Pengendalian Gulma Tanaman Tebu


Gangguan gulma dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar karena bisa menyababkan penurunan bobot tebu. Penurunan produktivitas tebu akibat keberadaan gulma dapat mencapai sekitar 12-72% (Agropedia 2010). Menurut data penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa jurusan budidaya pertanian, fakultas pertanian, Universitas Brawijaya, pada 2015, penurunan produktivitas tebu yang disebabkan oleh gulma sebesar 15-53,7%. Bahkan untuk kasus tertentu sering menyebabkan kegagalan panen tergantung tingkat intensitas penutupan gulma, jenis dan agresivitas pertumbuhannya.

Gulma dapat didefinisikan sebagai tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki, di tempat manusia bermaksud mengusahakan tanaman pokok. Gulma sendiri bersaing dengan tanaman pokok dalam memperebutkan unsur hara, air, cahaya matahari, dan ruang tumbuh, sehingga akan menghambat pertumbuhan dan menurunkan produksi tanaman pokok.

Gulma merupakan kendala utama di areal pertanaman tebu lahan kering, karena pertumbuhan gulma yang cepat dan lebat dengan berbagai macam spesies yang mendominasi. Pada lahan kering, gulma lebih beragam dan lebih berbahaya. Gulma dominan yang menjadi pesaing kuat tanaman tebu terdiri atas gulma daun lebar, gulma daun sempit dan teki. Spesies memiliki kemampuan yang bervariasi dalam kemampuannya menurunkan hasil tanaman, umumnya semakin dekat kekerabatan antara tanaman pokok dan spesies gulma, derajat persaingannya semakin besar, dan semakin tinggi populasi gulma di pertanian tebu, maka semakin besar pula derajat persaingannya.

Seringkali gejala kerusakan tebu akibat kompetisi gulma dengan tanaman tebu tidak segera tampak, sehingga pengendalian gulma sering terlambat dan tanaman sudah memasuki periode kritis yang berakibat negatif terhadap pertumbuhan dan berujung dengan penurunan produksi. Periode kritis adalah periode pada saat tanaman pokok sangat peka atau sensitif terhadap persaingan gulma, sehingga pada periode tersebut perlu dilakukukan pengendalian, dan jika tidak dilakukan maka akan menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil dari tanaman pokok.

Periode kritis pengendalian gulma sangat penting dalam program pengelolaan gulma terpadu, yaitu periode dalam siklus hidup tanaman dimana gulma harus dikendalikan untuk mencegah kehilangan hasil. Periode kritis kompetisi tanaman terhadap gulma secara umum terjadi pada sepertiga hingga setengah dari awal siklus hidupnya.

Pengendalian gulma yang efektif dan efisien dapat ditempuh dengan beberapa tahapan sebagai berikut :

  1. Melakukan identifikasi jenis gulma secara akurat sehingga dapat diketahui jenis-jenis gulma dominan yang perlu mendapat perhatian dalam pengen-daliannya.
  2. Mempelajari penyebab timbulnya gulma dengan memprioritaskan pada cara yang paling sederhana dan disesuaikan dengan sumberdaya tersedia, misalnya dengan pengaturan pola tanam atau cara tanam dan pengendalian secara manual.
  3. Mengutamakan pengendalian gulma secara kombinasi dari dua atau lebih cara pengendalian dengan urutan prioritas secara kultur teknik, mekanik, dan kimiawi.
  4. Membandingkan alternatif cara pengendalian gulma berdasarkan optimasi waktu, biaya, kemudahan pelaksanaan, efektivitas dalam pengendalian, serta resiko terhadap kerusakan lingkungan.

infografis

Terbitan

© 2015 Balittas. All Rights Reserved.