Pengembangan Model Usaha Tani Tebu Terpadu di Kebun Percobaan Muktiharjo

Rata-rata produktivitas tebu di Indonesia adalah 76,7 ton/ha dan limbah tanaman berupa pucuk tebu sebesar 30,8 ton/ha. Limbah pucuk tebu tersebut berpotensi sebagai pakan ternak ruminansia. Adanya potensi pakan ternak yang cukup melimpah dan bermutu, membuka peluang dikembangkannya ternak sapi di lingkungan perkebunan tebu. Dengan demikian, dapat dikembangkan konsep integrasi tebu-ternak yang dapat memberikan keuntungan sinergis, yaitu diperoleh ternak dengan pemanfaatan hasil samping tebu untuk pakan dan diperoleh limbah ternak berupa pupuk kandang. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Kebun Percobaan Muktiharjo melalui pengembangan model usahatani tanaman tebu secara terpadu. sebagai suatu saranan/prasarana penelitian, pendidikan dan pelatihan, sarana wisata bidang pertanian (agrowidya wisata).

Salah satu usaha untuk menanggulangi kekurangan pakan pada musim kemarau perlu dilakukan sistem pertanian terpadu antara petani tebu dan ternak, pendekatannya melalui integrasi tebu-ternak diharapkan mempunyai prospek yang sangat baik, karena ternak dapat diusahakan dengan biaya pakan yang sangat murah, tersedianya kotoran ternak untuk pupuk organik untuk menyuburkan lahan, dan tersedianya pakan ternak sepanjang tahun, sehingga swasembada daging akan tercapai disamping dapat meningkatkan daya saing hasil pertanian/perkebunan.

Pembuatan kebun produksi tanaman tebu di KP. Muktiharjo seluas 3 hektar dengan menanam tiga varietas tebu yang berbeda tingkat kemasakannya. Varietas tebu yang ditanam terdiri dari tebu dengan kriteria masak awal (varietas PSJK 922), masak tengah (varietas PSJT 941) dan kriteria masak akhir (varietas BL).

Pembuatan kandang sapi terdiri dari dua unit kandang yang masing-masing mampu menampung 10 ekor sapi. Limbah daun tebu yang cukup banyak dan potensial untuk pakan ternak akan dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi.

Penggunaan bio-digester dapat membantu pengembangan sistem pertanian dengan mendaur ulang kotoran ternak untuk memproduksi Biogas dan diperoleh hasil samping (by-product) berupa pupuk organik. Selain itu, dengan pemanfaatan biodigester dapat mengurangi emisi gas metan (CH4) yang dihasilkan pada dekomposisi bahan organik yang diproduksi dari sektor pertanian dan peternakan, karena kotoran sapi tidak dibiarkan terdekomposisi secara terbuka melainkan difermentasi menjadi energi gas bio.

Fasilitas pembuatan untuk produksi pupuk organik yang dilengkapi dengan fasilitas produksi pupuk organik (Bak decomposer, mesin pencacah dan mesin mill dan mesin granulator.


 

infografis

Terbitan

© 2015 Balittas. All Rights Reserved.