Tags:

Pemuliaan untuk mendapatkan varietas tebu unggul baru, merupakan peker-jaan yang berkesinambungan sebagai akibat terjadinya proses kemunduran klon (clonal degeneration). Hal ini terutama disebabkan oleh tingginya aku-mulasi penyakit-penyakit sistemik dan daya dukung lahan untuk pertanaman tebu yang semakin menurun. Produktivitas tebu umumnya masih rendah dan sebagian besar arealnya terserang penyakit kerdil ratoon (RSD), luka api (smut), maupun streak mosaic virus (Camstock et al. 1991; Camstock et al. 1995). Serangan hama penggerek (batang maupun pucuk) menjadi ancaman baru pada areal pengembangan baru yang sebelumnya merupakan wilayah non-ekosistem tanaman tebu. Terbatasnya sumber tenaga kerja juga menye-babkan aplikasi herbisida harus dilakukan pada pengendalian gulma di perta-naman tebu. Tuntutan perakitan varietas tebu diarahkan pada sifat tahan dan toleran terhadap berbagai masalah biotik dan abiotik lingkungan tumbuhnya.


Salah satu indikasi turunnya produktivitas gula di Indonesia adalah ma-kin rendahnya perolehan rendemen yang dicapai oleh beberapa varietas ung-gul yang ditanam pada saat ini. Efisiensi teknis industri gula akan terjadi apa-bila rendemen tinggi menjadi sumber bahan baku pabrik gula. Dengan varie-tas tebu rendemen tinggi akan diperoleh efisiensi tebang angkut dan prosesing nira menjadi gula di pabrik untuk nilai per satuan gula kristal yang dihasilkan. Oleh karena itu seleksi terhadap varietas unggul rendemen tinggi menjadi perhatian penting. Breaux (1984) dan Legendre (1992) melalui seleksi berulang berhasil menaikkan rendemen di Lousiana.


Budi daya keprasan di lahan kering merupakan alternatif usaha tani tebu yang memberikan keuntungan usaha tani tebu yang tinggi. Keuntungan budi daya keprasan adalah memperpendek siklus tanaman, menurunkan biaya pro-duksi, terutama bibit (Hunsigi 1993). Peningkatan daya kepras pada varietas unggul baru yang meningkatkan rasio jumlah tanaman keprasan dari 1 : 1 menjadi 1 : 3 dapat meningkatkan produksi sebesar 1,9% per musim. Kontri-busi kenaikan produksi tersebut 50% diantaranya didukung oleh perbaikan genetik (Hogarth 1987). Sementara itu penurunan produksi tebu akibat ke-prasan di negara subtropis seperti Louisiana disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks, terutama penyakit, hama, kompetisi dengan gulma, manaje-men budi daya dan suhu dingin (Ricaud dan Arceneaux 1968).


Daya kepras dapat ditingkatkan melalui seleksi langsung terhadap geno-tipe yang mempunyai produktivitas tanaman keprasan yang tinggi. Sifat-sifat seperti jumlah batang banyak, viabilitas mata, pembentukan akar, dan aku-mulasi biomassa dapat menjadi indikator varietas dengan daya kepras baik (Sundara 1989). Bobot batang juga merupakan variabel penting dalam uji da-ya kepras (Chapman 1988). Seleksi daya kepras yang dilakukan oleh Milligan (1994) menekankan pada hasil tebu dan komponen-komponennya: jumlah batang, berat batang, panjang batang, dan diameter batang. Milligan et al. (1990) juga menekankan pada hasil sukrosa karena berkaitan erat dengan ha-sil tebu. Sundara (1989) menggunakan parameter jumlah batang, viabilitas mata, pembentukan akar, dan produksi biomassa sebagai ukuran daya kepras. Selain itu daya kepras juga ditunjukkan oleh hasil tebu, karena hasil tebu ber-korelasi positif dengan parameter jumlah batang, viabilitas mata, dan biomas-sa (Chapman 1988). Studi awal oleh Mirzawan dan Sugiyarta (1999) menun-jukkan bahwa terdapat korelasi yang nyata hasil tebu pada keprasan kedua dengan jumlah batang dan tinggi batang pada tebu umur 3 atau 6 bulan.


Penurunan hasil keprasan umumnya berhubungan dengan kerentanan penyakit, hama, dan kemampuan kompetisi dengan gulma (Singh dan Singh 2002). Korelasi positif genotipe tebu yang tinggi terhadap daya kepras dengan hasil gulanya adalah pada jumlah batang digiling (millable cane), berat per batang, dan tinggi batang (Thippeswamy et al. 2003). Singh et al. (2005) mendapatkan petunjuk seleksi daya hasil keprasan yang penting adalah pada jumlah batang digiling dan berat per batang. Panjang ruas dan jumlah ruas berpengaruh pada hasil tebu keprasan, tetapi panjang ruas berkorelasi negatif terhadap hasil gula (Thangavelu 2005).


Terbatasnya ketersediaan tenaga kerja, maka penggunaan alat mesin mekanis menjadi sarana utama budi daya tebu. Kondisi ini menuntut perakit-an varietas tebu diarahkan pada keadaan lingkungan dan iklim yang beragam, cocok untuk budi daya mekanis dengan batang tegak, daun tua mudah me-ngelenthek sendiri, berdaya kepras baik, serta tahan terhadap hama dan pe-nyakit penting serta toleran herbisida (Lo 1987; Hellman dan Payet 1998).


Program pemuliaan tanaman dimulai dari plasma nutfah sebagai koleksi inti kemudian ditetapkan calon tetua sebagai koleksi kerja persilangan yang dapat diperoleh dari hasil nobelisasi, introduksi luar negeri, ekspedisi pada pusat asal dan penyebaran tebu (eksplorasi), maupun menggunakan varietas tebu unggul yang sudah ada (Gambar 3). Evaluasi karakter genotipe varietas tebu dalam koleksi inti akan menghasilkan klon-klon yang dimasukkan seba-gai koleksi kerja dan ditanam dalam kebun persilangan (Atkin et al. 2009).


















Gambar 3. Skema persilangan tebu


Besarnya interaksi genetik x lingkungan (GXE) yang disebabkan oleh perbedaan lokasi seleksi dan kondisi budi daya yang diterapkan memerlukan konsep perakitan varietas untuk spesifik lokasi. Karena itu pemilihan lokasi dan teknik budi daya yang relevan dengan tujuan seleksi dan pengujian adap-tasi patut mendapatkan perhatian dalam program pemuliaan tebu.

Balittas – 7 Februari 2019, Balittas Malang mendapatkan kunjungan dari Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Menggoro Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung. Peserta Kunjungan diterima oleh Kepala Jasa Penelitian Dra. Esti Sunaryuni sebagai perwakilan dari Kepala Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat di Aula Jatropha. Peserta kunjungan terdiri dari Kepala Desa Menggoro, perwakilan camat Tembarak, Ketua Gapoktan Desa Menggoro, yang didampingi oleh perwakilan dari Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Temanggung. Petani yang tergabung dalam Gapoktan sejumlah 50 orang, dalam rangka studi banding dengan tujuan untuk menambah wawasan dalam budidaya serta usaha bagi kelembagaan tembakau lokal.
Acara dibuka oleh perwakilan dari camat Tembarak yang diwakili oleh Ibu Sri Intani selaku Kasi Kesejahteraan Rakyat, beliau menyampaikan dengan meningkatnya pengetahuan maupun wawasan dari pengurus Gapoktan Desa Menggoro, diharapkan dapat meningkatkan kemakmuran serta pertumbuhan ekonomi masyarakat. Untuk meningkatkan pengetahuan dan wawasan para peserta, acara dilanjutkan dengan pembekalan materi mengenai budidaya tembakau oleh Dr. Djajadi.

Halaman 1 dari 27

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
5600926
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
3238
10749
44609
703641
44609
2506329
5600926

Your IP: 18.207.255.49
2019-12-06 06:50:28
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.