The blade of bud chipper / drill fit perfectly.
    • Prepare a container of bud chips containing water and mankosepsy fungicide 2 gr / liter of water.
    • Paste the Sugar Cane Grip on sugar cane and hold with left hand.
    • Position the bud chips in the middle of the bud chipper.
    • Press the on / of and push button.
    • The drill rotation takes the bud chips and drops it.
    • Drilling thickness ± 40% of stem diameter.
    • Drill cut marks on the stem are smooth and tidy.
    • If the Sugar Cane Grip ace in the sleeve is sticky because being exposed to sap and disrupts the performance, give it a sufficient water drops.
    • The clump of sugar cane that has been taken its bud chips are tied again in the middle of the stem to avoid being broken.

    (Edi Purlani and Subiyakto)


  • Cotton and Kapok Seeds Soap

    Cotton plants (Gossypium hirsutum) and kapok (Ceiba pentandra) are known as plants producing natural fibers. Cotton and kapok are included in the group of fruit fibers which are the most utilized for textile raw materials.

    Currently, cotton and kapok production are still low and far from their needs. Cotton fiber needs to meet the textile industry in Indonesia of 454 thousand to 762 thousand tons of fiber. Meanwhile, the total area of cotton plantation in Indonesia in 2017 reached 5,686 hectares with production of 700 tons. That is, less than one percent of cotton demand is met from within the country, the rest is still imported.

    In 2016, imports of cotton reached 485,774 tons. Same thing for kapok fiber. The declining number of cotton crops resulted in a decrease in production. One of the causes of the low production of cotton and kapok is the lack of interest of farmers to grow this commodity because of the low selling price.

    Therefore, it takes several steps to grow the interest of farmers to grow cotton and kapok. One of them is by utilizing cotton and kapok plant yields into products with high selling value, so it can increase farmer's income.

    The by-product of cotton is cotton seed. The proportion of seeds is 3/5 parts. If cotton production reaches 700 tons of seed cotton, it will produce 420 tons of cotton seeds. If the potential of cotton seed is utilized, it will add value to the agribusiness activities of cotton.

    Cottonseed contains oil, protein, and fat. The oil content in the cotton core reaches 30.01 to 36.45 percent. Cotton seed oil contains 11.7 percent saturated fatty acids and unsaturated fatty acids comprising 14.7 percent oleic acid, 69.6 percent linoleic acid, and 0.7 percent linolenic acid.

    The kapok seeds contain about 24 to 40 percent of oil. Percentage of kapok seeds contained in each fruit shoot by 26 percent. Thus, every 100 kilograms of cotton bundles will produce 26 kilograms of kapok seed waste.

    During this time, kapok seeds are still under utilized and thrown away without being processed and used. In fact, the content of kapok seed oil is high enough to be used as raw material for making solid soap.

    Oil can be obtained from the extraction process of cotton and kapok seeds. Extraction process can be done in several ways. Physical way, for example, with pressing. Another way is chemical way by solvent extraction.

    The color of cotton and kapok seed oil is brownish yellow.

    Oil produced from the extraction process is still in the form of crude oil, so it requires the process of purification, namely by separation of gum (deguming), neutralization, blanching (bleaching), and filtration.

    The first stage in the oil purification process is deguming. Deguming aims to separate the sap or mucus which consists of phosphotide, residue, carbohydrate, gossypol, water, and resin without reducing the amount of free fatty acids in the oil. The neutralization of deguming cotton seed oil is heated to 50 to 60 degrees Celsius while stirring.

    Blanching (bleaching) is a refining process to remove dyestuffs and gossypol contained in oil. After the blanching process, screening is done to remove the remaining debris on cottonseed oil using a filter.

    From the whole process can be concluded that the utilization of cotton and kapok seed oil as raw material of making solid soap can be an alternative product diversification. Moreover, it can be done simply by using the by-products of cotton and kapok plants.

    This also proves that soap-based cotton and kapok seed oil making is one ways of utilizing fiber by-product. Diversification of fiber plant products is an alternative to increase the added value of fiber plants other than as textile raw materials. Solid soap from cotton and kapok seed oil is expected to have real benefits for cotton and kapok farmers in particular and society at large. Therefore, further research is still needed to find other benefits of fiber plants and their potential in order to generate more useful product diversification.

    Elda Nurnasari

    articles have previously been published on republika.co.id

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Sosial media

Pencarian

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini1457
Pengunjung Bulan Ini37645
Total Kunjungan580714
Statistik created: 2018-10-21T18:25:09+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.