varietas unggul

  • Yogyakarta Tobacco

    Central Java and the Yogyakarta Special Region is the second largest tobacco producer after East Java with an average area of 55,000 ha and an average production of 40,040 tons per year; or 23.5% and 21.47% of the total area and national production. Most of the tobacco production in Central Java and the Yogyakarta Special Region (DIY) is voor oogst chopped tobacco (dry season harvest). VO chopped tobacco from areas in Central Java and Yogyakarta, besides Temanggung, is generally used as filler material and planted in soil ground field (tegal). The occurrence of smokers' tastes to light cigarettes in concoctions requires a much more fine tobacco filler composition, which results in the migration of tobacco from tegal. To fulfill the quality, tobacco should be cultivated on the engineering water field. The existence of shifting cultivation from the tegal to wetland causes the shift of types of varieties grown. In 1994, Gudang Garam Cigarette Factory introduced Bligon chopped tobacco to Sleman District. At first it is less desirable by farmers because of the appearance of a very diverse fenotipa and low production. In 1995-1997 Balittas in collaboration with Gudang Garam refined the population of suitable tobacco cultivars for wetland in Sleman and evaluated the yield and quality of the cultivars obtained. From a number of cultivars evaluated, a suitable cultivars to be developed in Sleman with a suitable quality for Gudang Garam PR namely Bligon cultivars with a production potential of 1,2-1.4 tons of dried leaf/ ha and nicotine level at 2-3 %. In 2006 the cultivars released under the name of Bligon 1 based on Ministry of Agriculture Decree No: 127 / Kpts / SR.120 / 2/2007. Currently Bligon 1 varieties are not only planted in Sleman Regency, but also in Magelang, Muntilan and Prambanan districts, with planting area reaching 3,000 ha. Productivity of Bligon 1 at farmer level ranges from 1-1.2 ton of dried leaf / ha. With the price of dried leaf per kg ranging from Rp25.000,00-Rp40.000,00, then the farmer income reached Rp33.000.000,00 / ha.

    Bligon 1 Characteristic

    Leaf Shape : Oval
    Leaf Tip : Tapered
    Leaf Edge : Flat
    Leaf Surface : Flat
    Phylotaxi : 2/5, turn left
    Leaf Index : 0,55
    Production : 1,2-1,4 ton dried leaf/ha.
    Quality Index : 84,35
    Nicotine Level : 2-3
  • Varietas Unggul Baru Tembakau Temanggung Untuk Lahan Lincat

  • Togo B

    Togo B variety is the result of selection of Togo introduced varieties originating from Togo in Africa. This variety shows a high potential of fruit with a total of 41,428 fruit / ha or 2,551 fruit / trees at 40 years of age. When young (12 years), this variety has been able to produce 845 fruit / tree. The fibers produced by the white Togo B are shiny, and the fruit does not break in the tree. With robust tree habitus, Togo B is used in land conservation programs and as rootstock in the supply of kapok seeds by grafting.

    Year of Release 2007
    Growth Type: Karibea 
    Productivity: 2.500 fruit/tree/year 
    Fruit Weight: 4.12 kg/100 fruit
    Fiber Content 0.76 kg/100 Fruit 
    Seed oil content: 29.33% 
    Fiber Color: White, Long 

    With robust tree habitus, Togo B is used in land conservation programs and as rootstock in the supply of kapok seeds by grafting.
    Status Commercial
    Researcher Marjani, Moch. Sahid, and Hadi Sudarmo
    Institution Balittas

  • Togo B

    Varietas Togo B merupakan hasil seleksi dari varietas introduksi Togo yang berasal dari Togo di Afrika. Varietas ini menunjukkan potensi hasil gelondong yang tinggi dengan jumlah gelondong 41.428 gelondong/ha atau 2.551 gelondong/pohon pada umur 40 tahun. Ketika masih muda (12 tahun), varietas ini sudah mampu menghasilkan 845 gelondong/pohon. Serat yang dihasilkan oleh Togo B putih mengkilat, dan buahnya tidak pecah di pohon. Dengan habitus po-hon yang kokoh, Togol B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang ba-wah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.

    Tahun Pelepasan 2007


    Tipe pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2.500 gelondong/pohon/tahun 
    Berat gelondong: 4.12 kg/100 gelondong 
    Kandungan serat 0.76 kg/100 gelondong 
    Kadar minyak biji: 29.33% 
    Warna serat: putih, panjang 

    Togo-B memiliki habitus pohon yang kokoh, digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.
    Status Komersial
    Peneliti Marjani, Moch. Sahid, dan Hadi Sudarmo
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat

  • Togo B

    Varietas Togo B merupakan hasil seleksi dari varietas introduksi Togo yang berasal dari Togo di Afrika. Varietas ini menunjukkan potensi hasil gelondong yang tinggi dengan jumlah gelondong 41.428 gelondong/ha atau 2.551 gelondong/pohon pada umur 40 tahun. Ketika masih muda (12 tahun), varietas ini sudah mampu menghasilkan 845 gelondong/pohon. Serat yang dihasilkan oleh Togo B putih mengkilat, dan buahnya tidak pecah di pohon. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo-B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo-B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.

    Tahun Pelepasan/td> 2007

    Tipe Pertumbuhan: Karibea 
    Produktivitas: 2.500 Gelondong/pohon/tahun 
    Berat Gelondong: 4.12 kg/100 Gelondong
    Kadar Serat 0.76 kg/100 Gelondong 
    Kadar Minnyak Biji : 29.33% 
    Warna Serat : Putih, panjang 

    Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo-B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.
    Status Komersial
    Peneliti Marjani, Moch. Sahid, dan Hadi Sudarmo
    Instansi
    Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

  • Tembakau Yogyakarta

    Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan penghasil tembakau kedua terbesar setelah Jawa Timur dengan areal rata-rata seluas 55.000 ha dan produksi rata-rata se-besar 40.040 ton per tahun; atau sebesar 23,5% dan 21,47% dari total areal dan produksi na-sional. Sebagian besar dari produksi tembakau di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakar-ta (DIY) adalah tembakau rajangan voor oogst (panen musim kemarau). Tembakau rajangan VO dari daerah di Jawa Tengah dan DIY, selain Temanggung, umumnya digunakan sebagai bahan pengisi dan ditanam di lahan tegal. Terjadinya perubahan selera perokok ke sigaret yang ringan dalam racikan memerlukan komposisi tembakau filler mu-tu baik lebih banyak, yang mengakibatkan berpindahnya penanaman tembakau dari lahan te-gal. Untuk memenuhi mutu tersebut, tembakau harus diusahakan pada lahan berpengairan tek-nis. Adanya pergeseran penanaman dari lahan tegal ke lahan sawah menyebabkan terjadinya pergeseran jenis varietas yang ditanam. Pada tahun 1994, Pabrik Rokok Gudang Garam mengintroduksi tembakau rajangan Bli-gon ke Kabupaten Sleman. Pada awalnya tembakau tersebut kurang diminati petani karena pe-nampilan fenotipa yang sangat beragam dan rendahnya produksi yang dihasilkan. Pada tahun 1995–1997 Balittas bekerja sama dengan PR Gudang Garam memurnikan populasi kultivar-kultivar tembakau yang sesuai untuk lahan sawah di Sleman dan mengevaluasi daya hasil dan mutu galur-galur yang diperoleh. Dari sejumlah galur yang dievaluasi, diperoleh galur yang se-suai untuk dikembangkan di Sleman dengan mutu yang sesuai untuk PR Gudang Garam yaitu galur Bligon dengan potensi produksi 1,2–1,4 ton rajangan kering/ha dan kadar nikotin 2–3%. Pada tahun 2006 galur tersebut diputihkan/dilepas dengan nama Bligon 1 berdasarkan SK Mentan No: 127/Kpts/SR.120/2/2007. Saat ini varietas Bligon 1 tidak hanya ditanam di Kabupaten Sleman, tetapi berkembang sampai ke Kabupaten Magelang, Muntilan, dan Prambanan, dengan luas areal penanaman men-capai 3.000 ha. Produktivitas Bligon 1 di tingkat petani berkisar antara 1–1,2 ton rajangan ke-ring/ha. Dengan harga rajangan kering per kg berkisar antara Rp25.000,00–Rp40.000,00, maka pendapatan petani mencapai Rp33.000.000,00/ha.

    Karateristik Bligon 1

    Bentuk daun : Lonjong
    Ujung daun : Meruncing
    Tepi daun : Rata
    Permukaan daun : Rata
    Phylotaxi : 2/5, putar ke kiri
    Indeks daun : 0,55
    Produksi : 1,2-1,4 ton rajangan kering/ha.
    Indeks mutu : 84,35
    Kadar nikotin : 2-3
  • Tembakau Temanggung Varietas Kemloko 6 Agribun

    tembakau temanggung kemloko 6
  • Tembakau Temanggung Varietas Kemloko 5 Agribun

    Tembakau-kemloko-5
  • Tembakau Temanggung Varietas Kemloko 4 Agribun

    tembakau-kemloko-4
  • Tembakau Temanggung

    Tembakau temanggung menyumbang 70–80% terhadap total pendapatan petani. Peranan tembakau temanggung untuk rokok keretek sangat penting karena berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma yang khas. Permasalahan yang ada di daerah pengembangan tembakau temanggung adalah penyakit lincat yang disebabkan oleh kompleks patogen Phytophthora nicotianae, Ralstonia solanacearum, dan Meloidogyne spp. dan degradasi lahan karena erosi. Oleh karena itu, telah dikembangkan varietas tahan penyakit licat, yaitu Kemloko-2 dan Kemloko-3 serta teknologi konservasi untuk menanggulangi erosi. Teknologi pengendalian erosi dan penyakit lincat dapat menurunkan tingkat erosi sebesar 66%, menekan kematian tanaman sebesar 44%, serta meningkatkan hasil dan mutu tembakau masing masing sebesar 31% dan 8%.

    Karaktristik Kemloko 2>

    Habitus : Silindris
    Tinggi tanaman : 135-150 cm
    Bentuk daun : Lonjong
    Indeks daun : 0,501-0,502
    Panjang daun : 47,50-51,70 cm
    Lebar daun : 22,30-25,95 cm
    Tepi daun : Berombak
    Jumlah daun (Produksi) : 19-21
    Sayap daun : Sempit
    Phylotaxi : 2/5
    Umur berbunga : 95-100 hari
    Umur panen : 120-140 hari
    Ketahanan terhadap 
    - Penyakit layu bakteri : tahan
    - Penyakit puru akar : tahan
    - Penyakit lanas : tidak tahan
    Hasil rajangan : 0,704 + 0,28 (ton/ha)
    Indeks mutu : 40,28 + 5,42
    Kandungan nikotin : 5,52 + 3,46

    Karaktristik Kemloko 3
     
    Habitus : Lonjong agak lebar, tepi daun berombak sebagian menggulung ke bawah
    Kerapatan daun : Jarang
    Panjang daun : 37,57-49,51 cm
    Lebar daun : 22,99-24,96 cm
    Jumlah daun (Produksi) : 18,90-21,97 lembar/pohon
    Phylotaxi : 3/8
    Ketahanan terhadap 
    - Penyakit layu bakteri : tahan
    - Penyakit puru akar : sangat tahan
    Hasil rajangan : 0,695 + 0,16 (ton/ha)
    Indeks mutu : 40,01 + 7,01
    Kandungan nikotin : 6,02 + 3,75


  • Tembakau Prancak-95

    Varietas ini diperoleh dari hasil seleksi varietas lokal yang berasal dari Prancak, Kecamat-an Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Varietas Prancak-95 dilepas oleh Menteri Pertanian pa-da tahun 1997 dengan SK nomor 731/Kpts/TP.240/7/97.


    Habitus tanaman seperti kerucut, bila telah dipangkas akan berbentuk silin-dris. Tinggi tanaman rata-rata berki-sar antara 60 dan 80 cm, jumlah daun 14–18 lembar. Bentuk daunnya oval agak sempit, duduk daun pada batang membentuk sudut lancip. Varietas ini tahan terhadap pe-nyakit lanas (Phytophthora nicotia-nae var. nicotianae). 
    Produktivitasnya rata-rata 804 kg rajangan/ha, indeks mutu 57, kadar nikotin rata-rata 2,13%. Tembakau rajangan Prancak-95 mempunyai aroma yang harum dan gurih, sesuai untuk bahan baku rokok keretek. Varietas ini lebih sesuai untuk lahan kering, di daerah pegunungan dan tegalan. Dinas Perkebunan Kabupaten Pamekasan dan Sumenep mulai menangkarkan benih sebar Prancak-95 pada 1996 dan 1997. Benih sebar yang dihasilkan dibagikan kepada pedagang bibit sehingga bibit yang dipasarkan berasal dari sumber benih yang jelas. Produktivitas Prancak-95 di tingkat petani berkisar antara 0,45–0,8 ton/ha, tergantung jenis lahan dan pengelolaan ta-naman oleh petani. Saat ini penggunaan Prancak-95 diperkirakan mencapai 50–60% dari total areal tembakau madura, tersebar di Kabupaten Sumenep, Pamekasan, dan sebagian Sampang.

    Pengembangan tembakau madura Prancak-95 didukung dengan adanya kemitraan antara pe-tani dan PT Sadhana Arifnusa (pemasok tembakau PT HM Sampoerna) dan pemasok PT PR Gudang Garam serta peran aktif dari instansi terkait. Dalam kemitraan ini, pengelola menye-diakan benih sebar, sedangkan Dinas Perke-bunan dan Kehutanan Kabupaten Pamekasan membina petani penangkar yang merangkap sebagai pedagang bibit.
  • Tembakau Asepan Boyolali

    Tembakau asepan adalah tembakau lokal VO, berbentuk kerosok, dan diproses secara dark fire cured (DFC). Kerosok tembakau asepan digunakan sebagai bahan baku tembakau shag dalam negeri dan ekspor dengan jumlah kebutuhan masing-masing sebesar 5.000 dan 2.000 ton per tahun. Di pasar dunia, tembakau asepan dari Indonesia masih menduduki urutan ketiga setelah AS dan Malawi. Di Jawa Tengah, areal pengembangannya tersebar di tiga kabu-paten, yaitu Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo. Di antara ketiga kabupaten tersebut, Boyolali me-rupakan daerah potensial penghasil tembakau asepan dengan mutu tinggi. Permasalahan yang dihadapi petani tembakau asepan adalah adanya variasi produksi dan mutu dari tahun ke tahun, sehingga kebutuhan akan produksi dan mutu yang diinginkan oleh konsumen (eksportir dan pabrik rokok) tidak dapat dipenuhi. Salah satu penyebab adanya variasi tersebut adalah penggunaan varietas lokal berupa populasi tanaman yang masih sangat beragam (tidak murni). Varietas lokal yang umum ditanam petani tembakau asepan dan dimi-nati oleh konsumen adalah Grompol Jatim. Pemurnian dan pengujian daya hasil varietas lokal Grompol Jatim telah dilakukan pada tahun 1992 dan 1993. Pada tahun 1996 galur yang telah murni tersebut mulai ditanam dalam skala luas menggantikan varietas lokal yang ada. Galur Grompol Jatim dilepas dengan nama Grompol Jatim 1 berdasarkan SK Mentan No: 131/Kpts/SR.120/2/2007. Saat ini penggunaan Grompol Jatim 1 mencapai areal seluas 1.000 ha, tersebar di Kabu-paten Boyolali, Klaten, dan Sukoharjo. Varietas tersebut tidak hanya digunakan oleh petani te-tapi juga dikembangkan dan digunakan oleh eksportir tembakau, yaitu PT Pandu Sata Utama dan PT Indonesia Dwi Sembilan sampai sekarang. Produktivitas Grompol Jatim 1 di tingkat pe-tani berkisar antara 1,6–2,7 ton kerosok/ha (tergantung pengelolaan lahan oleh petani) atau senilai Rp26.185.000,00/ha.

      Karakteristik Gompol 1 Jatim
    Bentuk daun : Lonjong
    Ujung daun : Meruncing
    Tepi daun : Rata
    Permukaan daun : Bergelombang dan berlipit di pangkal daun
    Phylotaxi : 3/8, putar kekanan
    Indeks daun : 0,65
    Jumlah daun : 30-36
    Produksi (t kerosok/h) : 2,9-3,2
    Indeks mutu : 78-84
    Kadar nikotin : 2,5-4 %
    Ketahanan terhadap 
    - TMV : tahan
    - CMV : tahan
  • Temanggung Tobacco New Superior Varieties for "Lincat" Land

  • Temanggung Tobacco Kemloko 6 Agribun Variety

    tembakau temanggung kemloko 6
  • Temanggung Tobacco Kemloko 5 Agribun Variety

    Tembakau-kemloko-5
  • Temanggung Tobacco Kemloko 4 Agribun Variety

    tembakau-kemloko-4
  • Temanggung Tobacco

    Temanggung tobacco contributes 70% to 80% of farmers total income. The role of Temanggung tobacco for cigarettes is very important because it serves as a distinctive flavor and aroma. The problems that exist in the area of Temanggung tobacco development are lymphatic disease caused by Phytophthora nicotianae pathogen complexes, Ralstonia solanacearum, and Meloidogyne spp. and land degradation due to erosion. Therefore, it has been developed a disease resistant varieties, namely Kemloko-2 and Kemloko-3 and conservation technology to cope with erosion. Erosion and Lymphatic Control Technology could reduce erosion rate by 66%, reduce plant mortality by 44%, and improve yield and quality of tobacco by 31% and 8%.

    Kemloko 2 Characteristic>

    Habitus : Silindris
    Plant Height : 135-150 cm
    Leaf Shape : Oval
    Leaf Index : 0,501-0,502
    Leaf Legth : 47,50-51,70 cm
    Leaf Width : 22,30-25,95 cm
    Leaf Shape : Wavy
    Productivity : 19-21
    Leaf Wing : Narrow
    Phylotaxi : 2/5
    Flowering Age : 95-100 days
    Harvest time : 120-140 days
    Disease resistance 
    - Bacterial wilt disease : Resistant
    - Root Disease : Resistant
    - Malignant Disease : Not Resistant
    Chopped Leaf : 0,704 + 0,28 (ton/ha)
    Quality Index : 40,28 + 5,42
    Nicotine Level : 5,52 + 3,46

    Kemloko 3 Characteristic
     
    Habitus : Oval slightly wide, leaf edges partially rolled down
    Leaf Compactness : Rarely
    Leaf Length : 37,57-49,51 cm
    Leaf Width : 22,99-24,96 cm
    Productivity : 18,90-21,97 leaf/tree
    Phylotaxi : 3/8
    Disease Resistance 
    - Bacterial Wilt Disease : Resistant
    - Root Disease : Very Resistant
    Chopped Leaf : 0,695 + 0,16 (ton/ha)
    Quality Index : 40,01 + 7,01
    Nicotine Level : 6,02 + 3,75


  • Sumberrejo 4 (Sbr 4)

    Karakter Sbr 4
    Jenis : Wijen putih
    Habitus : Bercabang banyak
    Umur panen : 75-85 hari
    Jumlah ruang polong : 8
    Potensi produksi : 0,9-1.4 ton/ha
    Sesuai daya adaptasi : Monokultur/tumpangsari
    Adaptasi : Lahan sawah sesudah padi atau tembakau 
    Ketahanan terhadap : 
    - Phytophthora : Agak tahan
    - Fusarium : Tahan
    - Rizoctonia : Agak tahan
    - Sclerotium : Agak tahan
    - Tungau : Agak tahan

  • Sumberrejo 4 (Sbr 4)

    Sbr 4 Characteristic
    Type : Wijen sesame
    Habitus : has many branch
    Harvesting age : 75-85 day
    Number of pod space : 8
    Production Potential : 0,9-1.4 ton/ha
    Adaptation Suitability : Monokultur/intercropping
    Adaptation : fields after rice or tobacco 
    Resistance : 
    - Phytophthora : Resistant
    - Fusarium : Resistant
    - Rizoctonia : Resistant
    - Sclerotium : Resistant
    - Tungau : Resistant

  • Sumberrejo 3 (Sbr 3)

    Karakter Sbr 3
    Jenis : Wijen hitam kecokelatan
    Habitus : Bercabang banyak
    Umur panen : 85-101 hari
    Jumlah ruang polong : 4
    Potensi produksi : 0,9-1.3 ton/ha
    Sesuai daya adaptasi : Monokultur/tumpangsari
    Adaptasi : Lahan kering pada awal musim hujan 
    Ketahanan terhadap : 
    - Phytophthora : Agak tahan
    - Fusarium : Agak tahan
    - Sclerotium : Agak tahan
    - Tungau : Agak tahan

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Bagaimana informasi yang tertera dalam website?

Sosial media

Pencarian

Buletin

Prosiding

Leaflet

infografis

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

Sosial Media

Pengunjung Hari Ini586
Pengunjung Bulan Ini38684
Total Kunjungan581753
Statistik created: 2018-10-22T07:22:11+07:00
UNITED STATES
US

Please publish modules in offcanvas position.