Kanesia 15

Kanesia 15 berasal dari hasil persilangan antara ISA 205 A dengan ALA 73-2M. Kanesia 15 yang dilepas pada tahun 2007 merupakan varietas kapas yang mempunyai keunggulan berupa toleransi terhadap keterbatasan keterse-diaan air atau tahan terhadap kekeringan, sehingga varietas Kanesia 15 lebih sesuai untuk dikembangkan pada daerah-daerah tadah hujan, varietas ini juga mempunyai ketahanan moderat terhadap wereng kapas Amrasca biguttulla. Dengan mempertimbangkan adanya korelasi antara kekeringan dan tingkat serangan hama A. biguttula pada daerah-daerah pengembangan kapas yang masih didominasi oleh lahan kering, maka disarankan untuk melakukan perlakuan benih menggunakan imidachloprit dengan dosis 10 mg/kg benih sebelum tanam. Kanesia 15 yang toleran terhadap kekeringan memberikan sumbangan yang sangat berarti, yaitu meningkatnya perolehan serat serta kenaikan efisiensi pemintalan akibat bertambahnya kekuatan dan panjang serat. Kanesia 15 sesuai untuk daerah pengembangan di Jatim, NTB, dan Sulsel.

Malang – Seminar Lingkup Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat dilaksanakan pada hari Selasa (18/10/16) dengan pembicara Bapak Dr. Ir. Budi Hariyono, MP. Acara tersebut dilaksanakan di Aula Jatropha dengan peserta Peneliti dan Teknisi lingkup Balittas. Seminar dibuka oleh Plh. Kepala Balittas, Ir. Moch. Machfud, MP.

Judul seminar yang disampaikan Bapak Budi Hariyono adalah Biochar untuk Memperbaiki Kualitas Tanah Bertekstur Pasir dan Pengaruhnya Pada Tebu. Beliau menyampaikan bahwa dalam mendukung target swasembada gula dapat dilakukan dengan peningkatan produktivitas dan rendemen (intensifikasi), perluasan areal (ekstensifikasi), dan upaya off-farm yang mendukung.

Untuk perluasan areal, Indonesia mempunyai potensi lahan berpasir seluas 67.883 km2. Namun tanah berpasir ini memiliki kekurangan yaitu kualitas rendah, daya pegang air rendah, KTK rendah, kesuburan rendah, dan pencucian N. Menurut beliau, teknologi Biochar dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas lahan tersebut. Biochar berasal dari kata biomass (biomassa) dan charcoal (arang). Biochar adalah arang yang dihasilkan dari materi tanaman dan disimpan dalam tanah sebagai suatu cara menghilangkan karbondioksida dari atmosfer (Oxford Dictionary 2013).

Dalam presentasinya beliau menjelaskan bahwa serasah tebu dapat dikonversi menjadi biochar dengan cara sederhana, dengan karakter yang baik. Biochar serasah tebu dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah untuk memperbaiki kualitas tanah berpasir dan lebih stabil. Alternatif pengelolaan limbah serasah tebu untuk dijadikan biochar dengan cara yang mudah. Diharapkan panen batang tebu lebih baik sehingga tebu yang dibawa ke pabrik gula bersih dari serasah. Dengan memanfaatkan limbah serasah tebu, maka energi dari perkebunan tebu akan kembali ke lahan tebu. Biochar dapat digunakan sebagai alternatif pengelolaan tebu yang dikembangkan di lahan kering berpasir yang berproduksi lebih baik dan berkelanjutan, dan dapat menjadi sumbangan iptek.

Dari hasil kegiatan penelitian tentang biochar dilaksanakan oleh Bapak Budi Haryono, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:

  1. Serasah tebu dapat dikonversi menjadi biochar dengan teknik sederhana dan dapat dilakukan langsung di lahan tebu. Karakteristik kimia biochar serasah setara dengan yang dibuat dengan vacuum pyrolysis. Teknik drum kiln lebih mudah dilaksanakan dengan hasil dan karakter biochar yang baik.
  2. Aplikasi biochar dan bahan pembenah tanah lainnya dapat memperbaiki kualitas tanah bertekstur pasir. Sifat tanah yang diperbaiki yaitu, kemantapan agregat, porositas, berat isi, kadar air tanah, C dan ketersediaan hara. Pengaruh biochar setara dengan pupuk kandang dan bahan pembenah tanah lainnya. Maka limbah serasah tebu dapat diaplikasikan ke tanah berpasir dalam bentuk biochar. Limbah tebu lainnya (abu ketel dan blotong ) juga dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah berpasir. Kombinasi biochar + pupuk kandang atau kompos menunjukkan sinergi positif. Perbaikan sifat tanah berpasir karena aplikasi biochar masih nampak pada tahun kedua.
  3. Perbaikan kualitas tanah yang terjadi akibat aplikasi biochar serasah tebu dan bahan pembenah tanah lainnya di tanah bertekstur pasir tidak nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tebu. Ini isebabkan adanya faktor pembatas C-organik dan N-total tanah yang sangat rendah dan KTK rendah.(isni)

Melestarikan Kekayaan Tembakau Rejeb Magetan

Kabupaten Magetan di Jawa Timur sudah sejak zaman dahulu memiliki jenis tembakau lokal yang terkenal. Jenis tembakau ini biasa disebut dengan tembakau Rejeb. Berdasarkan sumber informasi dari masyarakat sekitar, tembakau Rejeb ini sudah dibudidayakan sejak awal abad ke 20 dan terus dibudidayakan secara turun-temurun hingga saat ini. Awal mula dibudidayakan tembakau ini dimulai dari Desa Trosono dan Desa Sayutan, Kecamatan Parang-Magetan.

Untuk melestarikan kekayaan sumber daya genetik lokal ini, tim peneliti Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) melakukan pelepasan Tembakau Rajangan Magetan yang dinamai varietas Rejeb Parang. Varitas unggul tembakau ini dirilis pada November 2017 dan memiliki ciri produk yang khas, yakni aromanya ampeg (berat).

Produk ini cocok untuk rajangan halus yang permintaannya untuk memenuhi pasar tembakau Temanggungan. Permintaan tembakau Rejeb Parang ini semakin meningkat seiring dengan tingginya konsumsi rokok. Oleh karena itu, varietas unggul Rejeb Parang perlu disosialisasikan secara meluas.

Berdasrkan hasil observasi tim Balittas dan informasi dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Magetan, diketahui daerah pengembangan utama tembakau banyak ditanam petani di lahan tegal dan sawah tadah hujan, dengan ketinggian tempat antara 290 - 400 meter di atas permukaan laut. Curah hujan di Kabupaten Magetan antara 100-300 mm per tahun dengan jumlah bulan kering antara 4 – 6 bulan.

Rata-rata luas areal tanaman tembakau dalam lima tahun terakhir mencapai lebih dari 80 ribu hektare dengan produksi sekitar 430 ton per hektare. Di daerah ini, lebih dari 35 persen luas areal tembakau ditanami kultivar varietas tembakau Rejeb Parang 3 dan Rejeb Parang 4. Kedua varietas unggul lokal ini sangat disukai petani dan konsumen. Jenis tembakau Rejeb ini setiap tahun terus dibudidayakan oleh masyarakat Kecamatan Parang. Dengan fluktuasi harga dan cuaca yang kurang bersahabat pun masyarakat tetap antusias untuk menanam tembakau Rejeb.

Namun, luasan penanaman tembakau Rejeb ini naik turun tergantung oleh cuaca dan harga. Rata-rata luas penanaman tembakau Rejeb di Kecamatan Parang berkisar 150 hektare setiap tahunnya. Pola tanam tembakau Rejeb ini adalah bergantian setelah tanaman kacang tanah atau jagung. Sebagian besar penanaman dilakukan di lahan tegal karena sebagian besar lahan di Kecamatan Parang merupakan lahan sawah tadah hujan.

Produksi tembakau Rejeb ini berkisar antara 7-8 ton daun basah per hektare dengan rendemen 8-9 persen sehingga dapat menghasilkan sekitar 700 kilogram tembakau rajangan. Berdasarkan kualitas, tembakau Rejeb parang ini dibagi dalam tiga grade, yaitu grade A, grade B, dan grade C.

Untuk harga masing-masing grade berkisar antara Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu (grade A), Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu (grade B), dan Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu (grade C). Harga tersebut adalah harga per kilogram, akan tetapi masyarakat Kecamatan Parang umumnya tidak menjual tembakau rajangannya dalam satuan kilogram. Mereka biasa menjual dengan satuan upet, yakni setara 2-3 kilogram tembakau rajangan.

Proses pengolahan tembakau Rejeb dimulai dari proses pemeraman. Setelah itu, baru dilakukan perajangan. Keunikan proses perajangan ini adalah dibuangnya sepertiga bagian tulang daun pada daun tembakau Rejeb yang akan dirajang. Proses perajangan ini biasanya dilakukan pada malam hingga pagi hari. Hasil rajangan kemudian ditata di atas widig. Setelah daun tembakau rajangan digelar di atas widig, baru kemudian dijemur. Setelah proses penjemuran dilanjutkan pada proses pengemasan. Pengemasan ini dalam satuan upet. Dalam satu upet terdiri dari 10 emplok yang terdiri dari 20 eler daun tembakau rajangan kering.

Proses pengolahan daun tembakau Rejeb yang panjang inilah yang menjadikan tembakau Rejeb memiliki pasar yang baik dengan harga yang relatif tinggi dikarekan proses grading yang ketat selama proses pengolahan sehingga dihasilkan tembakau rajangan kering dengan kualitas yang prima.

Ruly Hamida

Artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

Tanaman tembakau (Nicotiana tabacum L.) telah lama dibudidayakan di Indonesia untuk diambil daunnya. Pemanfaatan tembakau pada umumnya masih terbatas hanya sebagai bahan baku rokok, karena semakin meningkatnya permintaan rokok di Indonesia. Peningkatan jumlah perokok menyebabkan munculnya masalah lain yaitu peningkatan penderita penyakit akibat rokok, baik pada perokok aktif maupun pasif. Hal ini membuat pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Aditif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan (PP Tembakau), pada pasal 58 disebutkan bahwa perlu dilakukan upaya diversifikasi produk tembakau. Diversifikasi dimaksudkan agar penggunaan produk tembakau tidak membahayakan bagi kesehatan. Oleh karena itu, perlu menciptakan produk-produk dari tembakau yang bermanfaat dan memberikan nilai tambah bagi petani namun tetap aman bagi kesehatan.

Daun tembakau mengandung senyawa-senyawa kimia, mulai dari golongan asam, alkohol, aldehid, keton, alkaloid, asam amino, karbohidrat, ester dan terpenoid. Kandungan utama dari tembakau adalah alkaloid (nikotin). Tembakau memiliki aroma yang khas sehingga didalam tembakau terkandung senyawa-senyawa aromatis yang mudah menguap atau biasa disebut dengan minyak atsiri. Minyak atsiri tembakau dapat diekstrak dengan cara destilasi. Hasilnya adalah berupa minyak berwarna kuning kecoklatan dengan aroma tembakau yang khas dan menyengat.

Minyak atsiri tembakau mengandung sejumlah senyawa-senyawa kimia yang kandungan senyawanya bervariasi jenis dan jumlahnya. Minyak atsiri dari tembakau Madura mengandung 30 senyawa kimia, tembakau Temanggung mengandung 11 senyawa kimia, tembakau Bondowoso mengandung 67 senyawa kimia, tembakau Blitar mengandung 20 senyawa kimia, tembakau Magetan mengandung 7 senyawa kimia, tembakau Bojonegoro mengandung 6 senyawa kimia, dan tembakau Ngawi mengandung 7 senyawa kimia. Kandungan senyawa utama dalam minyak atsiri tembakau adalah neofitadiena. Neofitadiena adalah senyawa yang terdapat dalam minyak atsiri tembakau dengan jumlah yang besar (> 40%), senyawa ini dilaporkan dalam sejumlah hasil penelitian memiliki aktivitas farmakologi diantaranya antipiretik, analgesik, anti-inflamasi, antimikroba dan antioksidan.

Minyak atsiri tembakau memiliki aroma yang khas sehingga dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan parfum badan. Hasil penelitian Nurnasari dan Subiyakto (2011) memanfaatkan minyak atsiri tembakau sebagai salah satu bahan pembuatan parfum badan. Hasil uji organoleptik parfum terhadap 30 orang responden (wanita) kebanyakan memilih parfum minyak atsiri tembakau yang dicampur dengan aroma jeruk, jasmine dan lavender. (Elda Nurnasari)

Produk Parfum Tembakau

Tags:

Tembakau kasturi adalah tembakau kerosok lokal VO sebagai bahan campuran (blending) untuk rokok keretek, yang dikembangkan di daerah Jember dan Bondowoso. Dari seluruh produksi nasional tembakau kasturi, 11,36% diekspor dengan label Besuki VO dan 88,64% dikonsumsi dalam negeri sebagai bahan baku rokok keretek. Pabrik Rokok Gudang Garam, Sampoerna, dan Djarum merupakan pengguna terbesar kerosok kasturi. Semula yang ditanam oleh petani adalah varietas lokal berupa populasi tanaman yang masih sangat beragam. Sejak tahun 1997 dilakukan pemuliaan untuk memperbaiki varietas lokal yang ada. Seleksi terhadap varietas lokal menghasilkan dua varietas yang diputihkan/dilepas pada tahun 2006, yaitu Kasturi 1 dan Kasturi 2 berdasarkan SK Mentan No: 132/Kpts/SR.120/2/ 2007 dan No: 133/Kpts/SR.120/2/2007. Saat ini luas areal penanaman tembakau kasturi pada dua daerah pengembangan mencapai 3.197 ha, dengan rata-rata produktivitas di tingkat petani mencapai 985 kg kerosok/ha atau senilai Rp12.805.000,00.

  Karakteristik Kasturi 1
 

Asal varietas
Bentuk daun
Ujung daun
Tepi daun
Permukaan daun
Phylotaxi
Indeks daun
Jumlah daun
Produksi
Indeks mutu
kadar nikoton
: seleksi massa positif kasturi mawar, Jember
: Lonjong
: Meruncing
: Rata
: Rata
: 2/5, putar kekiri
: 0,486
: 16-19 lembar
: 1,75 ton kerosok/ha
: 81,75 + 0,98
: 3,21 + 0,08



  Karakteristik Kasturi 2
 

Asal varietas
Bentuk daun
Ujung daun
Tepi daun
Permukaan daun
Phylotaxi
Indeks daun
Jumlah daun
Produksi
Indeks mutu
kadar nikoton
: seleksi massa positif kasturi Ledok Ombo
: Lonjong
: Meruncing
: Licin
: Rata
: 2/5, putar kekiri
: 0,529
: 17-19 lembar
: 1,75 ton kerosok/ha
: 82,40 + 1,03
: 3,54 + 0,04




Ancaman Luka Api pada Perkebunan Tebu

Penyakit luka api dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar pada produksi tebu, tidak hanya secara kuantitas tetapi juga kualitas tebu yang dihasilkan termasuk rendemen tebunya. Serangan penyakit luka api pada varietas tebu yang rentan dapat menyebabkan kehilangan hasil lebih dari 60 persen.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa potensi kehilangan hasil perkebunan tebu akibat luka api pada tanaman raton lebih tinggi dibandingkan dengan plant-cane. Sebagai contoh di Cina, kehilangan hasil pada tanaman PC (Plant-Cane) mencapai 8 persen, sedangkan pada tanaman raton luka api menyebabkan kerugian sebesar 16-20 persen.

Di Indonesia, pengamatan luka api pada pertanaman tebu di daerah pengembangan di Sulawesi menunjukkan bahwa kejadian penyakit tersebut dapat mencapai 16 persen. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kejadian penyakit luka api sebesar 1 persen dapat meningkatkan resiko kehilangan hasil sebanyak 0,6 persen.

Penyakit luka api atau yang biasa dikenal sebagai smut disease yang disebabkan oleh jamur Sporisorium scitamineum merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tebu.

Penyakit ini kali pertama ditemukan di daerah Natal, Afrika Selatan pada 1877. Selanjutnya, penyakit ini ditemukan hampir pada sebagian besar daerah pengembangan tebu di berbagai negara, termasuk Brasil, Argentina, Amerika Serikat, Cina, India, Australia, serta Indonesia. Sampai saat ini, negara yang diberitakan masih aman dari penyakit luka api adalah Papua Nugini dan Fiji.

Penyakit luka api memiliki gejala yang sangat khas sehingga mudah dikenali di lapangan. Tanaman tebu yang terserang penyakit tersebut akan membentuk cambuk berwarna hitam pada bagian ujung tanamannya. Cambuk yang terbentuk dari gabungan antara jamur dan bagian tanaman tebu tersebut dapat mencapai ukuran lebih dari 1,5 meter.

Bagian berwarna hitam tersebut sebetulnya merupakan massa spora jamur yang berfungsi sebagai sumber inoculums, yang dengan bantuan angin, dapat menyebar ke tanaman lain untuk menyebabkan infeksi sekunder. Pada umumnya, tanaman tebu yang terinfeksi luka api akan menghasilkan gejala berupa cambuk hitam tersebut pada umur 4-8 pekan setelah infeksi.

Penyakit luka api ini tidak serta merta menyebabkan tanaman tebu mati, tetapi pada serangan yang parah tanaman tebu hanya dapat menghasilkan batang yang kecil-kecil seperti rumput dan kerdil.

Pengendalian penyakit luka api yang utama adalah dengan menggunakan varietas yang tahan. Sementara itu, untuk mencegah penyebaran penyakit dapat dilakukan cara memastikan bahan tanaman yang digunakan berasal dari tanaman yang sehat, tidak terinfeksi penyakit. Selanjutnya, apabila memungkinkan, lakukan pengolahan tanah pada lahan-lahan yang terinfeksi parah untuk mengurangi sumber inokulum sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit.

Perlakuan hot water treatment pada suhu 52 derajat Celcius selama 30 menit sebelum benih ditanam untuk mencegah penyebaran penyakit sistemik, seperti luka api. Setelah perlakuan hot water treatment, apabila dikehendaki, benih dapat direndam dalam fungisida yang berbahan aktif flutriafol, propiconazole, dan triadimefon. Fungisida tersebut telah digunakan di berbagai negara yang mengembangkan tebu.

Penyebaran penyakit luka api di lahan terutama melalui angin yang membantu penyebaran spora serta penggunaan bahan tanaman yang tidak sehat atau telah terinfeksi oleh jamur. Tidak menutup kemungkinan juga spora menyebar ke area lain melalui alat mesin pertanian, sepatu serta alat-alat lain yang digunakan oleh petani. Spora jamur luka api dapat bertahan di dalam tanah yang kering selama lebih dari 3 bulan. Spora juga dapat bertahan pada jaringan tanaman tebu selama tanaman tersebut masih hidup.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa penyakit luka api tidak menyebabkan tanaman tebu langsung mati karena jamur membutuhkan tanaman untuk dapat tetap hidup. Di lapangan, kejadian penyakit luka api akan meningkat dalam kondisi cuaca panas dan kering.

Nurul Hidayah

Artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

Akselerasi penggunaan benih unggul tebu dengan Pembibitan bud chip terus digalakkan pada tingkat penangkar Kebun Benih Datar (KBD) dan petani pengembang untuk memenuhi permintaan bibit dalam mendukung program bongkar ratoon dan tanam tebu baru (plan cin). Penggunaan bahan tanam tebu bud chip merupakan penerapan teknologi budidaya tebu dalam upaya pencapaian program swasembada gula nasional.

Pembibitan tebu budchips merupakan langkah maju pada penerapan program bongkar ratoon yang sering mendapat kesulitan memenuhi kebutuhan bibit bersertifikat yang diperoleh dari Kebun Bibit Datar ( KBD). Penggunaan benih unggul tebu bud chips dalam 1 hektar kebun Bibit Datar ( KBD) menghasilkan benih 50-60 ton setara 350.000- 420.000 mata tunas budchips. Kebutuhan bibit budchips dalam satu hektar pertanaman baru plane cin diperlukan 12000-18000 batang bibit setara 2-2,5 ton bagal. Sehingga dalam 1 ha luasan kebun bibit datar (KBD) mampu memenuhi kebutuhan areal tanam baru ( plane cin) mencapai 29 - 35 ha. Pembuatan kebun bibit datar memerlukan biaya besar dengan penggunaan bibit tebu bud chips ini lebih evisien dan mampu menekan luas areal Kebun Bibit Datar ( KBD) mencapai 75-80%.

Kurang tercapainya sasaran program bokar ratoon selama ini akibat terbatasnya bibit bersertifikat dari KBD karena kebutuhan bibit untuk tanam baru (plane cin) dari bagal memerlukan 8-10 ton bibit bagal perhektar sehingga 1 ha bibit dari KBD hanya mencukupi luas tanam baru 7-8 ha saja.

Keunggulan bibit tebu budchip bagaikan “pendekar satu mata” karena bud chips setelah dipindahkan kelapang tebu mampu membentuk anakan 10-20 anakan. Anakan tersebutakan tumbuh sempurna sampai panen 8-10 batang per rumpun sedangkan bibit dari bagal anakan yang terbentuk 1-4 anakan saja. Yang lebih membanggakan bahwa bibit budchip dalam pembentukan anakan serempak pada umur 1-3 bulan. Pertumbuhan tanaman tebu sejak awal tumbuh seragam menjadikan tingkat kemasakan tebu dilapang sama mampu meningkatkan rendemen dan produksi persatuan luas tanam.

Penanaman tebu diwilayah pengembangan dari bibit bud chips ini ditekankan pada areal yang berpengairan teknis atau daerah yang sebaran curah hujannya jelas dengan harapan dapat menekan resiko kematian dan jumlah penyulaman akibat mati kekeringan diawal tanam.

Subkategori

Halaman 1 dari 7

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
5650701
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
3676
7866
32324
62060
94384
2506329
5650701

Your IP: 3.234.214.113
2019-12-11 09:45:58
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.