Hello. Write your message here. Link text here

Arrow up
Arrow down
×

Pemberitahuan

Please enter your Disqus subdomain in order to use the 'Disqus Comments (for Joomla)' plugin. If you don't have a Disqus account, register for one here

Produk Samping Tebu Sebagai Energi Terbarukan Bioetanol

Dunia saat ini sedang menghadapi penurunan cadangan energi tak terbarukan yang berasal dari pertambangan minyak. Penurunan cadangan minyak bumi menjadi masalah serius karena kenaikan konsumsi bahan bakar minyak dan terjadinya krisis politik, sehingga kecenderungan kenaikan harga minyak tak terelakkan. Biofuel telah menarik perhatian dunia karena selain meningkatkan diversifikasi sumber energi juga tidak berkontribusi mengurangi emisi gas rumah kaca.

Biomassa lignoselulosa tebu merupakan bahan baku berpotensi untuk produksi bioetanol dan konversi energi termal. Manfaat penggunaan biomassa lignoselulosa terhadap lingkungan adalah positif karena mampu mengurangi efek rumah kaca dan meningkatkan penyerapan karbon. Ketersediaan biomassa atau lignoselulosa yang melimpah di Indonesia menjadi suatu tantangan khusus seiring dengan mendesaknya kebutuhan akan energi alternatif pengganti minyak bumi. Produk samping tebu yang biasa dianggap sebagai limbah industri gula, baik yang berupa bagas tebu atau daun klentekan tebu, berpotensi sebagai bahan baku dalam produksi bioetanol.

Seiring dengan meningkatnya produktivitas biomassa lignoselulosa, penelitian tentang pemuliaan tanaman harus fokus pada modifikasi komposisi serat tebu yang tinggi. Bahan baku dengan kadar lignin yang rendah akan berpotensi mengurangi kesulitan dan biaya dalam proses pretreatment.

Tanaman tembakau telah lama dibudidayakan di Indonesia, mulai jaman penjajahan Belanda sampai sekarang. Pemanfaatan tembakau dari dulu hingga sekarang masih terbatas hanya sebagai bahan baku rokok. Hal ini karena semakin meningkatnya permintaan rokok di Indonesia. Disisi lain peningkatan jumlah perokok menyebabkan munculnya masalah lain yaitu peningkatan penyakit akibat rokok, baik pada perokok aktif maupun pasif. Hal ini membuat pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Aditif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan (PP Tembakau), Pasal 58 ayat (1) menyebutkan bahwa diversifikasi dimaksudkan agar penggunaan produk tembakau tidak membahayakan bagi kesehatan. Pengamanan produk tembakau (rokok) adalah melindungi generasi muda dari bahaya produk tembakau karena bersifat adiktif dan berdampak negatif bagi kesehatan. Oleh karena itu diperlukan diversifikasi produk tembakau non rokok seperti pestisida nabati, minyak atsiri, pupuk, bio oil yang penggunaannya memberikan manfaat kepada petani tembakau pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta mendukung PP tembakau. Diversifikasi produk tembakau non rokok dapat dibuat dari bahan limbah pertanian tembakau yang sudah terbuang seperti batang, daun pucuk, biji dan rontokan daun atau debu tembakau di gudang. Dengan memanfaatkan limbah tembakau untuk dibuat menjadi suatu produk yang bisa dijual maka dapat menambah pendapatan petani tembakau serta meningkatkan kesejahteraannya. Tulisan ini membahas tentang pemanfaatan limbah tembakau untuk diversifikasi produk tembakau non rokok serta potensinya yang besar untuk dipasarkan.

Elda Nurnasari* dan Subiyakto
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Subkategori

Pencarian

Sosial media

Video

  <

infografis

banner

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso Km 4 , Kotak Pos 199, Kabupaten Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121

16997107
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
20854
0
47483
57482
56892
16570961
16997107

Your IP: 44.201.96.43
2022-07-06 01:47:34
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.

Please publish modules in offcanvas position.