Hello. Write your message here. Link text here

Arrow up
Arrow down
×

Pemberitahuan

Please enter your Disqus subdomain in order to use the 'Disqus Comments (for Joomla)' plugin. If you don't have a Disqus account, register for one here

Pengendalian Gulma Tanaman Tebu

Gangguan gulma dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar karena bisa menyababkan penurunan bobot tebu. Penurunan produktivitas tebu akibat keberadaan gulma dapat mencapai sekitar 12-72% (Agropedia 2010). Menurut data penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa jurusan budidaya pertanian, fakultas pertanian, Universitas Brawijaya, pada 2015, penurunan produktivitas tebu yang disebabkan oleh gulma sebesar 15-53,7%. Bahkan untuk kasus tertentu sering menyebabkan kegagalan panen tergantung tingkat intensitas penutupan gulma, jenis dan agresivitas pertumbuhannya.

Plantlet-tebu kultur jaringan tebu

Peningkatan produktivitas tebu nasional diperlukan untuk mendukung program swasembada gula yang ditargetkan tahun 2019. Salah satu cara meningkatkan produktivitas tebu adalah dengan perluasan lahan dan pembangunan pabrik gula (PG) baru. Pemerintah telah menyediakan lahan untuk pengembangan tebu seluas 600.000 ha di luar Pulau Jawa, serta perluasan areal  kebun tebu yang dimulai pada tahun 2016, dimana diperkirakan pada tahun 2019 total perluasan areal kebun tebu mencapai 2,4 juta ha yang di back up dengan adanya 10 PG baru. Rencana tersebut dapat terwujud apabila kebutuhan benih tebu yang bermutu dapat terpenuhi.

Kebutuhan benih tebu per hektar berkisar antara 18.000 benih dengan satu mata tunas (bud chips atau bud set), sehingga untuk luasan 600.000 ha pada tahun 2016 dibutuhkan sekitar 10 miliar benih tebu dengan satu mata tunas. Kebutuhan benih tebu tersebut akan bertambah menjadi empat kali lipat atau sekitar 40–48 miliar benih tebu, jika areal pertanaman tebu seluas 2,4 juta ha benar-benar terwujud pada tahun 2019.

Penggerek batang tebu merupakan kelompok hama yang menyerang batang. Penggerek batang tebu yang menyerang di Indonesia terdiri atas 6 spesies ya-itu penggerek batang bergaris Chilo saccharipagus Bojer, penggerek batang berkilat Chilo auricilius Dudgeon, penggerek batang abu-abu Tetramoera schistaceana Snellen, penggerek batang kuning Chilo infuscatellus Snellen, penggerek batang jambon Sesamia inferens Walker, dan penggerek batang raksasa Phragmataecia castaneae Hubner.

Keberadaan penggerek batang dijumpai mulai tanaman tebu berumur 1,5–2 bulan. Faktor yang mempengaruhi populasi dan tingkat serangan peng-gerek batang tidak berbeda dengan penggerek pucuk yaitu faktor umur ta-naman, varietas, lingkungan, dan perilaku pengelolaan tanaman. Intensitas serangan penggerek batang di perkebunan tebu rakyat pada umumnya relatif rendah. Nurindah et al. (2013) dan Sunarto et al. (2015) melaporkan bahwa intensitas terbesar penggerek batang di Malang dan Situbondo tidak lebih dari 5% (pada gambar dibawah). Hal tersebut terjadi karena faktor mortalitas biotik mampu menekan populasi kompleks penggerek (Sunarto et al. 2015). Kondisi keseimbangan alami tersebut perlu dipertahankan dengan cara melaksanakan budi daya tanaman tebu yang ramah lingkungan.

Keberadaan pertanaman tebu pada saat ini didominasi oleh pertanaman ratoon (RC) yang memiliki kecenderungan produktivitas yang menurun seiring dengan bertambahnya periode ratoon. Petani lebih memilih pertanaman ratoon disebabkan karena tanam tebu baru (PC) memerlukan biaya tinggi dari kegiatan bongkar ratoon dan pengadaan benih tebu yang banyak mencapai 10 ton/ha bagal atau 17.000 budchip.

Tebu kepras atau ratoon perlu dilakukan pemeliharaan agar produktivitas dan rendemennya tetap terjaga dengan baik. Salah satu kegiatan rawat ratoon adalah kepras tebu agar didapatkan tunas baru yang tumbuh dari dalam tanah sehingga pertunasan dan perakaran tanaman tebu lebih baik. Penyulaman merupakan kegiatan penanaman untuk mengantikan benih tebu yang tidak tumbuh, baik pada tanaman baru ataupun lama (kepras) dapat berupa benih rayungan, seblangan, atau budchip agar diperoleh populasi tebu yang optimal dengan jumlah batang terpanen mencapai 72.500–75.000 batang/ha. Pedot oyot merupakan kegiatan pemutusan akar tebu RC yang sudah tua agar didapatkan pertumbuhan akar baru sehingga serapan hara dan air tinggi, laju pertumbuhan calon anakan lebih baik, cepat, dan seragam.

Subkategori

Pencarian

Sosial media

Video

  <

infografis

banner

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso Km 4 , Kotak Pos 199, Kabupaten Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

16995827
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
19574
0
46203
57482
55612
16570961
16995827

Your IP: 44.201.96.43
2022-07-06 00:44:18
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.

Please publish modules in offcanvas position.