Rami

Rami semula dikembangkan di daerah dataran tinggi walaupun sebenarnya rami juga dapat dikembangkan di dataran rendah terutama yang memiliki fasilitas pengairan. Kendala pengembangan rami adalah panjangnya rantai proses penyeratan sampai menjadi serat siap pintal. Proses yang panjang ini menyebabkan rami bukan sebagai “cash crop”, walaupun harga serat rami lebih tinggi dari harga serat kapas. Sebagai salah satu penghasil serat alami, rami merupakan komoditas yang perlu dikembangkan. Komoditas ini, selain menghasilkan serat alami yang bermutu tinggi, juga mempunyai hasil samping yang bernilai ekonomi, seperti kompos limbah dekortikasi dan daun rami untuk campuran pakan ternak.

Varietas baru Ramindo 1, dengan nama lama Pujon 10, sudah sejak lama dikembangkan petani/pengusaha dan sudah terbukti keunggulannya baik di masyarakat maupun hasil penelitian. Ramindo 1 memberikan produktivitas serat yang tinggi (2–2,7 ton/ha/tahun) dengan kualitas serat yang cukup baik, serta memiliki daya adaptasi yang luas, sehingga klon ini sesuai untuk dikembangkan di dataran rendah, sedang hingga tinggi.

Limbah dekortikasi (penyeratan) dapat diolah menjadi pupuk organik yang sangat halus dengan kandungan: Organik 20,13%; N total 2,15%; C/N ratio 3,01%; bahan organik 34,83%; P2O5 1,47%; K2O 2,76%; CaO 3,73%; MgO 2,22%; S 0,13%; dan KTK 65,56 me/100 g pupuk organik. Teknik pengomposan dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan mencampurkan dedak, sedikit gula pasir, EM-4, dan disiram air secukupnya. Selain itu, sisa dekortikasi banyak mengandung kayu, dan seratnya baik untuk bahan baku pulp/kertas.

Daun rami (40% dari bobot brangkasan segar) mengandung protein sekitar 24%, sangat baik untuk sumber protein ternak dan unggas. Setelah diproses menjadi tepung dapat dimanfaatkan untuk campuran konsentrat berbagai pakan ternak. Pakan ternak dari daun rami mengandung sekitar: 10% air; 1,05–1,75% lisin; 0,14–0,73% methionin; dan 0,18–0,31% triptophan. Selain itu mengandung karotin (provitamin A) dan riboflavin (vitamin B2) masing-masing 13,3 dan 0,74 mg tiap 100 g bahan keringnya.

Penggunaan varietas unggul Ramindo 1 dengan pemberian paket pupuk lengkap (orga-nik, N, P, K dan ZPT+ PPC) dapat meningkatkan hasil serat sampai dengan 58-60%.



Rami semula dikembangkan di daerah dataran tinggi walaupun sebenarnya rami juga dapat dikembangkan di dataran rendah terutama yang memiliki fasilitas pengairan. Kendala pe-ngembangan rami adalah panjangnya rantai proses penyeratan sampai menjadi serat siap pin-tal. Proses yang panjang ini menyebabkan rami bukan sebagai “cash crop”, walaupun harga serat rami lebih tinggi dari harga serat kapas. Sebagai salah satu penghasil serat alami, rami merupakan komoditas yang perlu dikembangkan. Komoditas ini, selain menghasilkan serat alami yang bermutu tinggi, juga mempunyai hasil samping yang bernilai ekonomi, seperti kompos limbah dekortikasi dan daun rami untuk campuran pakan ternak.

Varietas baru Ramindo 1, dengan nama lama Pujon 10, sudah sejak lama dikembangkan petani/pengusaha dan sudah terbukti keunggulannya baik di masyarakat maupun hasil penelitian. Ramindo 1 memberikan produktivitas serat yang tinggi (2–2,7 ton/ha/tahun) dengan kuali-tas serat yang cukup baik, serta memiliki daya adaptasi yang luas, sehingga klon ini sesuai untuk dikembangkan di dataran rendah, sedang hingga tinggi.

Limbah dekortikasi (penyeratan) dapat diolah menjadi pupuk organik yang sangat halus dengan kandungan: Organik 20,13%; N total 2,15%; C/N ratio 3,01%; bahan organik 34,83%; P2O5 1,47%; K2O 2,76%; CaO 3,73%; MgO 2,22%; S 0,13%; dan KTK 65,56 me/100 g pupuk organik. Teknik pengomposan dapat dilakukan secara sederhana, yaitu dengan mencampurkan dedak, sedikit gula pasir, EM-4, dan disiram air secukupnya. Selain itu, sisa dekortikasi banyak mengandung kayu, dan seratnya baik untuk bahan baku pulp/kertas.

Daun rami (40% dari bobot brangkasan segar) mengandung protein sekitar 24%, sangat baik untuk sumber protein ternak dan unggas. Setelah diproses menjadi tepung dapat dimanfaatkan untuk campuran konsentrat berbagai pakan ternak. Pakan ternak dari daun rami me-ngandung sekitar: 10% air; 1,05–1,75% lisin; 0,14–0,73% methionin; dan 0,18–0,31% triptophan. Selain itu mengandung karotin (provitamin A) dan riboflavin (vitamin B2) masing-masing 13,3 dan 0,74 mg tiap 100 g bahan keringnya.

Penggunaan varietas unggul Ramindo 1 dengan pemberian paket pupuk lengkap (orga-nik, N, P, K dan ZPT+ PPC) dapat meningkatkan hasil serat sampai dengan 58–60%.

Prosiding Lokakarya Model Pengembangan Agribisnis Rami

Lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 24 November 2005 di Hotel Sabda Alam, Garut bertujuan untuk membahas lebih konkrit dan operasional rencana pilot project pengembangan rami di Garut dengan melibatkan tim pengembangan agribisnis rami, sebagai tindak lanjut Lokakarya Rami di Bandung pada tanggal 19 Oktober 2005. Prosiding ini berisi lima makalah utama, dan delapan makalah penunjang. Dengan diterbitkannya prosi-ding ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat yang berkecimpung dalam komoditas rami antara lain: petani, pengusaha, penyuluh, dinas terkait, perguruan tinggi, dan para peneliti sendiri.

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
7149618
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
18635
0
52450
48995
36366
6918981
7149618

Your IP: 3.235.62.151
2020-07-04 10:10:17
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.