Pembibitan Tebu Bud Chips

PEMBIBITAN TEBU SISTEM BUDCHIPS PADA NAMPAN TRAY

Akselerasi penggunaan benih unggul tebu dengan Pembibitan bud chip terus digalakkan pada tingkat penangkar Kebun Benih Datar (KBD) dan petani pengembang untuk memenuhi permintaan bibit dalam mendukung program bongkar ratoon dan tanam tebu baru (plan cin). Penggunaan bahan tanam tebu bud chip merupakan penerapan teknologi budidaya tebu dalam upaya pencapaian program swasembada gula nasional.

Pembibitan tebu budchips merupakan langkah maju pada penerapan program bongkar ratoon yang sering mendapat kesulitan memenuhi kebutuhan bibit bersertifikat yang diperoleh dari Kebun Bibit Datar ( KBD). Penggunaan benih unggul tebu bud chips dalam 1 hektar kebun Bibit Datar ( KBD) menghasilkan benih 50-60 ton setara 350.000- 420.000 mata tunas budchips. Kebutuhan bibit budchips dalam satu hektar pertanaman baru plane cin diperlukan 12000-18000 batang bibit setara 2-2,5 ton bagal. Sehingga dalam 1 ha luasan kebun bibit datar (KBD) mampu memenuhi kebutuhan areal tanam baru ( plane cin) mencapai 29 - 35 ha. Pembuatan kebun bibit datar memerlukan biaya besar dengan penggunaan bibit tebu bud chips ini lebih evisien dan mampu menekan luas areal Kebun Bibit Datar ( KBD) mencapai 75-80%.

Kurang tercapainya sasaran program bokar ratoon selama ini akibat terbatasnya bibit bersertifikat dari KBD karena kebutuhan bibit untuk tanam baru (plane cin) dari bagal memerlukan 8-10 ton bibit bagal perhektar sehingga 1 ha bibit dari KBD hanya mencukupi luas tanam baru 7-8 ha saja.

Keunggulan bibit tebu budchip bagaikan “pendekar satu mata” karena bud chips setelah dipindahkan kelapang tebu mampu membentuk anakan 10-20 anakan. Anakan tersebutakan tumbuh sempurna sampai panen 8-10 batang per rumpun sedangkan bibit dari bagal anakan yang terbentuk 1-4 anakan saja. Yang lebih membanggakan bahwa bibit budchip dalam pembentukan anakan serempak pada umur 1-3 bulan. Pertumbuhan tanaman tebu sejak awal tumbuh seragam menjadikan tingkat kemasakan tebu dilapang sama mampu meningkatkan rendemen dan produksi persatuan luas tanam.

Penanaman tebu diwilayah pengembangan dari bibit bud chips ini ditekankan pada areal yang berpengairan teknis atau daerah yang sebaran curah hujannya jelas dengan harapan dapat menekan resiko kematian dan jumlah penyulaman akibat mati kekeringan diawal tanam.

 

Tags:

Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan penghasil tembakau kedua terbesar setelah Jawa Timur dengan areal rata-rata seluas 55.000 ha dan produksi rata-rata sebesar 40.040 ton per tahun; atau sebesar 23,5% dan 21,47% dari total areal dan produksi nasional. Sebagian besar dari produksi tembakau di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) adalah tembakau rajangan voor oogst (panen musim kemarau). Tembakau rajangan VO dari daerah di Jawa Tengah dan DIY, selain Temanggung, umumnya digunakan sebagai bahan pengisi dan ditanam di lahan tegal. Terjadinya perubahan selera perokok ke sigaret yang ringan dalam racikan memerlukan komposisi tembakau filler mutu baik lebih banyak, yang mengakibatkan berpindahnya penanaman tembakau dari lahan tegal. Untuk memenuhi mutu tersebut, tembakau harus diusahakan pada lahan berpengairan teknis. Adanya pergeseran penanaman dari lahan tegal ke lahan sawah menyebabkan terjadinya pergeseran jenis varietas yang ditanam. Pada tahun 1994, Pabrik Rokok Gudang Garam mengintroduksi tembakau rajangan Bligon ke Kabupaten Sleman. Pada awalnya tembakau tersebut kurang diminati petani karena penampilan fenotipa yang sangat beragam dan rendahnya produksi yang dihasilkan. Pada tahun 1995–1997 Balittas bekerja sama dengan PR Gudang Garam memurnikan populasi kultivar-kultivar tembakau yang sesuai untuk lahan sawah di Sleman dan mengevaluasi daya hasil dan mutu galur-galur yang diperoleh. Dari sejumlah galur yang dievaluasi, diperoleh galur yang sesuai untuk dikembangkan di Sleman dengan mutu yang sesuai untuk PR Gudang Garam yaitu galur Bligon dengan potensi produksi 1,2–1,4 ton rajangan kering/ha dan kadar nikotin 2–3%. Pada tahun 2006 galur tersebut diputihkan/dilepas dengan nama Bligon 1 berdasarkan SK Mentan No: 127/Kpts/SR.120/2/2007. Saat ini varietas Bligon 1 tidak hanya ditanam di Kabupaten Sleman, tetapi berkembang sampai ke Kabupaten Magelang, Muntilan, dan Prambanan, dengan luas areal penanaman mencapai 3.000 ha. Produktivitas Bligon 1 di tingkat petani berkisar antara 1–1,2 ton rajangan kering/ha. Dengan harga rajangan kering per kg berkisar antara Rp25.000,00–Rp40.000,00, maka pendapatan petani mencapai Rp33.000.000,00/ha.

  Karateristik Bligon 1

Bentuk daun : Lonjong
Ujung daun : Meruncing
Tepi daun : Rata
Permukaan daun : Rata
Phylotaxi : 2/5, putar ke kiri
Indeks daun : 0,55
Produksi : 1,2-1,4 ton rajangan kering/ha.
Indeks mutu : 84,35
Kadar nikotin : 2-3

Tags:

Oleh : Sulis Nur Hidayati dan Supriyadi

PENDAHULUAN

Kabupaten Temanggung merupakan salah satu daerah penghasil tembakau rajangan di Jawa Tengah yang memiliki rasa sebagai lauk. Areal penanaman-nya meliputi lereng gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau. Potensi areal tembakau Temanggung sekitar 9.326 ha dengan produksi 9.496 ton. Hampir semua industri rokok keretek membutuhkan tembakau temanggung, namun demikian produksinya masih tergolong rendah yaitu hanya 0,5 ton per hektar. Oleh karena itu penerapan teknologi budi daya yang tepat perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi dan mutu tembakau temanggung.

Tembakau Temanggung sesuai ditanam di daerah dengan ketinggian 400 m dpl. sampai dengan 1.500 m dpl., curah hujan antara 2.200–3.100 mm/ tahun dengan 8–9 bulan basah dan 3–4 bulan kering. Tanah yang sesuai untuk tembakau adalah tanah yang gembur, remah, drainase baik, dan mudah mengikat air serta pH sekitar 5,5–6,5.

Persemaian

Bibit yang sehat merupakan salah satu faktor penting keberhasilan budi daya tembakau. Untuk mendapatkan bibit yang sehat dan seragam perlu diperhatikan beberapa aspek dalam persemaian, di antaranya pemilihan lahan yang subur, gembur, dan berdrainase baik. Usahakan lahan dekat dengan sumber air untuk memudahkan dalam penyiraman. Bedengan diberi atap yang dibuat dari jerami, alang-alang, daun kelapa atau plastik yang dapat dibuka dan ditutup. Penyiraman dilakukan secara teratur pagi dan sore sejak benih ditabur. Setelah bibit berumur 2–3 minggu atap perlu dibuka pada pagi hari dan ditutup pada siang hari. Bila bibit sudah mempunyai daun dengan lebar 5 cm atap dapat di buka sepanjang hari.

Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah bertujuan untuk memperbaiki aerasi tanah. Pengolahan tanah juga bertujuan agar tanah lebih gembur sehingga mudah untuk ditembus akar tanaman. Lahan-lahan tembakau di Kabupaten Temanggung memiliki kemiringan datar sampai terjal. Pada lahan datar, pengolahan tanah dilakukan dengan mencangkul, 1–2 hari dilanjutkan dengan pembuatan guludan setinggi 25–30 cm (Gambar 1). Guludan berfungsi untuk meminimalkan jumlah tanaman yang mati akibat adanya genangan air. Jarak tanam 110 cm x 50 cm. Got keliling dibuat untuk memudahkan pembuangan air saat terjadi kelebihan air.

Sebagian besar lahan di Kabupaten Temanggung meru-pakan lahan miring. Lahan dengan kemiringan lahan > 15% memiliki potensi terjadinya erosi, sehingga pengolahan lahan minimal diperlukan untuk mengurangi kehilangan bahan organik tanah akibat tererosi. Pengolahan tanah minimal dapat dilakukan dengan memperbaiki alur-alur erosi yang umum dijumpai pada tanah-tanah Andisol.

 

Penanaman

Bibit siap dipindah ke lapang pada umur 40–45 hari. Sebelumnya dipilih bibit yang sehat, seragam, dan akarnya banyak. Bibit ditanam di lubang tanam dengan kedalaman penanaman sebatas batang atau leher akar, kemudian ditutup dengan tanah yang gembur. Sebaiknya tanam dilakukan sore hari saat intensitas cahaya matahari sudah berkurang. Sulaman sebaiknya tidak lebih dari 10 hari dari tanam pertama agar diperoleh pertumbuhan dan umur panen yang seragam. Penyiraman dilakukan menyesuaikan dengan kondisi kelembapan tanahnya.

Pendangiran, pembumbunan, dan penyiangan

Pendangiran dilakukan pada 3 minggu setelah tanam, sambil dibumbun tanah disiangi sehingga tanaman tidak terganggu oleh tanaman gulma. Hal tesebut dilakukan kembali setelah tanaman berumur 5 minggu dan terakhir setelah tanaman berumur 7 minggu

Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan cara ditugal (Gambar 2) dengan memperhatikan dosis dan waktu aplikasinya. Dosis pemupukan sangat tergantung kondisi tanah di mana tembakau ditanam. Hasil pengujian Balittas di Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Kabupaten Temanggung pada tahun 2014 (Gambar 3) menunjukkan bahwa dosis pupuk sebanyak 75 kg N per ha + 67 kg P2O5 per ha + 153 kg K2O per ha (dosis introduksi) meningkatkan produksi daun basah 20%, produksi rajangan kering 32%, dan meningkatkan indeks mutu sebesar 54% dan indeks tanaman 2 kali lebih tinggi dibandingkan paket petani yang terdiri dari 165 kg N + 54 kg P2O5/ha.

Pupuk P diaplikasikan satu hari sebelum tanam sedangkan pupuk N dan K diaplikasikan dua kali yaitu pada 5 hari setelah tanam (HST) dan 21 HST. Hindari penggunaan pupuk yang mengandung klor (Cl) tinggi karena kadar klor yang tinggi dalam daun tembakau akan menurunkan kualitas tembakau.

 

Pemangkasan dan pembuangan sirung

Tujuan pemangkasan untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan daun, serta memperoleh kualitas sesuai permintaan pasar. Pemangkasan dilakukan setelah keluar bonggol bunga dengan cara memangkas di bawah 3 daun bendera. Tembakau yang telah dipangkas akan keluar sirungnya (tunas ketiak daun) agar pertumbuhannya tidak terkuras oleh pertumbuhan sirung, maka sirung perlu dibuang, dan pembuangan sirung dilakukan tiap 5–7 hari sekali.

 

Panen

Panen dilakukan tepat masak, dengan ciri-ciri warna sudah berubah menjadi hijau kekuningan dan gagangnya mudah dipatahkan pada saat dipetik. Dilakukan pagi hari setelah embun menguap, jangan siang hari karena kondisi daun agak layu. Dalam pemeraman dibutuhkan kadar air cukup agar proses kimia dapat berlangsung. Tidak dianjurkan panen daun muda karena klorofilnya masih stabil sehingga menghasilkan warna hijau mati. Dalam asap rokok klorofil menyebabkan bau langu. Hindari tercampurnya benda asing seperti potongan tali, rafia, tikar, bulu ayam, kertas, kerikil, dsb.

 

Tags:

Sebagai tanggapan terhadap kampanye antirokok dan isu bahaya rokok terhadap kesehatan, Balittas telah menyilangkan Prancak-95 untuk menurunkan kandungan nikotinnya. Pada tahun 2004 diperoleh dua varietas yang dapat dilepas, yaitu Prancak N-1 (Keputusan Menteri Pertanian Nomor 320/Kpts/ SR.120/5/2004) dan Prancak N-2 (Keputusan Menteri Pertanian No-mor 321/ Kpts/SR.120/5/2004). Kandungan nikotin Prancak N-1 dan Prancak N-2 lebih rendah dari Prancak-95 dan mutunya lebih tinggi.

  Karakteistik Prancak N-1

Habitus Tanaman : Kerucut
Bentuk daun tengah : Bulat telur
Tepi daun : Agak gelombang
Jumlah daun : 12-14 lembar
Umur berbunga : 56-58 hari
Umur panen : 84-90 hari
Hasil rajangan : 892 kg/ha
Indeks mutu : 62,45
Ketahanan terhadap penyakit : tahan lanas

  Karakteistik Prancak N-2

Habitus Tanaman : Kerucut
Bentuk daun tengah : Bulat telur
Tepi daun : Agak gelombang
Jumlah daun : 13-14 lembar
Umur berbunga : 57-60 hari
Umur panen : 84-95 hari
Hasil rajangan : 789 kg/ha
Indeks mutu : 68,52
Ketahanan terhadap penyakit : tahan lanas

 

Keragaan Prancak N-1 dan Prancak N-2 dibanding dengan tetuanya, Prancak-95

Varietas
Potensi Hasil
(ton/ha)
Indeks
Mutu
Indeks
Tanaman
Kandungan
Nikotin (%)
Prancak N1
0,9
62,45
60,07
1,76
Prancak N2
0,8
68,52
56,07
2,00
Prancak-95
0,8
57,12
45,22
2,31

Akselerasi penggunaan benih unggul tebu dengan Pembibitan bud chip terus digalakkan pada tingkat penangkar Kebun Benih Datar (KBD) dan petani pengembang untuk memenuhi permintaan bibit dalam mendukung program bongkar ratoon dan tanam tebu baru (plan cin). Penggunaan bahan tanam tebu bud chip merupakan penerapan teknologi budidaya tebu dalam upaya pencapaian program swasembada gula nasional.

Pembibitan tebu budchips merupakan langkah maju pada penerapan program bongkar ratoon yang sering mendapat kesulitan memenuhi kebutuhan bibit bersertifikat yang diperoleh dari Kebun Bibit Datar ( KBD). Penggunaan benih unggul tebu bud chips dalam 1 hektar kebun Bibit Datar ( KBD) menghasilkan benih 50-60 ton setara 350.000- 420.000 mata tunas budchips. Kebutuhan bibit budchips dalam satu hektar pertanaman baru plane cin diperlukan 12000-18000 batang bibit setara 2-2,5 ton bagal. Sehingga dalam 1 ha luasan kebun bibit datar (KBD) mampu memenuhi kebutuhan areal tanam baru ( plane cin) mencapai 29 - 35 ha. Pembuatan kebun bibit datar memerlukan biaya besar dengan penggunaan bibit tebu bud chips ini lebih evisien dan mampu menekan luas areal Kebun Bibit Datar ( KBD) mencapai 75-80%.

Kurang tercapainya sasaran program bokar ratoon selama ini akibat terbatasnya bibit bersertifikat dari KBD karena kebutuhan bibit untuk tanam baru (plane cin) dari bagal memerlukan 8-10 ton bibit bagal perhektar sehingga 1 ha bibit dari KBD hanya mencukupi luas tanam baru 7-8 ha saja.

Keunggulan bibit tebu budchip bagaikan “pendekar satu mata” karena bud chips setelah dipindahkan kelapang tebu mampu membentuk anakan 10-20 anakan. Anakan tersebutakan tumbuh sempurna sampai panen 8-10 batang per rumpun sedangkan bibit dari bagal anakan yang terbentuk 1-4 anakan saja. Yang lebih membanggakan bahwa bibit budchip dalam pembentukan anakan serempak pada umur 1-3 bulan. Pertumbuhan tanaman tebu sejak awal tumbuh seragam menjadikan tingkat kemasakan tebu dilapang sama mampu meningkatkan rendemen dan produksi persatuan luas tanam.

Penanaman tebu diwilayah pengembangan dari bibit bud chips ini ditekankan pada areal yang berpengairan teknis atau daerah yang sebaran curah hujannya jelas dengan harapan dapat menekan resiko kematian dan jumlah penyulaman akibat mati kekeringan diawal tanam.

Prancak N1 dan N2

Sebagai tanggapan terhadap kampanye antirokok dan isu bahaya rokok terhadap kesehatan, Balittas telah menyilangkan Prancak-95 untuk menurunkan kandungan nikotinnya. Pada tahun 2004 diperoleh dua varietas yang dapat dilepas, yaitu Prancak N-1 (Keputusan Menteri Pertanian Nomor 320/Kpts/ SR.120/5/2004) dan Prancak N-2 (Keputusan Menteri Pertanian No-mor 321/ Kpts/SR.120/5/2004). Kandungan nikotin Prancak N-1 dan Prancak N-2 lebih rendah dari Prancak-95 dan mutunya lebih tinggi.

  Karakteistik Prancak N-1

Habitus Tanaman : Kerucut
Bentuk daun tengah : Bulat telur
Tepi daun : Agak gelombang
Jumlah daun : 12-14 lembar
Umur berbunga : 56-58 hari
Umur panen : 84-90 hari
Hasil rajangan : 892 kg/ha
Indeks mutu : 62,45
Ketahanan terhadap penyakit : tahan lanas

  Karakteistik Prancak N-2

Habitus Tanaman : Kerucut
Bentuk daun tengah : Bulat telur
Tepi daun : Agak gelombang
Jumlah daun : 13-14 lembar
Umur berbunga : 57-60 hari
Umur panen : 84-95 hari
Hasil rajangan : 789 kg/ha
Indeks mutu : 68,52
Ketahanan terhadap penyakit : tahan lanas

 

Keragaan Prancak N-1 dan Prancak N-2 dibanding dengan tetuanya, Prancak-95

Varietas
Potensi Hasil
(ton/ha)
Indeks
Mutu
Indeks
Tanaman
Kandungan
Nikotin (%)
Prancak N1
0,9
62,45
60,07
1,76
Prancak N2
0,8
68,52
56,07
2,00
Prancak-95
0,8
57,12
45,22
2,31

Kanesia 12 menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi, yaitu memiliki potensi produksi lebih dari 3 ton kapas berbiji, juga beberapa keunggulan lain. Varie-tas-varietas tersebut menunjukkan indeks stabilitas ± 1, yang artinya bahwa varietas Kanesia 12 mampu beradaptasi secara luas di berbagai areal pengembangan. Varietas Kanesia 12 sesuai untuk daerah Jatim, Jateng, NTB, Sulsel, DIY, Bali, dan NTT.



Potensi Produksi: 2,14-2,75 kg/ha kapas berbiji dengan proteksi minimal (10g imidachloprit /kg benih dan pestisida ekstrak biji mimba) dan 1,35-2,65 kg/ha kapas berbiji pada kondisi tanpa perlakuan insektisida
Kandungan Serat: 34.54%
Mutu Serat: panjang 29.34 mm, kehalusan 4.57 mic, kekuatan 29.50 g/tex, elastisitas 6.07%, dan keseragaman 84.62 %.
Ketahanan: Toleran terhadap A.biguttula

Varietas ini direkomendasikan untuk pengembangan kapas tanpa pestisida.

 

Subkategori

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
5630687
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
2381
9929
12310
62060
74370
2506329
5630687

Your IP: 3.215.182.36
2019-12-09 03:50:28
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.