Pengadaan Benih Tebu Bermutu

Plantlet-tebu kultur jaringan tebu

Peningkatan produktivitas tebu nasional diperlukan untuk mendukung program swasembada gula yang ditargetkan tahun 2019. Salah satu cara meningkatkan produktivitas tebu adalah dengan perluasan lahan dan pembangunan pabrik gula (PG) baru. Pemerintah telah menyediakan lahan untuk pengembangan tebu seluas 600.000 ha di luar Pulau Jawa, serta perluasan areal  kebun tebu yang dimulai pada tahun 2016, dimana diperkirakan pada tahun 2019 total perluasan areal kebun tebu mencapai 2,4 juta ha yang di back up dengan adanya 10 PG baru. Rencana tersebut dapat terwujud apabila kebutuhan benih tebu yang bermutu dapat terpenuhi.

Kebutuhan benih tebu per hektar berkisar antara 18.000 benih dengan satu mata tunas (bud chips atau bud set), sehingga untuk luasan 600.000 ha pada tahun 2016 dibutuhkan sekitar 10 miliar benih tebu dengan satu mata tunas. Kebutuhan benih tebu tersebut akan bertambah menjadi empat kali lipat atau sekitar 40–48 miliar benih tebu, jika areal pertanaman tebu seluas 2,4 juta ha benar-benar terwujud pada tahun 2019.

Pengadaan benih tebu dapat dilakukan dengan dua cara yaitu konvensional dan kultur jaringan. Pada umumnya benih tanaman tebu diperbanyak secara vegetatif menggunakan benih tebu konvensional, dimana benih yang digunakan berasal dari batang tebu dengan 2–3 mata tunas atau lonjoran yang belum tumbuh yang disebut bagal, biasanya bagal diambil dari batang tanaman tebu umur 6–8 bulan. Namun penggunaan metode tersebut memiliki kekurangan karena membutuhkan waktu yang relatif lama dalam perbanyakan benih, membutuhkan tanaman induk dan tenaga yang banyak, kontaminasi patogen juga sulit dihindari, dan memiliki ketergantungan pada musim tanam. Sehingga penyediaan benih tebu konvensional dalam skala besar, waktu cepat, jenis yang seragam, dan bebas dari Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), sangat sulit dipenuhi pada saat dibutuhkan. Untuk mengatasi hal tersebut, pengadaan benih tebu perlu dilakukan dengan teknik kultur jaringan. Penggunaan teknik kultur jaringan bertujuan untuk mengatasi keterbatasan pengadaan benih tebu secara konvensional. Hal ini disebabkan faktor penggandaannya yang tinggi sehingga varietas unggul cepat diperbanyak, benih lebih terjamin kesehatannya, membutuhkan ruang yang relatif kecil, bahan tanam dan pohon induk sedikit, dan eksplan dapat diproduksi secara cepat dan banyak.

file lengkap bisa di download disini

 

 

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
4144251
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
118279
93880
410753
666368
1637922
1782032
4144251

Your IP: 35.175.120.174
2019-11-21 17:41:21
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.