Tembakau temanggung menyumbang 70–80% terhadap total pendapatan petani. Peranan tembakau temanggung untuk rokok keretek sangat penting karena berfungsi sebagai pemberi rasa dan aroma yang khas. Permasalahan yang ada di daerah pengembangan tembakau temanggung adalah penyakit lincat yang disebabkan oleh kompleks patogen Phytophthora nicotianae, Ralstonia solanacearum, dan Meloidogyne spp. dan degradasi lahan karena erosi. Oleh karena itu, telah dikembangkan varietas tahan penyakit licat, yaitu Kemloko-2 dan Kemloko-3 serta teknologi konservasi untuk menanggulangi erosi. Teknologi pengendalian erosi dan penyakit lincat dapat menurunkan tingkat erosi sebesar 66%, menekan kematian tanaman sebesar 44%, serta meningkatkan hasil dan mutu tembakau masing masing sebesar 31% dan 8%.

  Karaktristik Kemloko 2

Habitus : Silindris
Tinggi tanaman : 135-150 cm
Bentuk daun : Lonjong
Indeks daun : 0,501-0,502
Panjang daun : 47,50-51,70 cm
Lebar daun : 22,30-25,95 cm
Tepi daun : Berombak
Jumlah daun (Produksi) : 19-21
Sayap daun : Sempit
Phylotaxi : 2/5
Umur berbunga : 95-100 hari
Umur panen : 120-140 hari
Ketahanan terhadap
- Penyakit layu bakteri : tahan
- Penyakit puru akar : tahan
- Penyakit lanas : tidak tahan
Hasil rajangan : 0,704 + 0,28 (ton/ha)
Indeks mutu : 40,28 + 5,42
Kandungan nikotin : 5,52 + 3,46



Karaktristik Kemloko 3
 
Habitus : Lonjong agak lebar, tepi daun berombak sebagian menggulung ke bawah
Kerapatan daun : Jarang
Panjang daun : 37,57-49,51 cm
Lebar daun : 22,99-24,96 cm
Jumlah daun (Produksi) : 18,90-21,97 lembar/pohon
Phylotaxi : 3/8
Ketahanan terhadap
- Penyakit layu bakteri : tahan
- Penyakit puru akar : sangat tahan
Hasil rajangan : 0,695 + 0,16 (ton/ha)
Indeks mutu : 40,01 + 7,01
Kandungan nikotin : 6,02 + 3,75

 

Tags:

Meskipun kenaf termasuk tanaman hari pendek, namun Balittas telah menghasilkan varietas unggul yang kurang peka terhadap fotoperiode yaitu KR 11, sehingga varietas KR 11 ini dapat ditanam kapan saja dengan syarat kebutuhan air terpenuhi selama masa pertumbuhannya. KR 11 merupakan hasil persilangan Hc 48 x Hc G4 pada tahun 1985. Varietas ini dilepas pada tahun 2001 oleh Menteri Pertanian dengan Surat Keputusan No. 111/Kpts/TP.240/2/2001, tanggal 8 Februari 2001.

Karakter Varietas KR 11
Permukaan batang
: Berduri sedikit
Warna batang
: Hijau
Percabangan
: Rudimenter (siwilan)banyak
Bentuk daun
: Menjari
Umur berbunga
: 87-95 hari
Warna bunga
: Kuning krem
Umur panen
: 130-140 hari (mumur panjang)
Tinggi tanaman
: 278-420 cm
Diameter batang
: 1,60-3,20 cm
Potensi hasil
: 2,75-4,20 ton/ha
Berat 100 biji
: 23,66-26,24 gram
Panjang serat
: 260-376 cm
Kekuatan serat
: 24,46-29,60 g/tex
Persentase serat
: 5,5-6,5%

Keberadaan pertanaman tebu pada saat ini didominasi oleh pertanaman ratoon (RC) yang memiliki kecenderungan produktivitas yang menurun seiring dengan bertambahnya periode ratoon. Petani lebih memilih pertanaman ratoon disebabkan karena tanam tebu baru (PC) memerlukan biaya tinggi dari kegiatan bongkar ratoon dan pengadaan benih tebu yang banyak mencapai 10 ton/ha bagal atau 17.000 budchip.

Tebu kepras atau ratoon perlu dilakukan pemeliharaan agar produktivitas dan rendemennya tetap terjaga dengan baik. Salah satu kegiatan rawat ratoon adalah kepras tebu agar didapatkan tunas baru yang tumbuh dari dalam tanah sehingga pertunasan dan perakaran tanaman tebu lebih baik. Penyulaman merupakan kegiatan penanaman untuk mengantikan benih tebu yang tidak tumbuh, baik pada tanaman baru ataupun lama (kepras) dapat berupa benih rayungan, seblangan, atau budchip agar diperoleh populasi tebu yang optimal dengan jumlah batang terpanen mencapai 72.500–75.000 batang/ha. Pedot oyot merupakan kegiatan pemutusan akar tebu RC yang sudah tua agar didapatkan pertumbuhan akar baru sehingga serapan hara dan air tinggi, laju pertumbuhan calon anakan lebih baik, cepat, dan seragam.

Pertanaman tebu RC yang diusahakan terus menerus akan mengalami penurunan kandungan bahan organik tanah sampai dengan 50%. Penurunan bahan organik tanah berpengaruh buruk terhadap sifat fisik tanah, kimia dan biologi tanah. Pemberian bahan organik berupa pupuk kandang atau kompos dapat menggemburkan tanah, meningkatkan daya simpan air, kegiatan jasad renik berkembang dan menyuburkan tanah. Menejemen tebu ratoon yang baik dapat menjadi penentu faktor keberhasilan dalam pencapaian produktivitas dan rendemen tebu ratoon yang optimal. Manajemen tebu ratoon meliputi manajemen seresah, populasi tanaman, pemupukan, kebutuhan air, pengendalian gulma dan hama penyakit. Pemberian seresah (tanpa dibakar) di lahan mampu mempertahankan rata-rata produktivitas mulai RC 3 sampai RC 7 sebesar 125 ton/ha. Jumlah tunas yang di harapkan dalam fase pertunasan diupayakan di antara 75.000–80.000 tunas per hektar. Pemupukan beberapa dosis NPK dengan pengaturan seresah yang diletakkan antar baris tanaman tebu ratoon dapat memberikan rata-rata produktivitas selama periode 8 tahun tebu ratoon berkisar antara 142–158 ton/ha. Tumpang sari menggunakan palawija (jagung, kacang, kedelai) didapatkan produktivitas berkisar antara 71,75–95,67 ton/ha.

Oleh : Cece Suhara

Virus Mosaik Ketimun (Cucumber Mosaic Virus)

Virus mosaik ketimun adalah virus tanaman yang berbentuk polihedral dengan diameter 28 nm, menginfeksi lebih dari 775 spesies tumbuhan dalam 67 famili dan dapat ditularkan oleh 75 spesies afid secara non-persistent (Murant dan Mayo, 1982). Virus mosaik ketimun mempunyai kisaran inang yang sangat luas, terdapat pada tanaman sayuran, tanaman hias dan tanaman buah-buahan. Selain menyerang tanaman ketimun, virus mosaik ketimun juga dapat menyerang melon, labu, cabai, bayam, tomat, seledri, bit, tanaman polong-polongan, pisang, tanaman famili Crucifereae, delphinium, gladiol, lili, petunia, zinia dan beberapa jenis gulma (Agrios, 1988). Dibeberapa negara, virus mosaik ketimun telah menyebabkan penyakit yang berat pada tanaman tertentu. Virus mosaik ketimun terdapat hampir di semua negara dan strain yang berbeda sifat biologinya telah dilaporkan dari berbagai tempat. Virus mosaik ketimun mempunyai banyak strain, oleh karena itu mempunyai jumlah inang yang banyak serta gejala yang ditimbulkan beragam.

 Arti ekonomi penyakit virus CMV

Penyakit virus pada tembakau khususnya gejala mosaik pada umumnya masih kurang disadari kerugian yang ditimbulkannya oleh petani, khususnya pada tembakau rajangan, karena tanaman yang sakit tidak langsung mati dan masih memberikan hasil walaupun kualitasnya menurun. Pada tembakau cerutu penyakit virus menyebabkan kerugian yang cukup besar, karena selain mengurangi produksi juga sangat berpengaruh terhadap mutu daun yang dihasilkan. Daun tembakau yang terserang virus pada umumnya menunjukkan gejala mosaik, berkerut atau menggulung, ukurannya menjadi lebih kecil, rapuh, elastisitas dan daya bakarnya menurun. Menurut Lucas (1975) daun yang terserang penyakit CMV menunjukkan gejala terjadi perubahan warna secara nyata seperti pola mosaik, kebanyakan tanaman kerdil, daun menyempit dan mengalami distorsi. Besarnya kerugian tergantung dari jenis virus yang menyerang, jenis tembakau dan waktu terjadinya infeksi

Pada pertanaman tembakau virginia di daerah Bojonegoro, areal yang terserang mencapai 25-30%, sehingga diperkirakan kerugian bisa mencapai 5 milyar rupiah. Di Lumajang pada pertanaman tembakau burley terserang penyakit CMV berkisar antara 30-73,5% pada tanaman seri III, sedangkan serangan virus pada tembakau Besuki NO cukup berat, sehingga menimbulkan penurunan produksi sekitar 10%. Berdasarkan dari gejala yang tampak di lapang diduga penyebabnya adalah CMV.

Bioekologi Virus CMV

Virus CMV termasuk kedalam Cucumo virus. Zarah virus berbentuk isometrik dengan diameter 30 nm. CMV mempunyai suhu inaktivasi antara 60-750C, dengan titik pengenceran akhir 10-4. Dalam tanaman sakit, virus akan menjadi inaktif setelah disimpan selama 96 jam pada suhu kamar. CMV dapat ditularkan secara mekanis, oleh lebih dari 60 jenis kutu daun secara non-persisten, termasuk Myzus persicae dan Aphis gossypii, serta melalui biji beberapa tanaman inang (Gonzalves dan Garnsey, 1989). CMV termasuk jenis virus yang mempunyai sebaran tanaman inang yang sangat luas dan dapat menyerang 775 jenis tanaman dari 85 famili, termasuk famili Cucurbitaceae, Papilionaceae, Solanaceae dan Cruciferae. Diantara tanaman tersebut yang sering ditemukan berada disekitar tanaman tembakau adalah: tomat, cabai, mentimun, terung, buncis, kacang tunggak, dan kacang panjang (Gonzalves dan Garnsey, 1989). Penularan CMV melalui biji dan infeksi pada beberapa tumbuhan liar terbukti memegang peranan penting dalam penyebaran dan perkembangan penyakit di lapang.

Gejala penyakit Virus CMV 

Gejala penyakit virus pada populasi tanaman inang merupakan hasil interaksi antara virus, tanaman inang, dan lingkungan. Faktor lain yang berpengaruh adalah campur tangan manusia yang berperan dalam mengubah sistem pertanaman (Akin, 2006). Manusia mempunyai peran yang sangat penting dalam penyebaran penyakit virus dan vektornya. Manusia dapat mempengaruhi patogenisitas virus, kerentanan tanaman terhadap virus maupun vektor dan terhadap lingkungan disekitar pertanaman. Manusia merupakan salah satu media yang sangat penting dalam penyebaran penyakit, karena mempunyai mobilitas yang tinggi sehingga dalam waktu singkat dapat membawa tanaman sekaligus vektor dan penyakitnya ke tempat-tempat yang jauh dalam waktu yang relatif singkat, meskipun harus melalui barier yang sangat keras (Wahyuni, 2005).

Faktor lingkungan fisik yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit virus dan vektornya adalah : 1) curah hujan; 2) Angin; 3) suhu udara; dan 4) jenis tanah dan kelengasannya. Curah hujan sangat berperan dalam perkembangan penyakit virus yang mempunyai vektor soilborne dan airborne Curah hujan di daerah tropika dan sub tropika berkaitan langsung dengan kelembaban udara yang tinggi. Infeksi virus pada tumbuhan lebih banyak terjadi pada musim semi atau hujan. Kelembaban udara yang tinggi menyebabkan jaringan palisade daun memanjang dan teksturnya menjadi lebih lemas. Angin berpengaruh terhadap penyebaran vektor, sehingga virus yang dibawanya bisa lebih cepat menyebar. Suhu dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan musim. Musim panas intensitas cahaya sangat tinggi, dan panjang hari lebih lama, keadaan ini menyebabkan daun menjadi lebih tebal dan teksturnya agak keras. Suhu berpengaruh pada pergerakan dan kecepatan memperbanyak diri vektor airborne (Wahyuni, 2005). 

Pengendalian penyakit CMV 

Sampai sekarang belum ditemukan agensia yang efektif untuk mengobati penyakit virus. Tanaman yang sudah terinfeksi virus sudah tidak mungkin sembuh dari penyakit tersebut, sehingga akan menjadi sumber infeksi bagi tanaman sehat disekitarnya. Seranggga vektor banyak berperan dalam penyebaran penyakit virus yang berasal dari sumber inokulum. Beberapa jenis kutu daun ditularkan secara persisten maupun non persisten. Virus non persisten yang ditularkan oleh kutu daun lebih banyak berperan dalam penularan penyakit virus dengan cara menghisap cairan tanaman yang sudah terserang virus kemudian menularkannya kembali pada tanaman sehat dengan cara menusukkan styletnya sebelum mati. Pengendalian serangga vektor dengan insektisida kimia tidak banyak berpengaruh terhadap pengendalian penyakit virus non persisten. Terkait dengan isu global mengenai residu pestisida pada tanaman, pengendalian penyakit secara kimiawi mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan dan mikroorganisme non target. Pengendalian virus yang efektif dan efisien saat ini belum banyak diketahui. Sejauh ini pengendalian virus masih bersifat preventif, yang dilakukan dilakukan secara tidak langsung dengan memadukan beberapa metode yaitu : 1) pencegahan infeksi di lapang misalnya dengan rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan inang virus maupun vektornya, menekan populasi vektor, 2) mencegah penyebaran di dalam tanaman misalnya dengan menghilangkan gulma inang, mencegah penularan mekanis, 3) menanam bibit bebas virus, 4) tanam serempak dan 5) proteksi silang. Alternatif pengendalian CMV dengan vaksin Carna-5 sebagai biokontrol.

Tags:
Pembibitan Tebu Bud Chips

PEMBIBITAN TEBU SISTEM BUDCHIPS PADA NAMPAN TRAY

Akselerasi penggunaan benih unggul tebu dengan Pembibitan bud chip terus digalakkan pada tingkat penangkar Kebun Benih Datar (KBD) dan petani pengembang untuk memenuhi permintaan bibit dalam mendukung program bongkar ratoon dan tanam tebu baru (plan cin). Penggunaan bahan tanam tebu bud chip merupakan penerapan teknologi budidaya tebu dalam upaya pencapaian program swasembada gula nasional.

Pembibitan tebu budchips merupakan langkah maju pada penerapan program bongkar ratoon yang sering mendapat kesulitan memenuhi kebutuhan bibit bersertifikat yang diperoleh dari Kebun Bibit Datar ( KBD). Penggunaan benih unggul tebu bud chips dalam 1 hektar kebun Bibit Datar ( KBD) menghasilkan benih 50-60 ton setara 350.000- 420.000 mata tunas budchips. Kebutuhan bibit budchips dalam satu hektar pertanaman baru plane cin diperlukan 12000-18000 batang bibit setara 2-2,5 ton bagal. Sehingga dalam 1 ha luasan kebun bibit datar (KBD) mampu memenuhi kebutuhan areal tanam baru ( plane cin) mencapai 29 - 35 ha. Pembuatan kebun bibit datar memerlukan biaya besar dengan penggunaan bibit tebu bud chips ini lebih evisien dan mampu menekan luas areal Kebun Bibit Datar ( KBD) mencapai 75-80%.

Kurang tercapainya sasaran program bokar ratoon selama ini akibat terbatasnya bibit bersertifikat dari KBD karena kebutuhan bibit untuk tanam baru (plane cin) dari bagal memerlukan 8-10 ton bibit bagal perhektar sehingga 1 ha bibit dari KBD hanya mencukupi luas tanam baru 7-8 ha saja.

Keunggulan bibit tebu budchip bagaikan “pendekar satu mata” karena bud chips setelah dipindahkan kelapang tebu mampu membentuk anakan 10-20 anakan. Anakan tersebutakan tumbuh sempurna sampai panen 8-10 batang per rumpun sedangkan bibit dari bagal anakan yang terbentuk 1-4 anakan saja. Yang lebih membanggakan bahwa bibit budchip dalam pembentukan anakan serempak pada umur 1-3 bulan. Pertumbuhan tanaman tebu sejak awal tumbuh seragam menjadikan tingkat kemasakan tebu dilapang sama mampu meningkatkan rendemen dan produksi persatuan luas tanam.

Penanaman tebu diwilayah pengembangan dari bibit bud chips ini ditekankan pada areal yang berpengairan teknis atau daerah yang sebaran curah hujannya jelas dengan harapan dapat menekan resiko kematian dan jumlah penyulaman akibat mati kekeringan diawal tanam.

 

Tags:

Tanaman tembakau (Nicotiana tabacum L.) telah lama dibudidayakan di Indonesia untuk diambil daunnya. Pemanfaatan tembakau pada umumnya masih terbatas hanya sebagai bahan baku rokok, karena semakin meningkatnya permintaan rokok di Indonesia. Peningkatan jumlah perokok menyebabkan munculnya masalah lain yaitu peningkatan penderita penyakit akibat rokok, baik pada perokok aktif maupun pasif. Hal ini membuat pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Aditif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan (PP Tembakau), pada pasal 58 disebutkan bahwa perlu dilakukan upaya diversifikasi produk tembakau. Diversifikasi dimaksudkan agar penggunaan produk tembakau tidak membahayakan bagi kesehatan. Oleh karena itu, perlu menciptakan produk-produk dari tembakau yang bermanfaat dan memberikan nilai tambah bagi petani namun tetap aman bagi kesehatan.

Daun tembakau mengandung senyawa-senyawa kimia, mulai dari golongan asam, alkohol, aldehid, keton, alkaloid, asam amino, karbohidrat, ester dan terpenoid. Kandungan utama dari tembakau adalah alkaloid (nikotin). Tembakau memiliki aroma yang khas sehingga didalam tembakau terkandung senyawa-senyawa aromatis yang mudah menguap atau biasa disebut dengan minyak atsiri. Minyak atsiri tembakau dapat diekstrak dengan cara destilasi. Hasilnya adalah berupa minyak berwarna kuning kecoklatan dengan aroma tembakau yang khas dan menyengat.

Minyak atsiri tembakau mengandung sejumlah senyawa-senyawa kimia yang kandungan senyawanya bervariasi jenis dan jumlahnya. Minyak atsiri dari tembakau Madura mengandung 30 senyawa kimia, tembakau Temanggung mengandung 11 senyawa kimia, tembakau Bondowoso mengandung 67 senyawa kimia, tembakau Blitar mengandung 20 senyawa kimia, tembakau Magetan mengandung 7 senyawa kimia, tembakau Bojonegoro mengandung 6 senyawa kimia, dan tembakau Ngawi mengandung 7 senyawa kimia. Kandungan senyawa utama dalam minyak atsiri tembakau adalah neofitadiena. Neofitadiena adalah senyawa yang terdapat dalam minyak atsiri tembakau dengan jumlah yang besar (> 40%), senyawa ini dilaporkan dalam sejumlah hasil penelitian memiliki aktivitas farmakologi diantaranya antipiretik, analgesik, anti-inflamasi, antimikroba dan antioksidan.

Minyak atsiri tembakau memiliki aroma yang khas sehingga dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan parfum badan. Hasil penelitian Nurnasari dan Subiyakto (2011) memanfaatkan minyak atsiri tembakau sebagai salah satu bahan pembuatan parfum badan. Hasil uji organoleptik parfum terhadap 30 orang responden (wanita) kebanyakan memilih parfum minyak atsiri tembakau yang dicampur dengan aroma jeruk, jasmine dan lavender. (Elda Nurnasari)

Produk Parfum Tembakau

Tags:

Subkategori

Halaman 1 dari 7

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
5627481
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
9104
9949
71164
703641
71164
2506329
5627481

Your IP: 18.207.255.49
2019-12-08 22:24:19
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.