Hello. Write your message here. Link text here

Arrow up
Arrow down
×

Pemberitahuan

Please enter your Disqus subdomain in order to use the 'Disqus Comments (for Joomla)' plugin. If you don't have a Disqus account, register for one here

Mengintip Peluang Industri Gula Merah Tebu

Tebu adalah komoditas pertanian yang banyak ditanam di Indonesia. Tebu sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan baku industri gula pasir (gula kristal). Gula pasir diproduksi dengan proses fisikawi dan kimiawi (bantuan penambahan zat kimia) selama proses berlangsung, sehingga memungkinkan adanya efek kurang baik untuk kesehatan, misalnya diabetes.

Gula merah, selain bisa diproduksi dari nira pohon palma, bisa juga diproduksi dengan nira tebu. Gula merah tebu ini mempunyai bentuk seperti gula merah yang berada di pasaran dengan citarasa manis, seperti gula pasir dan berwarna cokelat.

Gula merah tebu lebih sehat dari pada gula aren. Gula merah tebu yang sudah banyak diproduksi dalam bentuk gula semut (butiran) dan dikemas dengan nama brown sugar. Gula semut banyak digunakan sebagai bahan baku tambahan pada industri kecap. Gula merah tebu ini bisa dijadikan alternatif pengganti gula pasir maupun gula merah.

Gula merah adalah gula yang terbuat dari nira pohon palma seperti aren, nipah, siwahan, dan kelapa. Gula merah dikenal juga dengan nama gula aren (terbuat dari nira pohon aren) dan gula kelapa (terbuat dari nira pohon kelapa). Di Pulau Jawa, gula merah banyak dikenal dengan nama gula Jawa. Gula merah berbentuk setengah elips atau silinder. Gula merah mempunyai beragam warna, seperti cokelat kuning sampai cokelat kehitaman.

Melestarikan Kekayaan Tembakau Rejeb Magetan

Kabupaten Magetan di Jawa Timur sudah sejak zaman dahulu memiliki jenis tembakau lokal yang terkenal. Jenis tembakau ini biasa disebut dengan tembakau Rejeb. Berdasarkan sumber informasi dari masyarakat sekitar, tembakau Rejeb ini sudah dibudidayakan sejak awal abad ke 20 dan terus dibudidayakan secara turun-temurun hingga saat ini. Awal mula dibudidayakan tembakau ini dimulai dari Desa Trosono dan Desa Sayutan, Kecamatan Parang-Magetan.

Untuk melestarikan kekayaan sumber daya genetik lokal ini, tim peneliti Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) melakukan pelepasan Tembakau Rajangan Magetan yang dinamai varietas Rejeb Parang. Varitas unggul tembakau ini dirilis pada November 2017 dan memiliki ciri produk yang khas, yakni aromanya ampeg (berat).

Produk ini cocok untuk rajangan halus yang permintaannya untuk memenuhi pasar tembakau Temanggungan. Permintaan tembakau Rejeb Parang ini semakin meningkat seiring dengan tingginya konsumsi rokok. Oleh karena itu, varietas unggul Rejeb Parang perlu disosialisasikan secara meluas.

Serongsong, Tembakau Tahan Serangan Hama

Tanaman tembakau merupakan komoditas penting di Indonesia. Keberadaannya mampu menggerakan perekonomian nasional. Tembakau merupakan solusi bagi petani pada saat sektor pertanian tidak memberikan nilai tawar ekonomi yang menguntungkan. Keberadaan tanaman tembakau, selain membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah besar, juga untuk komoditas ekspor dan menyumbangkan pemasukan negara, terutama dari sektor cukai. Penerimaan cukai pada 2015 dari sektor tembakau bahkan mencapai Rp 207,5 triliun.

Saat musim panen 2017, harga jual tembakau yang mencapai Rp 35 ribu sampai dengan Rp 37 ribu, memberikan keuntungan cukup tinggi. Karena itu, 2017 merupakan tahun surga penjualan bagi para petani tembakau karena mereka dapat menikmati harga cukup tinggi setelah beberapa tahun mengalami keuntungan rendah.

Di tengah euforia para petani dalam meyambut harga jual tembakau yang tinggi, masih ada kekhawatiran petani dalam masalah serangan hama pada tanaman tembakau. Keberadaan hama menyebabkan keuntungan yang diterima petani menjadi berkurang dan bahkan pada serangan hama tinggi menyebabkan gagal panen total.

Ancaman Luka Api pada Perkebunan Tebu

Penyakit luka api dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar pada produksi tebu, tidak hanya secara kuantitas tetapi juga kualitas tebu yang dihasilkan termasuk rendemen tebunya. Serangan penyakit luka api pada varietas tebu yang rentan dapat menyebabkan kehilangan hasil lebih dari 60 persen.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa potensi kehilangan hasil perkebunan tebu akibat luka api pada tanaman raton lebih tinggi dibandingkan dengan plant-cane. Sebagai contoh di Cina, kehilangan hasil pada tanaman PC (Plant-Cane) mencapai 8 persen, sedangkan pada tanaman raton luka api menyebabkan kerugian sebesar 16-20 persen.

Di Indonesia, pengamatan luka api pada pertanaman tebu di daerah pengembangan di Sulawesi menunjukkan bahwa kejadian penyakit tersebut dapat mencapai 16 persen. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kejadian penyakit luka api sebesar 1 persen dapat meningkatkan resiko kehilangan hasil sebanyak 0,6 persen.

Subkategori

Pencarian

Sosial media

Video

  <

infografis

banner

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso Km 4 , Kotak Pos 199, Kabupaten Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

16995079
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
18826
0
45455
57482
54864
16570961
16995079

Your IP: 44.201.96.43
2022-07-06 00:08:34
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.

Please publish modules in offcanvas position.