Mengatasi masalah energi di pedesaan dengan memanfaatkan biji jarak pagar dipekarangan dan pagar pembatas lahan

Ketersediaan energi menjadi masalah tidak hanya terjadi di perkotaan tetapi juga sudah dirasakan masyarakat di pedesaan. Minyak tanah yang tadinya menjadi tumpuan utama sebagai bahan bakar kompor pada kegiatan memasak, keberadaannya menjadi langka, dan kalapun ada harganya mahal sehingga tidak terjangkau oleh kebanyakan masyarakat baik di perkotaan apalagi di pedesaan.

Program diversifikasi energi dengan menyediakan LPG bersubsidi dalam kemasan 3 kg memang membantu sebagian masyarakat. Namun, sebagian masyarakat lainnya, masih memilih menggunakan kayu bakar, terutama masyarakat di pedesaan dengan pertimbangan ekonomis dan keamanan. Khususnya masyarakat yang tinggalnya tidak jauh dari hutan, kayu bakar menjadi pilihan utama untuk kegiatan memasak. Tentu saja, hal ini akan berdampak negatif pada kelestarian lingkungan.

Sebenarnya di beberapa wilayah di Indonesia, terdapat potensi untuk mengatasi masalah energi yaitu dengan memanfaatkan biji jarak pagar sebagai bahan bakar kompor. Tanaman jarak pagar (Jatropha curcas Linn) banyak ditemui dipekarangan dan di lahan pertanian yang saat ini hanya dimanfaatkan sebagai pagar pembatas lahan oleh pemiliknya. Kondisi tanaman tersebut kurang terpelihara dengan baik. Pada saat musim berbuah, buah-buah jarak pagar dibiarkan mengering di pohon, kemudian jatuh di tanah begitu saja. Buah-buah jarak pagar yang telah masak akan berwarna kuning. Di dalam buah tersebut terdapat biji yang mengandung minyak sekitar 40% dan dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor tanpa harus memproses lebih lanjut.

Biji jarak pagar diperoleh dengan cara mengeluarkannya dari dalam buah-buah jarak pagar, kemudian dikeringanginkan selama sekitar 3 hari sampai kadar air sekitar 7%. Biji-biji yang telah kering ini dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor. Dibagian bawah kompor terdapat ruang tempat bahan bakar yang jika diisi 0,5 kg biji jarak pagar dan dinyalakan akan habis selama sekitar satu jam. Untuk kebutuhan memasak kurang dari 1 jam, bahan bakar dapat diisi seperlunya, demikian juga jika dibutuhkan lebih dari 1 jam, biji dapat ditambahkan selama kompor masih dalam keadaan menyala tanpa harus mematikan kompor.

Jika dalam 1 tanaman dapat menghasilkan 1 kg biji jarak pagar, maka dapat digunakan untuk menyalakan kompor selama 2 jam. Jika waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk memasak adalah 2 jam setiap harinya, maka diperlukan 1 tanaman jarak pagar per harinya atau 360 tanaman per tahunnya. Dengan memanfaatkan jarak pagar sebagai pagar pembatas lahan tanpa mengurangi areal untuk komoditi utama hanya diperlukan lahan seluas 0,81 ha. Untuk mencapai produksi 1 kg biji jarak pagar per tanaman per tahun tidak terlalu sulit asal tanaman dipelihara sesuai dengan baku teknis.

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) telah mengembangkan kompor berbahan bakar biji jarak pagar. Kompor berbahan bakar biji jarak pagar ini telah disosialisasikan di masyarakat di Desa Banyuputih, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Tanggapan Ibu-ibu pengguna kompor sangat positip. Sebelumnya, mereka menggunakan LPG dan kayu bakar yang diperoleh di hutan. Setelah mengoperasikan kompor tersebut, dapat merasakan manfaatnya karena lebih ekonomis dan akan memanfaatkan tanaman jarak pagarnya sehingga tidak perlu pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.

infografis

Terbitan

© 2015 Balittas. All Rights Reserved.