The working principleof thismachineisstripping theskin ofthe fruit due to frictionofthe fruitsintheroom betweena rotatingcylinderwitha certain speedwith aconcave. Jatropha Fruit Parer (Balittas-02 type) capacity 300 kg/jam. This machine isequippedwith aseparator so thatthe seeds ofJatrophafromthestripping relativelyclean from fruit skin, receiver,orother debris. So the obtained seed is whole 100%, there are nobreakages orinjuriesseedbecause ofstripping. Ifthe fruitsaregoing topeelalreadytooripe(brown), seedsobtainedstill 100% intact,butmixedwiththe innerskin ofthe fruit(shells), toseparate theseedswith the skininsidethe fruitcan bedone manuallyby usinghandorwithtampah.

Tanaman tembakau telah lama dibudidayakan di Indonesia, mulai jaman penjajahan Belanda sampai sekarang. Pemanfaatan tembakau dari dulu hingga sekarang masih terbatas hanya sebagai bahan baku rokok. Hal ini karena semakin meningkatnya permintaan rokok di Indonesia. Disisi lain peningkatan jumlah perokok menyebabkan munculnya masalah lain yaitu peningkatan penyakit akibat rokok, baik pada perokok aktif maupun pasif. Hal ini membuat pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Aditif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan (PP Tembakau), Pasal 58 ayat (1) menyebutkan bahwa diversifikasi dimaksudkan agar penggunaan produk tembakau tidak membahayakan bagi kesehatan. Pengamanan produk tembakau (rokok) adalah melindungi generasi muda dari bahaya produk tembakau karena bersifat adiktif dan berdampak negatif bagi kesehatan. Oleh karena itu diperlukan diversifikasi produk tembakau non rokok seperti pestisida nabati, minyak atsiri, pupuk, bio oil yang penggunaannya memberikan manfaat kepada petani tembakau pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta mendukung PP tembakau. Diversifikasi produk tembakau non rokok dapat dibuat dari bahan limbah pertanian tembakau yang sudah terbuang seperti batang, daun pucuk, biji dan rontokan daun atau debu tembakau di gudang. Dengan memanfaatkan limbah tembakau untuk dibuat menjadi suatu produk yang bisa dijual maka dapat menambah pendapatan petani tembakau serta meningkatkan kesejahteraannya. Tulisan ini membahas tentang pemanfaatan limbah tembakau untuk diversifikasi produk tembakau non rokok serta potensinya yang besar untuk dipasarkan.

Elda Nurnasari* dan Subiyakto
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Pengendalian Gulma Tanaman Tebu


Gangguan gulma dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar karena bisa menyababkan penurunan bobot tebu. Penurunan produktivitas tebu akibat keberadaan gulma dapat mencapai sekitar 12-72% (Agropedia 2010). Menurut data penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa jurusan budidaya pertanian, fakultas pertanian, Universitas Brawijaya, pada 2015, penurunan produktivitas tebu yang disebabkan oleh gulma sebesar 15-53,7%. Bahkan untuk kasus tertentu sering menyebabkan kegagalan panen tergantung tingkat intensitas penutupan gulma, jenis dan agresivitas pertumbuhannya.

Gulma dapat didefinisikan sebagai tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki, di tempat manusia bermaksud mengusahakan tanaman pokok. Gulma sendiri bersaing dengan tanaman pokok dalam memperebutkan unsur hara, air, cahaya matahari, dan ruang tumbuh, sehingga akan menghambat pertumbuhan dan menurunkan produksi tanaman pokok.

Gulma merupakan kendala utama di areal pertanaman tebu lahan kering, karena pertumbuhan gulma yang cepat dan lebat dengan berbagai macam spesies yang mendominasi. Pada lahan kering, gulma lebih beragam dan lebih berbahaya. Gulma dominan yang menjadi pesaing kuat tanaman tebu terdiri atas gulma daun lebar, gulma daun sempit dan teki. Spesies memiliki kemampuan yang bervariasi dalam kemampuannya menurunkan hasil tanaman, umumnya semakin dekat kekerabatan antara tanaman pokok dan spesies gulma, derajat persaingannya semakin besar, dan semakin tinggi populasi gulma di pertanian tebu, maka semakin besar pula derajat persaingannya.

Seringkali gejala kerusakan tebu akibat kompetisi gulma dengan tanaman tebu tidak segera tampak, sehingga pengendalian gulma sering terlambat dan tanaman sudah memasuki periode kritis yang berakibat negatif terhadap pertumbuhan dan berujung dengan penurunan produksi. Periode kritis adalah periode pada saat tanaman pokok sangat peka atau sensitif terhadap persaingan gulma, sehingga pada periode tersebut perlu dilakukukan pengendalian, dan jika tidak dilakukan maka akan menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil dari tanaman pokok.

Periode kritis pengendalian gulma sangat penting dalam program pengelolaan gulma terpadu, yaitu periode dalam siklus hidup tanaman dimana gulma harus dikendalikan untuk mencegah kehilangan hasil. Periode kritis kompetisi tanaman terhadap gulma secara umum terjadi pada sepertiga hingga setengah dari awal siklus hidupnya.

Pengendalian gulma yang efektif dan efisien dapat ditempuh dengan beberapa tahapan sebagai berikut :

  1. Melakukan identifikasi jenis gulma secara akurat sehingga dapat diketahui jenis-jenis gulma dominan yang perlu mendapat perhatian dalam pengen-daliannya.
  2. Mempelajari penyebab timbulnya gulma dengan memprioritaskan pada cara yang paling sederhana dan disesuaikan dengan sumberdaya tersedia, misalnya dengan pengaturan pola tanam atau cara tanam dan pengendalian secara manual.
  3. Mengutamakan pengendalian gulma secara kombinasi dari dua atau lebih cara pengendalian dengan urutan prioritas secara kultur teknik, mekanik, dan kimiawi.
  4. Membandingkan alternatif cara pengendalian gulma berdasarkan optimasi waktu, biaya, kemudahan pelaksanaan, efektivitas dalam pengendalian, serta resiko terhadap kerusakan lingkungan.

Tanaman tembakau (Nicotiana tabacum L.) telah lama dibudidayakan di Indonesia untuk diambil daunnya. Pemanfaatan tembakau pada umumnya masih terbatas hanya sebagai bahan baku rokok, karena semakin meningkatnya permintaan rokok di Indonesia. Peningkatan jumlah perokok menyebabkan munculnya masalah lain yaitu peningkatan penderita penyakit akibat rokok, baik pada perokok aktif maupun pasif. Hal ini membuat pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Aditif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan (PP Tembakau), pada pasal 58 disebutkan bahwa perlu dilakukan upaya diversifikasi produk tembakau. Diversifikasi dimaksudkan agar penggunaan produk tembakau tidak membahayakan bagi kesehatan. Oleh karena itu, perlu menciptakan produk-produk dari tembakau yang bermanfaat dan memberikan nilai tambah bagi petani namun tetap aman bagi kesehatan.

Daun tembakau mengandung senyawa-senyawa kimia, mulai dari golongan asam, alkohol, aldehid, keton, alkaloid, asam amino, karbohidrat, ester dan terpenoid. Kandungan utama dari tembakau adalah alkaloid (nikotin). Tembakau memiliki aroma yang khas sehingga didalam tembakau terkandung senyawa-senyawa aromatis yang mudah menguap atau biasa disebut dengan minyak atsiri. Minyak atsiri tembakau dapat diekstrak dengan cara destilasi. Hasilnya adalah berupa minyak berwarna kuning kecoklatan dengan aroma tembakau yang khas dan menyengat.

Minyak atsiri tembakau mengandung sejumlah senyawa-senyawa kimia yang kandungan senyawanya bervariasi jenis dan jumlahnya. Minyak atsiri dari tembakau Madura mengandung 30 senyawa kimia, tembakau Temanggung mengandung 11 senyawa kimia, tembakau Bondowoso mengandung 67 senyawa kimia, tembakau Blitar mengandung 20 senyawa kimia, tembakau Magetan mengandung 7 senyawa kimia, tembakau Bojonegoro mengandung 6 senyawa kimia, dan tembakau Ngawi mengandung 7 senyawa kimia. Kandungan senyawa utama dalam minyak atsiri tembakau adalah neofitadiena. Neofitadiena adalah senyawa yang terdapat dalam minyak atsiri tembakau dengan jumlah yang besar (> 40%), senyawa ini dilaporkan dalam sejumlah hasil penelitian memiliki aktivitas farmakologi diantaranya antipiretik, analgesik, anti-inflamasi, antimikroba dan antioksidan.

Minyak atsiri tembakau memiliki aroma yang khas sehingga dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan parfum badan. Hasil penelitian Nurnasari dan Subiyakto (2011) memanfaatkan minyak atsiri tembakau sebagai salah satu bahan pembuatan parfum badan. Hasil uji organoleptik parfum terhadap 30 orang responden (wanita) kebanyakan memilih parfum minyak atsiri tembakau yang dicampur dengan aroma jeruk, jasmine dan lavender. (Elda Nurnasari)

Produk Parfum Tembakau

Tags:

Oleh: Subiyakto


Pencapaian produktivitas gula yang tinggi sering mengalami kendala, salah satunya serangga hama. Kerugian yang disebabkan hama dan penyakit cukup tinggi, sekitar 10% penurunan produksi gula. Bahkan kalau terjadi serangan penggerek pucuk pada 5 bulan sebelum tebang dapat menurunkan produksi gula berkisar 52-73%.

uret dan tanaman tebu penggerek batang

Ada 43 jenis hama (serangga dan bukan serangga) yang menyerang tanaman tebu. Namun hama yang sering dijumpai pada pertanaman tebu di Indonesia adalah penggerek pucuk, penggerek batang, kutu bulu putih, dan uret.

  1. Penggerek pucuk (Scirpophaga excerptalis Walker)
    • Gejala : Serangan dapat dimulai dari tunas umur 2 minggu sampai tanaman dewasa. Menyerang melalui tulang daun pupus dengan membuat lorong gerek menuju ke bagian tengah pucuk tanaman sampai ruas muda, merusak titik tumbuh dan tanaman menjadi mati.
    • Biologi :
      • Telur : diletakkan secara berkelompok di bawah permukaan daun dan ditutupi bulu-bulu berwarna coklat kekuningan, panjang kelompok telur sekitar 22 mm.
      • Larva : Setelah menetas larva menggerek dan menembus daun muda yang masih belum membuka, menuju ke tulang daun untuk membuat lorong gerekan ke titik tumbuh. Ulat muda berwarna putih dan ulat dewasa putih kekuningan, panjang sekitar 30 mm.
      • Pupa : Berada di dalam lubang gerekan, berwana kuning pucat, panjang sekitar 20 mm.
      • Dewasa : Ngengat berwarna putih, panjang sekitar 20 mm. Seberkas rambut merah oranye di ujung abdomen ngengat betina.
    • Pengendalian:
      • (1) Menggunakan benih bebas penggerek
      • (2) Varietas tahan penggerek antara lain PSJT 941, PS  851, PS 891, PS 921, dan PSBM 88-144
      • (3) Rogesan, pemotongan sedikit demi sedikit (3 cm) dari pucuk ke bawah, dimulai tanaman tebu berumur 2 bulan dan diakhiri sampai tanaman tebu berumur 6 bulan. Rogesan dapat menyelamatkan gula 580 kg/ha
      • (4) Pengendalian hayati dengan pelepasan parasitoid telur Trichogramma.

  2. Penggerek batang (Chilo auricilius Dudgeon)
    • Gejala : Serangan biasanya dijumpai pada tanaman tebu berumur 5 bulan ke atas. Bercak-bercak tampak transparan berbentuk bulat  oval di daun. Ulat masuk lewat pelepah dan batang tanaman tebu, kadang menyebabkan mati puser. Lubang gerek di dalam batang lurus, lubang keluar batang bulat. Kadang gerekan mengenai mata tunas. Serangan ruas 20% menyebabkan penurunan hasil gula sekurang-kurang 10%.
    • Biologi :
      • Telur : Diletakkan secara berkelompok, panjang sekitar 20 mm terdapat di bawah permukaan daun, bentuk lonjong berwarna putih kelabu.
      • Larva : Setelah menetas larva bergerak lewat pelepah dan batang tebu. Ulat putih kekuningan dengan ukuran panjang sekitar 25 mm.
      • Pupa : Diletakkan didalam lubang gerekan berwarna kuning pucat. Panjang pupa sekitar 15 mm.
      • Dewasa : Ngengat jantan lebih kecil disbanding betina, sayap depan coklat terang sampai coklat kusam. Ngengat jantan sayap belakang berwarna putih-coklat, betinanya berwarna putih sutera. Satu betina mampu bertelur 60-70 butir.
    • Pengendalian
      • (1) Menggunakan benih bebas penggerek
      • (2) Varietas tahan penggerek antara lain PSJT 941, PS  851, PS 891, PS 921, dan PSBM 88-144
      • (3) Pengendalian hayati dengan parasit Lalat Jatiroto, 30 pasang/ha parasitoid telur Trichogramma 50 pias @ 2000 ekor/minggu pada tanaman tebu berumur 1-4 bulan.

  3. Kutu bulu putih (Ceratovacuna lanigera Zehntner)
    • Gejala: Kutu menyerang helaian daun bagian bawah, berkoloni, kutu berwarna putih berada di kanan kiri ibu tulang daun.  Helai daun permukaan atas tertutup lapisan jamur seperti jelaga.  Serangan berat daun menjadi kuning dan mongering terjadi di awal atau akhir musim hujan. Kutu ini dapat menyebabkan kerugian gula 2,6 ton/ha dan penurunan rendemen dari 12% menjadi 8%.
    • Biologi : Nimfa muda dan dewasa bersayap dan tidak bersayap dijumpai pada daun yang sama.  Nimfa tidak bersayap lama hidup 23-32 hari, sedang yang bersayap 32-40 hari. Rata-rata reproduksi di laboratorium 3-5 ekor per hari dengan total satu individu dewasa selama hidup 41-56 ekor.
    • Pengendalian:
      • (1) Pengendalian mekanis dilakukan efektif pada awal serangan sewaktu populasi kutu masih sedikit
      • (2) Pengendalian dapat dilakukan dengan mengulas daun yang terserang dengan kain basah
      • (3) Daun yang terserang dipotong dan dikumpulkan kemudian dimusnahkan
      • (4) Penggunaan varietas yang mudah diklentek, misalnya PS 881.

  4. Uret (Lepidiota stigma, Hollotrichia sp, Leucopholis sp, dan Anomala sp)
    • Gejala : Uret yang banyak dijumpai jenis Lepidiota stigma. Tanaman yang terserang uret akan layu, daun menguning kemudian menjadi kering. Bagian pangkal batang tanaman terdapat luka atau kerusakan bekas digerek dan akar-akarnya dimakan uret. Serangan berat menyebabkan tanaman mudah roboh dan mudah dicabut. Kerusakan akar terutama disebabkan oleh uret instar 3.  Apabila dijumpai 3 ekor uret per rumpun makin besar kerusakannya. Populasi 3-4 ekor per rumpun dinilai secara ekonomi merugikan.
    • Biologi :
      • Telur : Diletakkan dalam tanah yang cukup lembab dengan kedalaman bervariasi dari 5 cm sampai 30 cm. Telur menetas setelah berumur 1 sampai 2 minggu (di laboratorium 12-13 hari).
      • Larva : Uret instar satu memakan sisa-sisa tanaman yang mati atau akar-akar tanaman di sekitarnya, selanjutnya memasuki instar kedua makan perakaran tanaman yang hidup. Uret L. stigma berkembang dalam empat instar dimana instar yang paling ganas dan merugikan adalah instar tiga. Uret dapat mencapai panjang 4 cm dan masa perkembangnya membutuhkan waktu 380 hari. Serangan L. stigma pada tanaman tebu terberat terjadi pada bulan Februari sampai dengan Juni dan kerusakan terparah banyak terjadi disekitar tempat hinggapnya kumbang.
      • Pupa : Telur dan larva (uret) berada dalam tanah sampai menjadi fase kepompong (sekitar 6-9 bulan).
      • Dewasa : Kumbang meletakkan telurnya di tempat tertentu sesuai dengan jenis inang atau habitat inangnya.
    • Pengendalian:
      • (1) Belum diperoleh varietas tebu yang toleran terhadap hama uret, namun diinformasikan varietas tahan misalnya  BZ 109 (M 134-32) pernah berhasil dicoba di Mauritus
      • (2) Manipulasi waktu tanam dan tebang, pengolahan tanah secara intensif diikuti pekerja untuk mengambil uret secara manual dan memusnahkannya
      • (3) Pengumpulan serangga dewasa saat penerbangan kumbang di awal  musim hujan bulan November-Desember.
Gula Merah Tebu untuk Kesejahteraan Petani

Pada umumnya tebu diolah menjadi gula kristal putih. Pabrik gula merupakan harapan utama para petani untuk menjual hasil panen tebu.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, angka sementara produksi tebu menurut status penguasaan pada 2017 menunjukkan bahwa sebanyak 58,67 persen merupakan perkebunan rakyat.

Sayangnya, ketergantungan petani tebu kepada pabrik gula tidak dibarengi dengan harga tebu yang sesuai dengan biaya produksi yang dikeluarkan oleh petani. Selain itu, kondisi ini diperparah apabila pembelian tebu yang dilakukan pabrik gula tidak langsung dibayarkan.

Salah satu pemecahan masalah tersebut yang dapat ditawarkan adalah mendorong petani untuk mengolah hasil panen tebu menjadi gula merah tebu. Di samping itu, petani tebu juga dapat menjual hasil panen langsung ke pengrajin gula merah tebu. Kedua skema tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan petani tebu kepada pabrik gula.

Setidaknya ada tiga alasan gula merah dapat menjadi alternatif petani tebu untuk menjual hasil panennya. Pertama, pembuatan gula merah dapat dilakukan secara sederhana. Proses produksi gula merah dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan dan bahan yang mudah didapat. Pengrajin gula merah dalam skala rumah tangga dapat menghasilkan 0,8 sampai 1,5 ton gula merah per hari.

Kedua, analisis usahatani gula merah tebu mempunyai nilai RC ratio 1,22 sampai 1,35. Hal tersebut menunjukkan bahwa produksi gula merah menguntungkan. Nilai keuntungan yang didapatkan di atas Rp 1 juta per hari. Ketiga, potensi pangsa pasar yang cukup besar. Peluang ekspor gula merah ke negara Jepang, Malaysia, Amerika Serikat, Belgia, Kanada, dan Australia masih terbuka lebar.

Saat ini, tercatat setidaknya ada sekitar 244 ton gula merah per tahun diekspor ke Jepang. Angka ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perubahan gaya hidup untuk mengonsumsi makanan sehat. Gula merah memiliki kandungan indeks glikemik yang lebih rendah daripada gula pasir, yaitu sebesar 35 ampai 54.

Semua stakeholder, termasuk pemerintah, perlu mendorong agar produsen gula merah dapat meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Selama ini, gula merah yang dihasilkan para pengrajin kurang konsisten kualitasnya. Gula merah dengan kualitas yang baik mampu bersaing di tingkat pasar global sehingga dapat meningkatkan nilai tambah. Di sisi lain, juga perlu diberikan akses informasi untuk memasarkan gula merah.

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) saat ini sedang melakukan penelitian dan pengembangan model pertanian bioindustri berbasis tebu. Salah satu output yang diharapkan dari kegiatan tersebut adalah menghasilkan gula merah dengan kualitas ekspor. Langkah ini diharapkan kelak dapat diadopsi oleh para produsen gula merah tebu baik dalam proses pembuatan gula merah maupun produk yang dihasilkan.

Pada akhirnya, dengan semakin menggeliat produksi gula merah tebu dan diimbangi oleh peningkatan kualitas, petani tebu dapat menjual hasil panennya dengan nilai yang lebih tinggi.

Yoga Angangga Yogi

Artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

Tags: ,

Oleh : Sulis Nur Hidayati dan Supriyadi

PENDAHULUAN

Kabupaten Temanggung merupakan salah satu daerah penghasil tembakau rajangan di Jawa Tengah yang memiliki rasa sebagai lauk. Areal penanaman-nya meliputi lereng gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Potensi areal tembakau Temanggung sekitar 9.326 ha dengan produksi 9.496 ton. Hampir semua industri rokok keretek membutuhkan tembakau temanggung, namun demikian produksinya masih tergolong rendah yaitu hanya 0,5 ton per hektar. Oleh karena itu penerapan teknologi budi daya yang tepat perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi dan mutu tembakau temanggung.

Tembakau Temanggung sesuai ditanam di daerah dengan ketinggian 400 m dpl. sampai dengan 1.500 m dpl., curah hujan antara 2.200–3.100 mm/ tahun dengan 8–9 bulan basah dan 3–4 bulan kering. Tanah yang sesuai untuk tembakau adalah tanah yang gembur, remah, drainase baik, dan mudah mengikat air serta pH sekitar 5,5–6,5.

Persemaian

Bibit yang sehat merupakan salah satu faktor penting keberhasilan budi daya tembakau. Untuk mendapatkan bibit yang sehat dan seragam perlu diperhatikan beberapa aspek dalam persemaian, di antaranya pemilihan lahan yang subur, gembur, dan berdrainase baik. Usahakan lahan dekat dengan sumber air untuk memudahkan dalam penyiraman. Bedengan diberi atap yang dibuat dari jerami, alang-alang, daun kelapa atau plastik yang dapat dibuka dan ditutup. Penyiraman dilakukan secara teratur pagi dan sore sejak benih ditabur. Setelah bibit berumur 2–3 minggu atap perlu dibuka pada pagi hari dan ditutup pada siang hari. Bila bibit sudah mempunyai daun dengan lebar 5 cm atap dapat di buka sepanjang hari.

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah. Pengolahan tanah juga bertujuan agar tanah lebih gembur sehingga mudah untuk ditembus akar tanaman. Lahan-lahan tembakau di Kabupaten Temanggung memiliki kemiringan datar sampai terjal. Pada lahan datar, pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul, 1–2 hari dilanjutkan dengan pembuatan guludan setinggi 25–30 cm (Gambar 1). Guludan berfungsi untuk meminimalkan jumlah tanaman yang mati akibat adanya genangan air. Jarak tanam 110 cm x 50 cm. Got keliling dibuat untuk memudahkan pembuangan air saat terjadi kelebihan air.

Sebagian besar lahan di Kabupaten Temanggung meru-pakan lahan miring. Lahan dengan kemiringan lahan > 15% memiliki potensi terjadinya erosi, sehingga pengolahan lahan minimal diperlukan untuk mengurangi kehilangan bahan organik tanah akibat tererosi. Pengolahan tanah minimal dapat dilakukan dengan memperbaiki alur-alur erosi yang umum dijumpai pada tanah-tanah Andisol.

 

Penanaman

Bibit siap dipindah ke lapang pada umur 40–45 hari. Sebelumnya dipilih bibit yang sehat, seragam, dan akarnya banyak. Bibit ditanam di lubang tanam dengan kedalaman penanaman sebatas batang atau leher akar, kemudian ditutup dengan tanah yang gembur. Sebaiknya tanam dilakukan sore hari saat intensitas cahaya matahari sudah berkurang. Sulaman sebaiknya tidak lebih dari 10 hari dari tanam pertama agar diperoleh pertumbuhan dan umur panen yang seragam. Penyiraman dilakukan menyesuaikan dengan kondisi kelembapan tanahnya.

Pendangiran, pembumbunan, dan penyiangan

Pendangiran dilakukan pada 3 minggu setelah tanam, sambil dibumbun tanah disiangi sehingga tanaman tidak terganggu oleh tanaman gulma. Hal tesebut dilakukan kembali setelah tanaman berumur 5 minggu dan terakhir setelah tanaman berumur 7 minggu

Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal (Gambar 2) dengan memperhatikan dosis dan waktu aplikasinya. Dosis pemupukan sangat tergantung kondisi tanah di mana tembakau ditanam. Hasil pengujian Balittas di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung pada tahun 2014 (Gambar 3) menunjukkan bahwa dosis pupuk sebanyak 75 kg N per ha + 67 kg P2O5 per ha + 153 kg K2O per ha (dosis introduksi) meningkatkan produksi daun basah 20%, produksi rajangan kering 32%, dan meningkatkan indeks mutu sebesar 54% dan indeks tanaman 2 kali lebih tinggi dibandingkan paket petani yang terdiri dari 165 kg N + 54 kg P2O5/ha.

Pupuk P diaplikasikan satu hari sebelum tanam sedangkan pupuk N dan K diaplikasikan dua kali yaitu pada 5 hari setelah tanam (HST) dan 21 HST. Hindari penggunaan pupuk yang mengandung klor (Cl) tinggi karena kadar klor yang tinggi dalam daun tembakau akan menurunkan kualitas tembakau.

 

Pemangkasan dan pembuangan sirung

Tujuan pemangkasan untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan daun, serta memperoleh kualitas sesuai permintaan pasar. Pemangkasan dilakukan setelah keluar bonggol bunga dengan cara memangkas di bawah 3 daun bendera. Tembakau yang telah dipangkas akan keluar sirungnya (tunas ketiak daun) agar pertumbuhannya tidak terkuras oleh pertumbuhan sirung, maka sirung perlu dibuang, dan pembuangan sirung dilakukan tiap 5–7 hari sekali.

 

Panen

Panen dilakukan tepat masak, dengan ciri-ciri warna sudah berubah menjadi hijau kekuningan dan gagangnya mudah dipatahkan pada saat dipetik. Dilakukan pagi hari setelah embun menguap, jangan siang hari karena kondisi daun agak layu. Dalam pemeraman dibutuhkan kadar air cukup agar proses kimia dapat berlangsung. Tidak dianjurkan panen daun muda karena klorofilnya masih stabil sehingga menghasilkan warna hijau mati. Dalam asap rokok klorofil menyebabkan bau langu. Hindari tercampurnya benda asing seperti potongan tali, rafia, tikar, bulu ayam, kertas, kerikil, dsb.

 

Tags:

Subkategori

Halaman 1 dari 7

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
3495191
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
24991
54602
428061
422504
988862
1782032
3495191

Your IP: 34.231.21.123
2019-11-14 10:27:15
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.