Kanesia 11 menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi, yaitu memiliki potensi produksi lebih dari 3 ton kapas berbiji, juga beberapa keunggulan lain. Varietas ini menunjukkan indeks stabilitas ± 1, yang artinya bahwa varietas Kanesia 11 mampu beradaptasi secara luas di berbagai areal pengembangan. Kemajuan yang cukup berarti dicapai pada kandungan serat pada varietas Kanesia 11. Kandungan serat varietas ini 8,11% lebih tinggi diban-dingkan Kanesia 8. Karakteristik mutu serat Kanesia 11 sesuai dengan kebutuhan industri tekstil nasional yaitu panjang serat 26,92–29,34 mm, kekuatan 27,13–29,50 g/tex, dan keseragaman serat 83,3–84,6%. Walaupun demikian, kehalusan serat masih belum sepe-nuhnya memenuhi kriteria yang diharapkan oleh industri tekstil, yaitu 3,5-4,5 mic, walaupun beberapa pabrik masih menggunakan serat dengan kehalusan > 4,5 mic. Varietas Kanesia 11 sesuai untuk daerah Jatim, Jateng, NTB, Sulsel, DIY, Bali, dan NTT.
 


Potensi Produksi: 1.960-3.027 kg/ha kapas berbiji dengan proteksi minimal (10g imidachloprit /kg benih dan pestisida ekstrak biji mimba) dan 705-2.478 kg/ha kapas berbiji pada kondisi tanpa perlakuan insektisida
Kandungan Serat: 38.92%
Mutu Serat: panjang 27.98 mm, kehalusan 4.5 mic, kekuatan 27.77 g/tex, elastisitas 6.45%, keseragaman 83.3 %.
Ketahanan: Toleran terhadap A.biguttula

Varietas ini direkomendasikan untuk pengembangan kapas tanpa pestisida.

 

Jarak Pagar untuk Bahan Bakar Nabati

Beberapa dekade terakhir ini, masalah keterbatasan cadangan energi fosil sebagai bahan bakar minyak (BBM) dan kepedulian terhadap lingkungan hidup mulai menjadi perhatian di seluruh dunia. Hal ini karena BBM berasal dari sumber daya alam yang tidak bisa diperbaharui. Ketersediaannya semakin berkurang dan harga minyak dunia yang semakin meningkat, sedangkan kebutuhan masyarakat terhadap BBM justru semakin meningkat.

Salah satu tanaman yang bisa dijadikan sebagai sumber energi alternatif terbarukan (bahan bakar nabati) adalah jarak pagar dengan memanfaatkan kandungan minyak dari biji. Biji jarak pagar mengandung rendemen minyak nabati sebesar 35 sampai 45 persen. Minyak tersebut dapat diproses menjadi minyak biodiesel (pengganti solar) dan minyak bakar (pengganti minyak tanah).

Jarak pagar (Jatropha curcas L) banyak tumbuh di daerah tropis, meskipun sebenarnya merupakan tanaman asli dari Amerika Tengah. Di Indonesia, tanaman ini sudah sejak lama dikenal sebagai obat herbal, bahan bakar (obor), dan pagar hidup di pekarangan atau pembatas lahan.

Pada jaman penjajahan Jepang di Indonesia, ketika mereka kehabisan BBM, orang kita disuruh untuk membuat minyak diesel dari jarak pagar. Kemudian, minyak tersebut digunakan untuk menggerakkan mesin-mesin perang mereka.

Pemilihan jarak pagar sebagai penghasil biodiesel lantaran jarak tidak bersaing dengan tanaman penghasil tanaman untuk lahan penanaman. Selain itu, daya adaptasi jarak di lapang juga bagus. Dengan menjadikan jarak sebagai biodiesel, maka dapat mengurangi polusi pada lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan pada BBM (Krisnamurthi, 2006; Prastowo, 2007; Effendi dan Karmawati, 2009).

Beberapa kelebihan dari biodiesel antara lain, biodiesel memiliki bilangan kualitas pembakaran yang lebih tinggi dibandingkan dengan solar yang ada di pasaran; biodiesel merupakan bahan bakar beroksigen sehingga penggunaannya akan mengurangi emisi CO dan jelaga hitam pada gas buang atau lebih ramah lingkungan; memiliki titik kilat tinggi yang pada temperatur tertinggi dapat menyebabkan uap biodiesel dapat menyala sehingga biodiesel ini lebih aman dari bahaya kebakaran; tidak mengandung belerang dan benzena yang bersifat karsinogen serta dapat diuraikan secara alami sehingga ramah lingkungan; dilihat dari segi pelumasan mesin, biodiesel lebih baik daripada solar sehingga pemakaian biodiesel dapat memperpanjang umur pakai mesin.

Untuk mendukung pengembangan jarak pagar sebagai sumber bahan bakar nabati, peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat telah merakit varietas unggul baru jarak pagar dan sudah dilepas pada 2017, yaitu Jet 1 Agribun dan Jet 2 Agribun beserta teknologi pendukungnya. Varietas Jet 1 Agribun memiliki potensi hasil 1,09 ton sampai maksimum 2,33 ton per hektare dengan kadar minyak 37,44 persen dan moderat terhadap cekaman kekeringan. Sedangkan varietas Jet 2 Agribun memiliki potensi hasil 1,08 ton sampai maksimum 2,64 per hektare dengan kadar minyak 35,80 persen dan moderat terhadap cekaman kekeringan.

Kedua varietas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan untuk program pengembangan di daerah Indonesia Timur yang beriklim kering terutama di daerah yang belum terjangkau listrik. Dengan produktivitas yang tinggi akan mempercepat tersedianya biji jarak pagar sebagai bahan baku biofuel secara berkelanjutan untuk mesin pembangkit listrik.

Pengembangan kedua varietas tersebut bisa didorong dengan melakukan diseminasi berupa demplot, terutama di daerah pengembangan jarak pagar. Sosialiasi bahwa jarak pagar bisa ditumpangsari dengan tanaman lain maupun pemanfaatan jarak pagar untuk produk selain bahan bakar nabati akan menjadi penghasilan tambahan bagi petani yang mengembangkan jarak pagar.

Di samping itu, perlu dukungan dari pemerintah guna menentukan harga yang ekonomis untuk nilai jual biji jarak pagar bagi petani dan minyak biji jarak pagar sebagai sumber bahan bakar nabati bagi pengusaha. Selain itu, diperlukan komitmen dari pemerintah untuk menggunakan bahan bakar nabati sebagai alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM).

Aprilia Ridhawati

Artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

Ancaman Luka Api pada Perkebunan Tebu

Penyakit luka api dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar pada produksi tebu, tidak hanya secara kuantitas tetapi juga kualitas tebu yang dihasilkan termasuk rendemen tebunya. Serangan penyakit luka api pada varietas tebu yang rentan dapat menyebabkan kehilangan hasil lebih dari 60 persen.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa potensi kehilangan hasil perkebunan tebu akibat luka api pada tanaman raton lebih tinggi dibandingkan dengan plant-cane. Sebagai contoh di Cina, kehilangan hasil pada tanaman PC (Plant-Cane) mencapai 8 persen, sedangkan pada tanaman raton luka api menyebabkan kerugian sebesar 16-20 persen.

Di Indonesia, pengamatan luka api pada pertanaman tebu di daerah pengembangan di Sulawesi menunjukkan bahwa kejadian penyakit tersebut dapat mencapai 16 persen. Penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kejadian penyakit luka api sebesar 1 persen dapat meningkatkan resiko kehilangan hasil sebanyak 0,6 persen.

Penyakit luka api atau yang biasa dikenal sebagai smut disease yang disebabkan oleh jamur Sporisorium scitamineum merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman tebu.

Penyakit ini kali pertama ditemukan di daerah Natal, Afrika Selatan pada 1877. Selanjutnya, penyakit ini ditemukan hampir pada sebagian besar daerah pengembangan tebu di berbagai negara, termasuk Brasil, Argentina, Amerika Serikat, Cina, India, Australia, serta Indonesia. Sampai saat ini, negara yang diberitakan masih aman dari penyakit luka api adalah Papua Nugini dan Fiji.

Penyakit luka api memiliki gejala yang sangat khas sehingga mudah dikenali di lapangan. Tanaman tebu yang terserang penyakit tersebut akan membentuk cambuk berwarna hitam pada bagian ujung tanamannya. Cambuk yang terbentuk dari gabungan antara jamur dan bagian tanaman tebu tersebut dapat mencapai ukuran lebih dari 1,5 meter.

Bagian berwarna hitam tersebut sebetulnya merupakan massa spora jamur yang berfungsi sebagai sumber inoculums, yang dengan bantuan angin, dapat menyebar ke tanaman lain untuk menyebabkan infeksi sekunder. Pada umumnya, tanaman tebu yang terinfeksi luka api akan menghasilkan gejala berupa cambuk hitam tersebut pada umur 4-8 pekan setelah infeksi.

Penyakit luka api ini tidak serta merta menyebabkan tanaman tebu mati, tetapi pada serangan yang parah tanaman tebu hanya dapat menghasilkan batang yang kecil-kecil seperti rumput dan kerdil.

Pengendalian penyakit luka api yang utama adalah dengan menggunakan varietas yang tahan. Sementara itu, untuk mencegah penyebaran penyakit dapat dilakukan cara memastikan bahan tanaman yang digunakan berasal dari tanaman yang sehat, tidak terinfeksi penyakit. Selanjutnya, apabila memungkinkan, lakukan pengolahan tanah pada lahan-lahan yang terinfeksi parah untuk mengurangi sumber inokulum sehingga dapat mencegah penyebaran penyakit.

Perlakuan hot water treatment pada suhu 52 derajat Celcius selama 30 menit sebelum benih ditanam untuk mencegah penyebaran penyakit sistemik, seperti luka api. Setelah perlakuan hot water treatment, apabila dikehendaki, benih dapat direndam dalam fungisida yang berbahan aktif flutriafol, propiconazole, dan triadimefon. Fungisida tersebut telah digunakan di berbagai negara yang mengembangkan tebu.

Penyebaran penyakit luka api di lahan terutama melalui angin yang membantu penyebaran spora serta penggunaan bahan tanaman yang tidak sehat atau telah terinfeksi oleh jamur. Tidak menutup kemungkinan juga spora menyebar ke area lain melalui alat mesin pertanian, sepatu serta alat-alat lain yang digunakan oleh petani. Spora jamur luka api dapat bertahan di dalam tanah yang kering selama lebih dari 3 bulan. Spora juga dapat bertahan pada jaringan tanaman tebu selama tanaman tersebut masih hidup.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa penyakit luka api tidak menyebabkan tanaman tebu langsung mati karena jamur membutuhkan tanaman untuk dapat tetap hidup. Di lapangan, kejadian penyakit luka api akan meningkat dalam kondisi cuaca panas dan kering.

Nurul Hidayah

Artikel telah terbit sebelumnya di republika.co.id

Oleh: Subiyakto


Pencapaian produktivitas gula yang tinggi sering mengalami kendala, salah satunya serangga hama. Kerugian yang disebabkan hama dan penyakit cukup tinggi, sekitar 10% penurunan produksi gula. Bahkan kalau terjadi serangan penggerek pucuk pada 5 bulan sebelum tebang dapat menurunkan produksi gula berkisar 52-73%.

uret dan tanaman tebu penggerek batang

Ada 43 jenis hama (serangga dan bukan serangga) yang menyerang tanaman tebu. Namun hama yang sering dijumpai pada pertanaman tebu di Indonesia adalah penggerek pucuk, penggerek batang, kutu bulu putih, dan uret.

  1. Penggerek pucuk (Scirpophaga excerptalis Walker)
    • Gejala : Serangan dapat dimulai dari tunas umur 2 minggu sampai tanaman dewasa. Menyerang melalui tulang daun pupus dengan membuat lorong gerek menuju ke bagian tengah pucuk tanaman sampai ruas muda, merusak titik tumbuh dan tanaman menjadi mati.
    • Biologi :
      • Telur : diletakkan secara berkelompok di bawah permukaan daun dan ditutupi bulu-bulu berwarna coklat kekuningan, panjang kelompok telur sekitar 22 mm.
      • Larva : Setelah menetas larva menggerek dan menembus daun muda yang masih belum membuka, menuju ke tulang daun untuk membuat lorong gerekan ke titik tumbuh. Ulat muda berwarna putih dan ulat dewasa putih kekuningan, panjang sekitar 30 mm.
      • Pupa : Berada di dalam lubang gerekan, berwana kuning pucat, panjang sekitar 20 mm.
      • Dewasa : Ngengat berwarna putih, panjang sekitar 20 mm. Seberkas rambut merah oranye di ujung abdomen ngengat betina.
    • Pengendalian:
      • (1) Menggunakan benih bebas penggerek
      • (2) Varietas tahan penggerek antara lain PSJT 941, PS  851, PS 891, PS 921, dan PSBM 88-144
      • (3) Rogesan, pemotongan sedikit demi sedikit (3 cm) dari pucuk ke bawah, dimulai tanaman tebu berumur 2 bulan dan diakhiri sampai tanaman tebu berumur 6 bulan. Rogesan dapat menyelamatkan gula 580 kg/ha
      • (4) Pengendalian hayati dengan pelepasan parasitoid telur Trichogramma.

  2. Penggerek batang (Chilo auricilius Dudgeon)
    • Gejala : Serangan biasanya dijumpai pada tanaman tebu berumur 5 bulan ke atas. Bercak-bercak tampak transparan berbentuk bulat  oval di daun. Ulat masuk lewat pelepah dan batang tanaman tebu, kadang menyebabkan mati puser. Lubang gerek di dalam batang lurus, lubang keluar batang bulat. Kadang gerekan mengenai mata tunas. Serangan ruas 20% menyebabkan penurunan hasil gula sekurang-kurang 10%.
    • Biologi :
      • Telur : Diletakkan secara berkelompok, panjang sekitar 20 mm terdapat di bawah permukaan daun, bentuk lonjong berwarna putih kelabu.
      • Larva : Setelah menetas larva bergerak lewat pelepah dan batang tebu. Ulat putih kekuningan dengan ukuran panjang sekitar 25 mm.
      • Pupa : Diletakkan didalam lubang gerekan berwarna kuning pucat. Panjang pupa sekitar 15 mm.
      • Dewasa : Ngengat jantan lebih kecil disbanding betina, sayap depan coklat terang sampai coklat kusam. Ngengat jantan sayap belakang berwarna putih-coklat, betinanya berwarna putih sutera. Satu betina mampu bertelur 60-70 butir.
    • Pengendalian
      • (1) Menggunakan benih bebas penggerek
      • (2) Varietas tahan penggerek antara lain PSJT 941, PS  851, PS 891, PS 921, dan PSBM 88-144
      • (3) Pengendalian hayati dengan parasit Lalat Jatiroto, 30 pasang/ha parasitoid telur Trichogramma 50 pias @ 2000 ekor/minggu pada tanaman tebu berumur 1-4 bulan.

  3. Kutu bulu putih (Ceratovacuna lanigera Zehntner)
    • Gejala: Kutu menyerang helaian daun bagian bawah, berkoloni, kutu berwarna putih berada di kanan kiri ibu tulang daun.  Helai daun permukaan atas tertutup lapisan jamur seperti jelaga.  Serangan berat daun menjadi kuning dan mongering terjadi di awal atau akhir musim hujan. Kutu ini dapat menyebabkan kerugian gula 2,6 ton/ha dan penurunan rendemen dari 12% menjadi 8%.
    • Biologi : Nimfa muda dan dewasa bersayap dan tidak bersayap dijumpai pada daun yang sama.  Nimfa tidak bersayap lama hidup 23-32 hari, sedang yang bersayap 32-40 hari. Rata-rata reproduksi di laboratorium 3-5 ekor per hari dengan total satu individu dewasa selama hidup 41-56 ekor.
    • Pengendalian:
      • (1) Pengendalian mekanis dilakukan efektif pada awal serangan sewaktu populasi kutu masih sedikit
      • (2) Pengendalian dapat dilakukan dengan mengulas daun yang terserang dengan kain basah
      • (3) Daun yang terserang dipotong dan dikumpulkan kemudian dimusnahkan
      • (4) Penggunaan varietas yang mudah diklentek, misalnya PS 881.

  4. Uret (Lepidiota stigma, Hollotrichia sp, Leucopholis sp, dan Anomala sp)
    • Gejala : Uret yang banyak dijumpai jenis Lepidiota stigma. Tanaman yang terserang uret akan layu, daun menguning kemudian menjadi kering. Bagian pangkal batang tanaman terdapat luka atau kerusakan bekas digerek dan akar-akarnya dimakan uret. Serangan berat menyebabkan tanaman mudah roboh dan mudah dicabut. Kerusakan akar terutama disebabkan oleh uret instar 3.  Apabila dijumpai 3 ekor uret per rumpun makin besar kerusakannya. Populasi 3-4 ekor per rumpun dinilai secara ekonomi merugikan.
    • Biologi :
      • Telur : Diletakkan dalam tanah yang cukup lembab dengan kedalaman bervariasi dari 5 cm sampai 30 cm. Telur menetas setelah berumur 1 sampai 2 minggu (di laboratorium 12-13 hari).
      • Larva : Uret instar satu memakan sisa-sisa tanaman yang mati atau akar-akar tanaman di sekitarnya, selanjutnya memasuki instar kedua makan perakaran tanaman yang hidup. Uret L. stigma berkembang dalam empat instar dimana instar yang paling ganas dan merugikan adalah instar tiga. Uret dapat mencapai panjang 4 cm dan masa perkembangnya membutuhkan waktu 380 hari. Serangan L. stigma pada tanaman tebu terberat terjadi pada bulan Februari sampai dengan Juni dan kerusakan terparah banyak terjadi disekitar tempat hinggapnya kumbang.
      • Pupa : Telur dan larva (uret) berada dalam tanah sampai menjadi fase kepompong (sekitar 6-9 bulan).
      • Dewasa : Kumbang meletakkan telurnya di tempat tertentu sesuai dengan jenis inang atau habitat inangnya.
    • Pengendalian:
      • (1) Belum diperoleh varietas tebu yang toleran terhadap hama uret, namun diinformasikan varietas tahan misalnya  BZ 109 (M 134-32) pernah berhasil dicoba di Mauritus
      • (2) Manipulasi waktu tanam dan tebang, pengolahan tanah secara intensif diikuti pekerja untuk mengambil uret secara manual dan memusnahkannya
      • (3) Pengumpulan serangga dewasa saat penerbangan kumbang di awal  musim hujan bulan November-Desember.

Oleh : Titiek Yulianti

Penyakit kerupuk ini banyak menyerang tanaman tembakau di daerah Tropik, terutama di awal musim kemarau.

Gejala

Gejala pada tanaman tembakau biasanya diawali dari bentuk daun yang mengkerut dan berubah bentuk (Gambar 1). Pada permukaan bawah daun terlihat pertulangan daun menebal dan berwarna hijau tua (Gambar 2). Pada stadia generatif, bentuk bakal bunga, dan bunga sedikit menyimpang dan terpelintir, sementara bentuk buahnya menjadi tidak normal. Jika dicabut, akan terlihat sistem perakaran mengecil. Batang akan terlihat lebih pendek dan berbentuk Roset. Keseluruhan tanaman akan terlihat kerdil

 

 Penyebab

Penyakit ini disebabkan oleh tobacco leaf curl virus (TLCV) dari keluarga Geminiviridae, genus Begomovirus yang tidak memiliki amplop (selubung). TLCV termasuk kelompok gemini virus karena zarah virus berbentuk isometrik kembar masing-masing berukuran antara 25–30 mm (Gambar 3).

 

  

Penularan

TLCV tidak dapat ditularkan secara mekanis melalui sentuhan, penggosokan cairan daun sakit atau melalui benih tanaman sakit, tetapi ditularkan oleh vektor kutu putih Bemisia tabaci (Gambar 4.) secara persisten. Ada juga yang menyebutkan tungau Polyphagotarsonemus latus, dan Thrips Scirtothrips dorsalis.

B. tabaci mampu menularkan virus setelah 30 menit akuisisi. Virus mampu bertahan dalam tubuh vektor 12–17 hari atau bahkan selama sisa hidup serangga tersebut. Namun belum ada laporan virus ini berkembang biak dalam tubuh vektor atau ditularkan jika kutu berganti kulit; ataupun melalui keturunannya. Virus ditularkan melalui penyambungan batang sakit dengan batang yang sehat.

Inang Lain

Cabe, tomat, Leunca, pepaya, crotalaria, kecubung, wijen, babandotan, kembang kertas, patikan kebo, sidaguri, rumput minjangan, dan sawi langit (Gambar 5).

Faktor yang Berpengaruh terhadap Perkembangan Penyakit 

  1. Meningkatnya populasi B. tabaci terutama pada awal musim kemarau.
  2. Bibit/tanaman muda lebih rentan dibandingkan tanaman tua
  3. Pemupukan N yang berlebihan.
  4. Meningkatkan dosis Pupuk P dan K akan mengurangi keparahan penyakit  

Pengendalian

  1.  Mengendalikan serangga vektor, misalnya dengan asefat atau imidakloprit 2x (saat tanam dan 45 hari setelah tanam).
  2.  Menanam bunga matahari atau jarak kepyar sebagai pagar pembatas di sekitar bedengan untuk mencegah B. tabaci.
  3.  Menggunakan tanaman resisten

Kapuk Togo B

Varietas Togo B merupakan hasil seleksi dari varietas introduksi Togo yang berasal dari Togo di Afrika. Varietas ini menunjukkan potensi hasil gelondong yang tinggi dengan jumlah gelondong 41.428 gelondong/ha atau 2.551 gelondong/pohon pada umur 40 tahun. Ketika masih muda (12 tahun), varietas ini sudah mampu menghasilkan 845 gelondong/pohon. Serat yang dihasilkan oleh Togo B putih mengkilat, dan buahnya tidak pecah di pohon. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo-B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi. Dengan habitus pohon yang kokoh, Togo-B digunakan dalam program konservasi lahan dan sebagai batang bawah dalam penyediaan bibit kapuk secara okulasi.

Kode persilangan : Introduksi dari Afrika (Togo)
Tipe pertumbuhan : Karibea
Produktivitas : 2.500 gelondong/pohon/tahun
Berat gelondong : 4,12 kg/100 gelondong
Kandungan serat : 0,76 kg/100 gelondong
Warna serat : Putih, panjang, grade AJK
Ketahanan terhadap benalu : Kurang disukai benalu

 

Sampai saat ini penanaman tebu di Indonesia dilakukan menggunakan sistem tanam juring tunggal dengan jarak dari pusat ke pusat (PKP) 110-130 cm. Produksi hablur yang diperoleh sekitar 5,8 ton/ha dan belum mampu untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri yang diperkirakan sebesar 6,257 juta ton pada tahun 2015. Untuk memenuhi kebutuhan gula tersebut diperlukan produksi hablur 8,17 ton/ha dan penambahan areal pengembangan seluas 350 ribu ha. Dengan adanya program swasembada jagung dan kedelai yang juga memerlukan perluasan areal tanam maka sulit untuk merealisasi penambahan areal tanam untuk tebu. Dengan luas areal yang ada maka swasembada gula dapat tercapai apabila produksi hablur sebesar 15,04 ton/ha.

Peningkatan produksi hablur dapat dilakukan melalui penerapan sistem tanam juring ganda. Penerapan sistem tanam juring ganda dengan PKP 50/135 dan dosis pupuk 840 kg Phonska + 700 kg ZA/ha mampu meningkatkan populasi tanaman sebesar 40% dan produksi hablur sebesar 28,8% untuk tanaman pertama (PC) dan 41,1% untuk tanaman ratoon (RC) dari sistem tanam juring tunggal yang dipupuk 600 kg Phonska + 500 kg ZA/ha. Dengan penerapan sistem tanam tersebut diperoleh kerugian sebesar Rp. 6.075.490,-/ha untuk PC dan keuntungan sebesar Rp. 22.402.820,-/ha untuk RC. Di sisi lain produksi hablur yang diperoleh belum sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu perlu dicari sistem tanam juring ganda yang mampu meningkatkan produksi hablur sesuai yang diharapkan.

Penerapan sistem tanam juring ganda PKP 50/170 dengan aplikasi benih ganda (double planting) mampu meningkatkan populasi tanaman 2,36 kali lipat dari sistem tanam juring tunggal dan menambah luas areal tanam yang kosong seluas 50% selama 4 bulan pertama pertumbuhan tanaman tebu. Areal tanam yang kosong tersebut dapat dipergunakan untuk areal pengembangan tanaman pangan seperti kedelai dan kacang tanah dalam sistem tumpangsari. Dengan areal pengembangan tebu yang ada sekarang seluas 416 ribu ha, maka penerapan sistem tanam juring ganda tersebut dapat menyediakan areal tanam tanaman pangan seluas 208 ribu ha.

Peningkatan jumlah populasi tanaman 2,36 kali lipat menyebabkan jumlah nutrisi yang diperlukan oleh tanaman tebu meningkat 2,36 kali lipat pula. Oleh karena itu diperlukan pupuk anorganik berdosis 1416 kg Phonska + 1180 kg ZA/ha dan akan diperoleh produksi hablur sebesar 12,36 ton/ha untuk PC dan 12,43 ton/ha untuk RC dengan keuntungan sebesar Rp. 32.130.935,-/ha untuk PC dan Rp. 47.848.400,- untuk RC (Tabel 1 dan 2). Hasil tersebut telah mendekati produksi hablur yang diharapkan yakni sebesar 13,64 ton/ha. Peningkatan produksi hablur dapat ditingkatkan lagi melalui revitalisasi pabrik gula, dimana revitalisasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan rendemen dari 6,28-7,0% menjadi 8,5%. Dengan demikian pemenuhan kebutuhan gula nasional dapat tercapai tanpa perlu melakukan perluasan areal tanam.

Tabel 1. Produktivitas, rendemen dan produksi hablur pertanaman tebu pertama (PC) dan pertanaman ratoon (RC) pada tiga sistem tanam

Tabel 2. Penerimaan, pengeluaran dan keuntungan pertanaman tebu pertama (PC) dan pertanaman ratoon (RC) pada tiga sistem tanam 


Gambar 1. Sistem tanam juring tunggal dengan PKP 130 cm  


 Gambar 2. Sistem tanam juring ganda dengan PKP 50/135 cm benih tunggal


 

Gambar 3. Sistem tanam juring ganda dengan PKP 50/170 cm benih ganda 


Gambar 4. Penataan benih tebu pada sistem tanam (a) juring ganda benih ganda dan (b) juring ganda benih tunggal 


 Gambar 5. Penampilan tanaman tebu pada sistem tanam juring ganda benih ganda saat (a) tumpangsari dengan tanaman kacang tanah dan (b) setelah kacang tanah dipanen.

Tags:

Subkategori

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
5627783
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
9406
9949
71466
703641
71466
2506329
5627783

Your IP: 18.207.255.49
2019-12-08 22:42:20
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.