TEMU LAPANG KAPAS, Grobogan 19 September 2012

Temu lapang kapas dalam rangka sosialisasi paket teknologi budidaya kapas yang efisien pada MK-1 dilaksanakan di Desa Tambahrejo, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan. Kegiatan sosisalisasi ini merupakan bagian dari kegiatan penelitian Perakitan Teknologi Budidaya Kapas yang Efisien. Temu Lapang Kapas yang dilaksanakan di tengah-tengah pertanaman kapas ini dihadiri oleh petani kapas di sekitar lokasi penelitian dan ketua kelompok tani kapas di Kabupaten Grobogan, Kepala Balittas, Kepala BPTP Jawa Tengah, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Grobogan, Kepala Seksi Pengembangan Tanaman Semusim Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Kepala Wilayah Jawa Tengah PT Nusafarm (pengelola kapas), aparat Desa Tambahrejo, dan peneliti Balittas. Tujuan dari temu lapang ini adalah menyampaikan paket teknologi budidaya kapas yang efisien untuk kapas yang ditanam pada musim kemarau I. Paket teknologi budidaya yang efisen tersebut meliputi varietas unggul baru (Kanesia 10 dan Kanesia 13), sistem tanam kapas tumpangsari dengan jagung pola 3 baris kapas + 2 baris jagung, pemangkasan pada waktu tanaman sudah membentuk sedikitnya 10 cabang generatif, dan pengelolaan hama dengan memanfaatkan musuh alami.

Kanesia-10 dan Kanesia-13 merupakan varietas kapas yang lebih unggul dibandingkan Kanesia 8 yang saat ini digunakan dalam pengembangan kapas. Pada kondisi agroekosistem di Grobogan, tanaman kapas dan jagung yang ditanam pada pertengahan Mei 2012 (setelah padi dipanen) berada pada kondisi sub-optimal kering, produkstivitas kapas berbiji Kanesia-10 mencapai 1,6 ton/ha (84% dari potensi produksi varietas), Kanesia-13 1,5 ton/ha (79% dari potensi produksi varietas), dan Kanesia 8 1,3 ton/ha (63% dari potensi produksi varietas). Pada sistem tanam tumpangsari dengan pola 3 baris kapas dan 2 baris jagung didapatkan 1,4 ton jagung/ha (69% dari produksi monokultur). Topping atau pemangkasan yang dilakukan pada waktu tanaman telah membentuk 12 cabang generatif menyebabkan pemasakan dan perekahan buah yang serempak. Pengelolaan hama dengan dengan menerapkan konsep ambang kendali yang mempertimbangkan keberadaan predator dan penyemprotan larutan tetes tebu (10 mL/1 L air) untuk penyediaan pakan musuh alami, menyebabkan populasi hama selalu di bawah ambang kendali, sehingga tidak pernah dilakukan penyemprotan insektisida. Usaha tani kapas tumpangsari dengan jagung dan penerapan paket teknologi budidaya ini meningkatkan efisiensi biaya produksi hingga 45%, sehingga memberikan pendapatan yang lebih tinggi 64% dibandingkan dengan usaha tani jagung monokultur pada waktu yang sama. Peningkatan pendapatan ini disebabkan karena adanya efisiensi dari biaya produksi dan peningkatan penerimaan karena peningkatan produksi kapas berbiji.

Dalam diskusi masalah teknis, petani menghendaki dipertajam pengetahuannya tentang musuh alami serangga hama kapas, sehingga dapat mengenali dan mamanfaatkannya. Balittas akan mengirimkan buku Serangga Hama Kapas dan Musuh Alaminya kepada kelompok-kelompok tani kapas di Grobogan untuk dipelajari. Dalam diskusi masalah non-teknis, petani menginginkan adanya ketepatan waktu pembelian kapas oleh pengelola dan bantuan sarana pengairan. Pembelian kapas oleh pengelola telah dilakukan sesuai jadwal yang ditentukan oleh perusahaan dan pada umumnya telah dilakukan sesuai jadwal yang direncanakan. Harga kapas berbiji telah ditetapkan sebesar Rp 4.400,- per kg. Bantuan sarana pengairan berupa sumur gali atau embung akan diberikan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Grobogan apabila kelompok tani membuat proposal yang disampaikan kepada kedua instansi tersebut. Bantuan yang diberikan tidak terbatas hanya pada sarana pengairan, tetapi sarana lain maupun saprodi yang dibutuhkan kelompok tani, asalkan dijelaskan dalam proposal yang diajukan.(Nurindah)

infografis

Terbitan

© 2015 Balittas. All Rights Reserved.