rami

  • Teknologi budi daya Rami

    arietas unggul: Varietas baru Ramindo 1, dengan nama lama Pujon 10, yang baru dilepas oleh Menteri Pertanian RI pada tahun 2006, sudah sejak lama dikembangkan petani/pengusaha dan sudah terbukti keunggulannya baik di masyarakat maupun hasil penelitian. Ramindo 1 memberikan produktivitas serat yang tinggi
  • Tanaman Rami


    Rami semula dikembangkan di daerah dataran tinggi walaupun sebenarnya rami juga dapat dikembangkan di dataran rendah terutama yang memiliki fasilitas pengairan. Kendala pe-ngembangan rami adalah panjangnya rantai proses penyeratan sampai menjadi serat siap pin-tal. Proses yang panjang ini menyebabkan rami bukan sebagai “cash crop”, walaupun harga serat rami lebih tinggi dari harga serat kapas. Sebagai salah satu penghasil serat alami, rami merupakan komoditas yang perlu dikembangkan. Komoditas ini, selain menghasilkan serat alami yang bermutu tinggi, juga mempunyai hasil samping yang bernilai ekonomi, seperti kompos limbah dekortikasi dan daun rami untuk campuran pakan ternak.

    Varietas baru Ramindo 1, dengan nama lama Pujon 10, sudah sejak lama dikembangkan petani/pengusaha dan sudah terbukti keunggulannya baik di masyarakat maupun hasil penelitian. Ramindo 1 memberikan produktivitas serat yang tinggi (2–2,7 ton/ha/tahun) dengan kuali-tas serat yang cukup baik, serta memiliki daya adaptasi yang luas, sehingga klon ini sesuai untuk dikembangkan di dataran rendah, sedang hingga tinggi.

    Limbah dekortikasi (penyeratan) dapat diolah menjadi pupuk organik yang sangat halus dengan kandungan: Organik 20,13%; N total 2,15%; C/N ratio 3,01%; bahan organik 34,83%; P2O5 1,47%; K2O 2,76%; CaO 3,73%; MgO 2,22%; S 0,13%; dan KTK 65,56 me/100 g pupuk organik. Teknik pengomposan dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan mencampurkan dedak, sedikit gula pasir, EM-4, dan disiram air secukupnya. Selain itu, sisa dekortikasi banyak mengandung kayu, dan seratnya baik untuk bahan baku pulp/kertas.

    Daun rami (40% dari bobot brangkasan segar) mengandung protein sekitar 24%, sangat baik untuk sumber protein ternak dan unggas. Setelah diproses menjadi tepung dapat dimanfaatkan untuk campuran konsentrat berbagai pakan ternak. Pakan ternak dari daun rami me-ngandung sekitar: 10% air; 1,05–1,75% lisin; 0,14–0,73% methionin; dan 0,18–0,31% triptophan. Selain itu mengandung karotin (provitamin A) dan riboflavin (vitamin B2) masing-masing 13,3 dan 0,74 mg tiap 100 g bahan keringnya.

    Penggunaan varietas unggul Ramindo 1 dengan pemberian paket pupuk lengkap (orga-nik, N, P, K dan ZPT+ PPC) dapat meningkatkan hasil serat sampai dengan 58–60%.

  • Strategi pengembangan kapas dan rami

    Lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 15 Maret 2006 di Garden Palace Hotel, Surabaya bertujuan untuk membahas dampak pencabutan subsidi ekspor kapas negara maju terhadap kelangsungan TPT nasional serta menyusun strategi pengembangan kapas dan rami, meliputi kelembagaan pengembangan kapas dan rami, dukungan teknologi, dan sumber daya (lahan, manusia, dan infrastruktur).
    Prosiding berisi lima makalah utama, dan tujuh belas makalah penunjang yang disajikan dalam bentuk poster. Prosiding ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat yang berkecimpung dalam serat alam antar lain: petani penyuluh, pengelola/pengusaha, dinas terkait, perguruan tinggi, dan para peneliti.

  • Strategi pengembangan kapas dan rami

    Lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 15 Maret 2006 di Garden Palace Hotel, Surabaya bertujuan untuk membahas dampak pencabutan subsidi ekspor kapas negara maju terhadap kelangsungan TPT nasional serta menyusun strategi pengembangan kapas dan rami, meliputi kelembagaan pengembangan kapas dan rami, dukungan teknologi, dan sumber daya (lahan, manusia, dan infrastruktur).
    Prosiding berisi lima makalah utama, dan tujuh belas makalah penunjang yang disajikan dalam bentuk poster. Prosiding ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat yang berkecimpung dalam serat alam antar lain: petani penyuluh, pengelola/pengusaha, dinas terkait, perguruan tinggi, dan para peneliti.

  • Strategi pengembangan kapas dan rami

    Lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 15 Maret 2006 di Garden Palace Hotel, Surabaya bertujuan untuk membahas dampak pencabutan subsidi ekspor kapas negara maju terhadap kelangsungan TPT nasional serta menyusun strategi pengembangan kapas dan rami, meliputi kelembagaan pengembangan kapas dan rami, dukungan teknologi, dan sumber daya (lahan, manusia, dan infrastruktur).
    Prosiding berisi lima makalah utama, dan tujuh belas makalah penunjang yang disajikan dalam bentuk poster. Prosiding ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat yang berkecimpung dalam serat alam antar lain: petani penyuluh, pengelola/pengusaha, dinas terkait, perguruan tinggi, dan para peneliti.

  • Ramindo 1

    Rami semula dikembangkan di daerah dataran tinggi walaupun sebenarnya rami juga da-pat dikembangkan di dataran rendah terutama yang memiliki fasilitas pengairan. Kendala pe-ngembangan rami adalah panjangnya rantai proses penyeratan sampai menjadi serat siap pin-tal. Proses yang panjang ini menyebabkan rami bukan sebagai cash crop, walaupun harga se-rat rami lebih tinggi dari harga serat kapas. Sebagai salah satu penghasil serat alami, rami me-rupakan komoditas yang perlu dikembangkan. Komoditas ini, selain menghasilkan serat alami yang bermutu tinggi, juga mempunyai hasil samping yang bernilai ekonomi, seperti kompos limbah dekortikasi dan daun rami untuk campuran pakan ternak. Varietas baru Ramindo 1, dengan nama lama Pujon 10, sudah sejak lama dikembangkan petani/pengusaha dan sudah terbukti keunggulannya baik di masyarakat maupun hasil peneli-tian. Ramindo 1 memberikan produktivitas serat yang tinggi (2–2,7 ton/ha/tahun) dengan kuali-tas serat yang cukup baik, serta memiliki daya adaptasi yang luas, sehingga klon ini sesuai untuk dikembangkan di dataran rendah, sedang hingga tinggi. Limbah dekortikasi (penyeratan) dapat diolah menjadi pupuk organik yang sangat halus dengan kandungan: Organik 20,13%; N total 2,15%; C/N ratio 3,01%; bahan organik 34,83%; P2O5 1,47%; K2O 2,76%; CaO 3,73%; MgO 2,22%; S 0,13%; dan KTK 65,56 me/100 g pupuk organik. Teknik pengomposan dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan mencampurkan dedak, sedikit gula pasir, EM-4, dan disiram air secukupnya. Selain itu, sisa dekortikasi banyak mengandung kayu, dan seratnya baik untuk bahan baku pulp/kertas. Daun rami (40% dari bobot brangkasan segar) mengandung protein sekitar 24%, sangat baik untuk sumber protein ternak dan unggas. Setelah diproses menjadi tepung dapat diman-faatkan untuk campuran konsentrat berbagai pakan ternak. Pakan ternak dari daun rami me-ngandung sekitar: 10% air; 1,05–1,75% lisin; 0,14–0,73% methionin; dan 0,18–0,31% tripto-phan. Selain itu mengandung karotin (provitamin A) dan riboflavin (vitamin B2) masing-masing 13,3 dan 0,74 mg tiap 100 g bahan keringnya. Penggunaan varietas unggul Ramindo 1 dengan pemberian paket pupuk lengkap (orga-nik, N, P, K dan ZPT+ PPC) dapat meningkatkan hasil serat sampai dengan 58–60%.


    Karakteristik Ramindo1
    Asal varietas : Pujon, Malang
    Tipe pertumbuhan : Semi determinate
    Warna batang : Hijau
    Warna danun permukaan atas : Hijau
    Warna pucuk daun : Merah
    Bentuk daun : Cordate (jantung)
    Warna bunga jantan : Hijau
    Warna bunga betina : Merah muda
    Umur mulai berbunga : 20-30 hari 
    setelah pangkas
    Tinggi tanaman : 190-255 cm
    Diameter batang : 11-13 mm
    Jumlah batang per rumpun : 12-17
    Umur panen serat : 2 bulan
    Berat serat kering/tanaman : 4-5 gram
    Produktivitas serat/ha/tahun : 2-2,7 ton
    Rendemen serat : 3-4%
    Kualitas serat : baik
    Kesesuaian daerah : Dataran rendah-
    tinggi, dan lahan gambut
     
  • Ramindo 1

    Rami semula dikembangkan di daerah dataran tinggi walaupun sebenarnya rami juga da-pat dikembangkan di dataran rendah terutama yang memiliki fasilitas pengairan. Kendala pe-ngembangan rami adalah panjangnya rantai proses penyeratan sampai menjadi serat siap pin-tal. Proses yang panjang ini menyebabkan rami bukan sebagai cash crop, walaupun harga se-rat rami lebih tinggi dari harga serat kapas. Sebagai salah satu penghasil serat alami, rami me-rupakan komoditas yang perlu dikembangkan. Komoditas ini, selain menghasilkan serat alami yang bermutu tinggi, juga mempunyai hasil samping yang bernilai ekonomi, seperti kompos limbah dekortikasi dan daun rami untuk campuran pakan ternak. Varietas baru Ramindo 1, dengan nama lama Pujon 10, sudah sejak lama dikembangkan petani/pengusaha dan sudah terbukti keunggulannya baik di masyarakat maupun hasil peneli-tian. Ramindo 1 memberikan produktivitas serat yang tinggi (2–2,7 ton/ha/tahun) dengan kuali-tas serat yang cukup baik, serta memiliki daya adaptasi yang luas, sehingga klon ini sesuai untuk dikembangkan di dataran rendah, sedang hingga tinggi. Limbah dekortikasi (penyeratan) dapat diolah menjadi pupuk organik yang sangat halus dengan kandungan: Organik 20,13%; N total 2,15%; C/N ratio 3,01%; bahan organik 34,83%; P2O5 1,47%; K2O 2,76%; CaO 3,73%; MgO 2,22%; S 0,13%; dan KTK 65,56 me/100 g pupuk organik. Teknik pengomposan dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan mencampurkan dedak, sedikit gula pasir, EM-4, dan disiram air secukupnya. Selain itu, sisa dekortikasi banyak mengandung kayu, dan seratnya baik untuk bahan baku pulp/kertas. Daun rami (40% dari bobot brangkasan segar) mengandung protein sekitar 24%, sangat baik untuk sumber protein ternak dan unggas. Setelah diproses menjadi tepung dapat diman-faatkan untuk campuran konsentrat berbagai pakan ternak. Pakan ternak dari daun rami me-ngandung sekitar: 10% air; 1,05–1,75% lisin; 0,14–0,73% methionin; dan 0,18–0,31% tripto-phan. Selain itu mengandung karotin (provitamin A) dan riboflavin (vitamin B2) masing-masing 13,3 dan 0,74 mg tiap 100 g bahan keringnya. Penggunaan varietas unggul Ramindo 1 dengan pemberian paket pupuk lengkap (orga-nik, N, P, K dan ZPT+ PPC) dapat meningkatkan hasil serat sampai dengan 58–60%.


    Karakteristik Ramindo1
    Asal varietas : Pujon, Malang
    Tipe pertumbuhan : Semi determinate
    Warna batang : Hijau
    Warna danun permukaan atas : Hijau
    Warna pucuk daun : Merah
    Bentuk daun : Cordate (jantung)
    Warna bunga jantan : Hijau
    Warna bunga betina : Merah muda
    Umur mulai berbunga : 20-30 hari 
    setelah pangkas
    Tinggi tanaman : 190-255 cm
    Diameter batang : 11-13 mm
    Jumlah batang per rumpun : 12-17
    Umur panen serat : 2 bulan
    Berat serat kering/tanaman : 4-5 gram
    Produktivitas serat/ha/tahun : 2-2,7 ton
    Rendemen serat : 3-4%
    Kualitas serat : baik
    Kesesuaian daerah : Dataran rendah-
    tinggi, dan lahan gambut
     
  • Ramindo 1

    Ramie was originally developed in the highlands although ramie can also be developed in the lowlands, especially those with irrigation facilities. The constraint of ramie development is the length of the chain bonding process until it becomes a spun ready fiber. This long process causes Ramie not as a cash crop, although the price of a ramie is higher than cotton fiber. As one of the natural fiber producers, ramie is a commodity that needs to be developed. These commodities, besides producing high quality natural fibers, also have economically valuable side-effects, such as decortication waste compost and ramie leaf for livestock feed mixture. The new variety Ramindo 1, used to be called Pujon 10, has long been developed by farmers / entrepreneurs and has proven its superiority both in society and research results. Ramindo 1 provides high fiber productivity (2â € "2.7 ton / ha / year) with a good quality fiber, and has a wide adaptability, so that these clones are suitable for development in low, medium to high land. Decortication waste (congestion) can be processed into a very fine organic fertilizer which contain : Organic 20.13%; N total 2.15%; C / N ratio 3.01%; organic matter 34,83%; P2O5 1.47%; K2O 2.76%; CaO 3.73%; MgO 2.22%; S 0.13%; and KTK 65.56 me / 100 g of organic fertilizer. Composting technique can simply be done, by mixing bran, a little sugar sand, EM-4, and watered sufficiently. In addition, the rest of the decortation contains a lot of wood, and the fiber is good for raw materials of pulp / paper. Ramie leaf (40% of fresh waste weight) contains about 24% protein, excellent for livestock and poultry protein sources. Once processed into flour can be used for mixed concentrates of various fodder. Animal feed from ramie leaf contains about 10% water; 1.05-1.75% lysine; 0.14-0.73% methionine; and 0.18-0.31% triptophan. In addition it contains carotene (provitamin A) and riboflavin (vitamin B2) 13.3 and 0.74 mg respectively 100 g of dry matter. The use of superior varieties of Ramindo 1 with the provision of complete fertilizer packages (organik, N, P, K and ZPT + PPC) can increase fiber yield up to 58-60%.

    Ramindo1 Characteristic
    Variety Origin : Pujon, Malang
    Growth Type : Semi determinate
    Stalk Color : Green
    Leaf Color : Green
    Petiole Color : Red
    Leaf Shape : Cordate (Heart)
    Male Flower Color : Green
    Female Flower Color : Pink
    Flowering Age : 20-30 days 
    After Cropping
    Plant Height : 190-255 cm
    Stalk Diameter : 11-13 mm
    Stalk Number every Clumps : 12-17
    Fiber Harvest : 2 bulan
    Plant Dry Fiber : 4-5 gram
    Fiber Productivity/ha/year : 2-2,7 ton
    Fiber Extract Level : 3-4%
    Fiber Quality : fine
    Land Suitability : lowland
    highland, and peatland
     
  • Ramie Agribusiness Development Model

    Ramie Agribusiness Development Model Workshop Proceedings

    The workshop held on November 24, 2005 at Hotel Sabda Alam, Garut aims to discuss a more concrete and operational plan of ramie development pilot project in Garut by involving development team of ramie agribusiness, as a follow up of Ramie Workshop in Bandung on October 19, 2005. This proceeding contains five main papers, and eight supporting papers. With the publication of this proceedings is expected to increase the insight of people who are involved in ramie commodities, among others : farmers, entrepreneurs, extension workers, related agencies, universities, and researchers themselves.

  • Model Pengembangan Agribisnis Rami

    Prosiding Lokakarya Model Pengembangan Agribisnis Rami

    Lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 24 November 2005 di Hotel Sabda Alam, Garut bertujuan untuk membahas lebih konkrit dan operasional rencana pilot project pengembangan rami di Garut dengan melibatkan tim pengembangan agribisnis rami, sebagai tindak lanjut Lokakarya Rami di Bandung pada tanggal 19 Oktober 2005. Prosiding ini berisi lima makalah utama, dan delapan makalah penunjang. Dengan diterbitkannya prosi-ding ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat yang berkecimpung dalam komoditas rami antara lain: petani, pengusaha, penyuluh, dinas terkait, perguruan tinggi, dan para peneliti sendiri.

  • Model Pengembangan Agribisnis Rami

    Prosiding Lokakarya Model Pengembangan Agribisnis Rami

    Lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 24 November 2005 di Hotel Sabda Alam, Garut bertujuan untuk membahas lebih konkrit dan operasional rencana pilot project pengembangan rami di Garut dengan melibatkan tim pengembangan agribisnis rami, sebagai tindak lanjut Lokakarya Rami di Bandung pada tanggal 19 Oktober 2005. Prosiding ini berisi lima makalah utama, dan delapan makalah penunjang. Dengan diterbitkannya prosi-ding ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat yang berkecimpung dalam komoditas rami antara lain: petani, pengusaha, penyuluh, dinas terkait, perguruan tinggi, dan para peneliti sendiri.

  • Jurnal Rami

    UNTUNG SETYO-BUDI, SUDJINDRO, dan BAMBANG HELIYANTO. 1999. Evaluasi Klon-Klon Rami di

    Lahan Gambut Kalimantan Barat. Jurnal Penelitian Tanaman Industri 4(3), September 1998 Hlm 79-84.Download: Makalah lengkap (pdf. 354.30 kb)

  • Cotton and Ramie Development Strategies

    The workshop, which was held on 15 March 2006 at Garden Palace Hotel, Surabaya, aims to discuss the impact of the revocation of export subsidies of developed country's cotton to national textile sustainability as well as to formulate strategies for cotton and ramie development including institutional development of cotton and ramie, technological support and resources (land, people, and infrastructure).

    The proceedings contain five major papers, and seventeen supporting papers presented in the form of posters (poster paper). This proceeding is expected to increase the insight of people involved in natural fiber among others : extension farmers, managers / entrepreneurs, relevant agencies, universities, and researchers.

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Sosial media

Pencarian

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini1524
Pengunjung Bulan Ini33866
Total Kunjungan576935
Statistik created: 2018-10-19T19:28:02+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.