Kapas

Sebagai negara produsen tekstil No. 5 di dunia, volume ekspor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia pada tahun 2005 mencapai US$8,59 miliar dan mampu menyerap tenaga kerja mencapai 1,7 juta orang, belum termasuk tenaga kerja yang diserap dalam sektor pertanian dan perdagangan. Serat kapas merupakan bahan baku utama dari industri TPT. Kebutuhan akan serat kapas pada 2004/2005 berkisar 510 ribu ton yang diprediksi akan meningkat menjadi 688 ribu ton pada 2010. Produksi serat kapas dalam negeri hanya berkisar 1,600–2,500 ribu ton atau kurang dari 0,5% kebutuhan nasional. Sampai dengan tahun 2025, agribisnis kapas diharapkan dapat memberikan kontribusi pada industri TPT sekitar 30% dari kebutuhan bahan baku kapas saat ini. Tantangan yang dihadapi oleh pengembangan kapas In-donesia cukup kompleks, berawal dari ketidaktersediaan benih bermutu sampai dengan kelangkaan modal petani. Ketersediaan sumber daya alam terutama lahan kering masih cukup luas di luar Jawa, seperti Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur yang memberikan peluang bagi pengembangan kapas nasional. Oleh karena itu, komoditas kapas merupakan salah satu komoditas yang diprioritaskan untuk dikembangkan dalam mendukung revitalisasi perkebunan.
Salah satu aspek intensifikasi adalah varietas unggul, karena varietas unggul merupakan komponen teknologi yang paling mudah diadopsi oleh petani. Balittas telah melepas 15 seri varietas Kapas Indonesia (Kanesia); enam diantaranya dilepas pada tahun 2006/2007 yaitu Kanesia 10, Kanesia 11, Kanesia 12, Kanesia 13, Kanesia 14, dan Kanesia 15. Kanesia 8 merupakan varietas unggul kapas yang telah digunakan dalam pengembangan kapas nasional dengan potensi produksi 1,85–2,73 ton kapas berbiji/ha dan persen serat 33,3–38,7%. Varietas-varietas baru tersebut memiliki potensi produksi 17–22% lebih tinggi dibanding Kanesia 8, dan tingkat ketahanan yang moderat terhadap salah satu hama utama kapas, Amrasca biguttulla, serta mutu serat yang tidak berbeda dengan Kanesia 8. Kanesia 14 dan Kanesia 15 memiliki daya adaptasi yang lebih besar terhadap keterbatasan air dibandingkan varietas-varietas lainnya, sehing-ga kedua varietas tersebut lebih sesuai untuk dikembangkan pada daerah-daerah tadah hujan.
Penggunaan varietas-varietas unggul kapas dalam pengembangan dengan luas areal yang diperkirakan mencapai 10.000 hektar dan dengan produktivitas pada tingkat petani mencapai 1,5 ton/ha (50–70% dari potensi produksi), maka produksi kapas nasional akan meningkat 9.000 ton kapas berbiji atau 3.000 ton serat kapas yang setara dengan US$4,2 juta (dengan harga serat rata-rata US$1,4/kg serat). Manfaat tersebut akan meningkat lebih tinggi apabila luas areal kapas mampu mencapai target pengembangan kapas nasional yaitu sekitar 70.000 ha pada 2010.

Karakteristik Inovasi Teknologi
Teknik pengendalian serangga hama utama kapas yang dikembangkan yaitu pendekatan pengendalian hama terpadu (PHT) yang penekanannya adalah penerapan metode pengendalian non-kimiawi melalui peningkatan peran musuh alami. Peningkatan peran musuh alami dilakukan dengan pelestarian dan pemanfaatan agens hayati. Teknologi PHT kapas terdiri dari penggunaan varietas yang relatif tahan terhadap Amrasca biguttula (varietas seri Kanesia), perlakuan benih dengan insektisida yang bersifat sistemik, aplikasi mulsa, pemantauan populasi hama, penerapan konsep ambang kendali, dan penggunaan insektisida botani ekstrak biji mimba (EBM).

Keunggulan / Nilai Tambah Inovasi
Penerapan teknologi PHT kapas dapat menghemat biaya pengendalian hama sebesar Rp. 500.000,-/ha/musim. Pengurangan penggunaan insektisida kimia berakibat positif terhadap lingkungan, yaitu mengurangi pencemaran air, tanah, dan udara dari bahan kimia yang bersifat toksik.

Cara Penggunaan Inovasi
  • Perlakuan benih dengan insektisida sistemik berbahan aktif imidachloprit dengan dosis 10 mg/kg benih dilakukan sebelum tanam.
  • Aplikasi mulsa dari sisa tanaman sebelumnya berupa jerami padi atau daun/batang jagung dilakukan secara menyebar pada permukaan tanah atau secara berlajur pada barisan tanaman.
  • Penerapan konsep ambang kendali penggerek buah dengan memperhitungkan keberadaan musuh alami:
    • Ambang kendali penggerek buah: 4 tanaman terinfestasi larva dari 25 tanaman yang diamati. Jumlah tanaman yang terinfestasi dikurangi 1 jika ditemukan 8 ekor musuh alami (laba-laba, Kumbang Kubah, Kepik Mirid, semut, dll.) dan kelipatannya.
  • Penggunaan insektisida botani ekstrak biji mimba (EBM) sebagai substitusi insektisida kimia sintetis yang diaplikasikan dengan penyemprotan pada tanaman.


Aplikasi mulsa/sisa tanaman
secara berjalur
Aplikasi mulsa jerami
secara merata



Pemantauan populasi hama
dan musuh alaminya
Insektisida botani EBM

Sistem Tanam Tumpangsari Kapas dengan Palawija

1.  Karakteristik Inovasi Teknologi
Dalam upaya meningkatkan pendapatan petani dan sekaligus mengurangi risiko kegagalan panen kapas, dilakukan sistem tumpangsari kapas dengan palawija. Tanaman palawija yang dianjurkan yaitu kacang hijau, kedelai, kacang tanah, atau jagung dan disesuaikan dengan daerah pengembangan.

2.  Keunggulan / Nilai Tambah Inovasi
Tumpangsari kapas dengan palawija memberikan peningkatan pendapatan petani hingga 40%. Tumpangsari kapas dan kedelai mampu memberikan hasil kapas 1.348-1.577 kg kapas berbiji/ha dan 500-545 kg kedelai/ha. Sedangkan tumpangsari kapas dengan jagung mampu memberikan 619.5 kg kapas berbiji dan 3.260 kg jagung.

3.  Cara Penggunaan Inovasi

Tata tanam yang dipakai dalam sistem tumpangsari kapas adalah 1 baris kapas (2 tanaman/lubang) dan 2-3 baris palawija (kedelai, kacang hijau, dan kacang tanah) dengan populasi kapas 44.000 tanaman/ha dan palawija 198.000aman/ha. Dapat pula dengan mengurangi jumlah tanaman kapas per lubang menjadi satu tanaman/lubang pada tata tanam 1 baris kapas dan 3 baris palawija (populasi kapas 33.000 tanaman/ha). Dengan tata tanam berlajur (strip-cropping) 2 baris kapas dan 3 baris kedelai (populasi kapas 31.302 tanaman/ha) produksi kapas mencapai 1.677 kg/ha dan kedelai 456 kg/ha. Sistem tanam terbaik untuk tumpangsari kapas dengan jagung adalah 3 baris kapas (populasi 32.566 tanaman/ha) dan 2 baris jagung (populasi 38.000 tanaman/ha).

Tata tanam tumpang
sari kapas dengan
kacang hijau
Tata tanam tumpang
sari kapas dengan
kedelai
Tata tanam tumpang
sari kapas dengan
jagung
Tata tanam tumpang
sari kapas dengan
kacang tanah

PROSIDING LOKAKARYA REVITALISASI AGRIBISNIS KAPAS DIINTREGRASIKAN DENGAN PALAWIJA DI LAHAN SAWAH TADAH HUJAN

Lokakarya yang diselengarakan pada tanggal 8 September 2005 di Gedung Bhineka Karya, Lamongan bertujuan untuk mengangkat peran kapas dalam meningkatkan pendapatan masyarakat dan daerah melalui revitalisasi agribisnis kapas diintegrasikan dengan palawija pada lahan sawah tadah hujan.
Prosiding ini berisi lima makalah utama, dan 17 makalah penunjang yang dipersentasikan dalam bentuk poster. Dengan diterbitkannya prosiding ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat perkapasan antara lain: petani, penyuluh, pengusaha, dinas terkait, perguruan tinggi dan para penelitia sendiri.

KAPAS

  1. Pengembangan Varietas Kapas Indonesia (KANESIA)
Karakteristik Inovasi Teknologi :

 

Salah satu aspek intensifikasi adalah varietas unggul, karena varietas unggul merupakan komponen teknologi yang paling mudah diadopsi oleh petani. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat telah melepas 15 seri varietas Kapas Indonesia (Kanesia); enam diantaranya dilepas pada tahun 2006/2007 yaitu Kanesia 10, Kanesia 11, Kanesia 12, Kanesia 13, Kanesia 14, dan Kanesia 15. Varietas-varietas baru tersebut memiliki potensi produksinya 17-22% lebih tinggi dibanding Kanesia 8 dengan mutu serat yang tidak berbeda dengan kanesia 8, serta menunjukkan indeks stabilitas ±1 yang artinya bahwa keempat varietas tersebut mampu beradaptasi secara luas di berbagai areal pengembangan. Kanesia 14 dan Kanesia 15 memiliki daya adaptasi yang lebih besar terhadap keterbatasan air dibandingkan varietas-varietas lainnya, sehingga kedua varietas tersebut lebih sesuai untuk dikembangkan pada daerah-daerah tadah hujan.

Keunggulan / Nilai Tambah Inovasi :
Varietas-varietas unggul tersebut di atas memiliki potensi produksi dan/atau kandungan serat lebih tinggi, serta tingkat ketahanan yang moderat terhadap salah satu hama utama kapas, Amrasca biguttulla, dibandingkan varietas-varietas yang dikembangkan dalam program pengembangan kapas sebelumnya. Dengan demikian, apabila varietas-varietas ini digunakan dalam pengembangan dengan luas areal yang diperkirakan mencapai 10.000 hektar dan pada tingkat petani produktivitasnya mencapai 1.5 ton/ha (50 – 70% dari potensi produksi), maka produksi kapas nasional akan meningkat 9.000 ton kapas berbiji atau 3.000 ton serat kapas yang setara dengan 4.2 juta US$ (dengan harga serat rata-rata US$1.4/kg serat). Manfaat tersebut akan meningkat lebih tinggi apabila luas areal kapas mampu mencapai target pengembangan kapas nasional yaitu sekitar 70.000 ha pada 2010.

Cara Penggunaan Inovasi:
Benih sumber varietas-varietas unggul tersebut di atas tersedia di Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas). Benih sebar yang telah beredar hanya untuk Kanesia 8 dan Kanesia 9 saja. Dengan mempertimbangkan adanya korelasi antara kekeringan dan tingkat serangan hama A. biguttula pada daerah-daerah pengembangan kapas yang masih didominasi oleh lahan kering, maka disarankan untuk melakukan perlakuan benih menggunakan imidachloprit dengan dosis 10 mg/kg benih sebelum tanam.


KAPAS NASIONAL INDONESIA (KANESIA)

Lokakarya yang diselenggarakan pada tanggal 15 Maret 2006 di Garden Palace Hotel, Surabaya bertujuan untuk membahas dampak pencabutan subsidi ekspor kapas negara maju terhadap kelangsungan TPT nasional serta menyusun strategi pengembangan kapas dan rami, meliputi kelembagaan pengembangan kapas dan rami, dukungan teknologi, dan sumber daya (lahan, manusia, dan infrastruktur).
Prosiding berisi lima makalah utama, dan tujuh belas makalah penunjang yang disajikan dalam bentuk poster. Prosiding ini diharapkan dapat menambah wawasan masyarakat yang berkecimpung dalam serat alam antar lain: petani penyuluh, pengelola/pengusaha, dinas terkait, perguruan tinggi, dan para peneliti.

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30


Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
4144748
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
118776
93880
411250
666368
1638419
1782032
4144748

Your IP: 35.175.120.174
2019-11-21 17:45:42
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.