Riset Tebu Jangka Pendek dan Pentingnya Penataan Varietas

Balittas kembali mengadakan seminar bulanan, terkait komoditas mandat baru, yaitu tebu bersama seorang pakar tebu dan gula, Dr. Untung Murdiyatmo pada hari senin, 12 Maret 2012. Seminar ini merupakan tindak lanjut dari seminar sebelumnya yang bertema tebu masa lalu, sekarang, dan akan datang. Seminar dibuka oleh Kepala Balittas Ir. Mastur, M.Si, PhD. Dalam pembukaannya Kepala Balai meminta pemateri untuk menjelaskan bagaimana riset jangka pendek yang kita butuhkan.
Awal pemaparannya, Dr. Untung merefresh ingatan kita dengan menayangkan slide tentang produksi hablur yang terus menunjukkan penurunan dari 10 ton/ha menjadi 5 ton/ha pada tahun 1975 – 2011. Oleh karena itu, mulai saat ini harus ada persamaan cita-cita, untuk bisa bersama-sama menaikkan grafik tersebut. Dalam hal ini, yang paling bertanggung jawab adalah para peneliti, dimana harus bisa melakukan kerja dengan jujur, punya cita-cita, tidak sombong, tidak gengsi dan bisa saling bersinergi sehingga mampu memunculkan hasil karya besar. Beliau membagi penelitian menjadi dua, yaitu penelitian yang harus segera dilaksanakan dan hasilnya harus segera muncul dan penelitian yang harus segera dilaksanakan meskipun hasilnya untuk jangka panjang. Beberapa usulan yang beliau sampaikan terkait penelitian 2013, antara lain tentang :

  1. Uji serangan yellow leaf virus, sehingga nantinya bisa membuat standar produksi benih yang bebas virus 
  2. Metode single bud planting dan Hot Water Treatment (HWT)untuk mencegah penyakit Ratoon Stunting Disease (RSD) sekaligus bisa menghemat penggunaan bibit. 
  3. Tumpang sari budidaya tebu 
  4. Perakitan tebu di lahan sub optimal dengan metode transgenic. 

Materi kedua pada seminar bulanan ini adalah perlunya penataan varietas yang disampaikan oleh Ir. Fitriningdyah TK, MS. Pengaturan masa tanam, varietas dan kategori tanaman dapat membantu menentukan permulaan giling yang tepat. Cara ini setiap tahun harus diperbaharui. Konsekuensi dari cara ini adalah bahwa tiap tahun harus dilakukan pengamatan varietas tebu yang ditanam terutama dalam hal sifat varietas tersebut misalnya masak awal, masak tengah ataukah masak lambat. Apakah sifat-sifat tersebut akan tetap sama pada tebu keprasan pertama, kedua dan seterusnya. Lebih jauh, akan lebih baik lagi apabila komponen faktor tersebut dapat dipasangkan pada ciri-ciri wilayah tertentu.
Adapun beberapa langkah yang ditempuh untuk penataan varietas yaitu penyusun peta tipologi lahan, rekomendasi varietas sesuai tipe kemasakan pada tiap tipologi lahan, adanya action plan dan pengawalan. Selanjutnya beliau menjelaskan sifat kemasakan tebu, kaitannya dengan tipologi wilayah, waktu tanam dan waktu tebang. Pada dasarnya tipe kemasakan dengan umur tanaman dan faktor kemasakan (FK). Potensi rendemen tinggi untuk masak awal pada umur 11-12 bulan, masak tengah 12-13 bulan dan masak lambat 13-14 bulan. Sedangkan terkait dengan FK, makin kecil angka FK, maka tebu dinyatakan semakin masak. Setiap PG mempunyai kurva jalannya FK yang berlainan. Untuk menentukan kapan FK itu optimum biasanya harus dihubungkan dengan kapan rendemen itu maksimum. Untuk itu dapat didekati dengan cara membuat kurva jalannya rendemen tebu rata-rata dengan FK. Kurva dari FK diperoleh dengan penghitungan :




Seminar bulanan kali ini memberikan tambahan pengetahuan dan inspirasi bagi para peneliti Balittas dalam mengemban mandat baru komoditas tebu. Dengan semangat yang terus dikobarkan, peneliti Balittas mampu mengemban amanah dan optimis untuk dapat meningkatkan produksi tebu.(ully)

infografis

Terbitan

© 2015 Balittas. All Rights Reserved.