Varietas ini diperoleh dari hasil seleksi varietas lokal yang berasal dari Prancak, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep. Varietas Prancak-95 dilepas oleh Menteri Pertanian pada tahun 1997 dengan SK nomor 731/Kpts/TP.240/7/97.


Habitus tanaman seperti kerucut, bila telah dipangkas akan berbentuk silindris. Tinggi tanaman rata-rata berkisar antara 60 dan 80 cm, jumlah daun 14–18 lembar. Bentuk daunnya oval agak sempit, duduk daun pada batang membentuk sudut lancip. Varietas ini tahan terhadap penyakit lanas (Phytophthora nicotianae var. nicotianae).
Produktivitasnya rata-rata 804 kg rajangan/ha, indeks mutu 57, kadar nikotin rata-rata 2,13%. Tembakau rajangan Prancak-95 mempunyai aroma yang harum dan gurih, sesuai untuk bahan baku rokok keretek. Varietas ini lebih sesuai untuk lahan kering, di daerah pegunungan dan tegalan. Dinas Perkebunan Kabupaten Pamekasan dan Sumenep mulai menangkarkan benih sebar Prancak-95 pada 1996 dan 1997. Benih sebar yang dihasilkan dibagikan kepada pedagang bibit sehingga bibit yang dipasarkan berasal dari sumber benih yang jelas. Produktivitas Prancak-95 di tingkat petani berkisar antara 0,45–0,8 ton/ha, tergantung jenis lahan dan pengelolaan ta-naman oleh petani. Saat ini penggunaan Prancak-95 diperkirakan mencapai 50–60% dari total areal tembakau madura, tersebar di Kabupaten Sumenep, Pamekasan, dan sebagian Sampang.

Pengembangan tembakau madura Prancak-95 didukung dengan adanya kemitraan antara petani dan PT Sadhana Arifnusa (pemasok tembakau PT HM Sampoerna) dan pemasok PT PR Gudang Garam serta peran aktif dari instansi terkait. Dalam kemitraan ini, pengelola menyediakan benih sebar, sedangkan Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Pamekasan membina petani penangkar yang merangkap sebagai pedagang bibit.

Tags:

Varietas kapuk hibrida MH 2 merupakan varietas kapuk hibrida hasil persilangan tiga tetua yaitu (Ruezen Randu x Bondowoso) x Congo yang disingkat dengan (RRxBW)C. Varietas kapuk hibrida MH 2 pada umur 6 tahun, 12 tahun, dan 40 tahun masing-masing produksinya 331 gelondong/pohon, 868 gelondong/pohon, dan 2.011 gelondong/pohon. Pohon yang telah berumur cukup lanjut yaitu lebih dari 40 tahun mampu menghasilkan 42.532 gelondong/ha atau 2.011 gelondong/pohon, setara dengan 335 kg serat/ha atau 6,84 kg serat/ pohon. Varietas ini membentuk pohon-pohon yang tumbuh kuat, yang mempunyai sifat yang berbeda dengan induknya. Pohon tersebut lebih tahan terhadap kekeringan dibanding klon Jawa. Seratnya berwarna putih mengkilat, tidak pecah di pohon, jumlah gelondong dan produksinya lebih banyak dibanding kapuk Jawa.


Kode persilangan : (Reuzen Randu x Bondowoso) x Congo
Tipe pertumbuhan : Karibea
Produktivitas : 2.500 gelondong/pohon/tahun
Berat gelondong : 4,37 kg/100 gelondong
Kandungan serat : 0,88 kg/100 gelondong
Warna serat : Putih, panjang, grade AJK
Ketahanan terhadap benalu : Kurang disukai benalu

 

Produksi dan mutu tembakau sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh diantaranya adalah iklim, teknik budi daya dan pasca panen. Teknik budi daya yang tepat dapat memaksimalkan produksi dan mutu tembakau yang dihasilkan. Secara umum, teknik budi daya yang diterapkan petani masih sangat bervariasi dan belum menerapkan teknik budi daya yang tepat. Sebagai contoh, sebagian petani belum menerapkan guludan tinggi, pemupukan secara tepat, baik tepat jenis, dosis, waktu dan cara pemberian, serta pangkas, sehingga hasilnya masih belum maksimal. Dengan pemahaman teknik budi daya yang tepat diharapkan mampu memperbaiki teknik budi daya tembakau yang diterapkan oleh petani.

Tembakau madura merupakan salah satu jenis tembakau semi aromatis (Akehurst 1981), memiliki kadar nikotin 2–3% dengan aroma yang gurih dan harum (Suwarso et al. 2004). Tembakau madura digunakan sebagai bahan baku rokok keretek. Kebutuhan tembakau madura meningkat seiring dengan semakin meningkatnya selera konsumen kearah rokok yang lebih ringan karena kandungan nikotin tembakau madura umumnya tergolong rendah.  Tembakau madura berkembang di wilayah-wilayah yang beriklim kering, yaitu tergolong kelas iklim D dan sebagian E menurut klasifikasi Schmidt Ferguson (Sholeh dan Machfudz 1999).

Karakteristik tembakau diantaranya ditentukan oleh faktor genetik tanaman, lingkungan tanah, cahaya, temperatur, kadar air tanah, cara budi daya, dan cara curing (Tso 1972).  Salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan usaha tani tembakau diantaranya teknik budi daya yang tepat. Untuk mendukung usaha tani tembakau madura dengan produksi dan kualitas yang sesuai dengan permintaan pasar, faktor budi daya harus diperhatikan, mulai dari pengolahan lahan, pembuatan guludan, sampai dengan panen dan pasca panen. (Sulis Nur Hidayati)


File lengkap bisa di download disini

Serongsong, Tembakau Tahan Serangan Hama

Tanaman tembakau merupakan komoditas penting di Indonesia. Keberadaannya mampu menggerakan perekonomian nasional. Tembakau merupakan solusi bagi petani pada saat sektor pertanian tidak memberikan nilai tawar ekonomi yang menguntungkan. Keberadaan tanaman tembakau, selain membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah besar, juga untuk komoditas ekspor dan menyumbangkan pemasukan negara, terutama dari sektor cukai. Penerimaan cukai pada 2015 dari sektor tembakau bahkan mencapai Rp 207,5 triliun.

Saat musim panen 2017, harga jual tembakau yang mencapai Rp 35 ribu sampai dengan Rp 37 ribu, memberikan keuntungan cukup tinggi. Karena itu, 2017 merupakan tahun surga penjualan bagi para petani tembakau karena mereka dapat menikmati harga cukup tinggi setelah beberapa tahun mengalami keuntungan rendah.

Di tengah euforia para petani dalam meyambut harga jual tembakau yang tinggi, masih ada kekhawatiran petani dalam masalah serangan hama pada tanaman tembakau. Keberadaan hama menyebabkan keuntungan yang diterima petani menjadi berkurang dan bahkan pada serangan hama tinggi menyebabkan gagal panen total.

Serangan hama ini menyerang pada bagian tanaman yang memiliki nilai ekonomi tertinggi pada tanaman tembakau, yaitu daun. Hal itu tentu saja akan berakibat secara langsung pada hasil penjualan petani tembakau.

Salah satu ancaman terbesar serangan hama pada tanaman tembakau adalah serangan ulat grayak (Spodoptera litura). Hama ini merupakan serangga hama polifag dan memiliki kisaran inang tanaman lebih dari 112 tanaman pertanian yang terdiri dari 44 famili yang tersebar pada beberapa negara di Asia.

Hama ini biasanya meletakkan telur secara berkelompok, satu kelompok dapat berisi 350 butir. Peletakan telur secara berkelompok ini menyebabkan larva yang baru menetas juga berkelompok dan segera menyebar jika sudah mencapai instar ketiga. Larva instar 1-2 masih bergerombol dan memakan lapisan epidermis daun, sehingga daun menjadi kering, sedangkan larva instar 3-5 sudah terpencar dan memakan semua bagian daun kecuali tulang daun.

Serangan ulat grayak aktif dilakukan pada malam hari dan menyebabkan kerusakan tanaman tembakau sangat besar. Teknologi pengendalian ulat grayak yang saat ini banyak dilakukan adalah penggunaan asap cair tembakau, tanaman perangkap, patogen serangga, musuh alami, pestisida kimia, dan kultivar tahan.

Dari beberapa teknik pengendalian hama ini, penggunaan kultivar tahan memiliki keunggulan karena teknologi ini paling mudah dalam penerapan di kalangan petani karena sederhana dan tidak memerlukan pelatihan teknologi khusus terhadap petani. Penggunaan kultivar tahan hama dapat diintegrasikan di dalam sistem pengendalian hayati terpadu (integrated pest management). Kultivar juga dapat menciptakan tekanan cukup luas terhadap hama jika diterapkan dalam sistem pengendalian terpadu dalam skala luas (area wide pest management).

Kultivar lokal memiliki karakter morfologi dan kemampuan adaptasi terhadap lahan dilokasi tersebut sehingga lebih maksimal dalam menekan serangan hama. Serongsong merupakan tembakau warisan leluhur yang banyak berkembang di Kabupaten Probolinggo. Keberadaan kultivar ini berkembang secara regional di sekitar Probolinggo. Karena keunggulan karakter morfologinya menyebabkan tanaman ini dapat diandalkan di daerah tersebut untuk menangkal serangan hama.

Balittas melakukan uji multilokasi tembakau Serongsong untuk mengetahui respons beberapa kultivar tembakau ini terhadap serangan hama. Hal ini perlu dilakukan karena dalam pengembangan ke depan diperlukan informasi akurat jenis kultivar Serongsong yang manakah yang paling layak untuk dikembangkan secara luas.

Beberapa kultivar Serongsong yang telah dilakukan uji multilokasi, antara lain adalah Serongsong Balittas, Serongsong AOI, Jimamut, Samporis, Serongsong Super. Uji multilokasi ini telah dilaksanakan sejak 2016 dan beberapa kultivar menunjukkan karakter yang mampu menangkal serangan hama.

Serangan hama pada DB Serongsong di Kecamatan Besuk dan Krejengan Probolinggo berkisar antara 7,33 sampai 13,33 persen. Sedangkan pada kultivar pembanding Paiton 1 memiliki serangan hama berkisar antara 8 sampai 15 persen.

Kultivar DB Serongsong memiliki tingkat serangan hama lebih rendah sebesar 14,78 persen. Tingkat serangan hama yang lebih rendah ini menunjukan bahwa kultivar Serongsong layak untuk dikembangkan ke depannya sebagai alternatif petani menghadapi serangan hama.

Dari hasil uji multilokasi ini memperlihatkan bahwa peluang pengembangan Serongsong ke depan sangat besar. Penggunaan kultivar tahan hama merupakan teknologi yang sangat mudah untuk diterima dan diaplikasikan petani dalam skala luas. Selain itu, keunggulan Serongsong sebagai kultivar unggul lokal memberikan nilai tambah sendiri karena dengan pengembangan kultivar lokal dapat melestarikan sumber daya genetik lokal dan relatif lebih dapat bertahan terhadap lingkungan serta serangan hama.

Artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

oleh : Yoga Angangga Yogi dan Joko Hartono

Pendahuluan

Mutu tembakau temanggung dipengaruhi oleh kadar nikotin. Semakin tinggi mutu tembakau semakin tinggi kadar nikotinnya. Mutu tembakau juga dipengaruhi oleh posisi daun dan ketinggian tempat penanaman.

Ketinggian di atas 800 dpl berpotensi menghasilkan tembakau srinthil. Kondisi cuaca selama pertumbuhan, panen dan pascapanen yang optimal (Mei – Oktober) berpotensi menghasilkan tembakau srinthil lebih tinggi. Proses pengolahan tembakau srinthil temanggung ditunjukkan pada Gambar 1.

Kriterian Kemasakan Daun

Kriteria daun telah masak optimal dilihat dari wujud fisik, sebagai berikut :

  1. Daun atas dan daun pucuk berwarna kuning dengan bercak – bercak seperti mosaik..
  2. Kedudukan daun yang belum masak lebih tegak dibandingkan daun yang telah masak

Semakin subur tanah menyebabkan kandungan klorofil dalam daun lebih tinggi sehingga umur panen lebih lama.

Panen

Daun yang menghasilakan Srinthil pada umumnya adalah daun kesepuluh ke atas. Cara pemetikan dilakukan bertahap antara 5 – 7 kali dengan selang waktu 2 – 7 hari. Setiap pemetikan dipetik 2 – 3 lembar daun, sehingga daun yang berpotensi menjadi Srinthil adalah petikan ke-5 hingga ke-7. Waktu pemetikan antara pukul 09.00 sampai 11.00 atau antara pukul 16.00 – 18.00. Daun yang masih basah mudah memar, patah atau sobek. 

 Pemeraman

Pemeraman diawali dengan sortasi. Pemeraman bertujuan merubah warna daun dan menjadi media pertumbuhan mikroorganisme puthur kuning (Lihat Gambar 2). Pemeraman dilakukan dengan cara penggulungan. Setiap gulungan terdiri dari 15 sampai dengan 20 lembar daun dengan diameter 10 hingga 12 cm. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat pemeraman, antara lain:

  1.  Tempat pemeraman harus tertutup, bebas sinar matahari dan lampu yang dapat meningkatkan suhu.
  2. Lantai tempat pemeraman harus bersih dan kering serta diberi alas tikar atau gedeg.
  3. Daun tembakau yang telah diatur ditutup dengan tikar atau daun pisang.
  4. Pemeraman dengan daun berdiri lebih baik karena mengurangi himpitan antara daun.

Perajangan

Perajangan dilakukan dengan memasukkan gulungan daun tembakau pada alat perajang yang terbuat dari kayu (jongkorajang), kemudian dilakuan pengirisan menggunakan pisau yang besar (gobang). Semakin tinggi mutu Srinthil rajangan semakin lebar. 

Pengeringan

Sebelum dikeringkan daun tembakau diatur di atas rigen dengan ketebalan 2 hingga 3 cm. Penjemuran dilakuan selama 1 sampai dengan 2 hari. Selama penjemuran dilakukan pembalikkan 2 sampai dengan 3 kali. Tembakau Srinthil yang telah kering saat dipegang terasa kesat dan berminyak. Semakin tinggi mutu tembakau Srinthil memerlukan proses pengeringan dan pengembunan yang lebih lama. 

 Pengemasan

 Tembakau Srinthil dikemas dalam keranjang bambu dan beralaskan pelepah batang pisang kering. Kriteria pengemasan tembakau Srinthil sebagai berikut:

  1. Satu keranjang diisi tembakau Srinthil dengan mutu yang sama.
  2. Setiap keranjang mempunyai ukuran yang sama.  

 

Tags:

Akselerasi penggunaan benih unggul tebu dengan Pembibitan bud chip terus digalakkan pada tingkat penangkar Kebun Benih Datar (KBD) dan petani pengembang untuk memenuhi permintaan bibit dalam mendukung program bongkar ratoon dan tanam tebu baru (plan cin). Penggunaan bahan tanam tebu bud chip merupakan penerapan teknologi budidaya tebu dalam upaya pencapaian program swasembada gula nasional.

Pembibitan tebu budchips merupakan langkah maju pada penerapan program bongkar ratoon yang sering mendapat kesulitan memenuhi kebutuhan bibit bersertifikat yang diperoleh dari Kebun Bibit Datar ( KBD). Penggunaan benih unggul tebu bud chips dalam 1 hektar kebun Bibit Datar ( KBD) menghasilkan benih 50-60 ton setara 350.000- 420.000 mata tunas budchips. Kebutuhan bibit budchips dalam satu hektar pertanaman baru plane cin diperlukan 12000-18000 batang bibit setara 2-2,5 ton bagal. Sehingga dalam 1 ha luasan kebun bibit datar (KBD) mampu memenuhi kebutuhan areal tanam baru ( plane cin) mencapai 29 - 35 ha. Pembuatan kebun bibit datar memerlukan biaya besar dengan penggunaan bibit tebu bud chips ini lebih evisien dan mampu menekan luas areal Kebun Bibit Datar ( KBD) mencapai 75-80%.

Kurang tercapainya sasaran program bokar ratoon selama ini akibat terbatasnya bibit bersertifikat dari KBD karena kebutuhan bibit untuk tanam baru (plane cin) dari bagal memerlukan 8-10 ton bibit bagal perhektar sehingga 1 ha bibit dari KBD hanya mencukupi luas tanam baru 7-8 ha saja.

Keunggulan bibit tebu budchip bagaikan “pendekar satu mata” karena bud chips setelah dipindahkan kelapang tebu mampu membentuk anakan 10-20 anakan. Anakan tersebutakan tumbuh sempurna sampai panen 8-10 batang per rumpun sedangkan bibit dari bagal anakan yang terbentuk 1-4 anakan saja. Yang lebih membanggakan bahwa bibit budchip dalam pembentukan anakan serempak pada umur 1-3 bulan. Pertumbuhan tanaman tebu sejak awal tumbuh seragam menjadikan tingkat kemasakan tebu dilapang sama mampu meningkatkan rendemen dan produksi persatuan luas tanam.

Penanaman tebu diwilayah pengembangan dari bibit bud chips ini ditekankan pada areal yang berpengairan teknis atau daerah yang sebaran curah hujannya jelas dengan harapan dapat menekan resiko kematian dan jumlah penyulaman akibat mati kekeringan diawal tanam.

Keberadaan pertanaman tebu pada saat ini didominasi oleh pertanaman ratoon (RC) yang memiliki kecenderungan produktivitas yang menurun seiring dengan bertambahnya periode ratoon. Petani lebih memilih pertanaman ratoon disebabkan karena tanam tebu baru (PC) memerlukan biaya tinggi dari kegiatan bongkar ratoon dan pengadaan benih tebu yang banyak mencapai 10 ton/ha bagal atau 17.000 budchip.

Tebu kepras atau ratoon perlu dilakukan pemeliharaan agar produktivitas dan rendemennya tetap terjaga dengan baik. Salah satu kegiatan rawat ratoon adalah kepras tebu agar didapatkan tunas baru yang tumbuh dari dalam tanah sehingga pertunasan dan perakaran tanaman tebu lebih baik. Penyulaman merupakan kegiatan penanaman untuk mengantikan benih tebu yang tidak tumbuh, baik pada tanaman baru ataupun lama (kepras) dapat berupa benih rayungan, seblangan, atau budchip agar diperoleh populasi tebu yang optimal dengan jumlah batang terpanen mencapai 72.500–75.000 batang/ha. Pedot oyot merupakan kegiatan pemutusan akar tebu RC yang sudah tua agar didapatkan pertumbuhan akar baru sehingga serapan hara dan air tinggi, laju pertumbuhan calon anakan lebih baik, cepat, dan seragam.

Pertanaman tebu RC yang diusahakan terus menerus akan mengalami penurunan kandungan bahan organik tanah sampai dengan 50%. Penurunan bahan organik tanah berpengaruh buruk terhadap sifat fisik tanah, kimia dan biologi tanah. Pemberian bahan organik berupa pupuk kandang atau kompos dapat menggemburkan tanah, meningkatkan daya simpan air, kegiatan jasad renik berkembang dan menyuburkan tanah. Menejemen tebu ratoon yang baik dapat menjadi penentu faktor keberhasilan dalam pencapaian produktivitas dan rendemen tebu ratoon yang optimal. Manajemen tebu ratoon meliputi manajemen seresah, populasi tanaman, pemupukan, kebutuhan air, pengendalian gulma dan hama penyakit. Pemberian seresah (tanpa dibakar) di lahan mampu mempertahankan rata-rata produktivitas mulai RC 3 sampai RC 7 sebesar 125 ton/ha. Jumlah tunas yang di harapkan dalam fase pertunasan diupayakan di antara 75.000–80.000 tunas per hektar. Pemupukan beberapa dosis NPK dengan pengaturan seresah yang diletakkan antar baris tanaman tebu ratoon dapat memberikan rata-rata produktivitas selama periode 8 tahun tebu ratoon berkisar antara 142–158 ton/ha. Tumpang sari menggunakan palawija (jagung, kacang, kedelai) didapatkan produktivitas berkisar antara 71,75–95,67 ton/ha.

Tanaman tembakau telah lama dibudidayakan di Indonesia, mulai jaman penjajahan Belanda sampai sekarang. Pemanfaatan tembakau dari dulu hingga sekarang masih terbatas hanya sebagai bahan baku rokok. Hal ini karena semakin meningkatnya permintaan rokok di Indonesia. Disisi lain peningkatan jumlah perokok menyebabkan munculnya masalah lain yaitu peningkatan penyakit akibat rokok, baik pada perokok aktif maupun pasif. Hal ini membuat pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Aditif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan (PP Tembakau), Pasal 58 ayat (1) menyebutkan bahwa diversifikasi dimaksudkan agar penggunaan produk tembakau tidak membahayakan bagi kesehatan. Pengamanan produk tembakau (rokok) adalah melindungi generasi muda dari bahaya produk tembakau karena bersifat adiktif dan berdampak negatif bagi kesehatan. Oleh karena itu diperlukan diversifikasi produk tembakau non rokok seperti pestisida nabati, minyak atsiri, pupuk, bio oil yang penggunaannya memberikan manfaat kepada petani tembakau pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta mendukung PP tembakau. Diversifikasi produk tembakau non rokok dapat dibuat dari bahan limbah pertanian tembakau yang sudah terbuang seperti batang, daun pucuk, biji dan rontokan daun atau debu tembakau di gudang. Dengan memanfaatkan limbah tembakau untuk dibuat menjadi suatu produk yang bisa dijual maka dapat menambah pendapatan petani tembakau serta meningkatkan kesejahteraannya. Tulisan ini membahas tentang pemanfaatan limbah tembakau untuk diversifikasi produk tembakau non rokok serta potensinya yang besar untuk dipasarkan.

Elda Nurnasari* dan Subiyakto
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Subkategori

Halaman 1 dari 7

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
6168612
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
2613
7332
26010
47841
133950
5802743
6168612

Your IP: 3.234.245.125
2020-02-19 09:04:18
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.