Kanesia 11 menunjukkan produktivitas yang lebih tinggi, yaitu memiliki potensi produksi lebih dari 3 ton kapas berbiji, juga beberapa keunggulan lain. Varietas ini menunjukkan indeks stabilitas ± 1, yang artinya bahwa varietas Kanesia 11 mampu beradaptasi secara luas di berbagai areal pengembangan. Kemajuan yang cukup berarti dicapai pada kandungan serat pada varietas Kanesia 11. Kandungan serat varietas ini 8,11% lebih tinggi diban-dingkan Kanesia 8. Karakteristik mutu serat Kanesia 11 sesuai dengan kebutuhan industri tekstil nasional yaitu panjang serat 26,92–29,34 mm, kekuatan 27,13–29,50 g/tex, dan keseragaman serat 83,3–84,6%. Walaupun demikian, kehalusan serat masih belum sepe-nuhnya memenuhi kriteria yang diharapkan oleh industri tekstil, yaitu 3,5-4,5 mic, walaupun beberapa pabrik masih menggunakan serat dengan kehalusan > 4,5 mic. Varietas Kanesia 11 sesuai untuk daerah Jatim, Jateng, NTB, Sulsel, DIY, Bali, dan NTT.
 


Potensi Produksi: 1.960-3.027 kg/ha kapas berbiji dengan proteksi minimal (10g imidachloprit /kg benih dan pestisida ekstrak biji mimba) dan 705-2.478 kg/ha kapas berbiji pada kondisi tanpa perlakuan insektisida
Kandungan Serat: 38.92%
Mutu Serat: panjang 27.98 mm, kehalusan 4.5 mic, kekuatan 27.77 g/tex, elastisitas 6.45%, keseragaman 83.3 %.
Ketahanan: Toleran terhadap A.biguttula

Varietas ini direkomendasikan untuk pengembangan kapas tanpa pestisida.

 

Oleh : Cece Suhara

Virus Mosaik Ketimun (Cucumber Mosaic Virus)

Virus mosaik ketimun adalah virus tanaman yang berbentuk polihedral dengan diameter 28 nm, menginfeksi lebih dari 775 spesies tumbuhan dalam 67 famili dan dapat ditularkan oleh 75 spesies afid secara non-persistent (Murant dan Mayo, 1982). Virus mosaik ketimun mempunyai kisaran inang yang sangat luas, terdapat pada tanaman sayuran, tanaman hias dan tanaman buah-buahan. Selain menyerang tanaman ketimun, virus mosaik ketimun juga dapat menyerang melon, labu, cabai, bayam, tomat, seledri, bit, tanaman polong-polongan, pisang, tanaman famili Crucifereae, delphinium, gladiol, lili, petunia, zinia dan beberapa jenis gulma (Agrios, 1988). Dibeberapa negara, virus mosaik ketimun telah menyebabkan penyakit yang berat pada tanaman tertentu. Virus mosaik ketimun terdapat hampir di semua negara dan strain yang berbeda sifat biologinya telah dilaporkan dari berbagai tempat. Virus mosaik ketimun mempunyai banyak strain, oleh karena itu mempunyai jumlah inang yang banyak serta gejala yang ditimbulkan beragam.

 Arti ekonomi penyakit virus CMV

Penyakit virus pada tembakau khususnya gejala mosaik pada umumnya masih kurang disadari kerugian yang ditimbulkannya oleh petani, khususnya pada tembakau rajangan, karena tanaman yang sakit tidak langsung mati dan masih memberikan hasil walaupun kualitasnya menurun. Pada tembakau cerutu penyakit virus menyebabkan kerugian yang cukup besar, karena selain mengurangi produksi juga sangat berpengaruh terhadap mutu daun yang dihasilkan. Daun tembakau yang terserang virus pada umumnya menunjukkan gejala mosaik, berkerut atau menggulung, ukurannya menjadi lebih kecil, rapuh, elastisitas dan daya bakarnya menurun. Menurut Lucas (1975) daun yang terserang penyakit CMV menunjukkan gejala terjadi perubahan warna secara nyata seperti pola mosaik, kebanyakan tanaman kerdil, daun menyempit dan mengalami distorsi. Besarnya kerugian tergantung dari jenis virus yang menyerang, jenis tembakau dan waktu terjadinya infeksi

Pada pertanaman tembakau virginia di daerah Bojonegoro, areal yang terserang mencapai 25-30%, sehingga diperkirakan kerugian bisa mencapai 5 milyar rupiah. Di Lumajang pada pertanaman tembakau burley terserang penyakit CMV berkisar antara 30-73,5% pada tanaman seri III, sedangkan serangan virus pada tembakau Besuki NO cukup berat, sehingga menimbulkan penurunan produksi sekitar 10%. Berdasarkan dari gejala yang tampak di lapang diduga penyebabnya adalah CMV.

Bioekologi Virus CMV

Virus CMV termasuk kedalam Cucumo virus. Zarah virus berbentuk isometrik dengan diameter 30 nm. CMV mempunyai suhu inaktivasi antara 60-750C, dengan titik pengenceran akhir 10-4. Dalam tanaman sakit, virus akan menjadi inaktif setelah disimpan selama 96 jam pada suhu kamar. CMV dapat ditularkan secara mekanis, oleh lebih dari 60 jenis kutu daun secara non-persisten, termasuk Myzus persicae dan Aphis gossypii, serta melalui biji beberapa tanaman inang (Gonzalves dan Garnsey, 1989). CMV termasuk jenis virus yang mempunyai sebaran tanaman inang yang sangat luas dan dapat menyerang 775 jenis tanaman dari 85 famili, termasuk famili Cucurbitaceae, Papilionaceae, Solanaceae dan Cruciferae. Diantara tanaman tersebut yang sering ditemukan berada disekitar tanaman tembakau adalah: tomat, cabai, mentimun, terung, buncis, kacang tunggak, dan kacang panjang (Gonzalves dan Garnsey, 1989). Penularan CMV melalui biji dan infeksi pada beberapa tumbuhan liar terbukti memegang peranan penting dalam penyebaran dan perkembangan penyakit di lapang.

Gejala penyakit Virus CMV 

Gejala penyakit virus pada populasi tanaman inang merupakan hasil interaksi antara virus, tanaman inang, dan lingkungan. Faktor lain yang berpengaruh adalah campur tangan manusia yang berperan dalam mengubah sistem pertanaman (Akin, 2006). Manusia mempunyai peran yang sangat penting dalam penyebaran penyakit virus dan vektornya. Manusia dapat mempengaruhi patogenisitas virus, kerentanan tanaman terhadap virus maupun vektor dan terhadap lingkungan disekitar pertanaman. Manusia merupakan salah satu media yang sangat penting dalam penyebaran penyakit, karena mempunyai mobilitas yang tinggi sehingga dalam waktu singkat dapat membawa tanaman sekaligus vektor dan penyakitnya ke tempat-tempat yang jauh dalam waktu yang relatif singkat, meskipun harus melalui barier yang sangat keras (Wahyuni, 2005).

Faktor lingkungan fisik yang berpengaruh terhadap perkembangan penyakit virus dan vektornya adalah : 1) curah hujan; 2) Angin; 3) suhu udara; dan 4) jenis tanah dan kelengasannya. Curah hujan sangat berperan dalam perkembangan penyakit virus yang mempunyai vektor soilborne dan airborne Curah hujan di daerah tropika dan sub tropika berkaitan langsung dengan kelembaban udara yang tinggi. Infeksi virus pada tumbuhan lebih banyak terjadi pada musim semi atau hujan. Kelembaban udara yang tinggi menyebabkan jaringan palisade daun memanjang dan teksturnya menjadi lebih lemas. Angin berpengaruh terhadap penyebaran vektor, sehingga virus yang dibawanya bisa lebih cepat menyebar. Suhu dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan musim. Musim panas intensitas cahaya sangat tinggi, dan panjang hari lebih lama, keadaan ini menyebabkan daun menjadi lebih tebal dan teksturnya agak keras. Suhu berpengaruh pada pergerakan dan kecepatan memperbanyak diri vektor airborne (Wahyuni, 2005). 

Pengendalian penyakit CMV 

Sampai sekarang belum ditemukan agensia yang efektif untuk mengobati penyakit virus. Tanaman yang sudah terinfeksi virus sudah tidak mungkin sembuh dari penyakit tersebut, sehingga akan menjadi sumber infeksi bagi tanaman sehat disekitarnya. Seranggga vektor banyak berperan dalam penyebaran penyakit virus yang berasal dari sumber inokulum. Beberapa jenis kutu daun ditularkan secara persisten maupun non persisten. Virus non persisten yang ditularkan oleh kutu daun lebih banyak berperan dalam penularan penyakit virus dengan cara menghisap cairan tanaman yang sudah terserang virus kemudian menularkannya kembali pada tanaman sehat dengan cara menusukkan styletnya sebelum mati. Pengendalian serangga vektor dengan insektisida kimia tidak banyak berpengaruh terhadap pengendalian penyakit virus non persisten. Terkait dengan isu global mengenai residu pestisida pada tanaman, pengendalian penyakit secara kimiawi mempunyai dampak negatif terhadap lingkungan dan mikroorganisme non target. Pengendalian virus yang efektif dan efisien saat ini belum banyak diketahui. Sejauh ini pengendalian virus masih bersifat preventif, yang dilakukan dilakukan secara tidak langsung dengan memadukan beberapa metode yaitu : 1) pencegahan infeksi di lapang misalnya dengan rotasi tanaman dengan tanaman yang bukan inang virus maupun vektornya, menekan populasi vektor, 2) mencegah penyebaran di dalam tanaman misalnya dengan menghilangkan gulma inang, mencegah penularan mekanis, 3) menanam bibit bebas virus, 4) tanam serempak dan 5) proteksi silang. Alternatif pengendalian CMV dengan vaksin Carna-5 sebagai biokontrol.

Tags:

Akselerasi penggunaan benih unggul tebu dengan Pembibitan bud chip terus digalakkan pada tingkat penangkar Kebun Benih Datar (KBD) dan petani pengembang untuk memenuhi permintaan bibit dalam mendukung program bongkar ratoon dan tanam tebu baru (plan cin). Penggunaan bahan tanam tebu bud chip merupakan penerapan teknologi budidaya tebu dalam upaya pencapaian program swasembada gula nasional.

Pembibitan tebu budchips merupakan langkah maju pada penerapan program bongkar ratoon yang sering mendapat kesulitan memenuhi kebutuhan bibit bersertifikat yang diperoleh dari Kebun Bibit Datar ( KBD). Penggunaan benih unggul tebu bud chips dalam 1 hektar kebun Bibit Datar ( KBD) menghasilkan benih 50-60 ton setara 350.000- 420.000 mata tunas budchips. Kebutuhan bibit budchips dalam satu hektar pertanaman baru plane cin diperlukan 12000-18000 batang bibit setara 2-2,5 ton bagal. Sehingga dalam 1 ha luasan kebun bibit datar (KBD) mampu memenuhi kebutuhan areal tanam baru ( plane cin) mencapai 29 - 35 ha. Pembuatan kebun bibit datar memerlukan biaya besar dengan penggunaan bibit tebu bud chips ini lebih evisien dan mampu menekan luas areal Kebun Bibit Datar ( KBD) mencapai 75-80%.

Kurang tercapainya sasaran program bokar ratoon selama ini akibat terbatasnya bibit bersertifikat dari KBD karena kebutuhan bibit untuk tanam baru (plane cin) dari bagal memerlukan 8-10 ton bibit bagal perhektar sehingga 1 ha bibit dari KBD hanya mencukupi luas tanam baru 7-8 ha saja.

Keunggulan bibit tebu budchip bagaikan “pendekar satu mata” karena bud chips setelah dipindahkan kelapang tebu mampu membentuk anakan 10-20 anakan. Anakan tersebutakan tumbuh sempurna sampai panen 8-10 batang per rumpun sedangkan bibit dari bagal anakan yang terbentuk 1-4 anakan saja. Yang lebih membanggakan bahwa bibit budchip dalam pembentukan anakan serempak pada umur 1-3 bulan. Pertumbuhan tanaman tebu sejak awal tumbuh seragam menjadikan tingkat kemasakan tebu dilapang sama mampu meningkatkan rendemen dan produksi persatuan luas tanam.

Penanaman tebu diwilayah pengembangan dari bibit bud chips ini ditekankan pada areal yang berpengairan teknis atau daerah yang sebaran curah hujannya jelas dengan harapan dapat menekan resiko kematian dan jumlah penyulaman akibat mati kekeringan diawal tanam.

Produksi dan mutu tembakau sangat dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan yang sangat berpengaruh diantaranya adalah iklim, teknik budi daya dan pasca panen. Teknik budi daya yang tepat dapat memaksimalkan produksi dan mutu tembakau yang dihasilkan. Secara umum, teknik budi daya yang diterapkan petani masih sangat bervariasi dan belum menerapkan teknik budi daya yang tepat. Sebagai contoh, sebagian petani belum menerapkan guludan tinggi, pemupukan secara tepat, baik tepat jenis, dosis, waktu dan cara pemberian, serta pangkas, sehingga hasilnya masih belum maksimal. Dengan pemahaman teknik budi daya yang tepat diharapkan mampu memperbaiki teknik budi daya tembakau yang diterapkan oleh petani.

Tembakau madura merupakan salah satu jenis tembakau semi aromatis (Akehurst 1981), memiliki kadar nikotin 2–3% dengan aroma yang gurih dan harum (Suwarso et al. 2004). Tembakau madura digunakan sebagai bahan baku rokok keretek. Kebutuhan tembakau madura meningkat seiring dengan semakin meningkatnya selera konsumen kearah rokok yang lebih ringan karena kandungan nikotin tembakau madura umumnya tergolong rendah.  Tembakau madura berkembang di wilayah-wilayah yang beriklim kering, yaitu tergolong kelas iklim D dan sebagian E menurut klasifikasi Schmidt Ferguson (Sholeh dan Machfudz 1999).

Karakteristik tembakau diantaranya ditentukan oleh faktor genetik tanaman, lingkungan tanah, cahaya, temperatur, kadar air tanah, cara budi daya, dan cara curing (Tso 1972).  Salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan usaha tani tembakau diantaranya teknik budi daya yang tepat. Untuk mendukung usaha tani tembakau madura dengan produksi dan kualitas yang sesuai dengan permintaan pasar, faktor budi daya harus diperhatikan, mulai dari pengolahan lahan, pembuatan guludan, sampai dengan panen dan pasca panen. (Sulis Nur Hidayati)


File lengkap bisa di download disini

Varietas kapuk hibrida MH 1 merupakan varietas hibrida hasil persilangan dua tipe kapuk yaitu tipe Indica dengan Karibea antara tiga tetua, yaitu (Randu Kuning x Bondowoso) x Congo atau disingkat (RKxBW)C. Varietas ini membentuk pohon-pohon yang tumbuh kuat, yang mempunyai sifat yang berbeda dengan induknya. Pohon tersebut lebih tahan terhadap kekeringan dibanding klon Jawa. Seratnya berwarna putih, tidak pecah di pohon, jumlah gelondong dan produksinya lebih banyak dibanding kapuk Jawa. Produksi varietas kapuk hibrida MH 1 pada umur 6 tahun, 12 tahun, dan 40 tahun masing-masing 427 gelondong/pohon, 1.038 gelondong/pohon, dan 2.881 gelondong/pohon Produktivitas pada umur 40 tahun tersebut mencapai 50.856 gelondong/ha, setara dengan 483 kg serat/ha atau 9,85 kg serat/pohon.


Kode persilangan : (Randu Kuning x Bondowoso) x Congo
Tipe pertumbuhan : Karibea
Produktivitas : 2.800 gelondong/pohon/tahun
Berat gelondong : 5.28 kg/100 gelondong
Kandungan serat : 0,98 kg/100 gelondong
Warna serat : Putih, panjang, grade AJK
Ketahanan terhadap benalu : Kurang disukai benalu

 

Sebagai tanggapan terhadap kampanye antirokok dan isu bahaya rokok terhadap kesehatan, Balittas telah menyilangkan Prancak-95 untuk menurunkan kandungan nikotinnya. Pada tahun 2004 diperoleh dua varietas yang dapat dilepas, yaitu Prancak N-1 (Keputusan Menteri Pertanian Nomor 320/Kpts/ SR.120/5/2004) dan Prancak N-2 (Keputusan Menteri Pertanian No-mor 321/ Kpts/SR.120/5/2004). Kandungan nikotin Prancak N-1 dan Prancak N-2 lebih rendah dari Prancak-95 dan mutunya lebih tinggi.

  Karakteistik Prancak N-1

Habitus Tanaman : Kerucut
Bentuk daun tengah : Bulat telur
Tepi daun : Agak gelombang
Jumlah daun : 12-14 lembar
Umur berbunga : 56-58 hari
Umur panen : 84-90 hari
Hasil rajangan : 892 kg/ha
Indeks mutu : 62,45
Ketahanan terhadap penyakit : tahan lanas

  Karakteistik Prancak N-2

Habitus Tanaman : Kerucut
Bentuk daun tengah : Bulat telur
Tepi daun : Agak gelombang
Jumlah daun : 13-14 lembar
Umur berbunga : 57-60 hari
Umur panen : 84-95 hari
Hasil rajangan : 789 kg/ha
Indeks mutu : 68,52
Ketahanan terhadap penyakit : tahan lanas

 

Keragaan Prancak N-1 dan Prancak N-2 dibanding dengan tetuanya, Prancak-95

Varietas
Potensi Hasil
(ton/ha)
Indeks
Mutu
Indeks
Tanaman
Kandungan
Nikotin (%)
Prancak N1
0,9
62,45
60,07
1,76
Prancak N2
0,8
68,52
56,07
2,00
Prancak-95
0,8
57,12
45,22
2,31

Pengelolaan Organik Pada Tebu

Oleh: Mastur dan Budi Hariyono

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Bahan organik adalah bahan yang tersusun dari senyawa organik yang berasal dari organisme hidup. Struktur dasar bahan organik terdiri dari selulose, tanin, kutin, lignin, hemiselulose, protein, lemak dan karbohidrat. Humus merupakan bahan organik tanah yang tahan lapuk, memiliki kemampuan menjerap hara anion (KTA), kation (KTK), maupun air.Bahan organik tanah merupakan indikator kualitas tanah dan menjadi indikator kunci untuk keberlanjutan pengelolaan lahan pertanian. Kandungan bahan organik tanah yang tinggi mampu meningkatkan efisiensi dan penyediaan hara, air, serta menekan pengaruh buruk pH tanah ekstrim baik terlalu masam maupun alkalin.

Bahan organik merupakan bahan penting untuk perbaikan sifat fisika, kimia dan biologi tanah.Bahan organik dapat berperan sebagai pupuk karena mampu memasok hara sesuai dengan jenisnya.Bahan organik dari pupuk hijau atau legum sangat kaya N dan mudah tersedia karena nisbah C/N yang rendah.Bahan organik juga berperan sebagai pembenah tanah karena mampu memperbaiki sifat fisika tanah seperti struktur, kemampuan mengikat air, permeabilitas dan infiltrasi, konsistensi, maupun kekerasan dan sifat mekanis tanah lainnya.Bahan organik juga merupakan amelioran yang baik karena mampu mengendalikan kemasaman dan keracunanAldan Fe tanah. Efektifitas bahan organik dalam memperbaiki berbagai karakteristik tanah dipengaruhi jenis/asal bahan, tingkat pelapukan, dosis, cara dan waktu pemberian, karakteristik fisiko-kimia dan biologi tanah, serta kombinasinya dengan bahan lain.

Sumber Bahan Organik

Bahan organik untuk perbaikan kualitas tanah dapat berasal dari tanaman, hewan, maupun manusia. Tanaman jenis kacang-kacangan (Leguminosae) menghasilkan biomassa yang memiliki nisbah C/N yang rendah, sehingga mudah terurai dalam tanah, lebih berfungsi memperbaiki sifat kimia tanah dan dapat menjadi penyuplai hara. Sedangkan biomassa dari tanaman non legum memiliki nisbah C/N yang tinggi seperi brangkasan Gramineae, lebih lama terdegradasi karena mengandung lignin dan hemiselulose yang tinggi, lebih berfungsi untuk memperbaiki sifat fisika tanah. Kotoran hewan baik padat maupun cair yang dikomposkan merupakan sumber bahan organik yang baik untuk perbaikan tanah. Di beberapa negara, bahkan kotoran manusia diproses untuk dimanfaatkan menjadi pupuk organik untuk perbaikan kualitas tanah. Sampah kota juga merupakan sumber bahan organik yang potensial bagi perbaikan kualitas tanah.

Aplikasi Bahan Organik

Aplikasi bahan organik ke dalam tanah dapat berupa pupuk, mulsa atau biochar. Sebagai pupuk, bahan organik diberikan ke dalam tanah dalam bentuk pupuk hijau (biomassa tanaman Legum), kompos, pupuk kandang, atau pupuk hayati (mikrobia penambat N dan pelarut P). Bahan organik berupa serasah tanaman non Legum yang dihamparkan di permukaan tanah berfungsi sebagai mulsa, untuk konservasi tanah dan air serta stabilisasi kelembaban tanah. Cara lain untuk mengelola bahan organik adalah dengan biochar, dimana biomassa diproses menjadi arang, yang dipercaya bahwa karbon yang ditambahkan ke dalam tanah akan lebih bertahan lama dibandingkan dari biomassa segar atau yang sudah dikomposkan.

Pengelolaan Bahan Organik untuk Tebu

Pupuk Hijau

Dalam budidaya tebu, pemupukan hijau dengan tanaman Legum dapat dipraktekkan untuk memelihara keseimbangan sistem karena berfungsi: melindungi tanah dari erosi selama musim hujan, sebagai sumber hara terutama N dari fiksasi maupun dekomposisi biomassa, meningkatkan ketersediaan hara Ca, Mg, S dan P, memperbaiki agregat dan struktur tanah, mengendalikan nematoda terutama jika menggunakan Crotalaria spectabilis atau Crotalaria ochroleuca, dan dapat meningkatkan pendapatan jika pupuk hijau yang ditanam adalah kacang tanah, kacang hijau dan kedelai. Tanaman pupuk hijau sebaiknya ditanam bersamaan tanam tebu dengan cara di tugal atau disebar di antara barisan tebu. Pada puncak fase vegetatif (mulai muncul kuncup bunga), tanaman pupuk hijau dipanen seluruh biomassanya dan dimasukkan ke dalam tanah atau dijadikan mulsa pada barisan tebu. Tanaman Legum juga dapat ditanam sebagai penutup tanah, disamping menyumbang hara, dapat mengurangi penguapan. Tanaman ini dapat ditanam setelah panen tebu untuk menutup lahan yang terbuka.

Pupuk Organik

Dalam industri gula tebu adalah penting untuk melakukan pemupukan organik. Dari pabrik gula dihasilkan limbah berupa blotong, bagasse dan abu ketel. Umumnya blotong dapat memiliki rasio C/N 22, pH 5,93, berat jenis 600 kg/m3 dan kadar air 65%, N 1,49%, P2O5 1,72%, Ca 4,59%, Zn 143 mg/kg dan Cu 120 mg/kg. Abu ketel mengandung N 0,28%, P2O5 0,04%, K2O 0,27%, Ca 3,24% dan S 0,08%. Sebelum diaplikasi ke dalam tanah, blotong dibiarkan beberapa waktu agar terjadi dekomposisi secara aerob, dimana dapat diperkaya dengan abu ketel, pupuk kandang atau bahan lainnya. Aplikasi blotong dapat dicampurkan ke seluruh lahan atau hanya pada barisan tebu. Pemberian blotong dapat menyuplai hara sekitar30-40 kg N, 120-150 kg P2O5 dan 100-120 kg K2O per hektar, dengan demikian dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik.

Pupuk kandang dan kompos juga merupakan pupuk organik yang dapat digunakan untuk pengelolaan lahan tebu. Pupuk hayati berupa mikrobia penambat N dan pelarut P juga dapat dimanfaatkan untuk budidaya tebu. Kombinasi pupuk hayati dan biomassa organik dapat bersinergi untuk memperbaiki hara tanah untuk mendukung pertumbuhan dan hasil tebu.

Pemberian pupuk organik pada tebu sangat penting terutama untuk peningkatan produktivitas tebu melalui perbaikan sifat kimia, fisika dan biologi tanah. Pemberian pupuk organik diharapkan sedikitnya 5 ton/ha terutama berupa kompos, pupuk kandang, atau pupuk hijau.Pada saat ini, dimana rendemen tanaman tebu sulit ditingkatkan, baik karena faktor potensi varietas maupun faktor lain, strategi peningkatan produktivitas hablur pelu ditempuh melalui kombinasi pemupukan organik dan anorganik yang tepat, disertai perbaikan teknologi budidaya, serta upaya menekan kehilangan/penurunan hasil karena hama penyakit dan tebang-muat-angkut-giling (pasca panen).

Tags:

Subkategori

Artikel Terbaru

Artikel Populer

Pencarian

Sosial media

Agenda Kegiatan

Sen Sel Rab Kam Jum Sab Min
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31


infografis

Terbitan

Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat

Jalan Raya Karangploso, Kotak Pos 199, Malang
Jawa Timur, Indonesia
balittas@litbang.pertanian.go.id
balittas.malang@gmail.com
T:(0341) 491447
F:(0341) 485121
5650755
Pengunjung Hari Ini
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
Total Kunjungan
3730
7866
32378
62060
94438
2506329
5650755

Your IP: 3.234.214.113
2019-12-11 09:49:16
© 2015 Balittas. All Rights Reserved.