Kanesia 11 menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi, yaitu memiliki potensi produksi lebih dari 3 ton kapas berbiji, juga beberapa keunggulan lain. Varietas ini menunjukkan indeks stabilitas ± 1, yang artinya bahwa varietas Kanesia 11 mampu beradaptasi secara luas di berbagai areal pengembangan. Kemajuan yang cukup berarti dicapai pada kandungan serat pada varietas Kanesia 11. Kandungan serat varietas ini 8,11% lebih tinggi diban-dingkan Kanesia 8. Karakteristik mutu serat Kanesia 11 sesuai dengan kebutuhan industri tekstil nasional yaitu panjang serat 26,92–29,34 mm, kekuatan 27,13–29,50 g/tex, dan keseragaman serat 83,3–84,6%. Walaupun demikian, kehalusan serat masih belum sepe-nuhnya memenuhi kriteria yang diharapkan oleh industri tekstil, yaitu 3,5-4,5 mic, walaupun beberapa pabrik masih menggunakan serat dengan kehalusan > 4,5 mic. Varietas Kanesia 11 sesuai untuk daerah Jatim, Jateng, NTB, Sulsel, DIY, Bali, dan NTT.
 


Potensi Produksi: 1.960-3.027 kg/ha kapas berbiji dengan proteksi minimal (10g imidachloprit /kg benih dan pestisida ekstrak biji mimba) dan 705-2.478 kg/ha kapas berbiji pada kondisi tanpa perlakuan insektisida
Kandungan Serat: 38.92%
Mutu Serat: panjang 27.98 mm, kehalusan 4.5 mic, kekuatan 27.77 g/tex, elastisitas 6.45%, keseragaman 83.3 %.
Ketahanan: Toleran terhadap A.biguttula

Varietas ini direkomendasikan untuk pengembangan kapas tanpa pestisida.

 

Pengendalian Gulma Tanaman Tebu


Gangguan gulma dapat menimbulkan kerugian yang cukup besar karena bisa menyababkan penurunan bobot tebu. Penurunan produktivitas tebu akibat keberadaan gulma dapat mencapai sekitar 12-72% (Agropedia 2010). Menurut data penelitian yang dilakukan oleh Mahasiswa jurusan budidaya pertanian, fakultas pertanian, Universitas Brawijaya, pada 2015, penurunan produktivitas tebu yang disebabkan oleh gulma sebesar 15-53,7%. Bahkan untuk kasus tertentu sering menyebabkan kegagalan panen tergantung tingkat intensitas penutupan gulma, jenis dan agresivitas pertumbuhannya.

Gulma dapat didefinisikan sebagai tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki, di tempat manusia bermaksud mengusahakan tanaman pokok. Gulma sendiri bersaing dengan tanaman pokok dalam memperebutkan unsur hara, air, cahaya matahari, dan ruang tumbuh, sehingga akan menghambat pertumbuhan dan menurunkan produksi tanaman pokok.

Gulma merupakan kendala utama di areal pertanaman tebu lahan kering, karena pertumbuhan gulma yang cepat dan lebat dengan berbagai macam spesies yang mendominasi. Pada lahan kering, gulma lebih beragam dan lebih berbahaya. Gulma dominan yang menjadi pesaing kuat tanaman tebu terdiri atas gulma daun lebar, gulma daun sempit dan teki. Spesies memiliki kemampuan yang bervariasi dalam kemampuannya menurunkan hasil tanaman, umumnya semakin dekat kekerabatan antara tanaman pokok dan spesies gulma, derajat persaingannya semakin besar, dan semakin tinggi populasi gulma di pertanian tebu, maka semakin besar pula derajat persaingannya.

Seringkali gejala kerusakan tebu akibat kompetisi gulma dengan tanaman tebu tidak segera tampak, sehingga pengendalian gulma sering terlambat dan tanaman sudah memasuki periode kritis yang berakibat negatif terhadap pertumbuhan dan berujung dengan penurunan produksi. Periode kritis adalah periode pada saat tanaman pokok sangat peka atau sensitif terhadap persaingan gulma, sehingga pada periode tersebut perlu dilakukukan pengendalian, dan jika tidak dilakukan maka akan menghambat pertumbuhan dan menurunkan hasil dari tanaman pokok.

Periode kritis pengendalian gulma sangat penting dalam program pengelolaan gulma terpadu, yaitu periode dalam siklus hidup tanaman dimana gulma harus dikendalikan untuk mencegah kehilangan hasil. Periode kritis kompetisi tanaman terhadap gulma secara umum terjadi pada sepertiga hingga setengah dari awal siklus hidupnya.

Pengendalian gulma yang efektif dan efisien dapat ditempuh dengan beberapa tahapan sebagai berikut :

  1. Melakukan identifikasi jenis gulma secara akurat sehingga dapat diketahui jenis-jenis gulma dominan yang perlu mendapat perhatian dalam pengen-daliannya.
  2. Mempelajari penyebab timbulnya gulma dengan memprioritaskan pada cara yang paling sederhana dan disesuaikan dengan sumberdaya tersedia, misalnya dengan pengaturan pola tanam atau cara tanam dan pengendalian secara manual.
  3. Mengutamakan pengendalian gulma secara kombinasi dari dua atau lebih cara pengendalian dengan urutan prioritas secara kultur teknik, mekanik, dan kimiawi.
  4. Membandingkan alternatif cara pengendalian gulma berdasarkan optimasi waktu, biaya, kemudahan pelaksanaan, efektivitas dalam pengendalian, serta resiko terhadap kerusakan lingkungan.

Oleh : Sulis Nur Hidayati dan Supriyadi

PENDAHULUAN

Kabupaten Temanggung merupakan salah satu daerah penghasil tembakau rajangan di Jawa Tengah yang memiliki rasa sebagai lauk. Areal penanaman-nya meliputi lereng gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Potensi areal tembakau Temanggung sekitar 9.326 ha dengan produksi 9.496 ton. Hampir semua industri rokok keretek membutuhkan tembakau temanggung, namun demikian produksinya masih tergolong rendah yaitu hanya 0,5 ton per hektar. Oleh karena itu penerapan teknologi budi daya yang tepat perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi dan mutu tembakau temanggung.

Tembakau Temanggung sesuai ditanam di daerah dengan ketinggian 400 m dpl. sampai dengan 1.500 m dpl., curah hujan antara 2.200–3.100 mm/ tahun dengan 8–9 bulan basah dan 3–4 bulan kering. Tanah yang sesuai untuk tembakau adalah tanah yang gembur, remah, drainase baik, dan mudah mengikat air serta pH sekitar 5,5–6,5.

Persemaian

Bibit yang sehat merupakan salah satu faktor penting keberhasilan budi daya tembakau. Untuk mendapatkan bibit yang sehat dan seragam perlu diperhatikan beberapa aspek dalam persemaian, di antaranya pemilihan lahan yang subur, gembur, dan berdrainase baik. Usahakan lahan dekat dengan sumber air untuk memudahkan dalam penyiraman. Bedengan diberi atap yang dibuat dari jerami, alang-alang, daun kelapa atau plastik yang dapat dibuka dan ditutup. Penyiraman dilakukan secara teratur pagi dan sore sejak benih ditabur. Setelah bibit berumur 2–3 minggu atap perlu dibuka pada pagi hari dan ditutup pada siang hari. Bila bibit sudah mempunyai daun dengan lebar 5 cm atap dapat di buka sepanjang hari.

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah. Pengolahan tanah juga bertujuan agar tanah lebih gembur sehingga mudah untuk ditembus akar tanaman. Lahan-lahan tembakau di Kabupaten Temanggung memiliki kemiringan datar sampai terjal. Pada lahan datar, pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul, 1–2 hari dilanjutkan dengan pembuatan guludan setinggi 25–30 cm (Gambar 1). Guludan berfungsi untuk meminimalkan jumlah tanaman yang mati akibat adanya genangan air. Jarak tanam 110 cm x 50 cm. Got keliling dibuat untuk memudahkan pembuangan air saat terjadi kelebihan air.

Sebagian besar lahan di Kabupaten Temanggung meru-pakan lahan miring. Lahan dengan kemiringan lahan > 15% memiliki potensi terjadinya erosi, sehingga pengolahan lahan minimal diperlukan untuk mengurangi kehilangan bahan organik tanah akibat tererosi. Pengolahan tanah minimal dapat dilakukan dengan memperbaiki alur-alur erosi yang umum dijumpai pada tanah-tanah Andisol.

 

Penanaman

Bibit siap dipindah ke lapang pada umur 40–45 hari. Sebelumnya dipilih bibit yang sehat, seragam, dan akarnya banyak. Bibit ditanam di lubang tanam dengan kedalaman penanaman sebatas batang atau leher akar, kemudian ditutup dengan tanah yang gembur. Sebaiknya tanam dilakukan sore hari saat intensitas cahaya matahari sudah berkurang. Sulaman sebaiknya tidak lebih dari 10 hari dari tanam pertama agar diperoleh pertumbuhan dan umur panen yang seragam. Penyiraman dilakukan menyesuaikan dengan kondisi kelembapan tanahnya.

Pendangiran, pembumbunan, dan penyiangan

Pendangiran dilakukan pada 3 minggu setelah tanam, sambil dibumbun tanah disiangi sehingga tanaman tidak terganggu oleh tanaman gulma. Hal tesebut dilakukan kembali setelah tanaman berumur 5 minggu dan terakhir setelah tanaman berumur 7 minggu

Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal (Gambar 2) dengan memperhatikan dosis dan waktu aplikasinya. Dosis pemupukan sangat tergantung kondisi tanah di mana tembakau ditanam. Hasil pengujian Balittas di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung pada tahun 2014 (Gambar 3) menunjukkan bahwa dosis pupuk sebanyak 75 kg N per ha + 67 kg P2O5 per ha + 153 kg K2O per ha (dosis introduksi) meningkatkan produksi daun basah 20%, produksi rajangan kering 32%, dan meningkatkan indeks mutu sebesar 54% dan indeks tanaman 2 kali lebih tinggi dibandingkan paket petani yang terdiri dari 165 kg N + 54 kg P2O5/ha.

Pupuk P diaplikasikan satu hari sebelum tanam sedangkan pupuk N dan K diaplikasikan dua kali yaitu pada 5 hari setelah tanam (HST) dan 21 HST. Hindari penggunaan pupuk yang mengandung klor (Cl) tinggi karena kadar klor yang tinggi dalam daun tembakau akan menurunkan kualitas tembakau.

 

Pemangkasan dan pembuangan sirung

Tujuan pemangkasan untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan daun, serta memperoleh kualitas sesuai permintaan pasar. Pemangkasan dilakukan setelah keluar bonggol bunga dengan cara memangkas di bawah 3 daun bendera. Tembakau yang telah dipangkas akan keluar sirungnya (tunas ketiak daun) agar pertumbuhannya tidak terkuras oleh pertumbuhan sirung, maka sirung perlu dibuang, dan pembuangan sirung dilakukan tiap 5–7 hari sekali.

 

Panen

Panen dilakukan tepat masak, dengan ciri-ciri warna sudah berubah menjadi hijau kekuningan dan gagangnya mudah dipatahkan pada saat dipetik. Dilakukan pagi hari setelah embun menguap, jangan siang hari karena kondisi daun agak layu. Dalam pemeraman dibutuhkan kadar air cukup agar proses kimia dapat berlangsung. Tidak dianjurkan panen daun muda karena klorofilnya masih stabil sehingga menghasilkan warna hijau mati. Dalam asap rokok klorofil menyebabkan bau langu. Hindari tercampurnya benda asing seperti potongan tali, rafia, tikar, bulu ayam, kertas, kerikil, dsb.

 

Tags:
Melestarikan Kekayaan Tembakau Rejeb Magetan

Kabupaten Magetan di Jawa Timur sudah sejak zaman dahulu memiliki jenis tembakau lokal yang terkenal. Jenis tembakau ini biasa disebut dengan tembakau Rejeb. Berdasarkan sumber informasi dari masyarakat sekitar, tembakau Rejeb ini sudah dibudidayakan sejak awal abad ke 20 dan terus dibudidayakan secara turun-temurun hingga saat ini. Awal mula dibudidayakan tembakau ini dimulai dari Desa Trosono dan Desa Sayutan, Kecamatan Parang-Magetan.

Untuk melestarikan kekayaan sumber daya genetik lokal ini, tim peneliti Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (Balittas) melakukan pelepasan Tembakau Rajangan Magetan yang dinamai varietas Rejeb Parang. Varitas unggul tembakau ini dirilis pada November 2017 dan memiliki ciri produk yang khas, yakni aromanya ampeg (berat).

Produk ini cocok untuk rajangan halus yang permintaannya untuk memenuhi pasar tembakau Temanggungan. Permintaan tembakau Rejeb Parang ini semakin meningkat seiring dengan tingginya konsumsi rokok. Oleh karena itu, varietas unggul Rejeb Parang perlu disosialisasikan secara meluas.

Berdasrkan hasil observasi tim Balittas dan informasi dari Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Magetan, diketahui daerah pengembangan utama tembakau banyak ditanam petani di lahan tegal dan sawah tadah hujan, dengan ketinggian tempat antara 290 - 400 meter di atas permukaan laut. Curah hujan di Kabupaten Magetan antara 100-300 mm per tahun dengan jumlah bulan kering antara 4 – 6 bulan.

Rata-rata luas areal tanaman tembakau dalam lima tahun terakhir mencapai lebih dari 80 ribu hektare dengan produksi sekitar 430 ton per hektare. Di daerah ini, lebih dari 35 persen luas areal tembakau ditanami kultivar varietas tembakau Rejeb Parang 3 dan Rejeb Parang 4. Kedua varietas unggul lokal ini sangat disukai petani dan konsumen. Jenis tembakau Rejeb ini setiap tahun terus dibudidayakan oleh masyarakat Kecamatan Parang. Dengan fluktuasi harga dan cuaca yang kurang bersahabat pun masyarakat tetap antusias untuk menanam tembakau Rejeb.

Namun, luasan penanaman tembakau Rejeb ini naik turun tergantung oleh cuaca dan harga. Rata-rata luas penanaman tembakau Rejeb di Kecamatan Parang berkisar 150 hektare setiap tahunnya. Pola tanam tembakau Rejeb ini adalah bergantian setelah tanaman kacang tanah atau jagung. Sebagian besar penanaman dilakukan di lahan tegal karena sebagian besar lahan di Kecamatan Parang merupakan lahan sawah tadah hujan.

Produksi tembakau Rejeb ini berkisar antara 7-8 ton daun basah per hektare dengan rendemen 8-9 persen sehingga dapat menghasilkan sekitar 700 kilogram tembakau rajangan. Berdasarkan kualitas, tembakau Rejeb parang ini dibagi dalam tiga grade, yaitu grade A, grade B, dan grade C.

Untuk harga masing-masing grade berkisar antara Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu (grade A), Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu (grade B), dan Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu (grade C). Harga tersebut adalah harga per kilogram, akan tetapi masyarakat Kecamatan Parang umumnya tidak menjual tembakau rajangannya dalam satuan kilogram. Mereka biasa menjual dengan satuan upet, yakni setara 2-3 kilogram tembakau rajangan.

Proses pengolahan tembakau Rejeb dimulai dari proses pemeraman. Setelah itu, baru dilakukan perajangan. Keunikan proses perajangan ini adalah dibuangnya sepertiga bagian tulang daun pada daun tembakau Rejeb yang akan dirajang. Proses perajangan ini biasanya dilakukan pada malam hingga pagi hari. Hasil rajangan kemudian ditata di atas widig. Setelah daun tembakau rajangan digelar di atas widig, baru kemudian dijemur. Setelah proses penjemuran dilanjutkan pada proses pengemasan. Pengemasan ini dalam satuan upet. Dalam satu upet terdiri dari 10 emplok yang terdiri dari 20 eler daun tembakau rajangan kering.

Proses pengolahan daun tembakau Rejeb yang panjang inilah yang menjadikan tembakau Rejeb memiliki pasar yang baik dengan harga yang relatif tinggi dikarekan proses grading yang ketat selama proses pengolahan sehingga dihasilkan tembakau rajangan kering dengan kualitas yang prima.

Ruly Hamida

Artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

Penggerek batang tebu merupakan kelompok hama yang menyerang batang. Penggerek batang tebu yang menyerang di Indonesia terdiri atas 6 spesies ya-itu penggerek batang bergaris Chilo saccharipagus Bojer, penggerek batang berkilat Chilo auricilius Dudgeon, penggerek batang abu-abu Tetramoera schistaceana Snellen, penggerek batang kuning Chilo infuscatellus Snellen, penggerek batang jambon Sesamia inferens Walker, dan penggerek batang raksasa Phragmataecia castaneae Hubner.

Keberadaan penggerek batang dijumpai mulai tanaman tebu berumur 1,5–2 bulan. Faktor yang mempengaruhi populasi dan tingkat serangan peng-gerek batang tidak berbeda dengan penggerek pucuk yaitu faktor umur ta-naman, varietas, lingkungan, dan perilaku pengelolaan tanaman. Intensitas serangan penggerek batang di perkebunan tebu rakyat pada umumnya relatif rendah. Nurindah et al. (2013) dan Sunarto et al. (2015) melaporkan bahwa intensitas terbesar penggerek batang di Malang dan Situbondo tidak lebih dari 5% (pada gambar dibawah). Hal tersebut terjadi karena faktor mortalitas biotik mampu menekan populasi kompleks penggerek (Sunarto et al. 2015). Kondisi keseimbangan alami tersebut perlu dipertahankan dengan cara melaksanakan budi daya tanaman tebu yang ramah lingkungan.

Serangan penggerek pada suatu pertanaman tebu dapat disebabkan oleh lebih satu spesies. Karakter serangan masing-masing spesies agak sulit dibe-dakan, kerusakan yang timbul pada daun akibat ulat hama penggerek yang baru menetas dari telur yang terletak di daun. Selanjutnya ulat akan menggerek batang sesuai dengan pertambahan umurnya. Setiap jenis ulat penggerek akan meninggalkan bekas-bekas serangan sesuai dengan cara hidupnya masing-masing. Oleh sebab itu, bekas serangan yang ada sering kali merupakan tanda yang khas dan dapat dijadikan pedoman untuk mengenal penggerek yang bersangkutan. Pada umumnya kerusakan yang disebabkan oleh penggerek batang tidak dirasakan oleh kebanyakan petani. Secara fisik kerusakan tanaman tidak nampak dan tanaman tetap terlihat tumbuh normal. Hal ini sangat berbeda dengan gejala serangan penggerek pucuk dan uret yang secara fisik kerusakannya nampak.

Mengintip Peluang Industri Gula Merah Tebu

Tebu adalah komoditas pertanian yang banyak ditanam di Indonesia. Tebu sebagian besar dimanfaatkan sebagai bahan baku industri gula pasir (gula kristal). Gula pasir diproduksi dengan proses fisikawi dan kimiawi (bantuan penambahan zat kimia) selama proses berlangsung, sehingga memungkinkan adanya efek kurang baik untuk kesehatan, misalnya diabetes.

Gula merah, selain bisa diproduksi dari nira pohon palma, bisa juga diproduksi dengan nira tebu. Gula merah tebu ini mempunyai bentuk seperti gula merah yang berada di pasaran dengan citarasa manis, seperti gula pasir dan berwarna cokelat.

Gula merah tebu lebih sehat dari pada gula aren. Gula merah tebu yang sudah banyak diproduksi dalam bentuk gula semut (butiran) dan dikemas dengan nama brown sugar. Gula semut banyak digunakan sebagai bahan baku tambahan pada industri kecap. Gula merah tebu ini bisa dijadikan alternatif pengganti gula pasir maupun gula merah.

Gula merah adalah gula yang terbuat dari nira pohon palma seperti aren, nipah, siwahan, dan kelapa. Gula merah dikenal juga dengan nama gula aren (terbuat dari nira pohon aren) dan gula kelapa (terbuat dari nira pohon kelapa). Di Pulau Jawa, gula merah banyak dikenal dengan nama gula Jawa. Gula merah berbentuk setengah elips atau silinder. Gula merah mempunyai beragam warna, seperti cokelat kuning sampai cokelat kehitaman.

Gula merah hampir menjadi kebutuhan pokok terutama bagi orang Jawa karena banyak digunakan sebagai bahan tambahan berbagai macam olahan makanan dan industri kecap.

Proses pengolahan gula merah tebu meliputi pemerahan, pemurnian nira, pemasakan, dan pencetakan. Batang tebu yang sudah dibersihkan dari daun kering diperah menggunakan mesin giling (mesin pres). Hasil pemerahan ini menghasilkan ampas tebu (bagas) dan nira. Bagas ini bisa dijemur dan digunakan sebagai bahan bakar pemasakan nira.

Nira yang dihasilkan seringkali masih mengandung kotoran benda padat, sehingga perlu disaring untuk menghasilkan nira yang bersih. Nira yang sudah bersih dimasak dalam 5 wajan yang berderet sampai mendidih. Nira tebu pada wajan pertama ditambahkan air kapur sekitar 0,02 persen (sampai pH 7) sebagai penjernih nira.

Penambahan air kapur ini mengikat kotoran-kotoran yang masih tertinggal di nira. Setelah penambahan air kapur nira muncul gumpalan kotoran dari nira dalam wajan. Gumpalan kotoran diambil menggunakan serok penyaring. Selanjutnya, nira dimasak dengan pengadukan sampai mengental. Nira yang sudah mengental dicetak menggunakan cetakan berbentuk silinder.

Gula merah tebu mempunyai peluang industri cukup besar karena permintaan konsumen terhadap gula merah tebu tinggi dan kesempatan ekspor besar. Dengan adanya gula merah tebu ini diharapkan bisa mengurangi konsumsi gula pasir dan menambah variasi gula merah.

Garusti

Artikel telah terbit sebelumnya direpublika.co.id

Jarak Pagar untuk Bahan Bakar Nabati

Beberapa dekade terakhir ini, masalah keterbatasan cadangan energi fosil sebagai bahan bakar minyak (BBM) dan kepedulian terhadap lingkungan hidup mulai menjadi perhatian di seluruh dunia. Hal ini karena BBM berasal dari sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui. Ketersediaannya semakin berkurang dan harga minyak dunia yang semakin meningkat, sedangkan kebutuhan masyarakat terhadap BBM justru semakin meningkat.

Salah satu tanaman yang bisa dijadikan sebagai sumber energi alternatif terbarukan (bahan bakar nabati) adalah jarak pagar dengan memanfaatkan kandungan minyak dari biji. Biji jarak pagar mengandung rendemen minyak nabati sebesar 35 sampai 45 persen. Minyak tersebut dapat diproses menjadi minyak biodiesel (pengganti solar) dan minyak bakar (pengganti minyak tanah).

Jarak pagar (Jatropha curcas L) banyak tumbuh di daerah tropis, meskipun sebenarnya merupakan tanaman asli dari Amerika Tengah. Di Indonesia, tanaman ini sudah sejak lama dikenal sebagai obat herbal, bahan bakar (obor), dan pagar hidup di pekarangan atau pembatas lahan.

Pada jaman penjajahan Jepang di Indonesia, ketika mereka kehabisan BBM, orang kita disuruh untuk membuat minyak diesel dari jarak pagar. Kemudian, minyak tersebut digunakan untuk menggerakkan mesin-mesin perang mereka.

Pemilihan jarak pagar sebagai penghasil biodiesel lantaran jarak tidak bersaing dengan tanaman penghasil tanaman untuk lahan penanaman. Selain itu, daya adaptasi jarak di lapang juga bagus. Dengan menjadikan jarak sebagai biodiesel, maka dapat mengurangi polusi pada lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada BBM (Krisnamurthi, 2006; Prastowo, 2007; Effendi dan Karmawati, 2009).

Beberapa kelebihan dari biodiesel antara lain, biodiesel memiliki bilangan kualitas pembakaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan solar yang ada di pasaran; biodiesel merupakan bahan bakar beroksigen sehingga penggunaannya akan mengurangi emisi CO dan jelaga hitam pada gas buang atau lebih ramah lingkungan; memiliki titik kilat tinggi yang pada temperatur tertinggi dapat menyebabkan uap biodiesel dapat menyala sehingga biodiesel ini lebih aman dari bahaya kebakaran; tidak mengandung belerang dan benzena yang bersifat karsinogen serta dapat diuraikan secara alami sehingga ramah lingkungan; dilihat dari segi pelumasan mesin, biodiesel lebih baik daripada solar sehingga pemakaian biodiesel dapat memperpanjang umur pakai mesin.

Untuk mendukung pengembangan jarak pagar sebagai sumber bahan bakar nabati, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat telah merakit varietas unggul baru jarak pagar dan sudah dilepas pada 2017, yaitu Jet 1 Agribun dan Jet 2 Agribun beserta teknologi pendukungnya. Varietas Jet 1 Agribun memiliki potensi hasil 1,09 ton sampai maksimum 2,33 ton per hektare dengan kadar minyak 37,44 persen dan moderat terhadap cekaman kekeringan. Sedangkan varietas Jet 2 Agribun memiliki potensi hasil 1,08 ton sampai maksimum 2,64 per hektare dengan kadar minyak 35,80 persen dan moderat terhadap cekaman kekeringan.

Kedua varietas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk program pengembangan di daerah Indonesia Timur yang beriklim kering terutama di daerah yang belum terjangkau listrik. Dengan produktivitas yang tinggi akan mempercepat tersedianya biji jarak pagar sebagai bahan baku biofuel secara berkelanjutan untuk mesin pembangkit listrik.

Pengembangan kedua varietas tersebut bisa didorong dengan melakukan diseminasi berupa demplot, terutama di daerah pengembangan jarak pagar. Sosialiasi bahwa jarak pagar bisa ditumpangsari dengan tanaman lain maupun pemanfaatan jarak pagar untuk produk selain bahan bakar nabati akan menjadi penghasilan tambahan bagi petani yang mengembangkan jarak pagar.

Di samping itu, perlu dukungan dari pemerintah guna menentukan harga yang ekonomis untuk nilai jual biji jarak pagar bagi petani dan minyak biji jarak pagar sebagai sumber bahan bakar nabati bagi pengusaha. Selain itu, diperlukan komitmen dari pemerintah untuk menggunakan bahan bakar nabati sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM).

Aprilia Ridhawati

Artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

Subkategori

Halaman 1 dari 7

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
5630755
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
2449
9929
12378
62060
74438
2506329
5630755

Your IP: 3.215.182.36
2019-12-09 03:54:27
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.