Tags:

Selasa, 26 Mei 2020, Pengelola perpustakaan Balittas diwakili Indriati, SP.mengikuti Rakor Pustakawan dan silaturahmi Idul Fitri 1441 H, yang diselenggarakaan oleh Pustaka. Dalam rangka memotivasi keluarga besar pustakawan dan pengelola perpustakaan lingkup Kementan, Pustaka mengadakan halal bi halal secara virtual melalui Open Virtual Literacy (OViral) Room Pustaka. Tema Halal Bihalal kali ini adalah “Makna Idul Fitri untuk memotivasi produkvitas dan kreatifitas yang inovatif dimasa Pandemi Covid 19”. Pembicara adalah Humas Ikatan Dai Indonesia (IKADI) kota Bogor, ustadz Hepi Andi Bastoni, Lc.MA. Dalam tausiyahnya beliau menyampaikan bahwa untuk tetap berproduktivitas ada 5 langkah yang bisa ditempuh yaitu: lawan rasa malas dengan beraktivitas, buat agenda apa yang akan dikerjakan, siapkan perangkat yang akan dipakai termasuk berpakaian rapi untuk memberi semangat, atur waktu istirahat agar tidak kelelahan dan siapkan anggota keluarga agar mereka tahu bahwa kita sedang bekerja. Dalam suasana Pandemi ini jangan lupa untuk selalu berdoa dan mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Minal aizin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin Taqobalallahu minna Waminkum Shiyamana Wa Syiamakum...

6 Februari 2019 - Pendampingan dan pelatihan panen dan proses penyeratan kenaf di kebun kenaf Dewan Serat Indonesia (DSI) Bekasi (Areal lahan PT. Rekadaya), sekaligus sosialisasi ragam tanaman serat alam mandat Balittas serta Litbang Pertanian pada umumnya. Acara yang dikemas dengan tema Panen Perdana Kenaf DSI dihadiri oleh sekitar 24 orang dari pengurus utama DSI, Dekranas, Warlami, Pemerhati dan penggiat serat alam serta dari tuan rumah PT. Rekadaya Multi Adiprima yang salah satu usahanya memasok Fibreboard dari sabut kelapa ke PT. Astra Ventura. Pada acara pembukaan panen perdana kenaf Ketua umum yg diwakili Sekjen DSI menyampaikan tentang pentingnya perjuangan DSI untuk memajukan industri berbasis serat alam yang dihasilkan dari kekayaan alam Indonesia untuk kemakmuran dan kesejahteraan petani dan bangsa Indonesia. DSI sudah mendapat restu dari Presisen RI sehingga akan lebih mempermudah dan menambah gairah kiprah DSI untuk memajukan dan memakmurkan negara Indonesja lewat serat alam dalam negeri. Di lain pihak, sambutan Tuan Rumah , PT. Rekadaya sangat senang dan berusaha untuk lebih banyak memanfaatkan serat alam dalam negeri yang banyak ragamnya dan berlimpah. Pada acara panen, pelatihan dan sosialisasi kenaf dan serat alam lainnya, para peserta begitu antusias dan banyak berdiskusi hingga selesai acara. Acara ini sangat bermanfaat dan membantu membuka wawasan mereka tentang bermacam jenis tanaman serat dan potensinya di Indonesia yang bisa dimanfaatkan oleh para pengusaha. Selama ini mereka kebanyakan hanya mengetahui dalam bentuk serat atau benang bahkan produknya saja.

Pemuliaan untuk mendapatkan varietas tebu unggul baru, merupakan peker-jaan yang berkesinambungan sebagai akibat terjadinya proses kemunduran klon (clonal degeneration). Hal ini terutama disebabkan oleh tingginya aku-mulasi penyakit-penyakit sistemik dan daya dukung lahan untuk pertanaman tebu yang semakin menurun. Produktivitas tebu umumnya masih rendah dan sebagian besar arealnya terserang penyakit kerdil ratoon (RSD), luka api (smut), maupun streak mosaic virus (Camstock et al. 1991; Camstock et al. 1995). Serangan hama penggerek (batang maupun pucuk) menjadi ancaman baru pada areal pengembangan baru yang sebelumnya merupakan wilayah non-ekosistem tanaman tebu. Terbatasnya sumber tenaga kerja juga menye-babkan aplikasi herbisida harus dilakukan pada pengendalian gulma di perta-naman tebu. Tuntutan perakitan varietas tebu diarahkan pada sifat tahan dan toleran terhadap berbagai masalah biotik dan abiotik lingkungan tumbuhnya.


Salah satu indikasi turunnya produktivitas gula di Indonesia adalah ma-kin rendahnya perolehan rendemen yang dicapai oleh beberapa varietas ung-gul yang ditanam pada saat ini. Efisiensi teknis industri gula akan terjadi apa-bila rendemen tinggi menjadi sumber bahan baku pabrik gula. Dengan varie-tas tebu rendemen tinggi akan diperoleh efisiensi tebang angkut dan prosesing nira menjadi gula di pabrik untuk nilai per satuan gula kristal yang dihasilkan. Oleh karena itu seleksi terhadap varietas unggul rendemen tinggi menjadi perhatian penting. Breaux (1984) dan Legendre (1992) melalui seleksi berulang berhasil menaikkan rendemen di Lousiana.


Budi daya keprasan di lahan kering merupakan alternatif usaha tani tebu yang memberikan keuntungan usaha tani tebu yang tinggi. Keuntungan budi daya keprasan adalah memperpendek siklus tanaman, menurunkan biaya pro-duksi, terutama bibit (Hunsigi 1993). Peningkatan daya kepras pada varietas unggul baru yang meningkatkan rasio jumlah tanaman keprasan dari 1 : 1 menjadi 1 : 3 dapat meningkatkan produksi sebesar 1,9% per musim. Kontri-busi kenaikan produksi tersebut 50% diantaranya didukung oleh perbaikan genetik (Hogarth 1987). Sementara itu penurunan produksi tebu akibat ke-prasan di negara subtropis seperti Louisiana disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks, terutama penyakit, hama, kompetisi dengan gulma, manaje-men budi daya dan suhu dingin (Ricaud dan Arceneaux 1968).


Daya kepras dapat ditingkatkan melalui seleksi langsung terhadap geno-tipe yang mempunyai produktivitas tanaman keprasan yang tinggi. Sifat-sifat seperti jumlah batang banyak, viabilitas mata, pembentukan akar, dan aku-mulasi biomassa dapat menjadi indikator varietas dengan daya kepras baik (Sundara 1989). Bobot batang juga merupakan variabel penting dalam uji da-ya kepras (Chapman 1988). Seleksi daya kepras yang dilakukan oleh Milligan (1994) menekankan pada hasil tebu dan komponen-komponennya: jumlah batang, berat batang, panjang batang, dan diameter batang. Milligan et al. (1990) juga menekankan pada hasil sukrosa karena berkaitan erat dengan ha-sil tebu. Sundara (1989) menggunakan parameter jumlah batang, viabilitas mata, pembentukan akar, dan produksi biomassa sebagai ukuran daya kepras. Selain itu daya kepras juga ditunjukkan oleh hasil tebu, karena hasil tebu ber-korelasi positif dengan parameter jumlah batang, viabilitas mata, dan biomas-sa (Chapman 1988). Studi awal oleh Mirzawan dan Sugiyarta (1999) menun-jukkan bahwa terdapat korelasi yang nyata hasil tebu pada keprasan kedua dengan jumlah batang dan tinggi batang pada tebu umur 3 atau 6 bulan.


Penurunan hasil keprasan umumnya berhubungan dengan kerentanan penyakit, hama, dan kemampuan kompetisi dengan gulma (Singh dan Singh 2002). Korelasi positif genotipe tebu yang tinggi terhadap daya kepras dengan hasil gulanya adalah pada jumlah batang digiling (millable cane), berat per batang, dan tinggi batang (Thippeswamy et al. 2003). Singh et al. (2005) mendapatkan petunjuk seleksi daya hasil keprasan yang penting adalah pada jumlah batang digiling dan berat per batang. Panjang ruas dan jumlah ruas berpengaruh pada hasil tebu keprasan, tetapi panjang ruas berkorelasi negatif terhadap hasil gula (Thangavelu 2005).


Terbatasnya ketersediaan tenaga kerja, maka penggunaan alat mesin mekanis menjadi sarana utama budi daya tebu. Kondisi ini menuntut perakit-an varietas tebu diarahkan pada keadaan lingkungan dan iklim yang beragam, cocok untuk budi daya mekanis dengan batang tegak, daun tua mudah me-ngelenthek sendiri, berdaya kepras baik, serta tahan terhadap hama dan pe-nyakit penting serta toleran herbisida (Lo 1987; Hellman dan Payet 1998).


Program pemuliaan tanaman dimulai dari plasma nutfah sebagai koleksi inti kemudian ditetapkan calon tetua sebagai koleksi kerja persilangan yang dapat diperoleh dari hasil nobelisasi, introduksi luar negeri, ekspedisi pada pusat asal dan penyebaran tebu (eksplorasi), maupun menggunakan varietas tebu unggul yang sudah ada (Gambar 3). Evaluasi karakter genotipe varietas tebu dalam koleksi inti akan menghasilkan klon-klon yang dimasukkan seba-gai koleksi kerja dan ditanam dalam kebun persilangan (Atkin et al. 2009).


















Gambar 3. Skema persilangan tebu


Besarnya interaksi genetik x lingkungan (GXE) yang disebabkan oleh perbedaan lokasi seleksi dan kondisi budi daya yang diterapkan memerlukan konsep perakitan varietas untuk spesifik lokasi. Karena itu pemilihan lokasi dan teknik budi daya yang relevan dengan tujuan seleksi dan pengujian adap-tasi patut mendapatkan perhatian dalam program pemuliaan tebu.

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media



infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
6931885
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
12904
0
12904
35648
12904
6727485
6931885

Your IP: 34.204.168.209
2020-06-01 13:24:13
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.