SOSISALISASI TEKNOLOGI BUDIDAYA KAPAS

Pada hari Selasa, 8 Mei 2012, Balittas menyelenggarakan Sosialisasi Teknologi Budidaya Kapas di Desa Banyuputih, Kecamatan Banyuputih, Situbondo. Kegiatan ini merupakan salah satu agenda dalam kegiatan penelitian Perakitan Teknologi Budidaya Kapas. Sosiaslisasi ini diikuti oleh petani kapas dan petugas penyuluh dari Kabupaten Situbondo dan Banyuwangi, serta peneliti dan teknisi Balittas. Sosisalisasi teknologi budidaya kapas bertujuan untuk memamerkan penerapan teknologi budidaya kapas pada petani. Teknologi budidaya yang disosialisasikan berupa paket teknologi budidaya terdiri atas empat komponen, yaitu waktu tanam, varietas, pola dan tata tanam, dan pengelolaan hama.

Waktu tanam kapas yang diterapkan dalam perakitan paket teknologi budidaya ini adalah minggu II Januari yang merupakan waktu tanam minggu paling lambat (MPL) untuk wilayah Asembagus. Berdasarkan hasil pengamatan jumlah curah hujan mulai November 2011 hingga April 2012, air yang tersedia untuk tanaman kapas dan tanaman yang ditumpangsarikan mencapai kondisi optimal, sehingga pertumbuhan tanaman normal.

Varietas kapas yang diintroduksikan adalah varietas unggul baru Kanesia 10 dan Kanesia 13. Petani pada umumnya masih menanam Kanesia 8. Pada kegiatan perakitan paket teknologi budidaya ini, Kanesia 10 dan Kanesia 13 menunjukkan keunggulannya dalam hal potensi produksi. Jumlah buah jadi Kanesia 10 dan Kanesia 13 adalah 34 – 36 buah/pohon, sehingga perkiraan produksi 3,5 – 3,8 ton kapas berbiji per hektar, sedangkan produktivitas Kanesia 8 diperkirakan hanya 2,8 ton kapas berbiji per hektar.

Pola tanam yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah kapas tumpangsari dengan kacang tanah dan jagung. Kacang tanah yang ditanam adalah varietas Jerapah dengan produksi 1.810 kg polong basah per ha atau senilai Rp7.243.000,- dan dipanen pada 85 hari. Petani pada umumnya menanam kacang tanah varietas lokal dengan potensi produksi 1.500 kg polong per hektar atau senilai Rp6.000.000,-.

Pengelolaan hama dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami dalam pengendalian populasi serangga hama. Pemanfaatan musuh alami ini dilakukan dengan menghindari penggunaan insektisida yang disemprotkan. Pada kegiatan ini populasi hama berhasil dikelola untuk selalu di bawah ambang kendali, sehingga tidak pernah dilakukan penyemprotan insektisida. Pengelolaan hama yang diintroduksikan adalah perlakuan benih dengan insektisida sistemik sebelum tanam dan penyemprotan tetes tebu yang berfungsi sebagai sumber pakan predator.(nurindah)

infografis

Terbitan

© 2015 Balittas. All Rights Reserved.