Balittas : Kamis, 22 November 2018 Balittas menerima Kunjungan kerja Pemerintah Kabupaten Bandung dan Perwakilan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Bandung sebanyak 8 orang, dalam rangka studi komparasi mengenai Hasil Penelitian Produk Tembakau Non Rokok terkait pengelolaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Kunjungan diterima oleh Plh. Ka. Balittas Ir. Moch. Machfud, MP. Perwakilan dari Pemda Kab. Bandung menyampaikan maksud kunjungan ke Balittas. Selain itu disampaikan pula masalah pertembakauan di Jawa Barat oleh Dr. Sesanti Basuki, dan produk samping non rokok oleh ibu Elda Nurnasari, MSc. dan Bapak Heri Prabowo, MSc. @ Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Seminar Sehari Tebu Tema “Status dan Inovasi Teknologi Tanaman Tebu”

Seminar Sehari Tebu bertemakan “Status dan Inovasi Teknologi Tanaman Tebu” dilaksanakan di Aula Jatropha Balittas pada Tanggal 15 November 2018 Acara dibuka oleh Kepala Balittas Dr. Ir. Mohammad Cholid, MSc., Tujuan seminar ini untuk mengidentifikasi kebutuhan dan ketersediaan inovasi teknologi budi daya tebu, serta aspek pendukung lainnya untuk meningkatkan produktivitas tebu secara nasional yang diikuti oleh sekitar 222 orang. Peserta seminar terdiri atas para ahli, praktisi, stake holder, dan pemerhati agribisnis tebu yang meliputi peneliti, dosen, penyuluh, dinas, pengusaha, petugas lapang, petani, dan berbagai kalangan yang bergerak dalam agribisnis tebu. Seminar ini merupakan salah satu rangkaian acara diseminasi laporan akhir kegiatan proyek kerjasama ACIAR HORT/2012/083 antara P3GI, BALITTAS, IPB, dan Sugar Research Australia (SRA) dan sekaligus diseminasi teknologi Badan Litbang Pertanian Kementerian Pertanian.

Fokus utama kegiatan penelitian ini adalah Pengendalian Terpadu Penyakit Mosaik Bergaris pada Tebu di Indonesia.

Makalah utama yang dipresentasikan adalah sebagai berikut :

  1. Inovasi Teknologi On Farm Pada Tanaman Tebu
  2. Status Hama Serta Pengelolaannya pada Tanaman Tebu di Indonesia
  3. Status Penyakit dan Pengelolaannya pada Tanaman Tebu di Indonesia
  4. Metode deteksi Sugarcane Streak Mosaic Virus (SCSMV)
  5. Distribusi Hama dan Penyakit Penting di Indonesia
  6. Cara Penularan, Epidemiologi dan Kehilangan Hasil

Sedangkan makalah penunjang dipresentasikan dalam bentuk poster berupa hasil-hasil penelitian dan review tanaman tebu.

Pada kesempatan seminar ini untuk memeriahkan, juga dilaksanakan pameran produk pertanian yang diikuti oleh 19 peserta yang menampilkan traktor pertanian, alat-alat laboratorium, produk unggulan beberapa lembaga riset, oleh-oleh khas Malang, dan beberapa stand UMKM. (Admin)

Lokakarya Tanaman Serat Tahun 2018

Tema “Peningkatan Daya Saing Tanaman Serat Menuju Pasar Global”

Lokakarya Tanaman Serat Tahun 2018 dengan tema Peningkatan Daya Saing Tanaman Serat Menuju Pasar Global dilaksanakan di Aula Jatropha Balittas pada Tanggal 14 November 2018 Kegiatan ini merupakan bagian dari Jambore PUI 2018 yang diselenggarakan oleh Pusat Unggulan Iptek (PUI) Tanaman Serat Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas). Acara dibuka oleh Kepala Balittas Dr. Ir. Mohammad Cholid, MSc., sekaligus membacakan sambutan. Lokakarya ini diharapkan menjadi sarana bagi para peneliti, akademisi dan praktisi dalam mengembangkan penelitian tanaman serat untuk menghasilkan produk yang berdaya saing tinggi. Komoditas tanaman serat mendukung industri strategis: 4F (food, feed, fuel, fiber). hasil utama tanaman serat: industri Tekstil (besar-kain; kecil-menengah:tenun tradisional), hankam (kertas sekuritas; anti peluru), automotif (dash board, inerior, seat, door trim), energi (nano hidrokarbon), kreatif (kerajinan tangan), material maju (bioplastik, biokomposit), kesehatan (biofarmaka-makro selulosa untuk eksipient obat). Hasil samping berupa biomassa tanaman serat: energi (bioethanol G2; nano hidrokarbon), biofarmaka (anti mikrobia, kosmetik, bahan aktif obat), material maju (nano selulosa - kertas film sampai bahan peledak). 

Produk dari tanaman serat harus berdaya saing tinggi melakukan invensi melalui riset

Riset pengembangan teknologi produksi dan pemanfaatan produk dan diversifikasi produk yang berdaya saing (nilai tambah komoditas). Teknologi produksi: varietas unggul, teknik budidaya, penangan pasca panen yang efisien dan ramah lingkungan - eco-labeling pasar global. Pemanfaatan produk: diversifikasi produk dan inovasi produk yang dibutuhkan dalam pasar global - menuju industri generasi 4 (automatisasi). Penguatan riset on farm maupun penangan pasca panen dan off farm - pasar menghasilkan inovasi yang berdaya saing. Penguatan network lembaga riset dengan melakukan sinergi riset untuk menghasilkan inovasi.

Menyongsong Pasar global diantaranya Masyarakat Ekonomi Asia (MEA); Free Trade Area (FTA); ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA) dan Pasar bebas 2020, produk dari tanaman serat melalui pemanfaatan sumber daya alam (SDA) Indonesia dengan memanfaatkan teknologi melalui riset untuk menghasilkan invensi dan selanjutnya menjadi inovasi yang berdaya saing untuk memanfaatkan peluang pasar global. (Admin)

Penilaian WBK/WBBM oleh Tim Evaluator dari Kemenpan RB dalam rangka penilaian Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).

Kunjungan lapang Penilaian WBK/WBBM oleh Tim Evaluator dari Kemenpan RB dalam rangka penilaian Zona Integritas menuju Wilayah Bebas dari korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM). Area yang dikunjungi adalah 1) Laboratorium pengujian benih, 2) Pelayanan benih UPBS, 3) Laboratorium Terpadu dan 4) Pelayanan perpustakaan.  

Malang-Pada hari Rabu, 30 Nopember 2017, Balittas melaksanakan initiative meeting sinergi riset berbasis tanaman pemanis dan serat. Pertemuan ini dihadiri oleh tim pengelola PUI Bioetanol G2 – Pusat Penelitian Kimia, LIPI, tim pengelola PUI Lignoselulosa – Pusat Penelitian Biomaterial LIPI, tim pengelola PUI Aneka Kacang dan Umbi - Balitkabi, tim pengelola PUI Jeruk – Balitjestro, dan perwakilan dari Jurusan Kimia Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pertemuan diawali dengan pemaparan potensi tanaman pemanis dan serat untuk bahan bioetanol G2 dan produk biomaterial berbasis serat, masing-masing oleh Penanggung Jawab Program Penelitian Tanaman Pemanis (Prof. Dr. Subiyakto) dan Penanggung Jawab Program Penelitian Tanaman Serat/Wakil Penanggung Jawab PUI Tanaman Serat yaitu PUI Tanaman Serat (Prof. Ir. Nurindah, Ph.D). Selanjutnya, Ketua Tim Pengelola PUI Bioetanol G2 dan PUI Lignoselulosa memaparkan hasil-hasil kegiatannya, serta produk-produk yang telah dihasilkan. Hasil dari pertemuan ini diharapkan ada tindak lanjut sinergi kerjasama riset antara beberapa PUI untuk melaksanakan penelitian untuk invensi produk baru yang berdaya saing, serta menyusun policy brief untuk memberikan masukan terhadap kebijakan pengembangan BBN khususnya bioetanol. Sinergi antar PUI juga diharapkan untuk penyelenggaraan seminar atau simposium nasional atau internasional dengan skema pembiayaan dari Kemenristek Dikti.

 

 

Penyerahan sertifikat tanda daftar 6 varietas abaka lokal Talaud dari PVT Kementan oleh Bp Dr. Marjani sebagai wakil Ka Balittas kepada Bupati Kepulauan Talaud Ibu Sri Wahyumi Maria Manalip, SE. Sertifikat varietas abaka pertama di Indonesia setelah sekian lama sejak jaman Belanda abaka dikembangkan di Indonesia. Penghargaan ini merupakan hasil perjuangan panjang Litbang Pertanian dlm hal ini Balittas dan Masyarakat Talaud. Pada thn 1999/2000 Tim Balittas melakukan eksplorasi abaka di Sulawesi Utara termasuk Talaud dgn anggaran APBN. Pada thn 2008 dilakukan observasi potensi abaka di seluruh Indonesia termasuk Talaud dengan biaya dari Toyota Boshoku, Jepang, dilanjutkan mulai thn 2015 - 2019 dengan fokus kegiatan observasi dan persiapan pelepasan varietas abaka Talaud dengan anggaran dari Pemda Talaud. Pada bulan oktober telah disetujui 6 varietas lokal abaka Talaud oleh PVT Kementan dengan nama : Rote Esang Merah Tua (REMT), REM, REH, RMM, RBHJ dan RRM. Semoga abaka di Talaud mendunia. Serat abaka talaud sekitar 7 ton siap dikirim ke PT. DBB/ RETOTA Jakarta, ini sebagian kecil dari potensi abaka di talaud. Kendalanya adalah kekurangan tenaga kerja dan permodalan. Kualitas seratnya sangat bagus dengan produktivitas yg tinggi disaat harga kelapa jatuh, maka abaka sangat membantu pendapatan petani. Diperlukan investor dan pasar yg lebih besar untuk pengembangan abaka yang lebih luas.

Potensi abaka di Talaud sangat besar. Tanaman tumbuh subur begitu besar dengan bobot bisa mencapai 100 kg bahkan lebih yg menghasilkan serat kering bisa mencapai 4-5 kg per batang. Untuk saat ini bisa dinyatakan bahwa abaka di Talaud yg terbesar di dunia.

Serat Abaka Talaud sekitar 7 ton siap dikirim ke PT DBB/RETOTA Jakarta, ini merupakan sebagian kecil potensi Abaka yang ada di Talaud. Kualitas serat Abakca Talaud sangat bagus, memiliki produktivitas tinggi, sehingga sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup/sumber pendapatan petani. Kendala yang ada saat ini adalah masalah tenaga kerja dan permodalan, sehingga kedepan diperlukan investor dan pasar yang lebih besar.

Malang - Kunjungan Dinas Perkebunan dan Holtikultura Kab. Kep. Meranti, Prop. Riau ke Balittas bertujuan untuk melakukan penjajagan kemungkinan pengembangan komoditas mandat Balittas di pulau Topang. Pulau Topang merupakan salah satu pulau di Kabupaten Kepulauan Meranti yang luasnya 3.223,75 Ha. Luas daratan pulau Topang adalah 2.824,84 Ha dan telah dimanfaatkan untuk penanaman pohon kelapa seluas 1.738,31 Ha, Karet 222,26 Ha, Sawah 260,43 Ha, sisanya berupa hutan Mangrove 186,07 Ha dan Lahan Kosong 60 Ha. Pohon kelapa di pulau Topang tersebut telah berumur lebih dari 40 tahun dan sudah tidak produktif. Dinas Perkebunan dan Hortikultura Kabupaten Kepulauan Meranti berencana melakukan peremajaan pohon kelapa tersebut. Sementara pohon kelapa yang diremajakan belum berproduksi, akan diupayakan untuk mengembangkan komoditas lain yang sesuai untuk tumpangsari dengan kelapa sehingga petani tetap memperoleh pendapatan (income).

Lahan di pulau Topang adalah semi gambut, dengan ketinggian tempat sekitar 9 m di atas permukaan laut. Dari hasil diskusi dengan para peneliti Balittas, komoditas yang dapat dikembangkan di daerah tersebut adalah tebu, kenaf, rami dan kapas. Namun tidak ada pasar untuk serat rami dan kapas, sehingga dua komoditas ini tidak dianjurkan untuk dikembangkan di pulau Topang. Komoditas kenaf sesuai untuk dikembangkan di pulau Topang sebagai bahan baku pulp kertas, namun sebelumnya Dinas Perkebunan dan Hortikultura Kabupaten Kepulauan Meranti harus menghubungi terlebih dulu PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) untuk memastikan pasarnya. Selain itu komoditas tebu jenis tertentu yang toleran terhadap curah hujan tinggi dapat dikembangkan di Pulau Topang. Komoditas tebu ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan gula merah yang dapat dikerjakan dengan mudah oleh petani sendiri.

PELEPASAN VARIETAS UNGGUL LOKAL TEMBAKAU MAGETAN

Sidang pelepasan varietas tembakau lokal Magetan dilaksanakan di Hotel Bumi Wiyata Kota Depok pada tanggal 2 November 2017 bersama-sama dengan pelepasan beberapa komoditas perkebunan lainnya. Tembakau Magetan merupakan tembakau rakyat yang diproses secara rajangan. Tembakau ini sudah berkembang sejak tahun 1910 di wilayah Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan dengan luas areal rata-rata 300 – 750 ha per tahun. Konsumennya cukup banyak, antara lain pedagang pengepul untuk rokok lintingan serta beberapa pabrik rokok sedang dan kecil. Sampai saat ini belum ada kultivar tembakau Magetan yang sudah dilepas. Tujuan kegiatan adalah untuk memperoleh 1-2 varietas unggul lokal yang lebih baik dibanding kultivar lokal lain yang berkembang di Kabupaten Magetan. Dengan demikian akan berdampak pada berkurangnya penggunaan kultivar ilegal, dan sekaligus dapat dilakukan sertifikasi dan pengawasan peredaran benih tembakau di Kabupaten Magetan, serta dapat meningkatkan produksi dan mutu tembakau lokal Magetan.

Pada tahun 2012 telah dilakukan eksplorasi dan seleksi (pemurnian) terhadap 10 kultivar tembakau Magetan. Tahun 2013 sampai 2016 telah dilakukan uji multilokasi di lima lokasi. Dari pengujian tersebut terpilih dua kultivar yaitu Rejeb 3 dengan produktivitas rajangan kering 0,35 – 1,13 ton/ha, indeks mutu 49,97 – 74,58, indeks tanaman 21,01 – 90,13, kadar nikotin 2,93 – 5,20% serta moderat terhadap penyait lanas (Phytopthora nicotianae) dan rentan terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) dan Rejeb 4 dengan produktivitas rajangan kering 0,39 – 1,14 ton/ha, indeks mutu 48,63 – 82,40, indeks tanaman 26,03 – 96,18, kadar nikotin 3,00 – 5,28% serta tahan terhadap penyait lanas (Phytopthora nicotianae) dan rentan terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum). Kedua kultivar tersebut setelah melalui sidang, disetujui untuk dilepas sebagai varietas unggul lokal tembakau Magetan dengan nama Rejeb Parang 3 dan Rejeb Parang 4. (Ruly Hamidah, dkk).

 

 

Pemerintah cq. Kementerian Pertanian telah mencanangkan tahun 2018 sebagai “Tahun benih”. Bapak Menteri Pertanian, Dr. Ir. Amran Sulaiman menyatakan hal ini dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian Nasional Tahun 2017 di Jakarta. Bila pada tahun-tahun sebelumnya fokus pembenihan ditujukan pada tanaman pangan khususnya padi dan Jagung, maka kedepan pada tahun 2018 dialihkan untuk komoditas hortikultura dan perkebunan. Tanaman perkebunan yang mendapatkan alokasi benih adalah kopi, kakao, lada, cengkeh, pala dan tebu. Lebih lanjut, dinyatakan oleh bapak Menteri bahwa tahun 2018 tidak ada lagi pengadaan benih tetapi diubah menjadi produksi benih unggul yang dibagikan secara gratis pada masyarakat. Dalam upaya menyediakan benih unggul tebu yang akan dibagikan pada masyarakat petani dan pengrajin gula merah di wilayah dataran tinggi Propinsi Jambi, BPTP Jambi ditugasi oleh Badan Litbang Pertanian untuk memproduksi 425.000 benih unggul tebu varietas POJ 2878 Agribun Kerinci. Varietas ini dilepas oleh pemerintah melalui SK. Mentan No: 110/Kpts./Kb.010/2/2017.

Pembenihan tebu varietas POJ 2878 Agribun Kerinci dilakukan di desa Siulak Kecil Hilir, Kec. Siulak, Kab. Kerinci. Karena keterbatasan lahan yang mengelompok, pembenihan dilakukan di dua lokasi. Lokasi 1 di dusun Siluak Kecil seluas satu hektar (310.000 benih) dan Lokasi 2 di dusun Tebat Gedang seluas 0,5 hektar (155.000 benih). Penanaman benih dilakukan secara bertahap mulai tanggal 22 September sampai dengan pertengahan Oktober 2017. Kelas benih yang digunakan adalah KTG, dengan target luaran sebanyak 425.000 benih tumbuh. Pada saat peneliti Balittas melakukan kunjungan, pertumbuhan benih tidak merata karena sebagian baru berumur kurang lebih 2 minggu. Oleh karena itu, agar target luaran terpenuhi disarankan penanggung jawab melakukan penghitungan total benih tumbuh secara cermat pada umur satu bulan setelah tanam. Apabila pada umur satu bulan benih belum tumbuh dapat dipastikan benih tersebut mati sehingga perlu disulam. Penyulaman sebaiknya menggunakan bagal bermata satu yang dideder terlebih dahulu. Selain itu, pemeliharaan tanaman pembenihan supaya diperhatikan antara lain pemupukan dan penyiangan gulma jangan sampai terlambat.(Dr. Bambang Heliyanto dan Dr. Rully Dyah Purwati )

KUNJUNGAN KERJA DISBUN KAB. TAKALAR

Malang : Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia di daerahnya, Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar melaksanakan studi banding sebanyak 48 orang yang terdiri dari petani dan petugas ke Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat pada tanggal 2 November 2017. Kepala Dinas Perkebunan Kab. Takalar, Dr. H.M. Najib Kasim, MSi, menyampaikan permasalahan di lapang terkait tebu di Kabupaten Takalar, yaitu: rendemen tak menentu, kondisi tanah yang kurang bagus, serta komoditas kapas yang pertumbuhannya kurang optimal.

Prof. Dr. Subiyakto, penanggung jawab program penelitian tanaman pemanis di Balittas, menanggapi permasalahan di Takalar dan menyampaikan bahwa: di P. Jawa untuk menentukan rendemen dilakukan core sampler. Selama ini bagi hasil tebu antara petani dan Pabrik Gula di Takalar 60:40. Lebih lanjut, Prof. Nurindah, penanggungjawab program penelitain tanaman serat mengemukakan sebaiknya konsep pengembangan kapas di Kabupaten Takalar harus “market oriented”.

Masalah yang dihadapi dalam pengembangan kapas di Kabupaten Takalar salah satu pengusaha (Bpk. Syarifuddin), mengemukakan beberapa hal, antara lain: Umur kapas panjang, banyak hama; Sarpras tidak memadai (masalah pupuk); Produksi dan harga rendah. Tangapan Prof. Nurindah: Kanesia 8 : jika cukup air maka akan terus berbunga dan berbuah. Selain Kanesia 8, umurnya pendek (90hari). Jika tdk ada air, maka tanamannya akan fokus pada pembentukan bunga dan buah. Minat menjadi kendala utama dalam pengembangan kapas. Minat ini terkait dengan harga jual yang rendah sehingga petani tidak mau mengembangkan kapas.

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

No event in the calendar
Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
0568488
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
2064
18665
156593
98596
496022
656
568488

Your IP: 54.226.4.91
2019-05-25 02:28:27
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.

Please publish modules in offcanvas position.