RUMUSAN SEMINAR DAN LOKAKARYA NASIONALTANAMAN PEMANIS, SERAT, TEMBAKAU, DAN MINYAK INDUSTRI

Seminar dan lokakarya pada hari inibertujuan untuk mendiskusikandan mensosialisasikan inovasi teknologi yang akan digunakan sebagai dasar untuk menyusun strategi penelitian dan pengembangan, menghasilkan rekomendasi strategis untuk pencapaian swasembada gula dan peningkatan produktivitas dan kualitas tanaman serat, tembakau, dan minyak industri. Seminar dilaksanakan di Balittas Malangdihadiri oleh 194 orangpeserta yang berasal dari instansi-instansi terkait dengan Tanaman Pemanis, Serat, Tembakau dan Minyak Industri yang terdiri dari kalangan pembuatan kebijakan dari Kementerian Pertanian, Perindustrian, usahawan, pejabat dinas perkebunan Propinsi dan Kabupaten/Kota, peneliti, penyuluh dan dosen, serta pemerhati tanaman Pemanis, Serat, Tembakau dan Minyak Industri.

Masalah utama on-farm yang dihadapi industri gula adalah rendahnya tingkat produktivitas yang saat ini hanyasekitar 6,53 tonhablur/ha, keterbatasan bibit bermutu, ketersediaan lahan di Jawa yang beralih fungsi, terbatasnya tenaga kerja, dan terjadinya perubahan iklim.

Strategi Litbang dalam menghadapi masalah dan untuk mendukung pencapaian swasembada gula 2014 meliputi: perakitan varietas unggul secara konvensional maupun bioteknologi yang difokuskan pada varietas tebu tahan lingkungan suboptimal(kekeringan) dan adaptif perubahan iklim; penelitian teknologi produksi bibit bermutu, teknik tanam, pengairan, dan pemupukanslow release dan hayati dan penggunaan ZPT yang tepat, teknik pengendalian organisme pengganggu tanaman yang ramah lingkungan, serta pengelolaan tanaman ratoon yang efektif; dan penataan varietas sesuai tipologi lahan,potensi hasil, rendemen, dan sifat kemasakan. Program penelitian alsintan, sistem integrasi tanaman tebu dan ternak, pengolahan limbah dan produksi dekomposer, rekomendasi kebijakan, serta berbagai kegiatan diseminasi terus dilakukan untuk mendukung program intensifikasi dan ekstensifikasi. Strategi litbang tersebut didukung oleh P3GI yang berperan menghasilkan produk dan teknologi untuk mendukung industri gula nasional. Sinkronisasi kegiatan penelitian antar institusi penelitian hendaknya dilakukan dalam konsorsium dan diseminasi hasil penelitian hendaknya melibatkan BPTP.

Pengembangan tebu rakyat harus didukung dengan pola kemitraan yang baik, berkesinambungan, terbuka, adil dan masing-masing pihak harus berkomitmen untuk meraih keuntungan bersama dan implementasinya perlu diawasi dan disupervisi oleh instansi terkait. Selain itu, diperlukan dukungan kebijakan untuk menghindari “persaingan” perolehan bahan baku antar PG. Penyediaan bibit bermutu sudah dimulai oleh PT Perkebunan dan PG untuk mendukung program intensifikasi dan ekstensifikasi tebu.

Direktorat Jenderal lingkup Kementerian Pertanian (antara lain PSP, BPSDMP, PPHP, Ditjen Peternakan, Badan Litbang Pertanian) dan Kementerian/Lembaga terkait (antara lain Kemenhut, Kemeneg BUMN, BPN, Kemenkeu, Kemen PU, Kemeneg Kop dan UKM)telah mengimplementasikan program dan kebijakan untuk mendukung swasembada gula. Selain itu, dukungan anggaran, penguatan kelembagaan termasuk mengaktifkan peran penyuluh merupakan kunci keberhasilan swasembada gula 2014.

Pengembangan tebu di lahan sub optimal telah dilakukan oleh PT Gunung Madu Plantation yang meliputi areal seluas 25.000 ha. Teknik budidaya dilakukan secara mekanis, menggunakan bibit tebu dengan perlakuan hot water, pengendalian hayati untuk hama penggerek dengan menggunakan parasitoid, supplementary irigation, penyemprotan ZPK dari udara, pemberaan parsial dan penambahan bahan organik dari limbah tebu untuk memelihara kesuburan tanah Selain itu dilakukan perakitan varietas melalui persilangan. Tebu produksi terdiri atas 8-10 varietas utama, tahun 2012 75% lahan menggunakan varitas hasil perakitan sendiri. Strategi penelitian untuk pengembangan tebu adalah implementasiprogram pemuliaan tanaman dan pengelolaan plasma nutfah.

Masalah yang dihadapi komoditas tanaman serat, tembakau, dan tanaman minyak industri adalah rendahnya produktivitas dan mutu, yang antara lain disebabkan oleh keterbatasan benih bermutu. Tembakau cerutu, khususnya tembakau cerutu Deli yang memiliki indikasi geografis, saat ini mulai dikembangkan di negara lain merupakan warning bagi Indonesia untuk lebih serius menangani aset yang berharga ini.

Strategi Litbang dalam peningkatan produktivitas dan mutu tanaman serat melalui inovasi varietas unggul dengan produktivitas tinggi dan adaptif lingkungan wilayah pengembangan kapas.

Strategi Litbang dalam peningkatan produktivitas dan mutu tanaman tembakaudititikberatkan pada penelitian peningkatan produktivitas, mutu sesuai permintaan pasar, serta penurunan kadar nikotin.

Strategi Litbang dalam pengembangan bio-energy untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat di pedesaan dan mensubstitusi BBM difokuskan pada tanaman jarak pagar dan kemiri minyak.Penelitian dititikberatkan pada teknik perbanyakan tanamandan teknologi budi daya, serta perakitan varietas jarak pagar berdaya hasil tinggidan kandungan minyak biji tinggi (>35%). Pembangunan Desa Mandiri Enegi (DME) didukung oleh pengembangan kompor biji jarak pagar yang merupakan terobosan awal, karena biji jarak pagar yang kering dapat langsung digunakan tanpa melalui pengolahan.

Untuk mengatasi masalah perbenihan, Badan Litbang memproduksi benih dasar dan pokok varietas unggul kapas, tembakau, dan jarak pagar dalam jumlah yang cukup dan tersedia untuk ditangkarkan menjadi benih sebar oleh penangkar benih melalui Unit Produksi Benih Sumber (UPBS). (Tim perumus: Subiyakto, Nurindah, Bambang Heliyanto, Titiek Yulianti, dan Djajadi )

infografis

Terbitan

© 2015 Balittas. All Rights Reserved.