Keberadaan pertanaman tebu pada saat ini didominasi oleh pertanaman ratoon (RC) yang memiliki kecenderungan produktivitas yang menurun seiring dengan bertambahnya periode ratoon. Petani lebih memilih pertanaman ratoon disebabkan karena tanam tebu baru (PC) memerlukan biaya tinggi dari kegiatan bongkar ratoon dan pengadaan benih tebu yang banyak mencapai 10 ton/ha bagal atau 17.000 budchip.

Tebu kepras atau ratoon perlu dilakukan pemeliharaan agar produktivitas dan rendemennya tetap terjaga dengan baik. Salah satu kegiatan rawat ratoon adalah kepras tebu agar didapatkan tunas baru yang tumbuh dari dalam tanah sehingga pertunasan dan perakaran tanaman tebu lebih baik. Penyulaman merupakan kegiatan penanaman untuk mengantikan benih tebu yang tidak tumbuh, baik pada tanaman baru ataupun lama (kepras) dapat berupa benih rayungan, seblangan, atau budchip agar diperoleh populasi tebu yang optimal dengan jumlah batang terpanen mencapai 72.500–75.000 batang/ha. Pedot oyot merupakan kegiatan pemutusan akar tebu RC yang sudah tua agar didapatkan pertumbuhan akar baru sehingga serapan hara dan air tinggi, laju pertumbuhan calon anakan lebih baik, cepat, dan seragam.

Pertanaman tebu RC yang diusahakan terus menerus akan mengalami penurunan kandungan bahan organik tanah sampai dengan 50%. Penurunan bahan organik tanah berpengaruh buruk terhadap sifat fisik tanah, kimia dan biologi tanah. Pemberian bahan organik berupa pupuk kandang atau kompos dapat menggemburkan tanah, meningkatkan daya simpan air, kegiatan jasad renik berkembang dan menyuburkan tanah. Menejemen tebu ratoon yang baik dapat menjadi penentu faktor keberhasilan dalam pencapaian produktivitas dan rendemen tebu ratoon yang optimal. Manajemen tebu ratoon meliputi manajemen seresah, populasi tanaman, pemupukan, kebutuhan air, pengendalian gulma dan hama penyakit. Pemberian seresah (tanpa dibakar) di lahan mampu mempertahankan rata-rata produktivitas mulai RC 3 sampai RC 7 sebesar 125 ton/ha. Jumlah tunas yang di harapkan dalam fase pertunasan diupayakan di antara 75.000–80.000 tunas per hektar. Pemupukan beberapa dosis NPK dengan pengaturan seresah yang diletakkan antar baris tanaman tebu ratoon dapat memberikan rata-rata produktivitas selama periode 8 tahun tebu ratoon berkisar antara 142–158 ton/ha. Tumpang sari menggunakan palawija (jagung, kacang, kedelai) didapatkan produktivitas berkisar antara 71,75–95,67 ton/ha.

Tanaman tembakau telah lama dibudidayakan di Indonesia, mulai jaman penjajahan Belanda sampai sekarang. Pemanfaatan tembakau dari dulu hingga sekarang masih terbatas hanya sebagai bahan baku rokok. Hal ini karena semakin meningkatnya permintaan rokok di Indonesia. Disisi lain peningkatan jumlah perokok menyebabkan munculnya masalah lain yaitu peningkatan penyakit akibat rokok, baik pada perokok aktif maupun pasif. Hal ini membuat pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Aditif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan (PP Tembakau), Pasal 58 ayat (1) menyebutkan bahwa diversifikasi dimaksudkan agar penggunaan produk tembakau tidak membahayakan bagi kesehatan. Pengamanan produk tembakau (rokok) adalah melindungi generasi muda dari bahaya produk tembakau karena bersifat adiktif dan berdampak negatif bagi kesehatan. Oleh karena itu diperlukan diversifikasi produk tembakau non rokok seperti pestisida nabati, minyak atsiri, pupuk, bio oil yang penggunaannya memberikan manfaat kepada petani tembakau pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, serta mendukung PP tembakau. Diversifikasi produk tembakau non rokok dapat dibuat dari bahan limbah pertanian tembakau yang sudah terbuang seperti batang, daun pucuk, biji dan rontokan daun atau debu tembakau di gudang. Dengan memanfaatkan limbah tembakau untuk dibuat menjadi suatu produk yang bisa dijual maka dapat menambah pendapatan petani tembakau serta meningkatkan kesejahteraannya. Tulisan ini membahas tentang pemanfaatan limbah tembakau untuk diversifikasi produk tembakau non rokok serta potensinya yang besar untuk dipasarkan.

Elda Nurnasari* dan Subiyakto
Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Malang – Seminar Lingkup Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat dilaksanakan pada hari Selasa (18/10/16) dengan pembicara Bapak Dr. Ir. Budi Hariyono, MP. Acara tersebut dilaksanakan di Aula Jatropha dengan peserta Peneliti dan Teknisi lingkup Balittas. Seminar dibuka oleh Plh. Kepala Balittas, Ir. Moch. Machfud, MP.

Judul seminar yang disampaikan Bapak Budi Hariyono adalah Biochar untuk Memperbaiki Kualitas Tanah Bertekstur Pasir dan Pengaruhnya Pada Tebu. Beliau menyampaikan bahwa dalam mendukung target swasembada gula dapat dilakukan dengan peningkatan produktivitas dan rendemen (intensifikasi), perluasan areal (ekstensifikasi), dan upaya off-farm yang mendukung.

Untuk perluasan areal, Indonesia mempunyai potensi lahan berpasir seluas 67.883 km2. Namun tanah berpasir ini memiliki kekurangan yaitu kualitas rendah, daya pegang air rendah, KTK rendah, kesuburan rendah, dan pencucian N. Menurut beliau, teknologi Biochar dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas lahan tersebut. Biochar berasal dari kata biomass (biomassa) dan charcoal (arang). Biochar adalah arang yang dihasilkan dari materi tanaman dan disimpan dalam tanah sebagai suatu cara menghilangkan karbondioksida dari atmosfer (Oxford Dictionary 2013).

Dalam presentasinya beliau menjelaskan bahwa serasah tebu dapat dikonversi menjadi biochar dengan cara sederhana, dengan karakter yang baik. Biochar serasah tebu dapat dimanfaatkan sebagai pembenah tanah untuk memperbaiki kualitas tanah berpasir dan lebih stabil. Alternatif pengelolaan limbah serasah tebu untuk dijadikan biochar dengan cara yang mudah. Diharapkan panen batang tebu lebih baik sehingga tebu yang dibawa ke pabrik gula bersih dari serasah. Dengan memanfaatkan limbah serasah tebu, maka energi dari perkebunan tebu akan kembali ke lahan tebu. Biochar dapat digunakan sebagai alternatif pengelolaan tebu yang dikembangkan di lahan kering berpasir yang berproduksi lebih baik dan berkelanjutan, dan dapat menjadi sumbangan iptek.

Dari hasil kegiatan penelitian tentang biochar dilaksanakan oleh Bapak Budi Haryono, menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:

  1. Serasah tebu dapat dikonversi menjadi biochar dengan teknik sederhana dan dapat dilakukan langsung di lahan tebu. Karakteristik kimia biochar serasah setara dengan yang dibuat dengan vacuum pyrolysis. Teknik drum kiln lebih mudah dilaksanakan dengan hasil dan karakter biochar yang baik.
  2. Aplikasi biochar dan bahan pembenah tanah lainnya dapat memperbaiki kualitas tanah bertekstur pasir. Sifat tanah yang diperbaiki yaitu, kemantapan agregat, porositas, berat isi, kadar air tanah, C dan ketersediaan hara. Pengaruh biochar setara dengan pupuk kandang dan bahan pembenah tanah lainnya. Maka limbah serasah tebu dapat diaplikasikan ke tanah berpasir dalam bentuk biochar. Limbah tebu lainnya (abu ketel dan blotong ) juga dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah berpasir. Kombinasi biochar + pupuk kandang atau kompos menunjukkan sinergi positif. Perbaikan sifat tanah berpasir karena aplikasi biochar masih nampak pada tahun kedua.
  3. Perbaikan kualitas tanah yang terjadi akibat aplikasi biochar serasah tebu dan bahan pembenah tanah lainnya di tanah bertekstur pasir tidak nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil tebu. Ini isebabkan adanya faktor pembatas C-organik dan N-total tanah yang sangat rendah dan KTK rendah.(isni)

Akselerasi penggunaan benih unggul tebu dengan Pembibitan bud chip terus digalakkan pada tingkat penangkar Kebun Benih Datar (KBD) dan petani pengembang untuk memenuhi permintaan bibit dalam mendukung program bongkar ratoon dan tanam tebu baru (plan cin). Penggunaan bahan tanam tebu bud chip merupakan penerapan teknologi budidaya tebu dalam upaya pencapaian program swasembada gula nasional.

Pembibitan tebu budchips merupakan langkah maju pada penerapan program bongkar ratoon yang sering mendapat kesulitan memenuhi kebutuhan bibit bersertifikat yang diperoleh dari Kebun Bibit Datar ( KBD). Penggunaan benih unggul tebu bud chips dalam 1 hektar kebun Bibit Datar ( KBD) menghasilkan benih 50-60 ton setara 350.000- 420.000 mata tunas budchips. Kebutuhan bibit budchips dalam satu hektar pertanaman baru plane cin diperlukan 12000-18000 batang bibit setara 2-2,5 ton bagal. Sehingga dalam 1 ha luasan kebun bibit datar (KBD) mampu memenuhi kebutuhan areal tanam baru ( plane cin) mencapai 29 - 35 ha. Pembuatan kebun bibit datar memerlukan biaya besar dengan penggunaan bibit tebu bud chips ini lebih evisien dan mampu menekan luas areal Kebun Bibit Datar ( KBD) mencapai 75-80%.

Kurang tercapainya sasaran program bokar ratoon selama ini akibat terbatasnya bibit bersertifikat dari KBD karena kebutuhan bibit untuk tanam baru (plane cin) dari bagal memerlukan 8-10 ton bibit bagal perhektar sehingga 1 ha bibit dari KBD hanya mencukupi luas tanam baru 7-8 ha saja.

Keunggulan bibit tebu budchip bagaikan “pendekar satu mata” karena bud chips setelah dipindahkan kelapang tebu mampu membentuk anakan 10-20 anakan. Anakan tersebutakan tumbuh sempurna sampai panen 8-10 batang per rumpun sedangkan bibit dari bagal anakan yang terbentuk 1-4 anakan saja. Yang lebih membanggakan bahwa bibit budchip dalam pembentukan anakan serempak pada umur 1-3 bulan. Pertumbuhan tanaman tebu sejak awal tumbuh seragam menjadikan tingkat kemasakan tebu dilapang sama mampu meningkatkan rendemen dan produksi persatuan luas tanam.

Penanaman tebu diwilayah pengembangan dari bibit bud chips ini ditekankan pada areal yang berpengairan teknis atau daerah yang sebaran curah hujannya jelas dengan harapan dapat menekan resiko kematian dan jumlah penyulaman akibat mati kekeringan diawal tanam.

Kapuk Togo B

Varietas Togo B merupakan hasil seleksi dari varietas introduksi Togo yang berasal dari Togo di Afrika. Varietas ini menunjukkan potensi hasil gelondong yang tinggi dengan jumlah gelondong 41.428 gelondong/ha atau 2.551 gelondong/pohon pada umur 40 tahun. Ketika masih muda (12 tahun), varietas ini sudah mampu menghasilkan 845 gelondong/pohon. Serat yang dihasilkan oleh Togo B putih mengkilat, dan buahnya tidak pecah di pohon. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo-B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo-B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.

Kode persilangan : Introduksi dari Afrika (Togo)
Tipe pertumbuhan : Karibea
Produktivitas : 2.500 gelondong/pohon/tahun
Berat gelondong : 4,12 kg/100 gelondong
Kandungan serat : 0,76 kg/100 gelondong
Warna serat : Putih, panjang, grade AJK
Ketahanan terhadap benalu : Kurang disukai benalu

 

Varietas kapuk hibrida MH 3 merupakan hasil persilangan antara klon Congo 2 (tipe Kari-bea) dengan klon lokal Lanang (tipe Indika). Klon Congo merupakan klon introduksi dari Congo, Afrika, yang produksinya mencapai 2.500–3.000 gelondong/pohon. Klon Lanang merupakan klon lokal yang mempunyai kelebihan warna serat putih mengkilat, tetapi produksinya rendah yaitu sekitar 750 gelondong/pohon. Varietas MH 3 produksinya dapat mencapai 2.400 gelon-dong/pohon yang lebih tinggi 18–20% dibanding MH 1 dan 27–30% dibanding MH2 yang sudah dilepas. Hasil seratnya berwarna putih mengkilat yang sangat disukai petani dan eksportir kare-na sesuai dengan kualitas “Java Kapok”. Pengembangannya disarankan secara okulasi karena, perkembangan melalui biji akan mengalami segrgasi.

Kode persilangan : Congo 2 X Lanang
Tipe pertumbuhan : Karibea
Produktivitas : 2.400 gelondong/pohon/tahun
Berat gelondong : 4,54 kg/100 gelondong
Kandungan serat : 21,47%
Warna serat : Putih mengkilat
Ketahanan terhadap benalu : -

 

Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan penghasil tembakau kedua terbesar setelah Jawa Timur dengan areal rata-rata seluas 55.000 ha dan produksi rata-rata sebesar 40.040 ton per tahun; atau sebesar 23,5% dan 21,47% dari total areal dan produksi nasional. Sebagian besar dari produksi tembakau di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah tembakau rajangan voor oogst (panen musim kemarau). Tembakau rajangan VO dari daerah di Jawa Tengah dan DIY, selain Temanggung, umumnya digunakan sebagai bahan pengisi dan ditanam di lahan tegal. Terjadinya perubahan selera perokok ke sigaret yang ringan dalam racikan memerlukan komposisi tembakau filler mutu baik lebih banyak, yang mengakibatkan berpindahnya penanaman tembakau dari lahan tegal. Untuk memenuhi mutu tersebut, tembakau harus diusahakan pada lahan berpengairan teknis. Adanya pergeseran penanaman dari lahan tegal ke lahan sawah menyebabkan terjadinya pergeseran jenis varietas yang ditanam. Pada tahun 1994, Pabrik Rokok Gudang Garam mengintroduksi tembakau rajangan Bligon ke Kabupaten Sleman. Pada awalnya tembakau tersebut kurang diminati petani karena penampilan fenotipa yang sangat beragam dan rendahnya produksi yang dihasilkan. Pada tahun 1995–1997 Balittas bekerja sama dengan PR Gudang Garam memurnikan populasi kultivar-kultivar tembakau yang sesuai untuk lahan sawah di Sleman dan mengevaluasi daya hasil dan mutu galur-galur yang diperoleh. Dari sejumlah galur yang dievaluasi, diperoleh galur yang sesuai untuk dikembangkan di Sleman dengan mutu yang sesuai untuk PR Gudang Garam yaitu galur Bligon dengan potensi produksi 1,2–1,4 ton rajangan kering/ha dan kadar nikotin 2–3%. Pada tahun 2006 galur tersebut diputihkan/dilepas dengan nama Bligon 1 berdasarkan SK Mentan No: 127/Kpts/SR.120/2/2007. Saat ini varietas Bligon 1 tidak hanya ditanam di Kabupaten Sleman, tetapi berkembang sampai ke Kabupaten Magelang, Muntilan, dan Prambanan, dengan luas areal penanaman mencapai 3.000 ha. Produktivitas Bligon 1 di tingkat petani berkisar antara 1–1,2 ton rajangan kering/ha. Dengan harga rajangan kering per kg berkisar antara Rp25.000,00–Rp40.000,00, maka pendapatan petani mencapai Rp33.000.000,00/ha.

  Karateristik Bligon 1

Bentuk daun : Lonjong
Ujung daun : Meruncing
Tepi daun : Rata
Permukaan daun : Rata
Phylotaxi : 2/5, putar ke kiri
Indeks daun : 0,55
Produksi : 1,2-1,4 ton rajangan kering/ha.
Indeks mutu : 84,35
Kadar nikotin : 2-3

Tags:

Subkategori

Halaman 1 dari 7

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
5982173
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
4478
8832
36499
57227
179430
5556317
5982173

Your IP: 35.175.201.14
2020-01-23 15:48:40
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.