tanaman serat

  • Togo B

    Togo B variety is the result of selection of Togo introduced varieties originating from Togo in Africa. This variety shows a high potential of fruit with a total of 41,428 fruit / ha or 2,551 fruit / trees at 40 years of age. When young (12 years), this variety has been able to produce 845 fruit / tree. The fibers produced by the white Togo B are shiny, and the fruit does not break in the tree. With robust tree habitus, Togo B is used in land conservation programs and as rootstock in the supply of kapok seeds by grafting.

    Year of Release 2007
    Growth Type: Karibea 
    Productivity: 2.500 fruit/tree/year 
    Fruit Weight: 4.12 kg/100 fruit
    Fiber Content 0.76 kg/100 Fruit 
    Seed oil content: 29.33% 
    Fiber Color: White, Long 

    With robust tree habitus, Togo B is used in land conservation programs and as rootstock in the supply of kapok seeds by grafting.
    Status Commercial
    Researcher Marjani, Moch. Sahid, and Hadi Sudarmo
    Institution Balittas

  • Togo B

    Varietas Togo B merupakan hasil seleksi dari varietas introduksi Togo yang berasal dari Togo di Afrika. Varietas ini menunjukkan potensi hasil gelondong yang tinggi dengan jumlah gelondong 41.428 gelondong/ha atau 2.551 gelondong/pohon pada umur 40 tahun. Ketika masih muda (12 tahun), varietas ini sudah mampu menghasilkan 845 gelondong/pohon. Serat yang dihasilkan oleh Togo B putih mengkilat, dan buahnya tidak pecah di pohon. Dengan habitus po-hon yang kokoh, Togol B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang ba-wah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.

    Tahun Pelepasan 2007


    Tipe pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2.500 gelondong/pohon/tahun 
    Berat gelondong: 4.12 kg/100 gelondong 
    Kandungan serat 0.76 kg/100 gelondong 
    Kadar minyak biji: 29.33% 
    Warna serat: putih, panjang 

    Togo-B memiliki habitus pohon yang kokoh, digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.
    Status Komersial
    Peneliti Marjani, Moch. Sahid, dan Hadi Sudarmo
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Togo B

    Varietas Togo B merupakan hasil seleksi dari varietas introduksi Togo yang berasal dari Togo di Afrika. Varietas ini menunjukkan potensi hasil gelondong yang tinggi dengan jumlah gelondong 41.428 gelondong/ha atau 2.551 gelondong/pohon pada umur 40 tahun. Ketika masih muda (12 tahun), varietas ini sudah mampu menghasilkan 845 gelondong/pohon. Serat yang dihasilkan oleh Togo B putih mengkilat, dan buahnya tidak pecah di pohon. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo-B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo-B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.

    Tahun Pelepasan/td> 2007

    Tipe Pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2.500 Gelondong/pohon/tahun 
    Berat Gelondong: 4.12 kg/100 Gelondong
    Kadar Serat 0.76 kg/100 Gelondong 
    Kadar Minnyak Biji : 29.33% 
    Warna Serat : Putih, panjang 

    Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo-B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.
    Status Komersial
    Peneliti Marjani, Moch. Sahid, dan Hadi Sudarmo
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

  • Rosela

  • Ramindo 1

    Rami semula dikembangkan di daerah dataran tinggi walaupun sebenarnya rami juga da-pat dikembangkan di dataran rendah terutama yang memiliki fasilitas pengairan. Kendala pe-ngembangan rami adalah panjangnya rantai proses penyeratan sampai menjadi serat siap pin-tal. Proses yang panjang ini menyebabkan rami bukan sebagai cash crop, walaupun harga se-rat rami lebih tinggi dari harga serat kapas. Sebagai salah satu penghasil serat alami, rami me-rupakan komoditas yang perlu dikembangkan. Komoditas ini, selain menghasilkan serat alami yang bermutu tinggi, juga mempunyai hasil samping yang bernilai ekonomi, seperti kompos limbah dekortikasi dan daun rami untuk campuran pakan ternak. Varietas baru Ramindo 1, dengan nama lama Pujon 10, sudah sejak lama dikembangkan petani/pengusaha dan sudah terbukti keunggulannya baik di masyarakat maupun hasil peneli-tian. Ramindo 1 memberikan produktivitas serat yang tinggi (2–2,7 ton/ha/tahun) dengan kuali-tas serat yang cukup baik, serta memiliki daya adaptasi yang luas, sehingga klon ini sesuai untuk dikembangkan di dataran rendah, sedang hingga tinggi. Limbah dekortikasi (penyeratan) dapat diolah menjadi pupuk organik yang sangat halus dengan kandungan: Organik 20,13%; N total 2,15%; C/N ratio 3,01%; bahan organik 34,83%; P2O5 1,47%; K2O 2,76%; CaO 3,73%; MgO 2,22%; S 0,13%; dan KTK 65,56 me/100 g pupuk organik. Teknik pengomposan dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan mencampurkan dedak, sedikit gula pasir, EM-4, dan disiram air secukupnya. Selain itu, sisa dekortikasi banyak mengandung kayu, dan seratnya baik untuk bahan baku pulp/kertas. Daun rami (40% dari bobot brangkasan segar) mengandung protein sekitar 24%, sangat baik untuk sumber protein ternak dan unggas. Setelah diproses menjadi tepung dapat diman-faatkan untuk campuran konsentrat berbagai pakan ternak. Pakan ternak dari daun rami me-ngandung sekitar: 10% air; 1,05–1,75% lisin; 0,14–0,73% methionin; dan 0,18–0,31% tripto-phan. Selain itu mengandung karotin (provitamin A) dan riboflavin (vitamin B2) masing-masing 13,3 dan 0,74 mg tiap 100 g bahan keringnya. Penggunaan varietas unggul Ramindo 1 dengan pemberian paket pupuk lengkap (orga-nik, N, P, K dan ZPT+ PPC) dapat meningkatkan hasil serat sampai dengan 58–60%.


    Karakteristik Ramindo1
    Asal varietas : Pujon, Malang
    Tipe pertumbuhan : Semi determinate
    Warna batang : Hijau
    Warna danun permukaan atas : Hijau
    Warna pucuk daun : Merah
    Bentuk daun : Cordate (jantung)
    Warna bunga jantan : Hijau
    Warna bunga betina : Merah muda
    Umur mulai berbunga : 20-30 hari 
    setelah pangkas
    Tinggi tanaman : 190-255 cm
    Diameter batang : 11-13 mm
    Jumlah batang per rumpun : 12-17
    Umur panen serat : 2 bulan
    Berat serat kering/tanaman : 4-5 gram
    Produktivitas serat/ha/tahun : 2-2,7 ton
    Rendemen serat : 3-4%
    Kualitas serat : baik
    Kesesuaian daerah : Dataran rendah-
    tinggi, dan lahan gambut
     
  • Ramindo 1

    Rami semula dikembangkan di daerah dataran tinggi walaupun sebenarnya rami juga da-pat dikembangkan di dataran rendah terutama yang memiliki fasilitas pengairan. Kendala pe-ngembangan rami adalah panjangnya rantai proses penyeratan sampai menjadi serat siap pin-tal. Proses yang panjang ini menyebabkan rami bukan sebagai cash crop, walaupun harga se-rat rami lebih tinggi dari harga serat kapas. Sebagai salah satu penghasil serat alami, rami me-rupakan komoditas yang perlu dikembangkan. Komoditas ini, selain menghasilkan serat alami yang bermutu tinggi, juga mempunyai hasil samping yang bernilai ekonomi, seperti kompos limbah dekortikasi dan daun rami untuk campuran pakan ternak. Varietas baru Ramindo 1, dengan nama lama Pujon 10, sudah sejak lama dikembangkan petani/pengusaha dan sudah terbukti keunggulannya baik di masyarakat maupun hasil peneli-tian. Ramindo 1 memberikan produktivitas serat yang tinggi (2–2,7 ton/ha/tahun) dengan kuali-tas serat yang cukup baik, serta memiliki daya adaptasi yang luas, sehingga klon ini sesuai untuk dikembangkan di dataran rendah, sedang hingga tinggi. Limbah dekortikasi (penyeratan) dapat diolah menjadi pupuk organik yang sangat halus dengan kandungan: Organik 20,13%; N total 2,15%; C/N ratio 3,01%; bahan organik 34,83%; P2O5 1,47%; K2O 2,76%; CaO 3,73%; MgO 2,22%; S 0,13%; dan KTK 65,56 me/100 g pupuk organik. Teknik pengomposan dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan mencampurkan dedak, sedikit gula pasir, EM-4, dan disiram air secukupnya. Selain itu, sisa dekortikasi banyak mengandung kayu, dan seratnya baik untuk bahan baku pulp/kertas. Daun rami (40% dari bobot brangkasan segar) mengandung protein sekitar 24%, sangat baik untuk sumber protein ternak dan unggas. Setelah diproses menjadi tepung dapat diman-faatkan untuk campuran konsentrat berbagai pakan ternak. Pakan ternak dari daun rami me-ngandung sekitar: 10% air; 1,05–1,75% lisin; 0,14–0,73% methionin; dan 0,18–0,31% tripto-phan. Selain itu mengandung karotin (provitamin A) dan riboflavin (vitamin B2) masing-masing 13,3 dan 0,74 mg tiap 100 g bahan keringnya. Penggunaan varietas unggul Ramindo 1 dengan pemberian paket pupuk lengkap (orga-nik, N, P, K dan ZPT+ PPC) dapat meningkatkan hasil serat sampai dengan 58–60%.


    Karakteristik Ramindo1
    Asal varietas : Pujon, Malang
    Tipe pertumbuhan : Semi determinate
    Warna batang : Hijau
    Warna danun permukaan atas : Hijau
    Warna pucuk daun : Merah
    Bentuk daun : Cordate (jantung)
    Warna bunga jantan : Hijau
    Warna bunga betina : Merah muda
    Umur mulai berbunga : 20-30 hari 
    setelah pangkas
    Tinggi tanaman : 190-255 cm
    Diameter batang : 11-13 mm
    Jumlah batang per rumpun : 12-17
    Umur panen serat : 2 bulan
    Berat serat kering/tanaman : 4-5 gram
    Produktivitas serat/ha/tahun : 2-2,7 ton
    Rendemen serat : 3-4%
    Kualitas serat : baik
    Kesesuaian daerah : Dataran rendah-
    tinggi, dan lahan gambut
     
  • Ramindo 1

    Ramie was originally developed in the highlands although ramie can also be developed in the lowlands, especially those with irrigation facilities. The constraint of ramie development is the length of the chain bonding process until it becomes a spun ready fiber. This long process causes Ramie not as a cash crop, although the price of a ramie is higher than cotton fiber. As one of the natural fiber producers, ramie is a commodity that needs to be developed. These commodities, besides producing high quality natural fibers, also have economically valuable side-effects, such as decortication waste compost and ramie leaf for livestock feed mixture. The new variety Ramindo 1, used to be called Pujon 10, has long been developed by farmers / entrepreneurs and has proven its superiority both in society and research results. Ramindo 1 provides high fiber productivity (2â € "2.7 ton / ha / year) with a good quality fiber, and has a wide adaptability, so that these clones are suitable for development in low, medium to high land. Decortication waste (congestion) can be processed into a very fine organic fertilizer which contain : Organic 20.13%; N total 2.15%; C / N ratio 3.01%; organic matter 34,83%; P2O5 1.47%; K2O 2.76%; CaO 3.73%; MgO 2.22%; S 0.13%; and KTK 65.56 me / 100 g of organic fertilizer. Composting technique can simply be done, by mixing bran, a little sugar sand, EM-4, and watered sufficiently. In addition, the rest of the decortation contains a lot of wood, and the fiber is good for raw materials of pulp / paper. Ramie leaf (40% of fresh waste weight) contains about 24% protein, excellent for livestock and poultry protein sources. Once processed into flour can be used for mixed concentrates of various fodder. Animal feed from ramie leaf contains about 10% water; 1.05-1.75% lysine; 0.14-0.73% methionine; and 0.18-0.31% triptophan. In addition it contains carotene (provitamin A) and riboflavin (vitamin B2) 13.3 and 0.74 mg respectively 100 g of dry matter. The use of superior varieties of Ramindo 1 with the provision of complete fertilizer packages (organik, N, P, K and ZPT + PPC) can increase fiber yield up to 58-60%.

    Ramindo1 Characteristic
    Variety Origin : Pujon, Malang
    Growth Type : Semi determinate
    Stalk Color : Green
    Leaf Color : Green
    Petiole Color : Red
    Leaf Shape : Cordate (Heart)
    Male Flower Color : Green
    Female Flower Color : Pink
    Flowering Age : 20-30 days 
    After Cropping
    Plant Height : 190-255 cm
    Stalk Diameter : 11-13 mm
    Stalk Number every Clumps : 12-17
    Fiber Harvest : 2 bulan
    Plant Dry Fiber : 4-5 gram
    Fiber Productivity/ha/year : 2-2,7 ton
    Fiber Extract Level : 3-4%
    Fiber Quality : fine
    Land Suitability : lowland
    highland, and peatland
     
  • Muktihardjo 4 (MH 4)

    Varietas kapuk MH 4 merupakan hasil persilangan antara klon Seluwok Sawangan 29 (SS 29) yang merupakan klon lokal (tipe Indika), dengan klon Congo (C, tipe Karibea) merupakan klon introduksi dari Congo, Afrika, yang produksinya mencapai 2.500-3.000 gelondong/pohon, tetapi warna serat abu-abu kecokelatan. Klon SS 29 mempunyai kelebihan warna serat putih mengkilat, tetapi produksinya rendah yaitu sekitar 600-750 gelondong/pohon. MH 4 produksi-nya dapat mencapai 2.200 gelondong/pohon, lebih tinggi 11–13 % dibanding MH 1 dan 18%-25% dibanding MH 2. Hasil seratnya berwarna putih mengkilat yang sangat disukai petani dan eksportir, karena sesuai dengan kualitas “Java Kapok.

    Tahun Pelepasan 2007

    Tipe pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2.200 gelondong/pohon/tahun 
    Berat gelondong: 4,98 kg/100 gelondong 
    Kandungan serat 20.96% 
    Kadar minyak biji: 27.70% 
    Warna serat: putih mengkilat 

    Hasil seratnya yang berwarna putih mengkilat dan sesuai dengan kualitas “Java Kapok ini sangat disukai petani dan eks
    Status Komersial
    Peneliti Moch. Sahid, Bambang Heliyanto, dan Emy Sulistyowati
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Muktihardjo 4 (MH 4)

    Varietas kapuk MH 4 merupakan hasil persilangan antara klon Seluwok Sawangan 29 (SS 29) yang merupakan klon lokal (tipe Indika), dengan klon Congo (C, tipe Karibea) merupakan klon introduksi dari Congo, Afrika, yang produksinya mencapai 2.500“3.000 gelondong/pohon, tetapi warna serat abu-abu kecokelatan. Klon SS 29 mempunyai kelebihan warna serat putih mengkilat, tetapi produksinya rendah yaitu sekitar 600“750 gelondong/pohon. MH 4 produksi-nya dapat mencapai 2.200 gelondong/pohon, lebih tinggi 11“13 % dibanding MH 1 dan 18“25% dibanding MH 2. Hasil seratnya berwarna putih mengkilat yang sangat disukai petani dan eksportir, karena sesuai dengan kualitas œJava Kapok.

    Tahun Pelepasan 2007


    Tipe pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2.200 gelondong/pohon/tahun 
    Berat gelondong: 4,98 kg/100 gelondong 
    Kandungan serat 20.96% 
    Kadar minyak biji: 27.70% 
    Warna serat: putih mengkilat 

    Hasil seratnya yang berwarna putih mengkilat dan sesuai dengan kualitas œJava Kapok ini sangat disukai petani dan eksportir.
    Status Komersial
    Peneliti Moch. Sahid, Bambang Heliyanto, dan Emy Sulistyowati
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Muktihardjo 4 (MH 4)

    The Kapok variety of MH 4 is the result of a crossing between the Seluwok Sawangan 29 (SS 29) clone which is a local clone (Indika type), with Congo clone (C, Karibea type) which is an introduction clone from Congo, Africa, whose production reaches 2,500-3000 fruit / tree, but the fiber color is gray-brown. The SS 29 clone has an excess of shiny white fiber, but low production about 600-750 fruit / tree. MH 4 productivity could reach 2,200 fruit / tree, 11% higher than 13% compared to MH 1 and 18% -25% compared to MH 2. The fiber is shiny white which is preferred by farmers and exporters, because according to the quality of Java Kapok.

    Year of Release 2007

    Growth Type : Karibea 
    Productivity : 2.200 fruit/tree/year 
    Fruit Weight : 4,98 kg/100 fruit
    Fiber Content 20.96% 
    Seed Oil Content : 27.70% 
    Fiber Color : Shiny white 

    The fiber is shiny white which is preferred by farmers and exporters.
    Status Commercial
    Researcher Moch. Sahid, Bambang Heliyanto, and Emy Sulistyowati
    Institution
    Balittas

  • Muktihardjo 3 (MH 3)

    Varietas kapuk hibrida MH 3 merupakan hasil persilangan antara klon Congo 2 (tipe Kari-bea) dengan klon lokal Lanang (tipe Indika). Klon Congo merupakan klon introduksi dari Congo, Afrika, yang produksinya mencapai 2.500 - 3.000 gelondong/pohon. Klon Lanang merupakan klon lokal yang mempunyai kelebihan warna serat putih mengkilat, tetapi produksinya rendah yaitu sekitar 750 gelondong/pohon. Varietas MH 3 produksinya dapat mencapai 2.400 gelon-dong/pohon yang lebih tinggi 18% - 20% dibanding MH 1 dan 27% - 30% dibanding MH2 yang sudah dilepas. Hasil seratnya berwarna putih mengkilat yang sangat disukai petani dan eksportir kare-na sesuai dengan kualitas Java Kapok. Pengembangannya disarankan secara okulasi karena, perkembangan melalui biji akan mengalami segrgasi.

    Tahun Pelepasan 2007

    Tipe pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2.400 gelondong/pohon/tahun 
    Berat gelondong: 4,54 kg/100 gelondong 
    Kandungan serat 21.47% 
    Kadar minyak biji: 27.77% 
    Warna serat: putih mengkilat 

    Hasil seratnya yang berwarna putih mengkilat dan sesuai dengan kualitas “Java Kapok” ini sangat disukai petani dan eks
    Status Komersial
    Peneliti Moch. Sahid, Bambang Heliyanto, dan Emy Sulistyowati
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Muktihardjo 3 (MH 3)

    Varietas kapuk hibrida MH 3 merupakan hasil persilangan antara klon Congo 2 (tipe Kari-bea) dengan klon lokal Lanang (tipe Indika). Klon Congo merupakan klon introduksi dari Congo, Afrika, yang produksinya mencapai 2.500–3.000 gelondong/pohon. Klon Lanang merupakan klon lokal yang mempunyai kelebihan warna serat putih mengkilat, tetapi produksinya rendah yaitu sekitar 750 gelondong/pohon. Varietas MH 3 produksinya dapat mencapai 2.400 gelon-dong/pohon yang lebih tinggi 18–20% dibanding MH 1 dan 27–30% dibanding MH2 yang sudah dilepas. Hasil seratnya berwarna putih mengkilat yang sangat disukai petani dan eksportir kare-na sesuai dengan kualitas “Java Kapok”. Pengembangannya disarankan secara okulasi karena, perkembangan melalui biji akan mengalami segrgasi.

    Tahun Pelepasan 2007


    Tipe pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2.400 gelondong/pohon/tahun 
    Berat gelondong: 4,54 kg/100 gelondong 
    Kandungan serat 21.47% 
    Kadar minyak biji: 27.77% 
    Warna serat: putih mengkilat 

    Hasil seratnya yang berwarna putih mengkilat dan sesuai dengan kualitas “Java Kapok” ini sangat disukai petani dan eksportir.
    Status Komersial
    Peneliti Moch. Sahid, Bambang Heliyanto, dan Emy Sulistyowati
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Muktihardjo 3 (MH 3)

    MH 3 hybrid kapok varieties are the result of crossing between Congo 2 (Karibea type) clones with local Lanang clones (Indika type). Congo clone is an introductory clone from Congo, Africa, whose production reaches 2,500 - 3,000 fruit / trees. The Lanang clone is a local clone that has an excess of shiny white fiber, but low production about 750 fruit / tree. The MH 3 variety of its production can reach 2,400 fruit / trees higher by 18% - 20% compared to MH 1 and 27% - 30% compared to removable MH2. The result is a shiny white fiber that is very popular for farmers and exporters because of the quality of Java Kapok. Its development is suggested by grafting because, the development through seeds will experience segregation.

    Year of Release 2007

    Growth Type : Karibea 
    Productivity : 2.400 fruit/tree/year 
    Fruit Weight : 4,54 kg/100 fruit 
    Fiber Content 21.47% 
    Seed Oil Content: 27.77% 
    Fiber Color : Shiny White 

    The result is a shiny white fiber that is very popular for farmers and exporters.
    Status Commercial
    Researcher Moch. Sahid, Bambang Heliyanto, and Emy Sulistyowati
    Institution
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Muktihardjo 2 (MH 2)

    Varietas kapuk hibrida MH 2 merupakan varietas kapuk hibrida hasil persilangan tiga te-tua yaitu (Ruezen Randu x Bondowoso) x Congo yang disingkat dengan (RRxBW)C. Varietas ka-puk hibrida MH 2 pada umur 6 tahun, 12 tahun, dan 40 tahun masing-masing produksinya 331 gelondong/pohon, 868 gelondong/pohon, dan 2.011 gelondong/pohon. Pohon yang telah ber-umur cukup lanjut yaitu lebih dari 40 tahun mampu menghasilkan 42.532 gelondong/ha atau 2.011 gelondong/pohon, setara dengan 335 kg serat/ha atau 6,84 kg serat/ pohon. Varietas ini membentuk pohon-pohon yang tumbuh kuat, yang mempunyai sifat yang berbeda dengan in-duknya. Pohon tersebut lebih tahan terhadap kekeringan dibanding klon Jawa. Seratnya ber-warna putih mengkilat, tidak pecah di pohon, jumlah gelondong dan produksinya lebih banyak dibanding kapuk Jawa.

    Tahun Pelepasan 2007

    Tipe pertumbuhan: Karibea.
    Produktivitas: 2.500 gelondong/pohon/tahun .
    Berat gelondong: 4,37 kg/100 gelondong.
    Kandungan serat 0,88 kg/100 gelondong.
    Warna serat putih mengkilat, panjang, grade AJK.

    Buah/gelondong dari varietas ini tidak pecah di pohon, dan varietas ini kurang disukai benalu.
    Status Komersial
    Peneliti Moch. Sahid, Marjani, dan Hadi Sudarmo
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Muktihardjo 2 (MH 2)

    Varietas kapuk hibrida MH 2 merupakan varietas kapuk hibrida hasil persilangan tiga te-tua yaitu (Ruezen Randu x Bondowoso) x Congo yang disingkat dengan (RRxBW)C. Varietas ka-puk hibrida MH 2 pada umur 6 tahun, 12 tahun, dan 40 tahun masing-masing produksinya 331 gelondong/pohon, 868 gelondong/pohon, dan 2.011 gelondong/pohon. Pohon yang telah ber-umur cukup lanjut yaitu lebih dari 40 tahun mampu menghasilkan 42.532 gelondong/ha atau 2.011 gelondong/pohon, setara dengan 335 kg serat/ha atau 6,84 kg serat/ pohon. Varietas ini membentuk pohon-pohon yang tumbuh kuat, yang mempunyai sifat yang berbeda dengan in-duknya. Pohon tersebut lebih tahan terhadap kekeringan dibanding klon Jawa. Seratnya ber-warna putih mengkilat, tidak pecah di pohon, jumlah gelondong dan produksinya lebih banyak dibanding kapuk Jawa.

    Tahun Pelepasan 2007


    Tipe pertumbuhan: Karibea. Produktivitas: 2.500 gelondong/pohon/tahun.
    Berat gelondong: 4,37 kg/100 gelondong.
    Kandungan serat 0,88 kg/100 gelondong.
    Warna serat putih mengkilat, panjang, grade AJK.

    Buah/gelondong dari varietas ini tidak pecah di pohon, dan varietas ini kurang disukai benalu.
    Status Komersial
    Peneliti Moch. Sahid, Marjani, dan Hadi Sudarmo
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Muktihardjo 2 (MH 2)

    MH 2 hybrid kapok varieties are the crossing result of three varieties namely (Ruezen Randu x Bondowoso) x Congo abbreviated with (RRxBW)C. The Productivity of MH 2 hybrid kapok varieties at the age of 6 years, 12 years, and 40 years respectively 331 fruit/trees, 868 fruit/trees, and 2,011 fruit/trees. The older trees that are more than 40 years old capable of producing 42,532 fruit/ha or 2,011 fruit/tree, equivalent to 335 kg fiber/ha or 6.84 kg fiber/tree. These varieties form strongly grown trees, which have different properties from its parent. The tree is more resistant to drought than the Java clones. Fiber is shiny white, not broken in trees, and more fruit production than Java kapok.

    Year of Release 2007

    Growth Type : Karibea.
    Productivity : 2.500 fruit/tree/year .
    Fruit Weight : 4,37 kg/100 fruit.
    Fiber Content 0,88 kg/100 fruit.
    Fiber color is shiny white, long, AJK grade.

    The fruit of this variety is not broken in trees, and resistant to parasite.
    Status Commercial
    Researcher Moch. Sahid, Marjani, and Hadi Sudarmo
    Institution
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Muktihardjo 1 (MH 1)

    Varietas kapuk hibrida MH 1 merupakan varietas hibrida hasil persilangan dua tipe kapuk yaitu tipe Indica dengan Karibea antara tiga tetua, yaitu (Randu Kuning x Bondowoso) x Congo atau disingkat (RKxBW)C. Varietas ini membentuk pohon-pohon yang tumbuh kuat, yang mempunyai sifat yang berbeda dengan induknya. Pohon tersebut lebih tahan terhadap kekeringan dibanding klon Jawa. Seratnya berwarna putih, tidak pecah di pohon, jumlah gelondong dan produksinya lebih banyak dibanding kapuk Jawa. Produksi varietas kapuk hibrida MH 1 pada umur 6 tahun, 12 tahun, dan 40 tahun masing-masing 427 gelondong/pohon, 1.038 gelon-dong/pohon, dan 2.881 gelondong/pohon Produktivitas pada umur 40 tahun tersebut mencapai 50.856 gelondong/ha, setara dengan 483 kg serat/ha atau 9,85 kg serat/pohon. 
    Tahun Pelepasan 2007

    Tipe pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2.800 gelondong/pohon/tahun 
    Berat gelondong: 5.28 kg/100 gelondong
    Kandungan serat 0,98 kg/100 Gelondong 
    Kadar minyak biji: 27.77% 
    Warna serat putih mengkilat, panjang, grade AJK. 

    Varietas ini kurang disukai benalu, dan Keadaan buah tidak pecah di pohon
    Status Komersial
    Peneliti Moch. Sahid, Marjani, dan Hadi Sudarmo
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Muktihardjo 1 (MH 1)

    Varietas kapuk hibrida MH 1 merupakan varietas hibrida hasil persilangan dua tipe kapuk yaitu tipe Indica dengan Karibea antara tiga tetua, yaitu (Randu Kuning x Bondowoso) x Congo atau disingkat (RKxBW)C. Varietas ini membentuk pohon-pohon yang tumbuh kuat, yang mempunyai sifat yang berbeda dengan induknya. Pohon tersebut lebih tahan terhadap kekeringan dibanding klon Jawa. Seratnya berwarna putih, tidak pecah di pohon, jumlah gelondong dan produksinya lebih banyak dibanding kapuk Jawa. Produksi varietas kapuk hibrida MH 1 pada umur 6 tahun, 12 tahun, dan 40 tahun masing-masing 427 gelondong/pohon, 1.038 gelon-dong/pohon, dan 2.881 gelondong/pohon Produktivitas pada umur 40 tahun tersebut mencapai 50.856 gelondong/ha, setara dengan 483 kg serat/ha atau 9,85 kg serat/pohon. 

    Tahun Pelepasan 2007


    Tipe pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2.800 gelondong/pohon/tahun 
    Berat gelondong: 5.28 kg/100 gelondong
    Kandungan serat 0,98 kg/100 Gelondong 
    Kadar minyak biji: 27.77% 
    Warna serat putih mengkilat, panjang, grade AJK. 

    Varietas ini kurang disukai benalu, dan Keadaan buah tidak pecah di pohon
    Status Komersial
    Peneliti Moch. Sahid, Marjani, dan Hadi Sudarmo
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Muktihardjo 1 (MH 1)

    MH 1 hybrid kapok varieties are crossing result of two kapok types namely the Indica type with Karibea type between three elders, namely (Randu Kuning x Bondowoso) x Congo or abbreviated (RKxBW) C. These varieties form strong growing trees, which have different properties from the parent. The tree is more resistant to drought than the Java clones. The fiber is white, not broken in trees, the number of fruits and its production is more than the Java kapok. The productivity of MH 1 hybrid kapok varieties at age 6 years, 12 years, and 40 years respectively 427 fruit/trees, 1.038 fruit/tree, and 2.881 fruit/tree. The productivity at age 40 years reached 50,856 fruit/ha, equivalent with 483 kg of fiber/ha or 9.85 kg of fiber/tree. 
    Year of Release 2007

    Growth Type : Karibea 
    Productivity : 2.800 fruit/tree/year 
    Fruit Weight: 5.28 kg/100 fruit
    Fiber content : 0,98 kg/100 fruit 
    Seed oil content : 27.77% 
    Fiber Color : Shiny white, long, AJK grade. 

    Resistant to Parasite, and the fruit is not broken in tree.
    Status Commercial
    Researcher Moch. Sahid, Marjani, and Hadi Sudarmo
    Institution
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • LC31

    Persilangan klon Lanang x Congo yang dilakukan pada sekitar tahun 1920-an dilanjutkan dengan penanaman benih hasil persilangan dan evaluasi klon hibrida. Di antara klon-klon hibrida yang diseleksi, maka terpilihlah individu nomor 31 yang menunjukkan keunggulan dibandingkan klon hibrida lainnya dan klon terpilih tersebut mulai diperbanyak dan ditanam oleh manajemen perkebunan pada saat itu. Keunikan varietas kapuk LC 31 adalah pembentukan cabang pertama yang rendah antara 20 cm-100 cm diatas permukaan tanah.
    Tahun Pelepasan 2009

    Tipe pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2000-3000 gelondong/pohon/tahun 
    Berat gelondong: 6.70 kg/100 gelondong 
    Kandungan serat 23.06% 
    Kandungan biji: 20.36% 
    Warna serat: putih mengkilat 

    Hasil seratnya yang berwarna putih mengkilat dan sesuai dengan kualitas “Java Kapok” ini sangat disukai petani dan eksportir. 

    Varietas ini merupakan pepohonan besar dengan posisi cabang pertama rendah (50-100 cm).
    Status Komersial
    Peneliti Emy Sulistyowati dan Deciyanto Soetopo
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Sosial media

Pencarian

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini1523
Pengunjung Bulan Ini33865
Total Kunjungan576934
Statistik created: 2018-10-19T19:22:00+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.